Jumat, 31 Desember 2010

The Dark and The Light Wings (Chapter 6)

Shin Hyunyoung story…

“Hyunyoungie…. Tanganmu terasa hangat sekali, gomawo.”
“Ah anii… ini bukan apa-apa kok, aku takut oppa jatuh ke sungai saat tertidur.” Jawabku asal.
“Ahahahaha…. Aku tahu arti dari genggaman tanganmu, kau menyukaiku kan?”
Aku terdiam dalam bisu, lalu Hyunseung oppa mendekati wajahku.. semakin dekat….. semakin dekat….


“Yak, yak, yak~~!! Bangun, jangan senyum senyum begitu.” Suara Doojoon oppa terdengar lantang sekali di telingaku, pipiku terasa ditepuk tepuk dengan sesuatu yang besar, membuatku sontak bangun dan tidak sengaja menubruk dahi oppa hingga ia tersungkur.
“Omo omo… oppa, gwechana?” tanyaku khawatir. “Mian, tadi aku sedang mimpi indah hehehehehe.”
Doojoon oppa bangkit dari tempatnya terjatuh lalu mengelus dahinya berkali kali, “Astaga, mimpi indahmu membuat dahiku benjol Hyunyoung-sshi. Dan dahimu itu terbuat dari apa sih? Kenapa saat terbentur rasanya dahiku mau robek?”
“Aish kau terlalu berlebihan oppa.” Jawabku sambil bangkit dari kasurku, “Oppa lapar? Mau kumasakkan sesuatu?”
“Anii, aku tadi sudah makan kimchi fried rice, kau mau coba? Masih ada sisa di ruang makan. Aku menyisakannya untukmu.” Jawab Doojoon oppa sambil mengikutiku ke ruang makan. “Cobalah sedikit, biarpun begini aku pintar masak loh, hehehehe.”
Aku mengangguk sambil membuka tudung saji, nasi goreng kimchi yang dimasak oppa masih agak mengepul, pasti enak. “Aku makan ya oppa. Selamat makan.” Jawabku seraya mengambil sendok dan menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutku. Astaga, enak sekali~~
“Yak, bagaimana? Enak tidak?” tanya oppa yang duduk di sampingku dengan wajah antusias.
Aku mengangguk senang, “Nee. Gamsahabnida~~ aku lapar sekali, dari kemarin malam belum makan.” Jawabku sambil sibuk menyendok nasi.
“Hooh syukurlah kalau kau suka. Kau tahu? Hyunri yang mengajarkanku.” Jawabnya bangga, “Oh, HPmu sepertinya bergetar. Kuambilkan ya.”
Aku mengangguk sembari melahap nasi goreng kimchi buatan doojoon oppa yang benar-benar enak. Maklumlah, setelah kemarin malam menaiki kapal bebek dengan Hyunseung oppa di tengah tengah hawa yang dingin, aku jadi lapar. Hehehehehe
“Nih, ada satu pesan ternyata,” jawab Doojoon oppa. Aku segera membersihkan isi piring, menaruhnya di tempat cucian piring dan segera membaca pesan itu.

From: Hyunseung oppa

Annyeong Hyunyoungie :) hari ini kita jadi kan jalan-jalan keliling kota?


Aku tak bisa berhenti mengulum senyum, rasanya aku tidak percaya kalau aku sedekat ini dengan Hyunseung oppa. Kini kami bisa saling mengirim pesan atau menelpon satu sama lain. Benar-benar menyenangkan~~

To: Hyunseung oppa

Annyeonghaseo oppa. Tentu saja jadi, aku siap2 dulu ya :)


“Tampaknya kau gembira sekali saat membaca pesan itu.” Celetuk Doojoon oppa sambil mencuri pandang kea rah layar HPku, “Pesan dari siapa sih?”
“Dari Hyunseung oppa.” Jawabku antusias. “Kami akan berjalan-jalan keliling kota hari ini. Tidak apa-apa kan aku meninggalkan oppa sendirian lagi di rumah?”
Doojoon oppa tersenyum sambil berkata, “Gwechana dongsaeng. Nanti siang aku bisa menelepon Junhyung untuk menemaniku sehabis ia pulang kerja, atau mungkin akau akan berjalan-jalan menghabiskan malam. Kalau kau pulang larut, kirimi aku pesan teks ya.”
Aku mengangguk seraya bangkit untuk pergi ke kamar mandi, namun tiba-tiba Doojoon oppa menarik lenganku sehingga aku jatuh terduduk. “Aish oppa, apaeyo~~!!” keluhku. “Ada apa lagi?”
Doojoon oppa malah menatapiku lekat lekat dengan mata hitam kelamnya, membuat aku merasa terhisap kedalamnya. Namun kemudian ia berkata.. “Hyunyoungie, kamu tahu dan mengerti kan…. Kalau orang-orang yang ada disekitar kehidupanmu ini…. Mencintaimu?”


2 jam kemudian..

Tiiin tiiiiin~~!!! Klakson mobil dibunyikan dan terlihat Hyunseung oppa yang keluar dari mobil dan menyapaku.
“Oh, annyeonghaseo oppa.” Aku balas menyapanya sambil membungkuk hormat. “Hari ini kita mau kemana?”
“Terserah kamu saja, yang penting kamu menikmatinya.” Jawab Hyunseung oppa sambil mengangkut tasku dan membuka pintu untuk penumpang. “Kaja, nanti rencana bisa dibicarakan selama perjalanan.”
Aku mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang sudah dinyalakan mesin penghangatnya. Oppa segera masuk dan menjalankan mobilnya.
“Nah…. Jadi hari ini kita mau kemana?” tanya Hyunseung oppa lagi. Aku masih melihat-lihat keadaan sekitar mobilnya, aku tidak menyangka oppa yang kerja di amusement park ternyata mempunyai mobil *terpukau*
“Molla, terserah oppa saja. Kan hari ini kita keliling kota sepuas kita.” Jawabku netral.
“Oke kalau begitu.” Jawab Hyunseung oppa puas. “Ngomong-ngomong… bagaimana keadaan Doojoon hyung?”
“Keadaannya sudah membaik kok sejak kemarin.” Jawabku. “Bahkan ia membuatkanku nasi gireng Kimchi tadi pagi. Enak sekali, katanya ia mempelajari resepnya dari unnieku.”
“Jinjjaeyo? Wah lain kali aku haru kerumahmu untuk mencobanya.” Ujar Hyunseung oppa. “Sudah satu tahun aku tidak mencoba masakan Hyunri-sshi, rasanya rindu sekali. Aku harap masakan hyung benar-benar serupa dengan masakan Hyunri-sshi.”
“Ya kalau menurutku sih mirip. Eh?” tiba-tiba aku melihat 2 orang yang kukenal di pinggir jalan, “Oppa oppa, bisa berhenti sebentar? Aku melihat Yoseob dan Miyoung unnie.”
Mobil direm pelan-pelan sehingga jarak mobil dengan kedua orang itu cukup jauh, “Yoseob bersama seorang yeoja? Apakah ini nyata, siapa yeoja itu?” gumam Hyunseung oppa.
“Nee, lihat.. dia bersama Miyoung unnie. Beliau adalah rekan baruku di midimarket.” Jawabku sambil mengintip lewat kaca spion. “Aku curiga dengan gerak-gerik mereka berdua. Oppa mau tidak kalau kita ikuti mereka?”
“Boleh-boleh saja.” Jawab Hyunseung oppa ringan. “Kalau ternyata mereka kencan, kan aku bisa meledek Yoseob habis-habisan. Hahaha” Eh? Dasar Hyunseung oppa jahil~~~

~~~~~

Sun Miyoung story..

Kemarin..

“Yeoboseo Yoseobie….” Aku menelpon Yoseob sesudah ia mengantarkanku pulang ke rumah. “Gomawo, sudah mengantarku pulang… aku merasa senang sekali.”
Yoseob tertawa dan menjawabku, “Ohohoho nee, gwechana. Sekalian aku ingin mengucapkan selamat atas keberhasilanmu menjadi karyawan terbaik bulan ini, noona. Chukka hamnida..”
Suara Yoseob yang agak serak karena flu tidak menggambarkan kalau ia cukup antusias dengan keberhasilanku menjadi karyawan di midimarketnya bulan ini. Aku tahu ia hanya berpura-pura, sesungguhnya mungkin ia kesal karena biasanya ia lah yang memegang gelar itu.
“Noona, masih disana?” tanya Yoseob yang membuyarkan lamunanku.
“Nee, mianhae tadi aku sedang mengerjakan sesuatu.” Jawabku berspekulasi. “Yoseobie… untuk merayakan keberhasilanku, bagaimana kalau aku mentraktirmu jalan-jalan besok?”
Yoseob cukup terkejut dengan pengakuanku lalu berkata, “Tidak apa-apakah noona? Lalu kita mau kemana nanti?”
“Kemana saja, nanti bisa kita rencanakan saat di perjalanan. Jadi…. Kamu mau kan menemaniku?” tanyaku ragu-ragu. Aku takut ia masih tersinggung karena prestasinya kurebut bulan ini.
“Oke,” jawab Yoseob ringan. “Besok kita bertemu jam 8 ya di depan midimarket.”


.....

Itaewon, keesokan harinya….

Yoseob berhenti di tengah jalan, wajahnya kaku dan alisnya mencuat naik. Aku yang belum pernah jalan dengannya langsung manghampirinya yang masih terdiam beberapa meter dari lokasiku.
“Yoseobie, gwechana?” tanyaku takut-takut. “Apa kau sakit perut atau semacamnya? Atau kau lapar? Kau mau kita makan dimana?”
Ia langsung menormalkan wajahnya seperti biasa dan berkata, “Aniiyo, tadi aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti kita. Tapi sepertinya tidak ada.”
“Jinnjaeyo?” jawabku sambil menengok ke kanan dan ke kiri, “Apa yang mengikuti kita adalah yeoja chingumu? Omo… jadi kita harus menjaga jarak dong, ottokke?”
Tanpa kusadari, Yoseob menarik lenganku yang sempat menjauh darinya, “Aniiyo noona, aku tidak punya yeoja chingu.” Jawabnya sambil tertawa. “Aku pikir yang mengikutiku adalah Hyunseung hyung.”
“Mwo? Siapa Hyunseung itu?” tanyaku sambil melanjutkan langkah kami.
“Dia adalah sunbae ku. Mungkin seumuran dengan noona, jadi… kita mau kemana? Apa kita mau membeli……”
Saat Yoseob sedang bercerita panjang lebar, tidak sengaja pandanganku tertuju pada tengkuknya. Kulihat sebuah garis besar seperti tato yang berwarna merah pekat terukir disitu. Sepertinya garis itu membentuk sebuah gambar di punggungnya, tapi….. gambar apa ya?
“Oh, noona…. Kau tidak mendengar ucapanku?” tanya Yoseob yang lagi-lagi membuyarkan pikiranku. “Apa ada yang aneh di kerah belakang jaketku?”
“Anii anii…. Mianhae, akhir-akhir ini aku sering melamun.” Ucapku sambil melihat ke sekeliling. Bagaimana kalau kita pergi makan ke Mok Schwei Don Na? ada dukbokki yang enak disana.”
Yoseob mengangguk sambil merapatkan jalannya denganku. Rasanya aku senang sekali melihatnya dekat denganku saat ini. Kenapa ya?

.....

“Gamsahabnida untuk makanannya, aku akan memakannya sekarang~~” ucap Yoseob sambil tersenyum. Aku mengangguk dan kami berdua mulai memakan dukbokki dengan tusuk gigi. Rasanya pedas dan panas, cocok untuk makanan di musim dingin.
“Bagaimana, enak tidak? Kata temanku dukbokki disinilah yang paling enak.” Ujarku sambil meniup niup rice cake yang mengepul ngepul di tusuk gigi yang aku pegang.
Yoseob mengangguk dengan mulut yang penuh, “Um~!! Memang enak sekali noona. Untung kau mengajakku kesini.”
Kami sibuk makan berdua sambil mencari cari tempat duduk yang ada. Aku masih memperhatikan garis merah seperti tato yang mencuat di ujung leher Yoseob, rasa penasaranku semakin besar. Aku harap aku bisa melihat tato secara keseluruhannya kalau seadainya itu memang benar-benar tato.
“Yak noona, kok kau melihat leherku terus sih??” aku terkejut saat Yoseob menyadari lehernya yang aku perhatikan terus. “Andwae… aku malu kalau diperhatikan seperti itu. Memang ada yang salah dengan leherku?”
aku menggeleng kuat-kuat karena takut ketahuan dan takut Yoseob marah padaku, “Aniiyo, tadi ada lalat yang menempel cukup lama di lehermu.”
“Jinjjaeyo? Kok aku tidak merasakannya?” ujar Yoseob sambil mengangkat tudung jaketnya lebih tinggi dari sebelumnya. Aku tidak suka keadaan ini, aku segera berdiri dan mencoba membuat Yoseob mengakui, kalau ia sebenarnya tidak suka kalau aku menjadi karyawan bulan ini. Sekalian menanyakan garis merah yang ada di tengkuknya.
“Yoseobie… aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Ucapku terang-terangan. Yoseob melebarkan matanya seakan ada rahasia yang ia sembunyikan selama ini.
“A… apa itu Miyoung noona?” jawabnya sambil berusaha tenang. “Mungkin aku bisa menjawabnya, hehe.”
Aku menelan ludah dan segera meluncurkan kata-kataku, “Sebenarnya kau marah kan karena aku berhasil mengalahkanmu menjadi karyawan bulan ini?! Benar kan?”
Suasana ramai yang tadi kurasakan, kini menjadi sepi. Yang kurasakan hanya aku dan Yoseob, tidak ada yang lain… hanya kami yang saling bertatapan dan wajahku yang memerah karena menatap wajah kekanakan Yoseob yang menggetarkan hatiku *caelah bahasanya*
Yoseob tersenyum sambil menunduk sebentar, lalu menatapku lagi dan….. ia memegang tanganku…
“Buat apa aku marah akan hal itu noona? Jadi inikah yang kau sembunyikan dari tadi? Rasa penasaran ini? Tanya Yoseob. Tangannya yang yang hangat terasa sangat……. *speechless*
“Nee… tapi kenapa kau yang bisa menebak perasaanku?” tanyaku sambil masih berdiri dan berniat untuk duduk lagi. “Lalu….. masalah garis merah yang ada di lehermu….”
Saat aku hendak duduk, tiba-tiba kaki kananku terjegal oleh kaki Yoseob yang panjang dan alhasil aku jatuh terjerembap dan tanganku tergores jalanan dan rasanya perih sekali.
“Oh Miyoung noona~~!!! Gwechana?! Jesonghabnida, maafkan kakiku yang babo ini.” Yoseob segera membantuku bangun. Lagi-lagi kami melakukan skinship yang membuat jantungku berdebar-debar, astaga apa yang kau pikirkan sih Minyoung???
Yoseob mengangkat pergelangan tanganku yang tergores tadi. Ia membersihkannya dari kerikil kecil yang masih menempel, dan mengeluarkan plester dari kantung tasnya.
“Yoseobie…. Kenapa kau minta maaf? Kan aku yang tidak sengaja terjegal oleh kakimu. Berarti aku yang babo dong.” Jawabku sambil terkikik geli. “Dan…. Mulai sekarang bisakah kau memanggilku tanpa noona lagi? Aku merasa sangat tua sekali kalau kau memanggilku seperti itu, padahal kita hanya berbeda 1 tahun”
“Baiklah kalau maumu seperti itu. Oh iya, ini dukbokki ku untukmu saja. Kan punyamu sudah ja…..” Yoseob tiba-tiba menghentikan kata-katanya, lalu berteriak. “Yak Hyunseung hyung, Hyunyoung-sshi~~!!! Sudah kuduga kau mengikuti kami ya??”
Aku menengok ke belakang dan mendapati mereka berdua sedang mengintip dibalik rerumputan.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar