New cast: Sun Miyoung
Yang Yoseob story..
“Astaga, sudah jam segini dan aku masih dirumah? Aigooo~~!!” seruku sambil menyiapkan sepeda dan mengayuhnya cepat-cepat, ottokke? Aku takut kalau nanti Dongwoon menjaga sendirian, ia tidak begitu hafal harga-harga barang dan bisa saja pelanggan yang iseng menipunya.
Brak Brak~!! Kuparkir sepedaku secepatnya dan ketika aku membuka pintu midimarket…
“Annyeonghaseo, Yoseob-ah.”
Eh, siapa yeoja ini? Kok dia pakai baju kerja midimarket ini? Lagipula.. kenapa dia tahu namaku? Padahal aku belum menggunakan nametag ku.
“Yoseob hyung, kaja. Kau terlambat.” Ujar Dongwoon di meja kasir. “Cepat ganti baju dan gantikan aku menginput semua datanya.”
Aku mengangguk kebingungan kea rah Dongwoon dan yeoja disebelahnya yang sepertinya Minri, lalu aku menghadap yeoja ini. “Anu…. Yeoboseo? Jesonghabnida, aku tidak mengenalmu.”
Yeoja itu hanya tersenyum sambil menata snack snack di dalam rak yang menghadap kea rah wajahnya, dan ia berbicara. “Bisakah kau membaca nametag ku dari posisimu?”
Aku melongok melihat nametag miliknya, Sun Miyoung. Begitulah namanya. “Hajiman…. Kok kau tahu namaku? Kan aku belum memakai nametag ku. Apa kita pernah kenal sebelumnya?”
“Aku pindahan dari midimarket di cabang yang berbeda, kepala cabang selalu bercerita tentang etos kerjamu yang bagus. Dan aku memutuskan untuk pindah kesini dan melihatmu, Yeoseobi.” Jawabnya ramah. “Annyeonghaseo. Sun Miyoung imnida. Kita saling bekerja keras ya?”
Ia menjulurkan tangannya yang kecil dan langsing, waw…. Yeoja sederhana ini sangat ramah sekali menurutku, kugenggam tangannya dan kami saling berjabat tangan.
“Daebak~~!!!” ujar Minri yang masih duduk disebelah “Tapi, ppali Yoseob-ah. Kalau tidak, Dongwoon akan merusak system kasir karena ke tidak tahuannya. Aish Dongwoon-sshi, menyingkirlah dari situ dan tata barang2nya seperti biasa.”
“Aiiiiii Minri noona, kenapa kau sama saja seperti Hyunyoung noona?” keluh Dongwoon sambil menyingkir dari meja kasir, “Ngomong-ngomong… Hyunyoung noona kok belum terlihat ya?”
“Dia merawat Doojoon hyung yang sedang sakit.” Ujarku sambil berlari ke ruang ganti dan menjawab pertanyaan Dongwoon dengan berteriak-teriak. “Hyung diusir dari kost2annya dan menunggu di depan rumah Hyunyoung hingga nyaris membeku.”
“Ah jinjja? Kalau begitu kita harus menengok oppa malam ini.” Ujar Minri . “Yak Dongwoon-sshi, kok kau malah bercermin sih? Bantu Minyoung dong.”
Aku keluar dari ruang ganti dan segera ke meja kasir untuk menginput harga-harga barang yang baru masuk ke midimarket, kulirik Minyoung yang sedari tadi tekun menyelesaikan tugasnya sambil tersenyum puas. Dan melihat Dongwoon yang sibuk di ujung ruangan dengan tugas-tugasnya juga.
“Miyoung adalah yeoja yang sedikit bicara banyak bekerja,” komentar Minri. “Hati-hati loh Yeoseob-ah, bisa saja ia menjadi sainganmu dalam masalah karir ini.”
Tanpa sadar aku mengerutkan dahiku bingung, “Maksudmu bagaimana Minri-ah?”
“Saat ia berkenalan dengan kami, kulihat tatapan matanya. Penuh obsesi akan kemenangan, perfeksionis.” Bisik Minri. “Sebaiknya kau berhati-hati, bisa saja pak kepala cabang memindahkanmu karena semangat kerjanya lebih tinggi darimu.”
~~~~~
Yong Junhyung story..
Aku tahu dia mencintai namja itu, tapi… bisakah ia mengerti kalau aku juga sangat membutuhkannya?
Bisakah ia mengerti kalau aku juga menyayanginya seperti Doojoon hyung menyayangi mendiang kekasihnya?
Aku tidak ingin terlibat perselisihan dengan namja suci itu. Tapi aku sungguh-sunguh mencintainya.
Aku ingin kembali seperti dulu, suci seperti bayi yang baru dilahirkan…
“Junhyung oppa,” Sunghyo tiba-tiba menarik tangan kananku dan menemukan tulisan panjang yang terukir disana. “Kau membuat tato lagi?”
Aku hanya bisa tersenyum getir mendengar pertanyaan Sunghyo, “Bermasalahkah kalau aku menggunakan tato? Toh ini bukan dibuat di tukang tato, ini muncul dengan sendirinya.”
“Jinjja? Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan oppa?” Sunghyo merapihkan meja meja restoran sambil menatapku takut, “Sudah kubilang kan jangan melakukan hal kriminal yang membuat beliau murka.”
Aku menatap Sunghyo sinis, “Yak, aku tidak melakukan apa-apa dan tulisan ini muncul begitu saja di lenganku! Aku sudah bertaubat, aku tidak akan melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya, arraseo?!”
“Jesonghabnida, aku hanya khawatir dengan kondisimu oppa.” Ujar Sunghyo yang sudah selesai membereskan beberapa meja karena sebentar lagi kita akan pulang. “Kau tahu kan kalau semakin banyak tulisan muncul di tubuhmu, maka kau….”
“Aku tahu.” Potongku cepat, “Tapi… apa jatuh cinta kepada yeoja yang sudah menyukai orang lain itu salah ya?”
Sunghyo menggeleng kuat kuat sebelum pergi ke ruang ganti baju, “Di dunia kami ada persaingan. Jadi semuanya sah sah saja sebelum yeoja itu memiliki seorang kekasih. Tapi….. Kikwangie bilang, di duniamu itu hal yang terlarang.”
Aku berdecak kesal dan memukul meja dapur yang ada di depanku. Kenapa takdir harus mengatakan bahwa aku tidka boleh mencintainya? Padahal, dengan mencintai lagi seorang yeoja dengan hati yang tulus bisa menghapus dosaku dan menjadikanku seperti dulu.
Rasanya kepalaku pusing sekali, aku tidak ingin musnah, aku tidak ingin binasa. Tuhan, maafkanlah salah satu mahlukmu yang begitu frustasi untuk meminta maaf padamu ini.
“Oppa, gwechana?” tanya Sunghyo sambil memegang pundakku. “Cari saja yeoja lain, jangan dia. Kumohon… demi hidup dan matimu.”
“Tidak berguna membicarakannya disini, lebih baik kita pulang saja. Kuantar kau ke tempat Kikwang…. Aaaaaaarrrrgh!!” Belum sempat menyelesaikan kata-kataku, rasanya kepalaku seperti terhantam batu. Pertanda salah satu kerabatku akan melakukan sesuatu yang merugikanku.
“oppa, gwechana? Sepertinya inderamu sedang beraksi.” Jawab Sunghyo mendekatiku dan menyenderkanku di tembok. “Dongwoon, atau Doojoon oppa?”
Aku memijat mijat kepalaku yang sakitnya luar biasa. Kemampuan inderaku terus berjalan dan berjalan sehingga akhirnya aku menemukan sesuatu, “Doojoon brengsek!! Kaja, kita ke rumah Hyunyoung.”
“Mwo? Ada apa dengannya? Tidak mungkin kan Doojoon oppa melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada Hyunyoung-sshi?!” tanya Sunghyo yang berlari mengikutiku.
“Molla, terserah kau kalau mau ikut atau tidak. Tapi aku akan pergi kerumah Hyunyoung untuk minta penjelasan.” Jawabku getir, “Sungguh sungguh merepotkan..”
Aku keluar restoran dan menatapi awan-awan yang menurunkan salju putih yang membuat tubuhku terlihat kontras dengan bola bola kecil warna putih…
Warna putih, warna yang sangat kudambakan sejak kehidupanku berubah menjadi hitam…
~~~~~
Shin Hyunyoung story..
Sudah hampir 5 jam aku terbungkam oleh tubuh Doojoon oppa yang lemah dan tidak terbangun dari tidurnya ini. Aku hendak menyingkirkannya, tapi aku takut ia akan terbangun dan kondisinya tidak berangsur membaik. Dan di satu sisi, aku juga ingin keluar dan melakukan aktifitasku.
Ottokke?
Tok tok tok…. Terdengar suara pintu dan namja yang berteriak dari luar, “Hyunyoung-sshi~~!! Buka pintunya!!”
Aduh, bagaimana ini? Bagaimana aku bisa membuka pintu kalau tubuhku saja masih tertimpa tubuh Doojoon oppa yang panas dan tak kunjung bangun ini~~~
“Anu…. Buka jendela samping saja!! Tidak dikunci kok!!” aku berteriak menyuruh namja itu masuk lewat jendela yang kebetulan ada di dalam kamarku. Astaga, Doojoon oppa bangunlaaaaaaah~~~
Sesaat setelah berteriak, kulihat mata oppa perlahan terbuka dan nafasnya mulai teratur kembali. Ia terkejut melihatku yang tertimpa olehnya.
“Hyunyoung? Sejak dari tadi kah kau disini?! Mian.. mianhae!!” serunya.
Sebelum aku menjawab Doojoon oppa, tiba2 Junhyung oppa melesat melewati jendela kamar dan mengangkat kerah baju Doojoon oppa dengan geram.
“Apa yang kau lakukan terhadap Minsu hah? Aku melihatnya dari sana~!! Kurang ajar!!”
Doojoon oppa memengangi tangan Junhyung oppa dengan ekspresi yang bingung, “Apa maksudmu? Aku tidak melakukan apa-apa terhadap Hyunyoung.”
“Kau menimpanya kan?! Kau ingin melakukan sesuatu terhadapnya kan?!” Junhyung oppa mulai emosi.
Ia akan melayangkan pukulannya kea rah Doojoon oppa. Tapi sebelum pertengkaran semakin parah, aku berteriak..
“Doojoon oppa sedang sakit! Ia hanya pingsan dan tidak sengaja menimpaku~~!! Sekarang berhenti memeganginya seperti itu, Junhyung oppa~!!”
.....
“Hyunyoung-sshi, mianhae.” Ujar Junhyung oppa yang menemaniku menonton TV di ruang keluarga. Doojoon oppa kembali tertidur setelah ia makan malam dengan kami semua, sementara Junhyung oppa memutuskan untuk pulang malam pada pukul 12 nanti.
“Gwechana oppa, tapi.. kenapa kau bisa tahu?” tanyaku bingung. Kuganti ganti saluran TV yang dari tadi hanya menampilkan acara TV yang membosankan.
“Molla… saat di restoran tadi, kepalaku rasanya sakit dan… kupikir mungkin terjadi sesuatu padamu.” Jelasnya. “Kau tahu kan? Sejak dulu… kalau menyangkut masalah tentangmu, kepalaku tiba-tiba terasa sakit.”
“Jadi.. seharusnya aku dong yang meminta maaf? Hehe” gurauku. “Kita sudah saling kenal sejak unnie masih kuliah, aku kenal Yoseob Dongwoon Kikwang dan Hyunseung oppa sudah nyaris 2 tahun. Kita semua seharusnya dekat kan?”
“Tapi kita semua sibuk dengan urusan kita masing-masing.” Ujar Junhyung oppa merebut remotenya dariku, mematikan TV dan menatapku. “Kita semua dipusingkan dengan perasaan kita masing-masing.”
Aku mengangguk lalu menyenderkan kepalaku di badan oppa sambil memegangi lengan kanannya. “Yak oppa, kau punya tato lagi? Apa arti dari tulisan ini.”
Junhyung oppa mendekatkan wajahnya sambil berbisik, “Take a hold of today. And only believe in the word ‘tomorrow’ in the smallest way you can.”
Wajahnya semakin dekat dengan wajahku, pandangan matanya membuatku tak bergerak. Dan kedua lengannya menarik tubuhku semakin dekat dengan tubuhnya…
“Hhhh hari yang memusingkan, mianhae.” Ia menempelkan dahinya di dahiku seraya memelukku.
~~~~~
Min Minri story….
“Theme Park yeoja, apa kau sudah absen?” tanya Hyunseung oppa sambil menarik kartunya dari mesin absen. “Tidak kusangka kita bertiga bisa bekerja di shift malam bersamaan. Padahal tadi aku dan Kikwang memang tidak sengaja bangun kesiangan, tapi ternyata kau juga berhalangan hingga masuk shift malam.”
“Iya, aku juga tidak tahu kok kita bisa satu shift lagi ya? hahaha.” Ucapku getir, “Aku duluan oppa.”
Hyunseung oppa melambaikan tangannya ke arahku, sekarang sudah jam 8 malam tapi kendaraan yang berlalu lalang masih banyak. Aku memanggil taksi dan memintanya untuk mengantarku pulang ke rumah.
Tiba-tiba HPku berbunyi tanda satu pesan masuk..
From: Umma
Sayang, kami semua pergi ke luar kota selama 2 malam. Tolong jaga rumah ya, mianhae.
Astaga, jaga rumah lagi disaat saat seperti ini? Anii~~
Aku menutup pesan dari umma dan menyetop taksi yang sudah sampai dirumahku, kemudian membayarnya dan membuka pagar untuk masuk rumah.
Tiba-tiba HPku berdering tanda telepon masuk, dari namja chinguku… rasanya hatiku sakit sekali, aku ingin memutuskannya tapi selalu tertunda. Dan kali ini aku bersungguh sungguh akan melakukannya.
“Yeoboseo?” aku mengangkat teleponnya. “Aku sudah sampai rumah, hari ini aku shift malam.”
“Jinjja? Kau bawa syal kan saat disana? Hati-hati ya salju sedang banyak-banyaknya turun loh.” Ujarnya panjang lebar. “Di dekat rumahku saja tadi sedang badai dan beberapa rumah….”
“Jagiya, mianhae. heeojigo gaja…” aku memotong pembicaraannya dengan mengucapkan kata-kata itu. Ia terdiam dan aku juga terdiam, suasana mendadak sangat sepi disekitarku.
“Waeyo?” tanyanya bingung sekaligus syok.
“Jarak kita sangat jauh, kehidupan kita juga jauh berbeda. Aku bukan yeoja yang cocok untukmu.” Aku berusaha berbicara tenang walaupun rasanya ingin menangis. “Maafkan aku karena selama ini telah berbohong padamu, sejujurnya aku sudah tidak tahan dengan hubungan yang seperti ini.”
Kupikir ia akan memintaku untuk mempertahankan hubungan kami, tapi ia malah berkata. “Maafkan aku juga ya, sebenarnya aku sudah punya yeoja chingu lain. Dia adalah rekan kerjaku” jawabnya penuh sesal. “Jaga dirimu disana, kita saling memaafkan ya karena ketidak jujuran ini. Arraseo?”
“Nee. Annyeong…” jawabku sambil menutup pembicaraan. Aku berjalan gontai menuju pintu depan dan duduk disana. Tangisku meledak begitu saja, kegalauanku mungkin sudah hilang… tapi kenangan2 yang terputar ulang lagi di pikiranku membuat semuanya terasa menyedihkan.
Aku menyeka airmata yang membuat pandanganku buram, kulihat pintu pagar dan menemukan Dongwoon yang berdiri mematung disana. Dongwoon? Kenapa ia bisa ada disini?
“Do…. Dongwoon-sshi? A… ada apa?” aku mengelap hidung dan mataku ketika ia masuk ke dalam rumahku dengan langkah yang lebar.
“Seharusnya aku yang bertanya ‘ada apa’ kepadamu noona.” Jawab Dongwon menghampiriku dan mencengkram kedua pundakku, “Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis noona?”
Aku menggeleng, Dongwoon tidak perlu tahu kesedihan kecil seperti ini. “anii… hanya agak sedih karena keluargaku meninggalkanku keluar kota. Hajiman…. Kenapa kau bisa ada disini? Rumahmu kan jauh dari sini?”
“Kepalaku pening sekali dan aku memutuskan untuk jalan-jalan dengan motorku.” Jawab Dongwoon. “Memang semua orang dirumah noona pergi kemana?”
Dongwoon menatapi mataku lekat-lekat, membuat bicaraku menjadi terbata bata. “A.. anu…. Mereka pergi ke luar kota. Aku….. aku ditinggal sendirian dirumah.”
Tiba-tiba Dongwoon bangkit dan berjalan mendekati pagar, “Bohong, tega2nya noona berbohong padaku.” Ucap Dongwoon dingin. Aku yang mendengarnya langsung kalap dan ketakutan. Aku tidak ingin sendiri lagi, aku ingin Dongwoon disini untuk sesaat saja. Kumohon Dongwoon kembalilah…
“Maafkan aku Dongwoon-sshi~!! aku putus dengan namja chinguku yang dulu. Aku tidak bisa berhubungan jarak jauh seperti ini, namun ia baru jujur padaku tadi~!! Ternyata dia sudah punya kekasih lain!!” ucapku sambil sesenggukan. “Mianhae Dongwoon-sshi, jangan tinggalkan aku malam ini. Andwaeeeeeee~~!!!”
Tangisku semakin deras saat mengucapkan kalimat barusan. Kenangan-kenangan saat aku masih bersamanya terputar ulang kembali, saat menyesakkan dada. Dan kini Dongwoon akan meninggalkanku karena aku berbohong padanya, sungguh malam ini aku benar-benar sendiri.
“Kenapa tidak bilang kalau itu menyangkut masalah perasaan noona?” tiba-tiba sesuatu yang hangat menyelimuti tubuhku. Ternyata Dongwoon kembali dan memelukku di depan pintu rumah. “Aku hanya memarkir motorku di dalam rumah, tidak apa-apa kan?”
Aku tidak menjawabnya, hanya sibuk mengusap pipiku yang basah. Cuaca membuat pipiku merah dan membeku, sebeku perasaan ini.
“Noona? Apakah kau mencintai seseorang apa adanya?” Dongwoon melebarkan kakinya hingga ke punggungku sehingga kini posisi kami berhadapan dengan jarak yang cukup dekat. Jantungku rasanya melejit karena baru pertama kalinya aku merasa sedekat ini dengannya.
“Nee,” jawabku singkat. Dongwoon masih melingkari tangannya disekitar pundakku.
“Meskipun… orang yang kau cintai bukanlah manusia sempurna?” tanya Dongwoon lagi.
Aku hanya bisa mengangguk karena aku mulai kebingungan dengan pertanyaan Dongwoon. Seakan ia bisa membaca isi hatiku, tiba-tiba Dongwoon berkata.
“Apakah kau mencintaiku noona? Apa kau akan mencintaiku dengan tulus meskipun aku lebih muda darimu?”
“Do.. Dongwoon-sshi, apa yang ingin kau ucapkan?” tanyaku bingung. Pandangan matanya tajam sekali, sehingga diriku dibuat beku olehnya.
“Yang ingin kuucapkan adalah….. aku mencintaimu noona, aku mencintaimu.” Jawabnya sambil terengah engah, “Aku akan jadi malaikatmu, menjagamu disampingku, melindungimu walaupun aku harus mati.”
Wajahku memerah, bagaimana aku bisa tidak tahu kalau ia menyukaiku? Padahal kami selalu bersama… tapi, kenapa ia mampu menebak perasaanku sementara aku tidak?
“Apa kau menyukaiku, meskipun aku hanya hooobaemu?” tanya Dongwoon sekali lagi. “Aku bersungguh sungguh noona, kalau tidak percaya… dengarkan detak jantungku. Pegang dadaku…”
Aku menuruti sarannya dan ternyata memang benar, detak jantung kami berderu cepat dalam satu tempo yang sama… tapi kesedihan sekaligus kegembiraan ini membuat kepalaku pusing.
“Nado, Dongwoon-sshi.” Jawabku singkat.. “Jantungmu berdetak kencang seperti milikku, maafkan aku yang tidak jujur ini. Tapi…. Aku sudah menyukaimu semejak kita bertemu.”
Dongwoon tersenyum senang dan matanya berkaca-kaca.” Jinjja? Noona…. Kau membuatku ingin meledak…”
Dongwoon melepaskan pelukannya dan menaruh tangannya di pipiku. Wajahnya mendekat.. mendekat… dan berakhir dengan bibir hangatnya yang menempel di bibirku. Aku memejamkan mata merasakan kehangatan hati Dongwoon dan memeluknya kuat-kuat, rasanya cahaya terang menyelubungi Dongwoon meskipun aku tak melihatnya….
Saat ia melepaskan ciumannya, aku membuka mata….. dan terlihat tubuh besarnya yang terselubung bulu bulu hitam. Pakaiannya terkoyak parah disekitarnya…
“Akan kujelaskan nanti, noona.” Jawabnya sambil mengelus pipiku, dan menciumku lagi…
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar