Minggu, 12 Desember 2010

The Dark and The Light Wings (Chapter 3)

Yoon Doojoon story..

“Sayang, kau benar-benar mencintaiku kan?” tanyaku suatu hari kepada Hyunri. Ia mengangguk sambil menunjukkan senyum lembutnya yang keibuan.
“Kenapa kau bertanya seperti itu, yeobo?” tanya nya sopan.
“Tidak apa-apa, aku berharap kau masih bisa mencintaiku meskipun kau akan tahu kondisiku yang sesungguhnya….”

Aku terbangun karena teringat dengan percakapanku dengan Hyuri. Sudah lebih dari satu tahun, tapi masih terbayang di pikiranku..
Kusadari kini aku tidak berpakaian, hanya memakai celana pendekku. Dan disebelahku meringkuk yeoja yang lebih tua dariku. Tanpa busana juga….
Oh iya, aku teringat. Kemarin teman-teman SMPku mengadakan reuni dan aku bertemu yeoja ini di kafe setelah pertemuan itu selesai, ia memintaku menemaninya kemarin malam dan ia berjanji akan membayarku keesokan paginya.
“Mmmmmmh sudah bangun?” tanya yeoja itu dengan pose menggodanya. “Jam berapa sekarang?”
Aku melirik jam kecil yang terpampang manis di meja, “Jam lima pagi noona. Bukannya kau bilang suamimu akan pulang jam 7 pagi ini?”
“Ah kau benar, aku mabuk berat jadi tidak sadar.” Ia mengangkat selimut untuk menutupi tubuhnya, “Kau mau tunggu aku mandi dulu atau mau langsung pulang ke rumahmu?”
“Terserah noona saja, yang penting aku mendapatkan uangnya. Kau sudah janji kan?” jawabku jujur. Aku tidak kenal dengan noona ini, jadi aku tidak peduli mau ia tersinggung atau tidak.
“Oh iya, maaf. Aku lupa.” Jawabnya santai, sepertinya tidak terlalu terbawa perasaan. “Ini untukmu, 2000 won kan?”
Aku bergegas mengenakan pakaianku dan menerima uangnya dengan sopan. “Nee, gamsahabnida.”
“Aku senang bisa mengenal orang sepertimu Doojoon-ah.” Ungkap yeoja itu. “Setidaknya kau bisa menemaniku yang kesepian. Hati-hati saat pulang ke rumahmu, jalanan masih gelap.” Pesannya.
Aku mengangguk dan membawa jaketku keluar rumahnya dan segera melangkahkan kaki jauh-jauh dari sana. Menjadi gigolo? Apakah ide yang bagus untuk melakukan profesi itu selama musim dingin? Hyunyoung pasti akan membunuhku kalau ia tahu pekerjaan terselubungku.
Drrrrrt Drrrrrrrrrrrt ada satu pesan dari ibu kost yang aku huni, dan ia berkata…

Tenggat waktumu untuk membayar kost 3 bulan sudah habis, saya sudah menaruh barang-barangmu diluar rumah. Silahkan diambil secepatnya, saya tidak mau melihat wajahmu lagi.

Aku mendengus, dimana lagi aku harus tinggal? Aku tidak ingin menghabiskan duit hasil ‘pelayananku’ semalam untuk membayar uang kost. Lagipula si pemilik kost mungkin sudah sangat membenciku, jadi mungkin pergi adalah jawaban terbaik.
Terpekur aku melihat koper, baju-baju dan benda-benda lain milikku tergeletak begitu saja tertimbun salju. Tidak terlalu banyak, tapi akan sangat merepotkan kalau dibawa kemana-mana
Kuambil pigura fotoku dan foto Hyuri. Kami terlihat bahagia… seandainya saja waktu itu aku tidak bilang padanya kalau aku….
“Hyuri-sshi, mianhae.. mian karena sudah mengecewakanmu.” Aku menghapus air mataku yang menetes menghangatkan kedua pipiku yang kedinginan karena cuaca yang kejam.
Kemana aku harus tinggal dan menetap? Aku tidak punya uang dalam jumlah banyak untuk saat ini……

~~~~~

Shin Hyunyoung story….

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing~~~~
Alarm yang memekakkan telinga membuatku terbangun dari mimpiku, padahal aku sedang memimpikan Hyunseung oppa yang tersenyum saat bersamaku. Hehehehe
“Handphone…. Mana handphone……” aku mengucek mata sambil meraba di sekitar tempat tidur mencari HPku, astaga musim dingin tahun ini kenapa lebih dingin ya? aku saja sampai menggigil, padahal sudah menggunakan mesin penghangat.
“Ah.. ini dia HPku,” aku meraihnya dan membuka kunci layar. Hem? 10 panggilan tak terjawab dan 2 pesan?
Saat kubuka pesan, ternyata dari Doojoon oppa. Dan dengan pesan yang sama…

From: Doojoon oppa

Hyunyoung, jebal.. buka pintu rumahmu. Aku menggigil kedinginan disini~


Aku melihat waktu dikirimnya pesan ini. Jam setengah enam pagi?!
Kularikan kakiku ke depan ruang tamu, buru-buru kubuka pintu depan dan tidak ada siapa-siapa di depan rumah. Kemanakah Doojoon oppa?
“Oppa…. Oppa~~ kau di… astaga, Doojoon oppa!! Gwechana?!” aku menemukan oppa meringkuk diluar pagar dengan badan yang menggigil dan bibir yang membiru. “Sudah berapa lama oppa disini? Maaf aku tadi belum bangun tidur~~!! Kaja, aku papah ya…”
Aku mengangkat oppa dengan sekuat tenaga, tapi ia terlalu berat dan nyaris saja aku jatuh menimpanya. Tangan oppa dingin dan ia tidak bisa membuka matanya lagi, aku takut ia terkena Hipotermia.
“Ottokke? Ottokke?” aku memencet mencet HP karena panik. Lalu aku teringat Yoseob yang rumahnya tidak jauh dari sini. Kucari nomor teleponnya dan kutekan tombol ‘panggil’
“Yeoboseo… Yoseob-sshi, mian mengganggumu pagi-pagi.” Sapaku lewat telepon. “Aku butuh bantuan di depan rumah. Bisa tolong kemari?”

.....

“Astaga Market mania, kenapa kau bisa meninggalkan hyung sendirian diluar pagar?” tanya Yoseob khawatir. “Untung saja kau segera bangun dan menyadari pesan darinya, kalau tidak mungkin beberapa tangannya akan diamputasi.”
Aku mengangguk angguk. Sebenarnya aku juga takut, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melihat Doojoon oppa yang tidak berhenti menggigil, padahal aku sudah memberinya dua tumpuk selimut tebal. Tapi bibirnya masih terlihat biru.
“Yoseob-sshi, sepertinya hari ini aku mau cuti saja. Tolong izinkan aku kepada pak pengawas ya.” ujarku pada Yoseob. “Hanya oppa satu2nya keluarga terdekatku, aku akan menemaninya hari ini. Tidak apa-apa kan?”
Yoseob mengangguk, “Jaga dirimu ya, Hyunyoung-sshi. Nanti setelah pulang kerja, aku dan Dongwoon akan kerumah membawakanmu kimchi hangat. Bagaimana?”
“Baiklah, mianhae karena merepotkanmu pagi-pagi, Yoseob-sshi. Hati-hati jangan sampai terpeleset salju.” Ucapku. Namun ia hanya tersenyum sambil mengelus elus rambutku lembut
“Aku tidak akan mudah terluka, aku kan malaikat.” Jawabnya seperti itu dan meninggalkanku. Lalu kulihat tengkuk Yoseob, sebuah garis merah besar seperti bekas luka. Kenapa mirip dengan punya Hyunseung oppa?
“A… anu…” aku ingin menanyakannya, tapi terlambat. Yoseob sudah menutup pintu depan rapat-rapat, meninggalkan aku dan Doojoon oppa berdua saja.
“Hyun….Hyunyoung-sshi….. mianhae, bisakah kau gantikan bajuku?” tanya Doojoon oppa yang berusaha membuka matanya, “Kau masih punya…… bajunya Hyuri yang tebal-tebal dan besar…. kan?”
“Oh nee, tunggu sebentar ya oppa. Sekalian kuambilkan minyak angin mau kan?” aku berlari ke kamar mengambil semua yang diminta Doojoon oppa dan segera kembali. Aku membantunya duduk dan bersender ke dinding karena badan Doojoon oppa masih dingin dan terasa berat.
“To…. Tolong bukakan bajuku.” Perintahnya terbata-bata, beliau terlihat sangat kesakitan dan menderita dekali karena suhu yang menusuk tulang-tulangnya. Mesin penghangat yang kunyalakan mungkin belum cukup membuatnya hangat.
Saat aku membuka baju Doojoon oppa, terlihat gambar malaikat bersayap dengan warna hitam di punggungnya. Tidak terlalu besar, hanya saja terlihat seperti ukiran yang indah.
“Jangan tatapi punggungku lebih dari 10 menit, nanti sesuatu yang menakutkan akan terjadi. Tolong ya Hyunyoung-sshi.” Suara serak Doojoon oppa membangunkanku dari kekaguman.
“Nee mianhae oppa. Tapi bagaimana aku mengoleskan minyak angin nya kalau aku tidak boleh melihatnya?” tanyaku bingung. Segera saja kututup punggung oppa dengan selimut tebalnya.
“Oleskan saja, tapi jangan lama-lama ya.” nasehat oppa. Aku mengangguk dan segera mengoleskan minyak angin di punggungnya terlebih dahulu sembari terkagum kagum dengan tato di punggungnya. Tapi, bukankah kalau ditato itu sakit ya?
“Hyunyoung-sshi… sudah cukup panas. Tolong dadaku juga ya.” suara Doojoon oppa sudah kembali seperti semula, tapi wajahnya masih pucat dan setengah biru. Segera saja aku mengoleskannya di dadanya dan di sela-sela jari tangan dan kakinya.
“Oppa, sekali lagi maafkan aku ya.” ucapku agak terharu dan merasa bersalah. “Aku bukan mahluk yang luar biasa seperti malaikat dan semacamnya, yang bisa tahu keadaan orang yang dekat dengan kita.”
Doojoon oppa menggeleng geleng saat kupakaikan sweater milik unnieku. “Anii Hyunyoung, bukan kau yang salah. Ini salahku, aku diusir karena tidak mampu membayar uang kost-kostan ku. Aku tidak punya uang lagi, makanya aku kemari. Aku yang harus minta maaf karena merepotkanmu.”
Aku tersenyum miris, “Mungkin sudah kewajibanku untuk mengurus oppa, karena oppa adalah salah satu bagian dari keluarga terdekatku.” Jawabku. “Tapi.. tetap saja aku bukan malaikat putih yang bisa melakukan apapun untuk oppa.”
Tak kusangka Doojoon oppa menyeringai lemah saat kupegang erat-erat kedua tangannya, “Tidak semua malaikat memiliki sayap putih Hyunyoung-sshi. Kau tahu? Malaikat yang diketahui di dunia ini terbagi dalam dua kubu.”
“Jinjja? Aku tidak tahu. Bukankah putih adalah symbol dari malaikat?” tanyaku bingung.
Doojoon oppa menunduk dan tertawa lemah, “Kau masih sangat polos ya Hyunyoung-sshi? Malaikat itu tidak hanya berwarna putih, tapi ada juga malaikat yang memilik sayap yang berwarna hitam.”
“Apakah malaikat bersayap hitam mempunyai sifat yang sama dengan malaikat bersayap putih?” tanyaku lebih lanjut. Ternyata Doojoon oppa sangat ahli dalam masalah menyangkut dunia khayalan.
“Malaikat bersayap hitam diungkapkan orang-orang sebagai Iblis, mahluk yang yang menentang penciptanya….” Jawab Doojoon oppa yang masih lemah. “Tapi sebenarnya, malaikat bersayap hitam hanya malaikat nakal yang meminta ampunan karena kelakuannya di masa lalu….”
Aku berpikir pikir.. benarkah malaikat bersayap hitam itu ada? Benarkah mereka tidak jahat? Benarkah mereka hanya ingin minta ampunan kepada penciptanya? “Apa buktinya kalau malaikat hitam itu tidak jahat, oppa?”
“Uhuk uhuk, mereka membantu malaikat putih meskipun sang pencipta tidak menyuruhnya.” Doojoon oppa tetap menjelaskan meskipun terbatuk batuk, “Seperti yang Dongwoon……”
Tiba-tiba Doojoon oppa ambruk menimpaku, wajahnya masih pucat. Namun suhu tubuhnya menjadi panas. Hembusan nafasnya membuat jantungku berdebar-debar. Omona…. Bagaimana kalau ada yang melihat kami berdua seperti ini dan menumbuhkan kesalah pahaman???

~~~~~

Min Minri story…

Kemarin malam..

“Jaga kesehatanmu disana ya jagiya? Kalau aku sempat, aku akan main kesana.” Ucap namja diseberang teleponku. Aku mengangguk seraya mengucap iya dan mengingatkan hal yang sama padanya.
“Kamu juga ya, jangan sampai demam. Kan ini musim dingin.”
“Tidak akan, kan aku kuat.” Ucapnya penuh dengan kebanggaan. “Kamu tuh yang gampang sakit-sakitan.”
“Aniiyo, aku sudah berubah. Tidak serapuh yang dulu, arraseo?” ucapku sambil memilin milin rambutku
“Iya ya, sudah satu tahun kita tidak bertemu. Kapan kau kesini?” tanya namja itu sangat berharap. “Aku rindu padamu.”
Jantungku berdebar debar, kurasa mataku agak berkaca-kaca. Aku berusaha menahan perasaanku supaya tidak membuatnya khawatir, “Molla, tapi kalau aku sudah punya cukup uang untuk kesana.. aku pasti akan kerumahmu dan menginap seharian. Aku kangen sama noona mu.”
“Yak, masak kau lebih kangen sama noona ku dibanding aku?” sergahnya sambil tertawa. “Yasudah, kalau ada sesuatu, kabari aku ya.”
Aku mengucapkan ya dan terima kasih, lalu mengakhiri pembicaraan dengan menutup telepon. Yang tadi sangat menyenangkan… sekali menyedihkan.
Orang yang tadi aku telepon adalah pacarku. Kami berpacaran dari SMA. Saat aku masuk perguruan tinggi, aku pindah secara permanen bersama keluargaku. Kami jarang sekali bertemu, karena ia orang yang sangat dibatasi kegiatannya oleh orangtuanya. Ia orang kaya, berbeda denganku. Ia pergi kemana saja diantar oleh supirnya, sehingga ia jarang sekali bisa menemuiku. Apalagi pergi ke rumahku yang sekarang, rasanya tidak mungkin. Namun ia rajin menelponku dan berbagi cerita denganku.
Tapi bukan itu yang aku sedihkan…. Aku sedih karena aku sekarang sudah menyukai orang lain. Sebenarnya aku ingin memutuskannya, tapi aku tidak tega…
Dan orang yang kusuka adalah hoobae dari Hyunyoung di midimarket, Son Dongwoon.

.....

“Annyeonghaseo Minri noona.” Sapa Dongwoon. “Sudah siap berangkat ke taman ria?”
Aku mengangguk dan segera naik ke bangku motornya tanpa bicara. Aku berusaha menutupi sesuatu yang mungkin akan diketahui oleh Dongwoon cepat atau lambat. Ia begitu perhatian padaku akhir-akhir ini, ia selalu mengantarkanku ke taman ria satu jam sebelum ia berangkat bekerja. Kami sering berbagi cerita, tapi aku belum berani memberitahunya kalau aku punya kekasih nun jauh disana.
“Noona, ada apa denganmu?” tiba-tiba Dongwoon menurunkan sadel motornya dan menghadap ke arahku, “Matamu bengkak, pasti kau habis menangis. Ada apa?”
Aku menggelengkan kepalaku, “Anii, aku baik baik saja Dongwoon-ah. Lebih baik kita segera berangkat. Hyunseung oppa bisa marah kepadaku kalau aku terlambat.”
Ia mengangkat wajahku dan menempelkan HP di telinga kirinya, “Omo….. bahkan kau makin terlihat sipit karena sembap. Oh….. yeoboseo Kikwang hyung.” Ternyata ia menelpon Kikwang. “Aku mau minta ijin padamu. Minri noona sedang tidak enak badan, bisakah dia kerja di shift sore?”
Aku terkejut dengan omongannya. Aku meraih-raih HPnya sebisa mungkin, tapi ia mengelak dari gapaianku dengan mudahnya. Aduh, kenapa ia bilang aku cuti?! Kenapa sih dengannya????
Selesai menelpon ia berbicara padaku, “Noona ikut aku kerja ya hari ini. Nanti saat makan siang, kau bisa cerita semua hal yang sedang kau pikirkan. Bagaimana? Mau kan?”
“Omo….. ottokke? Kau sudah membatalkan jam kerjaku pagi ini. Ya mau tidak mau aku harus menurut.” Kataku pasrah. “Lalu…. Kalau appa dan ummaku tahu, bagaimana?”
“Noona tidak usah khawatir, nanti aku yang minta ijin.” Jawab Dongwoon santai. Astaga, apa yang akan ia tanyakan padaku? Semoga bukan yang menyangkut masalah kemarin malam.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar