Shin Hyunyoung story…
Astaga, Hyunseung oppa…. Dia berjarak 1 meter dariku saat ini. Rasanya jantungku tidak berhenti berlari melihatnya yang sedang membagikan balon kepada anak-anak. Namja yang tidak banyak bicara itu telah merebut hatiku sejak pertama kali bertemu…
“A… a…. annyeonghaseo.” Sapaku malu-malu. Ia menengok kebelakang dengan pandangan yang ingin tahu. Tepat saat melihatku, ia tersenyum manis sekali
“Annyeonghaseo Hyunyoung-sshi.” Sapanya balik. “Mian, aku sedang membagikan balon kepada anak-anak.”
“Gwechanaeyo oppa, mau kubantu?” tanyaku sopan. Namun ia menggeleng sambil tersenyum seperti biasa.
“Gamsahabnida, biar aku saja yang menyelesaikan tugasku. Kau jalan-jalan saja dengan teman2mu, nanti kalau aku sudah selesai kujemput dan kita bisa mengobrol bersama. Bagaimana?”
“Ah baiklah kalau begitu. Sayang sekali ya.” jawabku sambil menenangkan degup jantungku yang masih tidak karuan. Hyunseung oppa memandangiku dengan mata tajamnya tanpa ekspresi, sejenak mungkin terlihat menyeramkan. Tapi sesungguhnya itu tidak menakutkanku sama sekali.
Saat oppa berbalik, terlihat dari tengkuknya sebuah garis merah yang cukup besar. Seperti luka yang cukup besar.
“Oppa, kenapa tengkukmu? Kau terluka?” tanyaku agak khawatir. Ia langsung mengangkat kerah bajunya dan menutupi tengkuknya dengan wajah yang gugup.
“Anii.. aku tidak apa-apa, mungkin hanya perasaanmu saja.” Ujarnya terbata-bata, “Kau baru melihatnya beberapa detik kan?”
Aku tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Tapi aku mengangguk anggukan kepalaku, “Nee aku baru melihatnya selama 3 detik. Tapi… oppa yakin kan itu bukan luka atau kulit yang robek?”
“Bukan kok…” jawabnya cuek. “Tuh Yeoseob sudah menunggumu, sebaiknya kau segera kesana.”
Aku mengangguk sambil meninggalkannya dan menghanpiri teman-teman rekan kerjaku di midimarket, “Mianhae sudah lama menunggu. Minri, kami main-main dulu ya~~”
Kami berpamitan pada Minri dan segera mencari wahana yang akan kami kunjungi. Pertama kami naik bianglala terlebih dahulu, aku duduk bersama Yoseob sementara Dongwoon duduk sendiri.
“Uwaaaaah sudah lama aku tidak naik bianglala.” Ucap Dongwoon antusias. “Untung saja Hyunyoung noona masih punya tiket masuk gratis hadiah dari minuman kemasan yang kemarin ia beli.”
“Benar kata Dongwoon. Gamsahabnida Hyunyoung-sshi.” Ujar Yeoseob “Kita memang sedang butuh hiburan.”
Aku hanya tertawa-tawa melihat keantusiasan mereka berdua yang seperti anak kecil, memang sih sudah lama sekali kita tidak bermain ke tempat kerja Minri. Waktu ini sangat berharga, tidak boleh dilewatkan.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~ anakku~!!” teriak seseorang dari bilik bianglala yang lain, saat kulihat ternyata anak yang dimaksud sedang tergelantung di udara, dengan kepala menghadap kebawah. Sementara sang ibu berteriak-teriak dibawah karena ia belum naik wahana ini.
“Ottokke?? Tidak bisakah kita menolong dia?” tanyaku pada mereka berdua, tapi mereka berdua malah sibuk sendiri dan berbicara menggunakan bahasa yang aneh dan tidak kumengerti.
“Harus seperti inikah? Tidak bisakah kita biarkan saja?” tanya Dongwoon.
“Ppali~~ dia belum cukup umur kalau dibawa kesana.” Jawab Yeoseob. “Aku yang melakukannya dan kau disini bersama Hyunyoung, arraseo?”
“Yak~!! Kalian ini bicara a…….” belum selesai aku bicara, tiba-tiba Dongwoon bertukar posisi duduk dengan Yeoseob dan menutup mataku…
.....
“Hyunyoung-sshi… bangun, bangun…..” panggil suara yeoja ditelingaku. Saat kubuka mata, ternyata Sunghyo sudah ada di depanku bersama dengan teman-temanku yang lain.
“Sunghyo-sshi? Junhyung oppa? Kok kalian bisa ada disini?” tanyaku heran. Kulihat ruangan yang ada disekitarku, ternyata ini ruang pertolongan pertama di taman ria.
“Kata Dongwoon dan Yeoseob kau pingsan karena pusing.” Jawab Junhyung oppa. “Jadi kami berlima membawamu ke ruang kesehatan.”
Yoseob menatapku agak khawatir, begitu juga dengan yang lainnya. “Mianhae Hyunyoung-sshi. Aku tidak tahu kau punya gangguan di masalah ketinggian.”
Aku manggut manggut pelan. Sepertinya aku tidak merasa pusing saat tadi, tapi kenapa sekarang aku pusing sekali ya? tadi kan aku sedang lihat anak kecil yang….
Oh iya! Anak kecil itu, bagaimana keadaannya?! Aku harus segera ke bianglala untuk menyelamatkannya!
“Yak, mau kemana? Kau kan masih pusing?” tanya Sunghyo terkejut saat melihatku bangkit dan menggunakan sepatuku.
“Tadi ada anak kecil yang hampir jatuh dari bianglala, aku ingin menyelamatkannya~!” ujarku panik.
Tapi Yeoseob menghalauku dan memaksaku untuk berbaring di tempat tidur, “Tenanglah. Anak itu selamat, tadi petugas berhasil menangkapnya saat jatuh. Memangnya kau tidak lihat?”
“Anii… anii…. Dongwoon tadi menutup mataku tiba-tiba…. Dan saat aku bangun, ternyata aku sudah disini” ucapku bingung, karena hanya itu yang aku ingat saat kejadian itu berlangsung.
“Mwo? Aku tidak menutup mataku kok.” Ucap Dongwoon sambil melirik Junhyung oppa. “Tadi kau tiba-tiba pingsan. Dan saat kulihat, ketinggian bianglala sudah jauh sekali dari tanah. Mungkin itu yang membuatmu pusing.”
“Aku tidak bohong oppa~~ tadi… mereka juga bicara dengan, bahasa yang aneh…. Bahasa yang tidak kumengerti.” Aku berusaha mengingat ingat kejadian barusan.
Sunghyo mengeryitkan alisnya. Lalu Junhyung oppa mengangkat selimut untuk menutupi badanku, “Kau ini bicara apa sih? Jelas-jelas kau tadi seperti tertidur di bilik bianglalanya, Yoseob dan Dongwoon saja sampai panik karena kau tidak kunjung sadar. Lebih baik kau istirahat, sebentar lagi Minri akan ganti shift. Kita bisa menghabiskan waktu dengan mereka.”
“Junhyung oppa akan menemanimu disini sementara, aku mau ke tempat Kikwang dulu. Apa aku harus menelpon Doojoon oppa?” tanya Sunghyo hendak pergi bersama Yoseob dan Dongwoon.
“Anii… tidak usah, beliau sedang ada urusan dengan teman-temannya.” Jawabku sambil masih mengingat-ingat kejadian saat aku naik bianglala tadi. Apa benar aku tadi pingsan?
“Kata Sunghyo, kau phobia terhadap tempat yang tinggi dan darah dalam jumlah yang banyak ya?” tanya Junhyung oppa. Aku mengangguk, lalu ia berkata lagi. “Kenapa kau takut darah?”
“Anu….. waktu unnie meninggal, aku masih melihat TKP dan jasad unnie yang berlumuran darah. Darahnya hampir menyentuh sepatuku, jadi aku takut.”
Junhyung oppa manggut-manggut, “Ternyata alasannya seperti itu ya? memang sih darah orang lain yang hampir menyentuh kita itu mengerikan.” Jelasnya, “Mungkin Dongwoon dan Yeoseob melakukannya supaya kau tidak mengalami hal yang sama seperti satu tahun yang lalu.”
Aku mengeryitkan alisku kebingungan, “Maksud oppa bagaimana? Aku tidak mengerti.”
Junhyung oppa terkesiap dan menutup mulutnya dengan pandangan mata yang ketakutan dan penuh dengan kekhawatiran, “Aniiyo, lupakan saja perkataanku barusan. Kubelikan kau makanan kecil ya?”
Saat Junhyung oppa menunduk mencari sesuatu di tasnya, kulihat garis hitam besar seperti milik Doojoon oppa. Aku hendak bertanya kepada oppa tentang tattoo itu…
Tapi kepalaku terlalu pening, mungkin perkataan mereka semua benar. Aku pingsan karena kepalaku terlalu pening saat di bianglala tadi.
~~~~~
Park Sunghyo story…
“Kikwang-sshi, Maaf menunggu lama.” Kataku menghampiri namja chingu ku di balik meja kasir. “Berapa jam lagi tugasmu selesai?”
“Mungkin beberapa menit lagi. Kru yang lain sudah datang, tinggal menunggu Hyunseung hyung selesai menjual gulali-gulalinya. Maklum, sebagai yang tertua di tim kita… dia yang bertugas menjual gulali.” Kata Kikwang sambil merangkul pinggangku. “Kau sudah makan siang?”
“Belum, aku lapar sekali. Tapi tunggu saja sampai tugas kalian selesai,” jawabku antusias. “Tapi ngomong-ngomong, Hyunyoung hampir saja mengetahui keberadaan ‘kalian’”
Mata Kikwang yang sipit melebar karena terkejut, “Kok bisa? Apa Hyunseung hyung yang memberi tahu dia?”
“Kurasa tidak, Hyunyoung cukup terkejut waktu melihat garis merah besar di tengkuk oppa.” Aku meraih dan menelusur leher Kikwang sampai di tengkuknya yang tertutup kerah baju. “Seperti punyamu jagiya.”
Kikwang menepis tanganku yang menempel di tengkuk dalamnya, “Jangan lakukan hal seperti ini dong di tempat umum, nanti para pembeli akan merasa terganggu.”
“Hahahaha mianhae Kikwang-sshi~~” ujarku sambil tersenyum senyum, “Lalu, apa yang harus kalian lakukan? Kalau Hyunyoung tahu tapi bukan sebagai ikatan dari salah satu dari ‘kalian’ apakah tidak berbahaya?”
“Tentu saja itu berbahaya. Kita bisa dihukum.” Ungkap Kikwang agak sedikit resah, “Apalagi Yoseob dan Dongwoon yang dekat dengannya, tapi tidak mempunyai ikatan apapun.”
“Tapi Hyunyoung kan menyukai Hyunseung. Apa tetap tidak bisa?” tanyaku bingung. “Lalu bagaimana dengan Minri? Dia belum tahu rahasia ‘kalian’ kan?”
Kikwang menggeleng. “Untung saja dia tidak mempermasalahkan tanda yang terkadang suka terlihat kalau sedang pakai baju polo. Kau tahu apa motif bunuh diri unnie nya Hyunyoung?”
“Molla, apa itu?” tanyaku. Namun sebelum Kikwang menjawab, ia menjauhkan diriku dari tubuhnya. Benar saja, beberapa saat kemudian terlihat gerombolan anak SMP yang hendak membeli aksesoris.
“Kikwang, aku sudah menjual 20 gulali, ini uangnya.” Hyunseung oppa muncul dan memberikan uang kepada Kikwang yang sedang melayani penjual yang sedang membayar. “Oh, annyeonghaseo Sunghyo-sshi, baru saja datang?”
“Tidak kok, tadi aku di ruang kesehatan karena Hyunyoung dibuat tidur dan tidak bangun-bangun saat di bianglala.” Aku menyapa Hyunseung oppa yang siap-siap untuk berganti baju, “Dongwoon yang membuatnya tidur.”
“Apa ada kecelakaan yang membuat ‘mereka’ harus menidurkan Hyunyoung?” tanya oppa kembali.
“Ada anak kecil yang tersangkut di pintu bianglala dan nyaris saja jatuh, untuk Yeoseob menyelesaikan semuanya, aku tahu itu dari Kikwang-sshi.” Jawabku, “Minri sudah selesai membagikan selebarannya?”
Hyunseung oppa hanya mengarahkan kepalanya ke pintu masuk, Minri masuk sambil membawa beberapa selembaran yang tersisa. Lalu oppa masuk ke ruang ganti, sementar Minri memberikan selebaran sisa kepada orang lain yang akan bertugas sesudahnya.
“Oh annyeonghaseo Sunghyo~~ kami sudah selesai nih, ayo kita jalan-jalan.” Ucapnya riang “Yak Kikwang-sshi~~ sudah selesai nih tugas kita. Ayo kita jalan-jalan, yeoja chingu mu sudah menunggu nih”
Wajahku merona karena ucapan Minri barusan. Apa-apaan sih dia? Aku kan malu~~~
“Nee, aku akan segera ganti baju.” Jawab Kikwang dari meja kasir. Beberapa saat kemudian Hyunseung oppa keluar dari ruang ganti bajunya dan mengisi kartu absennya.
“Hyunyoung masih di ruang kesehatan?” tanya nya dengan muka cuek seperti biasa. Aku mengangguk dan ia berlalu meninggalkan aku dan Minri tanpa suara.
“Hahahahaha aku masih belum terbiasa nih dengan sikap Hyunseung oppa yang cuek.” Ungkap Minri
“Tapi kau tahu tidak?” ujarku penuh rahasia. “Oppa banyak tersenyum loh kalau di depan Hyunyoung, kupikir mereka berdua saling menyukai.”
~~~~~
Shin Hyunyoung story…
“Kita akan selalu bersama kan unnie?”
“Nee. Kita akan selau bersama-sama sampai kita menikah nanti, Hyunyoung.”
“Hyunyoung… kau tahu? Hidup begitu sulit saat kita sendiri. Tapi karena ada kau, hidupku tak sesulit yang kukira. Gomawo dongsaeng, aku akan selalu kuat bersamamu..”
Aku terbangun dari tidurku, kata-kata terakhir yang unnie ucapkan sebelum ia pergi masih terngiang ngiang di pikiranku, aish… bagaimana aku bisa menghilangkannya?
“Annyeong, bagaimana keadaanmu Hyunyoung-sshi?” terlihat Hyunseung oppa berdiri di ujung ruangan sambil melipat kedua tangannya di dada. “Sudah mendingan?”
Aku mengangguk pelan dan mulai merapihkan rambutku yang agak berantakan. “Oppa sudah selesai tugasnya? Jadi.. kita ikut jalan-jalan nih?”
“Terserah kau saja.” Jawabnya sambil melihat sekeliling ruang kesehatan. “Aku belum pernah kesini, sepertinya disini menyenangkan ya?”
“Ini tempat orang sakit, oppa. Bagaimana bisa tempat ini bisa membuatmu senang?” aku mengeryitkan alisku karena perkataan Hyunseung oppa, aku tidak tahu apakah ia berusaha melucu atau tidak.
Tiba-tiba Hyunseung oppa memegang tangan kiri dan memegang pelipisku. ia memegangnya lembut, namun membuat detak jantungku memburu tak henti. Apa yang ia lakukan? Oh Tuhan, kuharap ia menghentikan perbuatannya yang bisa membuat jantungku berhenti~~~~
Ia masih memegangi tangan kananku, pelipisku dan menatap mataku dalam-dalam, aku bagaikan terhipnotis oleh tatapan matanya. Ingin rasanya aku melepaskan kedua tangannya yang menempel di anggota tubuhku, tapi aku tak sanggup melakukannya..
“Semoga masalah-masalah yang memenuhi pikiranmu cepat menghilang ya.” tangannya yang tadi di pelipisku, turun ke pipiku. “Kau harus rajin-rajin olahraga untuk mengatur detak jantungmu. Semoga yang kulakukan tadi tidak membuatmu takut ya.”
Aku manggut manggut bodoh, mungkin aku tidak takut. Hanya gemetaran dan berdebar-debar, hehehe
Lalu tangan kanannya yang memegangi tanganku mulai mengendur, sesaat tadi aku merasa hangat karena ia terus memegangiku. “Baiklah, ayo kita jalan, semuanya sudah menunggu.”
“Jinjja? Mereka menunggu kita? Aku harus segera…..” saat aku bangkit dari tempat tidur dan hendak mengambil sepatu, aku tersandung kakinya yang panjang. Dengkulku terbentur cukup keras. Sakiiiiit
“Aish, mianhae.. kakiku terlalu panjang ya?” katanya sambil membantuku bangun. “Aku yakin pasti setelah kita jalan-jalan nanti, lukanya pasti tidak sesakit ini.”
Ia menepuk nepuk dengkulku yang agak tergores dan menarik tanganku. “Kaja, kita makan siang dulu ya, kau pasti lapar kan?”
Aku mengangguk pelan sambil mengikutinya keluar ruangan. Diluar semuanya sudah menunggu.
“Hyunyoung, ayo kita makan siang~~!!! Aku lapar nih.” Ajak Yoseob. “Nanti kau yang pilihkan makanan ya, kau pasti tidak lupa sama makanan kesukaanku kan?” ia menggamit tanganku sehingga aku terpisah dari Hyunseung oppa yang agak terkejut dengan kelakuan Yoseob.
“Baiklah, ayo teman-teman~~ habis makan kita naik wahana-wahana ya.” ajakku dibalas dengan anggukan mereka. Kulihat Hyunseung oppa yang hanya memandangi sekitarnya dengan wajah cuek, senyum yang tadi bersinar di wajahnya, meredup seketika itu juga…
Sebenarnya aku merasa tidak enak. Tapi karena Yoseob, Sunghyo, Minri, dan Kikwang adalah teman SMA ku, jadi kupikir tidak masalah. Kuharap Hyunseung oppa mengerti…
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar