Park Sunghyo story..
“Suatu hari, sayapku ini bisa berubah kalau salah satu dari kawanan itu merubah sayapnya.” Ucap Kikwang beberapa bulan yang lalu. “Apa perasaanmu juga akan berubah terhadapku?”
Aku menggeleng kalem dan mulai bertanya, “Apa kenangan kita dan sifatmu juga akan menghilang dan berubah kalau warna ini…, menjadi gelap?”
“Kurasa tidak,” Kikwang menempelkan kedua tangannya di pipiku, “Asal Chubbyku tidak merubah perasaannya terhadapku.”
Drrrrrrrt drrrrrrrrrrrrrrt HPku bergetar tak berhenti. kupencet pencet untuk mematikan suara HP yang kupikir suara alarm, saat aku membuka mataku yang kulihat adalah foto Kikwang dengan satu pesan yang belum terbaca.
Aku membuka pesan, dan terkejut saat membacanya.
From: My Holly
Jagiya, Dongwoon sudah merubah bulunya. Dan itu mempengaruhiku.
.....
“Sakit tidak saat berubah warna?” tanyaku sambil mengelap keringat Kikwang. Karena efek perubahan itu, ia jatuh sakit dan ia mengalami demam tinggi.
“Anii, tapi tubuhku rasanya lemas sekali, bulunya rontok dan berganti lah menjadi bulu baru.” Ucap Kikwang sambil terbatuk-batuk, “Jagi, hari ini kamu tidak kerja?”
“Lebih baik aku menemanimu dulu sampai besok? Tidak apa—apa kan?” tanyaku “Kamu kan tinggal sendirian. Kalau kau tidak bisa bangun dari tempat tidur seperti ini, nanti kamu tidak makan seharian dong?”
Kikwang memejamkan mata dan menarik selimut hingga mencapai wajahnya, “Aku tidak bisa pakai baju karena pergantian warna simbol membuat kulitku perih. Hah…. Semoga aku bisa menerima keadaan ini.”
“Tapi aku masih bingung, kenapa bukan Yoseob atau Hyunseung oppa yang berubah? Kenapa harus kau?” tanyaku sambil melihat lihat punggung Kikwang yang memerah seperti dipukul dengan sapu lidi
“Karena umurku tidak jauh darinya. Kami ditakdirkan untuk berpasangan.” Jawab Kikwang. “Malaikat bersayap hitam bukan hanya karena ia telah melakukan kesalahan. Tapi karena pasangannya merubah warna bulunya.”
Aku mengangguk angguk sambil mengelap punggung dan seluruh badannya yang panas dengan air dingin, “Hajiman… kalau kasusnya Junhyung oppa itu berbeda kan?”
“Nee, ia tidak bisa merubah warna bulunya sebelum ia jatuh cinta dan memiliki pasangan.” Ucap Kikwang, “Ah jagiya, bisa buatkan makanan? Aku sangat lapar~~”
Aku mengangguk dan segera mengecek lemari es yang ada dirumah Kikwang, “Mwo? Kok lemari es mu kosong? Jadi aku harus belanja dong?”
“Jinjja? Aku belum memeriksa lemari es nya.” Ujar Kikwang dari kamarnya, “Yasudah tinggalkan saja aku disini, kamu pergi ke midimarket tempat Hyunyoung ya? tidak apa-apa kan?”
“Gwechana, arraseo.” Jawabku sambil mengecek dompet yang isinya makin menipis. Ya Tuhan, kapan ummaku memberikan uang bulanan untukku? Aku bisa kehabisan uang kalau ia tidak kunjung mengirimiku~~
~~~~~
Shin Hyunyoung story..
“Annyeong… oh, yoeboseo Yoseob-sshi?” aku melihat Yoseob sedang mencatat barang-barang bersama seorang yeoja yang tidak kukenal.
“Oh Hyunyoung-sshi, ini kerabat kita yang baru. Miyoung noona.” Jawab Yoseob sambil tetap mencatat barang yang yeoja itu pegang.
Aku menunduk dalam-dalam kepada yeoja itu, sungguh senang rasanya memiliki karyawan baru di shift pagi, “Annyeonghaseo unnie. Shin Hyunyoung imnida.”
“Nee annyeonghaseo~” jawabnya sopan dan ramah, kulihat Yoseob senyum senyum sendiri di sebelah Miyoung unnie. Ada apa dengannya? Aneh sekali~
Kling kling…. Pintu midimarket terbuka, oh.. pagi pagi begini sudah ada tamu?
“Annyeonghaseo~ ada yang bisa dibantu?” aku menunduk dalam-dalam melihat seorang namja berperawakan tinggi dengan rambut berwarna kuning dan kulit yang putih. Pasti ia seorang turis yang tidak sengaja mampir kesini untuk membeli sesuatu,
“Oh annyeonghaseo. Selamat pagi.” Miyoung unnie dan Yoseob ikut-ikutan membungkuk hormat. “Welcome to Midimarket, can we help you?”
Astaga, namja ini kan turis ya? kok aku bisa lupa berbahasa Inggris sih?!@#$#@ babo sekali diriku~ “Oh Im sorry, Im forgot to speak English. Can I help you? What do you want? Ciggarette or some fresh drink? Blablablablablabla” *Capek ngetik bahasa inggris*
Tidak kuduga, tiba-tiba namja itu tertawa dan berbicara. “Hahahahaha kalian ngomong apa sih? Ini aku, Son Dongwoon.”
Namja itu membuka kacamatanya, dan tersenyum puas setelah menipu kami dengan penampilannya.
Astaga~~~ kenapa si Arabian Prince berubah menjadi American Prince?!?!?! *lebay mode on*
.....
“Noona, kau mau langsung pulang?” tanya Dongwoon yang melihatku memasukkan kartu absen. “Bagaimana kalau kita ke tempat Minri dulu? Sekalian bertemu Hyunseung hyung.”
Aku mengendikkan bahuku, “Molla, Doojoon oppa masih sakit. Aku harus menjaganya.”
“Bukannya ada Junhyung hyung disana?” tanya Dongwoon, “Ayolah~~ aku bayari deh. Aku juga ingin bertemu dengan yeoja chingu….”
Dongwoon langsung menutup mulutnya dengan panik. Apa yang kudengar tadi? Yeoja chingu? “Mwo, kau sudah jadi namja chingunya Minri??? Whoaaaa Chukkae~~!!”
Namja yang kini seperti turis itu menggaruk garuk rambut kuningnya yang baru, “Gamsahabnida. Noona kapan nih dengan Hyunseung hyung? Hehehehe”
“Mwo? Apa yang kau katakan Dongwoon-sshi?! Kami saja belum akrab sama sekali.” Pekikku malu, “Kenapa tidak tanya Yoseob saja? Tadi ia terlihat senyam senyum saat bersama Miyoung unnie.”
Yoseob yang tahu kami sedang membicarakan dia langsung melotot, “Anii… tidak bolehkah aku tersenyum? Boleh kan Miyoung noona?”
Miyoung unnie menunduk sambil menahan tawa, astaga dia sangat manis sekali saat tertawa seperti itu. Yoseob yang ceria dan Miyoung unnie yang lembut, sangat cocok sekali~~!!
“Kaja, nanti kuantar pulang kalau Minri mau pulang sendiri.” Dongwoon menarik lengan jaketku dan berpamitan, “Yoseob hyung, Minyoung noona, kami duluan ya~!!”
Dongwoon menyalakan motornya dan menyuruhku duduk di jok belakang, ia menjalankan motornya dengan kecepatan standar karena angin musim dingin yang sangat menggigit.
Badan Dongwoon yang lebar menutupi badanku dari angin dingin, dan lama-lama membuatku mengantuk.
Ah Hyunseung oppa. Im coming~~
~~~~~
Yong Junhyung story..
Bisa kudengar suara bulu yang berguguran, dan tumbuh menjadi bulu suci yang indah…
Mungkinkah, itu Dongwoon?
Aku berlari mencari sumber suara yang dihasilkan oleh bulu yang berguguran itu, dan kini aku berhenti di sebuah rumah yang sangat kukenal.
“Ini kan.. rumah Minri? Jangan bilang kalau….” Aku segera melesat masuk ke dalam halaman rumah Minri dan menemukan bulu-bulu hitam berserakan di depan pintu rumahnya.
Aku mengumpulkan bulu itu dan menaruhnya di tong sampah, kulirik jendela kamar dengan lampu menyala dan gordennya sedikit terbuka. Aku melesat tanpa suara mendekati jendela itu.
Aku mengintipnya, aku melihat Minri dan Dongwoon sedang berbincang. Mereka tampak bahagia meskipun tubuh Dongwoon memerah karena pergantian warna symbol di punggungnya.
Mereka tertawa, lalu Dongwoon mencium bibir yeoja kecil itu. Mereka saling mencumbu dan bercinta…
Tubuhku merosot dibalik jendela dibalut hawa dingin dan salju, betapa menyenangkan menjadi Dongwoon. Bulu gelapnya kini menjadi suci kembali, karena ia berhasil mendapatkan jodohnya.
Kapan giliranku?
Aku menatapi lenganku yang terkena minyak panas karena memasak kentang goreng pesanan pelanggan. Benci sekali harus menyembuhkan diri di hadapan orang-orang normal seperti karyawan lain, dan ngomong-ngomong, dimana Sunghyo? Kenapa ia tidak kunjung datang?
“Yak, Sunghyo tidak masuk ya?” aku bertanya pada salah satu staff yang sedang membungkus nasi dan mengisi gelas-gelas dengan softdrink.
“Nee, namja chingunya sedang sakit dan ia merawatnya. Mungkin besok ia akan datang.” Jawabnya.
Aku mengangguk sambil mengangkat kentang yang sudah berwarna kuning keemasan, kesukaan semua pelanggan disini. Setelah menaruhnya di bungkusan, aku melihat kalender. Sebentar lagi tahun baru ya?
“Liburan besok kau mau kemana?” tanya staff yang sedang mengipasi dirinya dengan sterofoam yang tidak terpakai. Mungkin karena suasana dapur yang memang super duper panas.
“Aku mau pulang kampung menemui yeoja chinguku.” Ucap staff yang tadi sedang membungkus nasi. “Musim semi tahun depan aku akan melamarnya. Aku harap dia mau menerimaku apa adanya kehidupanku sekarang ini, mungkin kalau sudah menikah akau akan membawanya kemari”
Aku mendengus pelan. Cinta, yeoja chingu, menikah, melamar, beberapa hal yang kini sedang tidak ingin kudengar. Tapi tidak mungkin aku melarang mereka membicarakannya kan?
“Tugasku sudah selesai. Sudah jam 5 sore kan?” ucapku pada mereka. Para staff hanya mengangguk sambil membicarakan rencana liburan mereka. Kuambil kartu absen dan segera menyingkir dari tempat yang penuh manusia itu.
Hari ini benar-benar sepi, tidak ada Sunghyo yang menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang ingin tahu segala hal tentang duniaku. Biarpun aku tidak suka sikapnya yang sok dewasa itu, tapi aku merasa sepi tanpanya hari ini, ia sedang sibuk dengan Kikwang yang juga mengalami perubahan terhadap bulu sucinya. Kini ia sama denganku dan Doojoon hyung, apakah ia juga berubah karena permasalahan cinta seperti aku dan hyung?
Kalau diingat ingat, bulu kegelapan kami terbentuk karena kesalahan di masa lalu. Kasusnya mungkin sama dengan apa yang Dongwoon lakukan kemarin malam, ditambah dengan pengakuan yang sama seperti Doojoon hyung lakukan. Intinya kesalahanku dua kali lipat besarnya.
Aku menatapi tulisan-tulisan yang merambat di lengan kananku. Kalau memikirkan masa lalu, tulisan ini mengeluarkan energi panas. Begitu juga yang ada di dada kiriku.
Rasanya sangat menyiksaku….
~~~~~
Shin Hyunyoung story..
“Dongwoon-sshi~~!!” sambut Minri antusias. Mereka berpelukan dan terlihat seperti seorang namja memeluk anaknya, sangat lucu.
Aku melihat Hyunseung oppa yang sedang mendekat kea rah kami bertiga, aku membungkuk dalam-dalam dan menyapanya, “Annyeonghaseo oppa, tugas kalian sudah selesai? Oh iya, mana Kikwang-sshi?”
“Annyeonghaseo Hyunyoung-sshi, hari ini Kikwang tidak masuk karena sakit.” Ucap oppa. “Bagaimana harimu, baik-baik saja kan?”
“Um~!” jawabku antusias, “Oppa, lihat~!! Arabian prince kita berubah menjadi turis, ia mengecat rambutnya~~”
Ekspresi Hyunseung oppa berubah menjadi terkejut dan matanya terbelalak cukup lama, ia memegangi Dongwoon dan mengucapkan bahasa yang tidak kumengerti. Minri menatapi mereka berdua sambil tertawa-tawa, bahkan ia ikut mengobrol?? Astaga, itu bahasa apa sih?! Aku juga ingin mempelajarinya~~
“Jesonghabnida, kalian bicara bahasa apa sih? Aku juga mau diajarkan dong.” Pintaku sambil menginterupsi mereka bertiga. Tapi yang mereka lakukan hanya menertawakanku, aish menyebalkan sekali~~~
“Kami hanya bercanda canda saja, Hyunyoung-sshi.” Ucap Hyunseung oppa sambil menepuk pundakku. “Oh iya, di sekitar sini ada danau dengan kapal bebek yang bisa dikendarai. Nanti kita kesana bersama ya?”
Kapal bebek? Pasti sangat menyenangkan. Aku mengangguk menyetujui ajakan oppa.
.....
“Yak Hyunyoung-ah, air disini tidak membeku loh. Hebat kan?” tanya Hyunseung oppa. Aku mengangguk gugup karena kami berdua duduk sangat dekat, setiap gerakan yang ia buat pasti akan menyentuh bagian badanku. Membuat jantungku berdebar-debar, karena aku baru pertama kali melakukannya.
“Eh, kau kedinginan ya?” tanya oppa. Dan tanpa kusadari, ia membuka jaket nya dan menaruhnya di pundakku, “Kau saja yang pakai. Aku takut kau masuk angin.”
“Gamsahabnida.” Aku memakai jaketnya, hmmmmmm wangi Hyunseung oppa sangat khas. Tidak terlalu maskulin atau feminism. Tapi tidak bau juga, wanginya seperti udara segar. “Wangi oppa seperti embun pagi, sangat segar namun ringan.”
Ia tersenyum lagi dan berkata, “Aku tidak pernah pakai minyak wangi apapun, tapi kau bilang wangiku seperti udara. Kau menyukainya?”
“Emmmm nee.” Jawabku malu-malu, “Aku tidak pernah merasakan wangi yang seperti ini oppa. Bagaimana bisa wangi yang ringan seperti ini hanya berasal dari sabun yang oppa pakai setiap mandi?”
“Molla, kupikir tidak.” Jawab Hyunseung oppa. “Sabun dan shampoo yang kupakai, wanginya cepat sekali hilang. Oh lihatlah, ada kunang-kunang disana~~”
Aku mendongak mengikuti jari Hyunseung oppa menunjuk. Benar apa yang ia katakan, banyak sekali kunang-kunang memijarkan cahayanya. Membuat suasana semakin hening dan syahdu *cihuy*
“Unni bilang, kunang-kunang berada di sekitar orang yang mempunyai hati yang bersih dan tulus.” Ucapku sambil menyenderkan diri di kursi kapal. “Kunang-kunang juga berada di sekitar kita apabila kita merasa senang dan nyaman.”
Tiba-tiba Hyunseung oppa menyenderkan kepalanya dan menghela nafas. “Benar juga ya, aku juga merasa senang dan nyaman sampai-sampai aku mengantuk.”
Wajahku memerah dan aku hanya bisa menyenderkan kepalaku diatas kepalanya. Kunang-kunang yang enggan pergi membuat suasana semakin romantis sekaligus membuat jantungku berdebar-debar
Kulihat oppa yang sudah terlelap dan pelan-pelan kugapai tangannya dan menggenggamnya lembut. Tangan Hyunseung oppa begitu hangat meskipun hawa di sekitar danau semakin dingin….
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar