Hangkyung Ahjusshi’s POV
“Ahjusshi, apakah anda percaya…. Bahwa cinta dapat mengalahkan segalanya?”
“Mengalahkan dalam hal apa dulu, Heechul-sshi?”
“Mengalahkan yang namanya rasa takut. Rasa takut akan kesedihan, rasa takut akan berbagai hal, bahkan rasa takut terhadap kematian…”
“Sepertinya demikian. Cinta adalah penggerak kehidupan kita, tak kan ada kehidupan tanpa cinta.”
“Menurutku juga begitu Ahjusshi…. Meskipun rasa cinta itu juga menyakitkan….”
.....
Tiba-tiba aku ingat perkataan yang Heechul-sshi ucapkan saat kami sedang berbicang sore kemarin. Kuingat ingat wajahnya yang menyiratkan kepasrahan sekaligus keberanian saat mengucapkan hal itu, tapi kenapa perasaanku menjadi tidak enak seperti ini?
Kupandangi kotak cincin yang Heechul titipkan padaku, ia sengaja menitipkannya padaku. Sebuah cincin dengan 5 berlian kecil yang tertanam di pinggirannya, sungguh cincin yang indah menurutku….
“Silyehabnida~~~~” panggil seseorang sambil mematikan mesin motor. Oh…. Heechul-sshi sudah pulang?
“Tunggu sebentar, Heechul-sshi.” Dengan terburu-buru kubuka pintu, berharap misi yang ia ikuti sukses besar, tapi yang kulihat di pintu adalah Teukie dan Eunhyuk.
“Yeobo…” panggil Teukie dengan mata yang berkaca-kaca, ia segera menghambur ke pelukanku dan menangis tersedu-sedu. Wajah Eunhyuk juga terlihat sedih, apa yang terjadi?
“Yak, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis yeobo?” aku bertanya pada Teukie, tapi ia tidak menjawab. “Yak Hyukkie~~!! Apa yang terjadi, kenapa wajah kalian mendung seperti ini? Kemana Heechul, kenapa malah kau yang membawa motornya?”
Dari kejauhan, mobil Sungmin berhenti di pinggir jalan. Ryeowook, Donghae, Yesung dan Sungmin keluar dengan wajah yang mendung juga. Yesung menghampiri Teuki lalu memeluknya.
“Gwechana Umma, beliau pasti bisa bertahan. Aku tahu hyung orang yang pantang menyerah dan kuat, doakan saja dia.”
“Nee Yesung, tapi… Umma masih trauma sekaligus shock dengan kejadian barusan.” Ucap Teuki dibalik isakan tangisnya. Aku semakin tidak mengerti apa yang terjadi…
“Ahjusshi, mari kita masuk dulu. Diluar sudah gelap sekali, tidak baik untuk kesehatan anda.” Ucap Donghae tenang. Matanya bengkak, mungkin ia habis menangis. Ia mendorongku pelan kea rah ruang tamu dan mempersilahkanku duduk, dan menyuruh namja lainnya untuk duduk juga.
“Yak~~!! Ceritakan padaku apa yang terjadi.” Ujarku panik. “Jangan rahasiakan apapun denganku, jebal~~”
“Gwechana Appa, semua rencana berjalan dengan lancar.” Ucap Yesung tenang. “Para Jjang itu sudah kami ringkus bersama dengan para polisi, begitu juga dengan ketuanya yang berambut kuning platina.”
“Lalu…. Minsu sudah aman kan? Dia baik-baik saja kan?” tanyaku lagi untuk mendapat kepastian.
“Nee, dia baik-baik saja Ahjusshi..” jawab Ryeowook yang matanya tidak kalah bengkak dengan mata Donghae. “Ia tidak terluka sama sekali karena kami meringkus mereka di waktu yang tepat.”
“Ah syukurlah…..” jawabku sambil mengelus dada. “Tapi………… kenapa Teuki menangis? Kenapa mata Donghae dan Wookie-sshi juga bengkak? Kenapa wajahmu mendung, Hyukkie? Pasti ada yang belum kalian ceritakan padaku.”
“Saat mereka sudah diringkus polisi, kami mengikuti para polisi dan ingin mengurus kasus mereka.” Teuki mulai bicara. “Tapi.. ternyata ketua Jjang itu bersembunyi dalam mobilnya. Ia berlari ke arah Minsu dengan membawa pisau tajam.” Jelas Teuki. Tuhan…. Jangan bilang kalau…
“Dan Heechul-sshi yang datang entah darimana, melindungi Minsu. Perutnya tertancap pisau…..”
~~~~~
Onew Appa’s POV
“Astaga. Minsu!!!!!!!” teriak Key yang berjalan disebelahku. Ia berlari kembali kea rah Minsu, otomatis aku berlari mengikutinya. Begitu juga dengan semua namja Super Jjang.
“Op….. oppa?! Gwechanaeyo?!?!” tanya Minsu ketakutan. Namja yang melindunginya ambruk didepannya dengan darah bercucuran di sekitar perutnya. “Oppa?!?! Heechul oppa?!?!?! Kyaaaaaaaaaa!!!!!”
Aku menarik Minsu yang tantrum dan memeluknya, menutup matanya. Kalau tidak cepat, kejadian ini akan terekam di otaknya. Menimbulkan trauma….
“Susaengnim?? Susaengnim!!!” jerit yeoja pirang itu histeris. “Waeyo susaengnim?? Waeyo?!?!?!”
“uwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ~~ uhuhuhuhuhuhuhuhu!!!!” Minsu masih berteriak dalam pelukanku. Ia meronta sekuat tenaga, tapi aku tidak mau melepasnya. Aku tidak ingin ia mengingat kejadian ini selamanya.
“Tenanglah sayang, tenang….. Heechul-sshi masih hidup.” Ujarku menenangkannya.
“Biar aku yang mencabut pisaunya. Seseorang panggil ambulans. Ppali~~~!!!!” seru Eunhyuk sambil menyiapkan mental, lalu mencabut pisau besar dari perut Heechul-sshi yang tampaknya masih setengah sadar.
Kyuhyun memeriksa detak jantung dan denyut nadinya, “Hyung masih hidup, tapi kondisinya kritis. Semoga saja ambulans segera datang.”
Entah darimana kekuatan itu berasal, tiba2 Minsu berhasil melepaskan diri dari pelukanku. Ia berjalan menghampiri yeoja rambut kuning platina itu.
“Obsesimu itu menghancurkan segalanya, kau tahu?” ujarnya dingin. “Tidak perlu ada orang sepertimu di dunia ini, tidak perlu!! Kau saja yang mati, kau saja yang mati!!!!” Minsu meninju wajah si yeoja dan menendangi yeoja itu secara membabi buta. Ia menjambakki rambutnya, dan memojokkan wajahnya ke aspal.
“Wajahmu saja yang ku hancurkan, bagaimana.. hah?!?!?!” sebelum Minsu hendak menghancurkan wajah yeoja itu, aku segera memeluknya lagi dan menjauhkannya dari yeoja itu. Dan dalam waktu singkat, yeoja itu berhasil dibekuk dan dimasukkan ke mobil polisi.
“Jangan main hakim sendiri.” Ucapku pada Minsu. “Aku tahu, kesedihanmu sudah bertumpuk 6 bulan belakangan ini. Tapi…. Jangan lakukan hal itu, itu bukan kelakuan putriku Lee Minsu.”
Rontaan Minsu melemah, ia menangis dan berteriak sekeras kerasnya. Tangannya yang berlumuran darah milik Heechul-sshi menggenggam erat punggung kausku, rasanya sangat dingin….
.....
“Jinki-sshi!!” panggil seseorang yang ternyata adalah Hankyung-sshi. “Dimana Heechul?”
“Dia masih di gawat darurat.” Jawabku lemah. “Kondisinya diambang batas, mari kita berdoa saja untuknya. Aku yakin Heechul-sshi pasti kuat”
Nafas Hankyung-sshi masih terengah-engah, ia berusaha menahan emosinya. “Minsu…. Dimana Minsu? Bagaimana keadaannya?”
“Dia nyaris gila. Dia tidak pernah melihat darah orang dalam jumlah yang banyak.” Jawabku sambil menghela nafas. “Kini dia sudah dirumah bersama Key, Jonghyun, Minho, Taemin dan kedua sahabatnya.”
“Aku yang mengajaknya untuk ikut dalam penangkapan ini, tapi ia bilang ia tidak ingin semua orang tahu.” Mata Hankyung-sshi berkaca-kaca, “Mianhae Jinki-sshi, ini semua salahku…”
“Aniiyo, ini bukan salah siapa-siapa. Mari kita berdoa saja untuk kesehatan mereka berdua.” Ujarku sambil menepuk pundak Hankyung-sshi dengan penuh simpati.
~~~~~
Author’s POV
Rumah Sakit C, pukul 8 pagi..
“Kondisi beliau masih dalam keadaan koma. Bagian perut yang tertancap cukup dalam, tapi syukurlah tidak mengenai organ yang penting. Hanya sedikit menggores lambungnya.” Jelas dokter kepada Heejin yang langsung datang ke Seoul setelah mendengar berita dari Ahjumma Leeteuk. “Dalam kondisi seperti ini, beliau harus sering2 diajak bicara. Dan apabila beliau bersuara, turuti kemauan tersebut. Karena itu keinginan dari alam bawah sadarnya.”
“Baik pak dokter, gamsahabnida.” Heejin membungkuk dalam-dalam. “Untuk 2 hari ini, saya yang akan menjaga Heechul sampai ia siuman.”
“Baiklah kalau itu kemauan Heejin-ah.” Ucap Hankyung sambil bangkit dari tempat duduknya. “sudah tiga hari saya menemaninya disini, dan belum ada kemajuan. Semoga saja dengan kehadiranmu, keadaan Heechul-sshi membaik.”
“Gamsahabnida Ahjusshi.” Heejin mengucapkan terima kasih sebelum Hankyung pamit, lalu duduk di sofa dekat ranjang Heechul-sshi. “Chullie, bangunlah. Ini noona mu, sadarlah….”
“mmmmmm…. Minsu….” Bibir Heechul bergerak pelan. Heejin terkejut dengan reaksi adiknya itu.
“Chullie, gwechanaeyo? Kau sudah sadar? Umma dan Appa mengkhawatirkanmu.” Heejin berusaha mengajak Heechul berbicara. “Chullie, gwechanaeyo?”
“mmmm…… Minsu……. Minsu……..” hanya itu yang keluar dari mulut Heechul, tak ada yang lain.
“Akh…. Apa aku harus mencari orang yang bernama Minsu itu?” Heejin mengotak atik HPnya, mencari nama ‘Super Jjang Residence’ di daftar kontaknya.
.....
Kediaman Keluarga Lee, Pukul 10…..
“Minsu, jenguk dia. Temani dia. Sehariiiii saja.” Ucap Hyunsu merujuk. “Percaya padaku, ia membutuhkanmu.”
“Aku tidak bisa Hyunsu. Aku yang membuatnya koma seperti ini.” Jawab Minsu dingin. Sepertinya sikap kasar dan galaknya sudah kembali seperti semula.
“Anii, bukan kau yang membuatnya seperti itu.” Sergah Wonhee. “Tapi si Jang Boora itu, untung kau sudah memberinya ‘hukuman’”
“Menurutku, itu tidak cukup. Itu tidak sepadan dengan luka yang didapat Heechul oppa.” Jawab Minsu dingin dan matanya muali berkaca-kaca lagi, “Seharusnya aku melukai wajah lucifernya itu dengan pisau.”
“Yak, kenapa kau jadi seperti pembunuh berdarah dingin begini sih?” komentar Hyunsu. “Yang penting, kau sudah membalas kekesalanmu selama 6 bulan ini, betul kan?”
“Ah…. Kalian selalu membantu dan mendukungku setiap saat. You are my true best friends, gamsahabnida chingu.” Ucap Minsu sambil mengusap matanya dan memeluk kedua teman-temannya.
“No problem Minsu. Tapi kau temani Heechul oppa ya?” ujar Wonhee mengalihkan pembicaraan. “Aku yakin dia masih mencintaimu, begitu juga dengan perasaanmu. Aku tidak salah kan?”
“Akkkkh, molla Wonhee.” Jawab Minsu dengan wajah yang lemas kembali. “Aku bahkan tidak tahu apakah ia masih mengingatku atau ti…. Eh, HPku bunyi. Nomer tidak dikenal?” dengan segera Minsu mengangkat teleponnya. “Yeoboseo?”
“Yeoboseo. Kim Heejin imnida.” Jawab yeoja di seberang telepon. “Aku noonanya Heechul, bisakah aku minta tolong padamu?”
~~~~~
Minsu’s POV
“Yeoboseo. Kim Heejin imnida. Aku noonanya Heechul, bisakah aku minta tolong padamu?” ujar yeoja di seberang telepon.
“Noo…… noona?” tanyaku sedikit terkejut, “Jesonghabnida, Heechul oppa tidak pernah cerita kalau ia punya noona atau hyung. Jadi aku agak terkejut.”
“Gwechana.” Jawab Heejin eonnie. “Bisakah aku minta tolong padamu, Minsu?”
Aku menelan ludah. Aish, kenapa disaat saat seperti ini aku malah….. “Nee, ada apa eonnie?”
“Chullie dari tadi mengigau dan ia menyebutkan namamu terus-terusan.” Jelas Heejin eonnie. “Bisakah kau kemari dan menungguinya barang sehari atau dua hari saja? Aku temani deh.”
Eh? Kenapa permintaan kedua temanku menjadi kenyataan seperti ini?? Ini bukan rekayasa mereka berdua kan?
“Baiklah, aku akan segera kesana.”
.....
3 hari kemudian….
“Selamat pagi Minsu-ah” Sapa Heejin eonnie yang baru saja terbangun dari tidurnya. “Bagaimana keadaan Heechul?”
“Selamat pagi eonnie. Kondisi oppa sudah stabil, tapi ia masih belum bangun dari komanya.” Aku membuatkan eonnie mie instan untuk makan paginya. “Ini untukmu eonnie.”
“Nee, gamsahabnida. Kau cocok sekali jadi istrinya Chullie, kau rajin dan penuh perhatian.”
“Ahahahaha eonnie, jangan katakan hal seperti itu lagi.” Aku tertawa pahit. Eonnie sebenarnya sudah tahu sejak awal bahwa aku dan Heechul oppa sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa lagi, tapi ia selalu saja memujiku seperti itu. Membuat perasaanku semakin perih.
“Tapi itu kenyataannya sayang.” Sergah Heejin eonnie. “Aku ke kamar mandi dulu ya.”
Aku kembali duduk di sebelah Heechul oppa yang masih tertidur dengan wajah cantiknya. Detak jantungnya normal, ia tidur bagaikan malaikat. Aku tak sampai hati mengganggunya, tapi sungguh… aku rindu masa-masa saat kami bersama. Aku takut kehilangannya, aku tidak ingin ia melanjutkan tidur nyenyaknya dan tak pernah kembali ke kehidupanku.
“Oppa, noona mu bilang aku pantas jadi istrimu. Benarkah demikian?” tanyaku kepada oppa yang masih tertidur. Aku menyibakkan poninya seraya mencium dahinya “Tapi…. Apakah kau masih mencintaiku oppa?”
Aku tak bisa menahan air mataku yang jatuh pelan-pelan membasahi pipiku, “Apa aku bisa kembali mencium dahimu seperti dulu? Apa aku bisa melewatkan waktu bersamamu lagi? Apa aku bisa mendapat kecupan darimu di kelopak mataku, oppa?” suaraku mulai gemetar dan hidungku mulai mampet. Nafasku terasa sesak, “Apa aku bisa…… membuatmu mencintaiku lagi, Kim Heechul?”
Aku menghirup nafas dalam-dalam sambil memencet hidungku yang mampet dan mengusap mataku, “Gwechana…. Gwechanaeyo kalau oppa tidak bisa mencintaiku lagi. Asalkan oppa bangun kembali dan menjalani aktifitas seperti dulu. Gwechanaeyo, aku akan selalu mencintai oppa. Tidak ada yang bisa menggantikannya.” Aku memegangi tangan Heechul oppa yang putih pucat tanpa luka, dan menempelkannya di dahiku. “Saranghabnida oppa, always……”
Beberapa detik kemudian, kurasakan tangan Heechul oppa bergerak kaku. Menyadari hal itu, aku segera bangkit dan melihat……. Heechul oppa telah bangun dari tidur panjangnya.
“Minsu…. Minsu…….” Panggilnya. “Kenapa aku selalu membuatmu menangis? Mianhae…”
~~~~~
Heechul’s POV
“Ahjusshi, apakah anda percaya…. Bahwa cinta dapat mengalahkan segalanya?”
“Mengalahkan yang namanya rasa takut. Rasa takut akan kesedihan, rasa takut akan berbagai hal, bahkan rasa takut terhadap kematian…”
“Cinta adalah penggerak kehidupan kita, tak kan ada kehidupan tanpa cinta. Meskipun rasa cinta itu juga menyakitkan….”
“Minsu-sshi…” panggilku, “Kau tidak kuliah? Kau harus istirahat untuk Senin besok.”
“Gwechana oppa, aku punya banyak waktu istirahat kalau sudah sampai dirumah.” Jawab Minsu sambil menyunggingkan senyumnya. “Heejin eonnie sudah pulang ke rumah, sudah kewajibanku untuk merawat oppa.”
Aku berusaha menggapai HPku di meja, tapi tak sampai. Melihatku yang seperti ini, Minsu langsung mengambilkannya untukku. “Oppa tidak boleh banyak bergerak. Kan belum sembuh benar bekas operasinya.”
“Aish, ada pesan di HPku. aku harus segera membacanya.” Aku langsung membaca pesan dari Hankyung Ahjusshi. “Lihat, sebentar lagi Hankyung ahjusshi datang. Kau harus pulang ya, untuk mempersiapkan ujian akhirmu untuk ke Semester 6.”
“Annyeong haseo.” Sapa Hankyung ahjusshi. “Wah….. kau sudah wangi ya Heechul-sshi?”
“Hahahahahaha, Minsu sudah memanggil suster sejak tadi pagi untuk memandikanku. Lagipula aku sudah hampir seminggu tidak mandi, rasanya tidak nyaman sekali.” Ujarku. “Nah Minsu, Time to go home~~”
Wajah kecewa Minsu terlihat sangat menggemaskan, ia pamit dengan tidak bersemangat. “Annyeong Heechul oppa, Annyeong Hankyung ahjusshi.” Rasanya aku ingin mencubitnya, tapi aku tidak bisa.
Setelah Minsu pergi, Hankyung ahjusshi mendekatiku, “Well… katanya kau punya misi baru. Bolehkah aku tahu?”
“Tentu saja ahjusshi, kau orang terdekatku. Kau harus jadi yang pertama tahu.” Ucapku penuh kebanggaan. “Minggu depan, aku berulang tahun yang ke 28. Dan aku ingin menyiapkan sesuatu untuk Minsu, anda bawa kotak cincinnya?”
“Aku bawa, seperti yang kau minta.” Ahjusshi menyodorkan kotak cincin yang aku titipkan kepadanya sebelum kejadian penagkapan itu. “Masih bagus kok, untung saja Teuki belum menemukannya. Kalau sudah, mungkin ia akan menaruh prasangka terhadapku. Hahahaha”
“Gamsahabnida.” Aku mengambil kotak itu dari tangan ahjusshi. “Kemarilah, aku akan membisikkan misi ini kepada anda.”
Hankyung ahjusshi mendekat dan kemudian kubisikkan rencana yang ingin kubuat. Dan kau tahu apa reaksinya?
“Whoaaaaaa……. Misi yang sangat manis sekali~~!!!”
.....
Seminggu kemudian, tanggal 10 July…
“Minsu adalah tipe yeoja yang pemalu.” Ujar Yesung. “Haruskah kita memberi selamat di depan kalian?”
“Akh, aku lupa tentang sifatnya yang satu itu.” Aku menepuk kepalaku. “Yasudah, tidak perlu memberi ucapan deh. Nanti saja kalau aku sudah pulang dari rumah sakit. Oh iya, untuk semua anak-anak Super Jjang…. Gamsahabnida sudah membantuku menyelesaikan misi ini. Aku harap misinya sukses.”
“Sama-sama hyung.” Kyuhyun memberikan video tape nya kepadaku. “Kalau sukses, traktir aku Samgyupsal ya? hehehehehe.”
“Hah, dasar evil namja.” Celetuk Sungmin. “Yang penting misinya Heechul hyung sukses dulu, baru minta traktir.”
“Ahahahahaha kalian bisa saja.” Jawabku, “Terima kasih juga ya sudah menjengukku hari ini, terutama Shindong-sshi dan Nari-sshi. Kedatangan kalian sangat mengejutkanku.”
“Ini tidak ada apa2nya dibandingkan kesuksesan misimu.” Ucap Shindong sambil merangkul Nari-sshi. “Aku tidak menyangka kalau sebentar lagi Heechul akan……”
Tiba2 HPku bergetar. Satu pesan dari Minsu. “Mwo? Minsu sudah ada di lobby rumah sakit?? Cepat sekali~~~”
“Oh baiklah, kita pamit dulu ya hyung.” Ujar Eunhyuk dan yang lainnya. “Semoga misinya sukseeeees~!!”
“Neeeee, gamsahabnida.” Jawabku sambil mengiringi kepergian mereka. “ Fiuuuuuuh aku deg2an sekali.”
Setengah jam kemudian, pintu kamar diketuk dan Minsu muncul dari luar. “Annyeong haseo Heechul oppa~~” sapanya sambil tersenyum gembira.
“Annyeong haseo…. Wah, kau bawa apa ini? Wanginya enak sekali.” Pujiku sambil mempersiapkan kotak yang kemarin ahjusshi berikan padaku.
“Ini masakan ala Western bikinan Umma, beliau sudah belajar membuatnya sejak dua minggu yang lalu,” Minsu menaruh tas nya di sofa dan merapihkan meja kecil disampingku. “Oppa mau mencoba nya?”
“Nanti saja.” Jawabku singkat. “Oh iya, ini ada video dari namja Super Jjang. Bisa tolong setelkan untukku?” aku memberikan video itu dengan gugup.
Minsu hanya mengangguk sambil mengambil video tape nya dan mulai menyetelnya. “Memangnya ini film apa Oppa?”
“Hem, nanti kau juga tahu.” Jawabku sambil tersenyum sebelah. “Duduklah disebelahku, temani aku nonton.”
Tepat saat Minsu duduk disebelahku, filmnya mulai….
“Sudah nyala nih? Oh ternyata sudah. Oke, annyeong haseooooooo…… Super Jjang disini~~!!”
Wajah Minsu terkejut luar biasa, “Apa yang oppa-oppa lakukan?” dan aku tidak menjawabnya.
“Kita disini dimintai tolong untuk menyelesaikan misi dari Heechul hyung untuk…. Untuk siapa?”
“Untuk Lee Minsu~~!!” jawab mereka semua.
“Nee, untuk Minsu-sshi.” Lanjut Sungmin “Karena kondisi yang tidak memungkinkan, Heechul hyung meminta kami untuk menyanyikan lagu buatannya. Khusus untuk Minsu-sshi.”
“Nee. Benar sekali~~!!” timpal Kyuhyun, “Baiklah, ayo kita nyanyikan lagunya….”
Yesung mulai memencet tuts piano, dan mereka pun bernyanyi…. Lagu kesukaanku…
Geudaereul saranghandaneun mal~
Pyuhngsaeng maeil haejugo shipuh…. Would you marry me?
Nuhl saranghago akkimyuh saragago shipuh
Geudaega jami deul ddaemada….
Nae pare jaewuhjugo shipuh Would you marry me?
Iruhn naui maeum huhrakhaejullae?
Pyuhngsaeng gyuhte isseulge, I do
Nuhl saranghaneun guhl, I do
Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh, I do Nuhreul jikyuhjulge My love
“Hari ini, umurku sudah 28 tahun. Dan mungkin umurku sudah cukup untuk memiliki keluarga.” Aku memulai pernyataanku tanpa menghiraukan Minsu yang masih terbengong bengong. “Dan aku hanya ingin menikah dengan orang yang tidak pernah berhenti aku cintai, yaitu kamu.”
“Op… oppa tidak bercanda kan?” tanya Minsu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku tidak pernah bercanda kalau menyangkut masalah perasaan.” Jawabku mantap. “Lee Minsu, saranghaeyo… maukah kau menikah denganku?”
Aku membuka kotak cincin yang sudah kupersiapkan sejak kedatanganku di Seoul 2 minggu yang lalu, disana terpampang cincin putih dengan 5 berlian kecil tertanam disana.
“Aish oppa, ini masih terlalu cepat bagiku.” Minsu menggaruk kepalanya dengan wajah yang merona. “Umurku masih 20 tahun dan aku belum lulus kuliah.”
“Ah… benar juga ya?” sahutku sambil ikutan menggaruk kepala. Wajahku juga sudah merah tak karuan karena pernyataan Minsu barusan. “Kalau begitu, maukah kau bertunangan denganku? Maukah kau kembali ke pelukanku?”
Minsu membenamkan wajahnya di selimutku, dan dengan lihai aku memasangkan cincin itu di tangan kirinya. “Kau menerimaku kan?”
“Anii…” jawabku singkat dan kaku, membuat jantungku berhenti sesaat….
Namun setelah berkata seperti itu, ia langsung memelukku erat, “Tidak, aku tidak bisa menolaknya. Aku terlalu mencintai oppa, aku tidak bohong.”
Aku mengelus elus punggungnya yang kurus, bisa kurasakan detak jantungnya berdebar secepat detak jantungku. Kami tidak melepas pelukan kami untuk beberapa waktu lamanya.
“Aku merindukan saat2 seperti ini oppa..” ucap Minsu.
“Aku juga, tapi panggil aku jagi saja ya? aku lebih cocok dengan panggilan itu” ujarku narsis.
“Kau narsis sekali jagiya.” Jawabnya dibelakang punggungku. “Tapi ngomong2.. aku sudah sesak napas nih.”
“Salahmu, memelukku seperti tadi.” Aku menyalahkannya sambil tertawa, “Tidak akan kulepaskan sampai besok-besoknya.”
“Terserah kamu saja jagi. kalau aku kehabisan nafas, kau yang harus tanggung jawab.” Jawabnya penuh dumelan. Kuturunkan kakiku supaya aku tidak pegal memeluknya terus-terusan. “Ngomong-ngomong, cincinnya bagus. Aku menyukainya, gamsahabnida jagiya… saranghae.”
Aku mengulum senyum sambil menggoyang goyangkan sedikit pelukannya. “Nado saranghae, yeobo.”
Suasana rumah sakit yang tenang telah membantuku menyelesaikan misiku, kini Minsu telah kembali ke pelukanku. Tapi bukan sebagai Yeoja Chinguku, melainkan sebagai tunanganku…
Semoga kami selalu bersama selamanya…..
Aku yakin, masalah yang menimpa kami di masa lalu.. akan menjadikan kami semakin kuat di masa depan.
Tamat...
*song credit: Marry U -Super Junior-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar