Sabtu, 08 Januari 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 7)

Shin Hyunyoung story…

“Apa kita harus mengikuti mereka terus?” tanya Hyunseung oppa. “Aku capek sekali, mau makan~~”
“Tunggu sebentar ya oppa, lagi seru nih.” Ucapku sambil mengelap keringat. Sangat menyebalkan harus bersempit sempitan di dalam rumput seperti ini, dan jantungku dari tadi berdebar debar karena Hyunseung oppa terus2an bertanya tentang apa yang kita lakukan kali ini. Tidak kuduga, ternyata dia terlalu polos dan selalu bertanya kalau ada yang masih belum ia mengerti.
“Tapi aku sangat lapar, ottokke?” keluhnya lagi. Ia terus2an membuat gerakan sehingga kerap kali kami tidak sengaja melakukan kontak fisik, membuatku rasanya ingin menjerit.
“Tungguh sebentar ya op…. auch~~!!” pekikku karena ada ranting kecil yang tidak sengaja kududuki. Saat itulah aku tersadar kalau ternyata keberadaan kami sudah diketahui oleh Yoseob.
“Yak Hyunseung hyung, Hyunyoung-sshi~~!!! Sudah kuduga kau mengikuti kami ya??”

.....

“Nah oppa, kenalkan. Ini rekan kerja baru sekaligus karyawan terbaik bulan ini, Sun Miyoung unnie.” Aku memperkenalkan oppa kepada unnie. Mereka bersalaman dan saling menyapa satu sama lain.
“Kalian sedang jalan-jalan kesini? Tumben sekali.” Celetuk Yoseob. “Wah hyung sekarang sudah berani ya mengajak Hyunyoungie kencan?”
Wajah Miyoung unnie berubah menjadi antusias seperti Yoseob, “Mwo? Jadi Hyunseung-ah ini namja chingu mu? Omo….. kok kau tidak bilang sih kalau kau punya pacar?”
Jantungku rasanya melejit lagi mendengar komentar mereka berdua, aduh bagaimana ini? “Aniiyo… kami hari ini ingin jalan-jalan keliling kota, lalu kami tidak sengaja melihat kalian berdua mau naik bis. Jadi kami ikuti saja. Hehehehe.” Jawabku berkiprah. “Benar kan oppa?”
Hyunseung oppa mengangguk angguk dengan polosnya. Syukurlah aku tidak terjalin skandal dengan oppa kali ini hehe *jadi biasanya terjalin gitu?*
“Lalu… kalian mau kemana sekarang?” tanyaku memecah suasana yang terasa sangat canggung. Namun Yoseob dan Minyoung noona hanya menggeleng dengan wajah polos mereka. Aih, benar2 pasangan yang cocok.
“Hyunyoungie… kau bilang tadi Kikwang masih sakit kan ya?” ucap Hyunseung oppa tiba-tiba. “Bagaimana kalau kita jenguk dia saja? Mungkin saja ia sedang sendiri di apartemennya. Kita bawakan dia oleh-oleh yang banyak.”
Aku mengangguk, “Ide bagus. Unnie kan belum kenal dengan Kikwang, mungkin saja mereka bisa berteman baik.”
“Nee.” Jawab Yoseob. “Kikwang itu adalah teman kami sejak SMA, noona.” Ia menjelaskannya kepada unnie.
“Oh baiklah kalau begitu. Kedengarannya temanmu itu namja yang menyenangkan.” Jawab unnie antusias. “Kaja, kita beli oleh-oleh dulu. Bagaimana kalau kita berpisah lalu kembali kesini lagi dan segera berangkat bersama?”
Hyunseung oppa lagi-lagi mengangguk dengan polos. Lalu mereka meninggalkan kami berdua dengan suasana yang masih kaku karena kontak fisik yang kerap kami lakukan tadi.
“Oh…. Mereka berangkulan. Manis sekali ya.” jawab Hyunseung oppa sambil mengeluarkan senyumnya polosnya. Wajahku rasanya panas setelah ia mengatakan hal itu. Oppa, bisakah kita melakukannya juga sembari kita mencari oleh-oleh untuk Kikwang-sshi? *agak ngarep*

~~~~~

Lee Kikwang story..

From: My little doll

Yeobo, mianhae aku tidak bisa menemanimu hari ini. Rumah kosong dan aku ditinggal sendiri. Sekali lagi, Mianhae. Love you :*


Aku berusaha bangkit pelan-pelan dari kasurku. Astaga, bulu putih yang masih tersisa di punggungku luruh lagi digantikan bulu hitam yang baru. Aku bercermin dan melihat rambutku kini berwarna hitam kemerahan, kulitku menjadi kecoklatan dan beberapa garis merah yang dulu terlukis di punggungku kini sukses digantikan dengan gambar hitam yang sama indahnya.
“Untung saja Sunghyo sudah memberikan surat izin untuk cuti selama 2 minggu. Ternyata proses pemulihannya makan waktu juga ya.” ujarku pada diri sendiri. Kini aku mengambil salah satu baju di lemari dan mencoba memakainya, huff…. Rasanya dingin sekali setelah beberapa hari mengalami proses pemulihan. Kulit rasanya seperti terbakar karena panas sekali.
Ting tong~~ bel pintu depan dipencet, kira-kira siapa ya sore-sore bertamu kemari?
Saat kubuka pintu, beberapa orang menyerbu ke arahku, “Annyeongsimika Kikwangieeeee~~~!!!!”
“Oh, hyung, Yoseob dan Hyunyoung? Kalian mengejutkanku.” Ucapku yang benar benar terkejut. “Oh, kalian bawa satu yeoja lagi. Siapa dia?”
Yeoja itu tersenyum lalu membungkukkan badannya, “Nee.. dangsin eul Sun Miyoung imnida. Senang berkenalan denganmu Kikwang-ah.”
“Noona ini adalah karyawan baru di midimarketku.” Jelas Yoseob. “Bulan ini dia mendapatkan gelar sebagai karyawan terbaik loh di cabang ku.”
“Wah selamat ya noona.” Aku memanggil yeoja itu noona juga karena Yoseob memanggilnya noona juga. “Selamat datang di perkumpulan kami, hehe.”
Mereka berempat duduk dan saling bercanda gurau, lalu Hyunseung hyung mendekatiku sambil sedikit berbisik…
“Bagaimana rasanya menjadi sayap hitam?” tanyanya dengan wajah polos seperti biasa. “Kudengar dari Sunghyo, proses pergantian bulunya sangat menyakitkan ya? benarkah demikian?”
Aku mengangguk sambil tersenyum puas. “Syukurlah ini semua sudah lewat. Tidak apa-apa menjadi sayap hitam karena Dongwoon. Toh aku tidak melakukan kejahatan kan karena menjadi sayap hitam?”
“Nee… hajiman, aku masih sedikit khawatir dengan obsesi Junhyung yang ingin memiliki sayap putihnya kembali.” Ungkap hyung sambil mengelus dagunya. “Bahkan aku lupa peraturan yang diciptakan untuk kita. Kalau tidak salah, salah satu dari kita akan selamanya menjadi sayap hitam apabila si sayap putih sudah menemukan pasangannya kan?”
Aku mengangguk, “Sebaiknya hyung segera mencari pasangan. Kalau tidak, mungkin hyung akan menjadi sayap hitam sepertiku. Tapi tidak apa-apa kok menjadi sayap hitam, kita kan innocent.”
“Yak, lagi-lagi bicara bahasa yang tidak jelas.” Celetuk Hyunyoung sambil bertolak pinggang. “Aku menyiapkan makan malam untukmu Kikwangie. Kami tadi membeli bahan makanan untuk oleh-olehmu yang sedang sakit. Ayo kita makan bersama.”
Aku mengangguk dan segera bangkit menuju dapur untuk mengambil makanan, “Hahaha… hyung, sepertinya yeoja kami cocok untukmu. Kenapa kau tidak menyatakan perasaanmu saja padanya? Dia menyukaimu loh.”
“Jinjjaeyo? Aku tidak akan percaya kalau hanya kau yang bilang, Kikwangie.” Sahut Hyunseung hyung yang biasanya polos kini menjadi lebih serius, “Kalau perlu, aku yang akan membuatnya bicara… dengan caraku.”

~~~~~

Sun Miyoung story…

“Gamsahabnida atas semuanya, aku sangat menikmati waktu kita berdua.” Aku membungkuk hormat pada mereka semua, termasuk Kikwang, “Yak Kikwang-ah, semoga cepat sembuh dan kembali bekerja lagi ya.”
“Sama-sama noona, selamat tahun baru ya.” Kikwang mengantar Yoseob dan aku sampai di depan gedung apartemennya dan meninggalkan kami kembali ke ruangannya. Duo hyun sudah pulang lebih dulu dari kami, jadi kami terpaksa pulang jalan kaki berdua.
“Kalian sudah berteman sejak SMA ya? Apakah kalian satu sekolah waktu itu?” tanyaku memulai pembicaraan sebelum kami melanjutkan pembicaraan.
“Nee. Kami berlima sudah bersahabat sejak SMA.” Jelas Yoseob. “Ada satu yeoja yang belum kukenalkan padamu. Namanya Park Sunghyo. Kikwang adalah namja chingu nya.”
Aku mengangguk angguk kuat, “Oh.... apa yeoja chingu nya Dongwoon juga sahabat kalian?”
“Oh benar sekali, si theme park yeoja itu juga.” Kata Yoseob gembira. “Eh, kok rasanya dingin sekali ya? Kemarilah noona, mungkin dengan saling berdekatan kita tidak akan kedinginan lagi.”
Yoseob menarik tanganku sehingga tubuh kami tidak sengaja bertubrukan. Astaga, namja ini biarpun lebih muda dariku tapi ternyata dia cukup gentle dalam memperlakukan seorang yeoja~
“Noona, kau tidak bawa kaos tangan ya?” Yoseob melihat kedua tanganku yang dimasukkan ke dalam kantung jaket. “sini, kemarikan tangan kirimu.”
“Buat apa?” aku mengangkat tangan kiriku, dan diluar dugaan. Tiba-tiba Yoseob memakaikan sebelah kaus tangannya ke tangan kiriku, lalu menggenggam tanganku dan memasukkannya ke dalam kantung jaketnya.
“Yo… yoseobie. Apa yang kau lakukan?” tanpa terasa wajahku memerah karena perlakuannya. “Apa kau tidak malu? Disini kan banyak orang.”
“Gwechana, biar saja mereka menganggap kita pasangan. Tidak apa-apa kan?” Yoseob menjawab pertanyaanku sambil tertawa tawa senang. Aduh, apa sih mau anak ini? Sudah berkali kali ia membuat wajahku merona dan membuat jantungku berdebar debar. Kepalaku jadi pusing karena aku tidak bisa menjerit saking malunya~~
“Yoseobie….” Aku memulai pembicaraan lagi dengannya. “Sejak kapan Hyunyoung menyukai Hyunseung? Apa mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih?”
“Mungkin sejak Minri dan Kikwang menjadi karyawan di salah satu toko di taman ria.” Jawab Yosoeb. “Kata Hyunyoung, ekspresi hyung yang terlihat seperti orang melamun itu sangat imut. Haha padahal menurutku Hyunseung hyung itu aneh. Ia jarang tersenyum dan ia selalu menanyakan hal yang tidak perlu, semacam lemah otak seperti itu lah.”
“Tapi… seharian ini dia selalu tersenyum kok, mungkin kau belum terlalu mengenalnya sehingga ia jarang tersenyum padamu.” Jawabku.
“Aniiyo… hanya Hyunyoung yang bisa membuatnya tersenyum entah kenapa.” Jawab Yoseob, “Biasanya ia selalu menampilkan wajah polos dengan bibir rapat kalau sedang bekerja di taman ria. Maka itulah kami kurang dekat.”
Aku mengangguk angguk lagi. “Tapi aku tidak sengaja melihat tengkuknya saat di rumah Kikwang tadi. Dia memiliki garis merah yang sangat besar sekali. Apa kau tahu apa itu?”
Wajah Yoseob yang riang berubah menjadi agak serius. Dia tampak berpikir sebentar, lalu bicara kembali. “Jinjja? Kau lihat semacam tato seperti itu? Aku tidak yakin hyung mau mengukir tubuhnya dengan tato, dia bukan orang dengan tipe seperti itu. Dia itu benar-benar polos dan selalu menanyakan sesuatu yang dikiranya aneh. Sungguh namja yang aneh.”
Hem, kenapa ya Yoseob mengatakan hal yang kurang baik terus tentang Hyunseung? Apa mereka pernah terlibat pertengkaran sengit sehingga Yoseob mengatakan hal seperti itu?
“Em…. Memang kenapa dengan Hyunseung hyung? Apa kau menyukainya?” tanya Yoseob. Aku melihat wajahnya yang agak was-was dan khawatir. Sumpah, kelakuannya aneh sekali.
“Tidak kok.” Jawabku ringan. “Jangan terlalu dipikirkan ya, aku cuman sekedar bertanya saja. Lagipula kan sudah mau tahun baru, jadi tidak usah memikirkan hal-hal seperti itu hehehehe.” Aku tertawa garing. Sungguh ucapanku barusan tidak ada sangkut pautnya dengan tahun baru, hahaha aku jadi terlihat sangat bodoh~
“Kureyo…” jawab Yoseob sambil memandangi langit yang penuh dengan ledakan kembang api. “Yak, sudah jam berapa ini? Banyak sekali kembang api yang sudah meledak.”
Aku menggeleng sambil menatap ke langit sepertinya. Selang beberapa saat, tiba-tiba aku melihat darah segar mengucur dari hidung Yoseob.
“Yo… Yoseobie, kau mimisan.” Ucapku takut. Yoseob yang kebingungan segera mengusap hidungnya dan terkejut melihat darah di tangan kirinya.
“Ah… kenapa bisa begini?” ucapnya bingung. “Apa aku kedinginan ya sampai seperti ini?”
“Bisa saja seperti itu.” Jawabku agak panik. “Jakkamanyo, aku cari kantung es dulu ya untuk hidungmu.”
Aku berlari mencari sebuah café atau swalayan yang menjual es batu. Untung saja ada swalayan yang mau memberikan es batunya secara gratis. Setelah aku berterima kasih, aku kembali ke tempat Yoseob dan melihat hidungnya bertambah banyak darah dan wajahnya makin pucat.
“Gamsahabnida noona, mungkin karena sudah jam setengah 12 ya sehingga aku mimisan seperti ini.” Ungkap Yoseob sambil mengompres hidungnya. “Cuaca musim dingin terkadang memang kejam.”
Aku menghapus bekas darah yang di lehernya sambil menahan debaran jantungku, rasanya kini aku harus jujur pada Yoseob tentang semuanya. Tentang mengapa aku pindah ke midimarket cabangnya, dan tentang yang lain….
“Yo.. Yoseobie..” ujarku ragu-ragu. “Tahukah kamu? Aku memang sengaja pindah ke midimarketmu, untuk mengalahkanmu.”
Yoseob yang sibuk dengan hidungnya lalu menatapku. “Waeyo? Apa aku melakukan kesalahan padamu?”
“Mian….” Ucapku semakin takut karena wajah Yoseob semakin keras. “Aku… hanya cemburu dengan prestasimu. Midimarketmu jauh dari midimarket tempat direktur kita beroperasi. Tapi beliau selalu memuja etos kerjamu, sementara aku yang bekerja di midimarket tempatnya tidak dipandang sekalipun olehnya. Itu membuatku frustasi.”
Airmataku pelan-pelan jatuh, akhirnya aku mengakui semuanya di depan Yoseob. “Tapi setelah kulihat cara kerjamu, kau memang sangat rajin meskipun kau melakukan kerjamu sambil mengobrol dengan teman-temanmu. Selain itu……”
Jantungku mulai berdebar debar lagi karena melihat wajah Yoseob yang tertegun dan mendengar beberapa orang mulai menghitung mundur untuk tahun baru.
“5………….!! 4………………..!! 3…………………!! 2…………………….!!”
Aku menelan ludah berkali kali untuk melancarkan kata-kata yang kali ini paling jujur dari dalam hatiku.
“1!!!”
“Yang… Yang Yoseob, dangsineul joahaeyo.” Aku menghapus pipiku yang basah karena air mata, “nomu joahaeyo~~!!”
Semua orang bersorak sorak merayakan tahun baru, sementara aku dan Yoseob duduk berhadapan. Ia tampaknya terkejut sekali, wajahnya memerah dan mulutnya sedikit terbuka karena pengakuanku barusan.
Tak kusangka, ia tersenyum dan mengangkat tangan kananku yang tidak memakai sarung tangan.
“Aku tak menyangka noona akan mengatakan hal seperti itu. Hajiman….. aku juga ingin mengatakan hal yang sama noona.” Ia mengusap tanganku di pipinya lalu menempelkannya di bibirnya yang membeku, “Nado joahae, noona. Dangsineul jeongmal joahaeyo…”

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar