Son Dongwoon story…
“Jagiya….” Yeoja chingu ku melingkarkan lengan kurusnya di leherku. “Sudah jam berapa ini? Kok kamu sudah bangun?”
Aku menarik tangannya dan menciumnya sekilas. “Ini sudah jam 6 pagi, noona. Kamu tidak berangkat kerja? Ini kan sudah hari Senin.”
“Nee, sebentar lagi mungkin. Aku mau mandi dulu.” Noona mengangkut selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjangnya, “Aku jadi tidak bisa berkata apa-apa sejak kamu berubah menjadi sayap putih. Kamu membuatku takluk dan tak berdaya, jagiya. Sikapmu malah cocok sebagai sayap hitam.”
Aku menghampirinya dan menciumi leher belakangnya sebelum ia keluar dari kamar, “Mmmmmm…. Entah kenapa aku sangat senang bermain main dengan jagiya. Alhasil kita jadi selalu menghabiskan malam bersama, gwechana… kita kan menjadi semakin dekat seperti ini.”
Noona mengangguk sambil menikmati ciuman yang kuberikan di lehernya. “Dongwoon… kamu sudah mandi ya? wangi sekali, kulitmu juga dingin.”
“Nee, aku harus berangkat pagi hari ini.” Ucapku sambil membalikkan tubuhnya hingga kini noona menghadapku, “Pasti akan banyak cerita di midimarket. Aku tidak ingin melewatkannya jagiya.”
“Arraseo, tinggalkan saja kunci apartemennya. Nanti jemput aku ke taman ria ya, supaya aku bisa memberikan kuncinya padamu.”
Aku mengangguk sembari menelusur bibirnya dan mengecupnya lembut terus menerus. Bisa kurasakan tangan noona menjelajah punggungku, menjelajah garis-garis pada symbol baruku…
.....
“Yoseobie… berhenti menatapiku seperti itu terus, aku malu~~” keluh Miyoung noona segera sebelum aku menyapa mereka semua. Yoseob hyung hanya tertawa tawa di balik meja kasir, lalu memandangi Miyoung noona lagi.
“Yak~~!! Andawae Yang Yoseob!!” pekik Miyoung noona panik, “Aku bilang kan jangan….. oh, Dongwoon-ah, annyeonghaseo~~ selamat pagi.”
Aku tersenyum melihat tingkah laku dua orang ini. Padahal jarak mereka cukup jauh, dan mereka saling meledek disaat jam kerja seperti ini? Hem, pasti ada sesuatu.
“Selamat pagi, Arabian namja. Ppali, ganti bajumu dan segera urus rak-rak mu disana.” Perintah hyung. “Jangan lupa dihitung stock barang yang masih banyak dan yang tinggal sedikit, jadi aku bisa telpon agennya untuk menambahkan barang lagi.”
“Aish hyungnim, aku baru saja sampai dan kau sudah memerintahkan banyak tugas untukku.” Aku melirik rak yang biasa dikerjakan oleh Hyunyoung noona dan tidak menemukannya disana. “Oh, apa Hyunyoung noona belum datang?”
Kling kling~~ bel midimarket berdenting saat pintu masuk dibuka. Terdengar suara Hyunyoung noona yang menyapa pekerja lain, lalu saat ia berjalan ke ruang ganti…. Kenapa ada yang aneh ya dengan dirinya?
“A… annyeong Dongwoon-ah.” Sapa Hyunyoung noona dengan mata yang bengkak, hidung yang merah, dan suara yang serak. Ada apa dengannya?
“Annyeonghaseo noona. Ada apa denganmu?” tanpa basa basi, aku segera menanyakan keadaan noona yang sepertinya tidak baik hari ini.
Tapi ia hanya menggeleng dan menundukkan wajahnya, “Aniimnida. Aku pakai duluan ya ruang gantinya.” Jawabnya pendek.
Astaga, ada apa dengan Hyunyoung noona?
~~~~~
Yong Junhyung story…
“Junhyung oppa, selamat tahun baru~~~!!!!”
Sunghyo melemparkan confetti di depan wajahku. Membuatku terkejut dan rasanya mau berteriak saking kagetnya. Tapi aku senang dan berharap semoga di tahun yang baru ini semua kegiatanku berjalan dengan lancar.
“Selamat tahun baru.” Jawabku datar. Kuambil celemek dan langsung memakainya. Tidak lupa kunyalakan kompor untuk memanaskan minyak, “Bagaimana Kikwang? Dia sudah sehat?”
“Sudah kok, hari ini dia sudah masuk kerja.” Jawab Sunghyo sambil mengepalkan beberapa nasi untuk para konsumen kalau-kalau nanti ia tidak sempat. “Bagaimana dengan Hyunyoung?”
“Aish… saat malam tahun baru kemarin, aku keduluan Hyunseung saat ingin mengajaknya jalan-jalan.” Jawabku agak depresi. “Tapi aku yakin suatu saat nanti pasti aku punya kesempatan untuk mengajaknya jalan-jalan.”
“Baguslah, positif thinking itu perlu.” Jawab Sunghyo sambil masih sibuk dengan nasinya yang mengepul ngepul hangat. “Aku jadi kangen pantai, semoga saja musim dingin cepat berlalu dan musim semi segera datang. Aku ingin sekali memasak seafood dan melihat Junhyung dan Doojoon oppa berkeliling dengan pelampung. Pasti akan terlihat bagus, haha.”
“Aish, aku harap pihak pantai menyediakan mobil untuk para penjaga pantai. Capek sekali harus jalan-jalan sepanjang pantai jikalau sedang evakuasi.” Keluhku sambil menceburkan kentang beku perlahan ke dalam minyak panas. “Lihat saja nanti. Aku akan terus mengajak Hyunyoung ke pantai untuk menemaniku setiap Sabtu atau Minggu, dan semoga saja ia mau menerima ajakanku.”
“Tentu saja ia mau, tapi jangan terlalu memaksa. Nanti dia akan merasa tidak senang.” Jawab Sunghyo. “Eh? Ada apa dengan pelipismu oppa? Banyak sekali urat yang menonjol keluar. Apa kau sedang menahan emosi?”
Aku meraba kedua pelipisku yang memang penuh dengan urat-urat yang bertonjolan. Rasa sakitnya mulai terasa lagi, “Aniiyo, aku tidak sedang menahan marah. Urat-urat ini sudah aja sejak kemarin malam, sumpah rasanya sakit sekali. Untung saja aku masih kuat berjalan, kalau tidak mungkin aku akan bolos kerja.”
“Apa kau merasa pusing oppa?” Sunghyo menghampiriku dan memberikanku satu kursi untuk duduk. “Kalau tidak bisa bekerja, tidak usah dipaksakan.”
Aku menggeleng dan menghapus keringat yang bercucuran setelah rasa sakit dan pusingnya menghilang, “Aniiyo, sakitnya datang dan pergi. Semoga aja aku kuat menahannya.”
Sunghyo meraba pelipisku dengan wajah yang khawatir, “Kau sering sekali mengalami sakit kepala seperti ini oppa. Apa kau punya suatu penyakit atau apa begitu?”
Aku menggeleng, “Di kasusku, aku mulai merasakan sakit kepala kalau ada seseorang yang kuanggap penting sedang terluka perasaannya, atau karena ia sedang dalam bahaya.”
“Jinjjaeyo? Apa cuman sayap hitam saja yang bisa merasakannya?” tanya Sunghyo ketakutan. “Semoga saja Kikwang tidak mengalami hal yang sama seperti oppa. Jadi.. ada apa dengan Hyunyoung?”
“Sayap hitam yang tidak bersalah, tidak punya masalah kesakitan seperti ini. Cukup beruntung.” Aku tersenyum kecut mendengar perkataan Sunghyo, “Masalah Hyunyoung.. aku tidak tahu. Tapi aku rasa ia sedang sedih dan kecewa karena sesuatu.”
Sunghyo menunjukkan wajah terkejutnya setelah mendengar perkataanku, “Jeongmal? Apakah mungkin itu karena perbuatan Hyunseung oppa?”
“Harrrrrgh, sudahlah jangan bawa-bawa namanya lagi.” Jawabku ketus sambil mencoba bangkit dari kursi “Si polos itu tidak mungkin membuat Hyunyoung sedih. Ia terlalu polos, karena itu ia menjadi sayap putih.”
“Kureyo…. Mungkin karena ulah orang lain.” Ucap Sunghyo. “Ayo kita bekerja dulu, karyawan lain sudah datang. Kita tidak mungkin bisa membicarakannya secara bebas kan?”
~~~~~
Yoon Doojoon story..
Kemarin..
“Hyunyoungie.. buka pintunya. Jebal, aku mau bicara.” ucapku meminta dengan frustasinya. Bisa kudengar Hyunyoung menangis terisak isak di dalam kamarnya, namun tetap kuketuk pintu kamarnya berkali-kali agar aku bisa menjelaskan semuanya.
“Hyunyoungie…. Hhhh….. baiklah, aku akan menjelaskan semuanya kalau kau membuka pintunya.” Ucapku dengan mata berkaca-kaca. Aku sangat frustasi karena baru pertama kali kulihat Hyunyoung sedih dan menangis karena kelakuanku.
“Hyunyoungie~~!!!” aku tidak bisa menahan emosi dan kesedihanku, sehingga aku tak sengaja berteriak memanggilnya. “Jebal, jangan lakukan hal seperti ini. Kumohon~~ tolong buka pintunya.”
Tubuhku lemas sekali saat aku menunggu Hyunyoung yang tak kunjung membuka pintu, aku memutuskan untuk duduk di sebelah pintu kamarnya. Mungkin sampai besok pagi, sampai ia mau mendengarkan dan memaafkanku.
Beberapa menit kemudian, sebuah kertas kecil melayang dari bawah pintu kamar Hyunyoung. Kuambil dan kubaca isinya.
Mianhamnida… untuk saat ini aku tidak ingin bicara dengan oppa terlebih dahulu. Tidurlah dan jangan pikirkan apapun untuk membuatku mendengarkan alasanmu, karena aku memang tidak akan mendengarkannya…
.....
Keesokan paginya..
Kulihat Hyunyoung yang sedang memasak sesuatu di dapur, padahal aku sudah memasakkan makanan kesukaannya. Tapi ia tak menyentuhnya sekalipun, mungkin ia masih marah padaku.
Saat ia sudah selesai memasak dan hendak pergi ke ruang makan, aku menghalaunya di balik pintu dapur. Terlihat jelas di matanya kalau ia masih kesal denganku.
“Yak…. Aku sudah masak banyak untukmu, kenapa kau masak sendiri?” tanyaku. Tapi ia tak menjawabnya, lalu memaksa keluar dan duduk di ruang TV memakan masakannya.
Saat ia sedang memakan makan paginya, aku mulai berbicara baik-baik tentang semua yang terjadi malam kemarin, “Kuremyon…. Kemarin malam itu, murni ketidak sengajaanku. Aku tidak menyangka kalau noona di sebelahku bukan hanya mengajakku makan malam, yah… kamu berbincang sebentar… lalu kami menonton TV bersama, lalu tiba-tiba ia memelukku… lalu menciumku, dan… dia mengajakku ke kamarnya, dan…..”
Tiba-tiba Hyunyoung membanting piring plastik yang ia gunakan untuk makan. Reaksinya membuatku terkejut luar biasa, namun tak ada yang bisa kulakukan selain menatapinya yang sedang menunduk dan pundaknya bergetar getar kecil. Aku tahu ia akan marah, tapi aku tidak tahu kalau ia akan memperlakukanku seperti ini. Dan ini membuatku frustasi.
“Oppa sudah baca kan catatan dariku kemarin malam?” tangannya mengusap sesuatu di wajahnya yang kupikir air mata. “Aku tidak minta alasan oppa dan tidak akan mau mendengarnya. Aku berangkat.”
Ia bangkit mengambil tasnya dengan wajah menunduk, lalu menutup pintu depan. Kulihat piring bekas makannya yang masih tersisa banyak sekali. Mungkin ia hanya makan 4 atau 5 sendok makan.
Aku membereskannya dengan tangan yang gemetaran. Apa yang kau lakukan Doojoon? Sampai-sampai kau membuat Hyunyoung seperti ini. Ah… mianhanda Hyunyoung.
~~~~~
Shin Hyunyoung story…
Aku masih tidak percaya… begitu cepat oppa melupakan unnie, sehingga ia melakukan hal itu..
Aku tahu hidup harus terus berjalan, tapi… aku tidak cukup siap untuk saat ini…
Sangat menyedihkan, apalagi saat kulihat oppa menggenggam uang dari wanita itu...
Benar-benar belum bisa kuterima, sifat oppa yang sekarang…
“Doojoon oppa menjadi gigolo? Kenapa kamu bilang seperti itu?” tanya Sunghyo yang tadi ke midimarketku bersama Junhyung oppa. Entah kenapa aku merasa aneh. Mereka selalu ada disaat aku sedang sedih, tapi tidak sebaliknya. Sebenarnya aku cukup bersyukur, tapi semua ini terasa ganjil saja.
“beliau menerima uang yang diberikan unnie tetangga sebelah, tepat di depan pintu rumah mereka.” Aku menjelaskannya dengan hati berat dan mata yang yang bengkak sehabis menangis. “Unnie itu hanya memakai pakaian dalamnya, dan baju oppa berantakan. Sungguh aku tidak bisa terima.”
Sunghyo mengelus elus pundakku seraya berkata. “Baiklah, kalau mau kau menginap saja disini untuk menenangkan pikiranmu. Oh, Junhyung oppa sudah datang. Yak oppa, katanya tadi kau ingin bertemu Hyunyoung. Kenapa kau malah meninggalkannya??”
“Aku pulang kerumahnya dan membawakan beberapa pakaiannya. Aku juga sudah izin kepada hyung supaya tidak membuatnya khawatir.” Ujar Junhyung oppa yang menaruh tas besar penuh baju di dekatku, dan tiba-tiba menarik tanganku untuk mengikutinya.
“Hyunyoung-sshi, kaja… ikut aku sebentar.”
.....
Junhyung oppa membawaku ke dekat danau disekitar rumahnya. Pemandangannya begitu pucat karena hawa-hawa dingin yang berhembus disekitar kami, tapi aku menyukainya.
“Apa…. Kau tidak akan memaafkannya?” tanya Junhyung oppa tiba-tiba. Aku memandangi mata kecilnya yang menyipit dan bibirnya yang entah kenapa terlihat manyun.
“Molla… mungkin bukan sekarang.” Jawabku singkat. “Aku hanya tidak suka…. Kalau ia mau melakukannya dengan para yeoja hanya karena upah, bayaran, atau uang.”
Junhyung oppa masih menatapiku dengan pandangan memicingnya, “Hajiman…. Sebenarnya kau marah karena masalah hati kan? Kau takut hyung melupakan perasaannya terhadap Hyunri-sshi kan?”
Aku tertegun mendengar ucapan oppa barusan. Darimana ia tahu kalau aku memikirkan hal itu? Tapi yang bisa kulakukan hanya mengangguk angguk pelan sambil tetap memandang lurus kea rah danau.
“Hyunyoung-sshi…. Doojoon hyung memang tidak sengaja melakukannya. Ia akan melakukannya kalau situasi memang sedang terhambat. Misalnya masalah keuangan.” Junhyung oppa mendekatkan jarak berdirinya ke arahku dan mulai bicara lagi. “Tapi dihatinya hanya ada Hyunri-sshi dan kamu… karena dia sudah menganggapmu dongsaeng kandungnya. Hyung tinggal sendirian disini, ia diusir dari apartemennya. Ia tidak mungkin tidak peduli padamu, buktinya ia sengaja tinggal dirumahmu. Supaya kamu tidak kesepian lagi.”
“Aku tahu, pekerjaan itu memang kotor. Tapi… hanya itu yang bisa ia lakukan kalau pantai sedang libur, ia tidak ingin berdiam diri saja sementara kamu bekerja. Dia juga ingin melakukan sesuatu untukmu, dia ingin bertanggung jawab tentangmu.”
Tidak terasa airmataku jatuh lagi, benar-benar sangat rumit perasaanku saat ini, “Apa aku terlalu egois karena tidak mau mendengarkannya saat ini? Sungguh, aku tidak ingin mendengarkan alasan Doojoon oppa… karena aku tidak sanggup mendengarnya.”
“Kenapa kau tidak sanggup mendengarnya?” tanya Junhyung oppa lagi.
Aku terdiam lagi memandangi danau dengan air yang tenang meskipun angin menghembus begitu parah. Bisakah perasaanku yang sedang galau ini menjadi setenang danau itu?
“Mollaeyo…. Aku, hanya belum bisa menerima saja.” Jawabku. “Oppa bilang dia tidak mencari pekerjaan si musim dingin karena dia banyak acara dengan teman-temannya, tapi ternyata dia bersenang-senang dengan para omoni atau noona. Menurutku, ia sama saja mengkhianatiku. membohongiku”
“Yak, jangan bilang begitu… ia tidak selalu melakukannya kok. Yang aku tahu, ia baru menghabiskan waktu dengan 3 noona. Jadi bukan masalah besar kan?” ujar oppa. “Kalau perlu, kau nasehati saja dia. Ah.. mungkin tidak usah, mungkin dia akan segera mencari pekerjaan atau berhenti melakukannya karena aksi mogok bicaramu ini. Hehehehe.”
Tawa Junhyung oppa menulariku sehingga aku terkikik tanpa sengaja. Hari ini Junhyung oppa benar-benar seperti malaikat buatku, ia mendengarkan ceritaku dan menasehatiku untuk melakukan yang sebaiknya kulakukan.
“Jeongmal gomawo oppa… mungkin aku akan kembali pulang. Tapi tidak sekarang, aku masih marah dengannya.” Jawabku penuh semangat. “Mungkin aku kembali saat musim semi tiba. Tolong jaga beliau ya.”
“Musim semi? Itu kan lama sekali.” Ucap Junhyung oppa terkejut… “Hajiman… gwechana, kamu bisa pulang kapan saja kok. Pasti hyung akan selalu menerimamu.”
“Ya… molla, tunggu saja sampai situasinya berubah.” Jawabku mantap. “Benar kan op…..”
Ucapanku terhenti saat kurasakan tangan Junhyung oppa memeluk pundakku dari belakang. Ia memutar tubuhku dan mulai memperhatikan wajahku.
“Sudah kuduga…. Kantung matamu membengkak dan menghitam. Kamu terlalu banyak menangis hari ini, berhentilah jadi yeoja cengeng.”
“Mwo? Aniiyo… aku tidak cengeng, hanya kali ini saja aku merasa sangat terpukul, weee.” Aku memeletkan lidah kepada oppa, dan ia hanya tersenyum tipis sambil memencet mencet kantung mataku yang menebal. Namun tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh hidungku…
“Owaaaah, salju…” jawab Junhyung oppa sambil menghapus serpihan di hidungku dengan pandangan terpukau. “ppali ppali, pakai syalku saja sini. Nanti kau kena flu.”
Junhyung oppa melingkarkan syal tebalnya di leher hingga hidungku, sehingga jarak kami jadi sangat dekat dari yang awal. Ia tak berhenti menatapiku sehingga aku menjadi gugup dan salah tingkah.
“Op.. oppa?” ucapku gugup. “Sebaiknya kita segera ke rumah Sunghyo saja. Daripada kita disini terus, nanti kita bisa masuk angin.”
Tapi yang Junhyung oppa lakukan hanya memegangi pundakku seraya berkata. “Aku ingin menikmati moment ini sebentar. Tidak apa-apa kan?”
Tak kusangka, Junhyung oppa menarikku ke dalam pelukannya dan ia memegangi puncak kepalaku lembut. Pelukannya begitu hangat, namun terasa berbeda dengan pelukan yang pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan apa ini?
“Hhhhh Hyunyoungie… kau selalu membuatku sakit kepala kalau kau sedih.” Ujar Junhyung oppa. “Kau tahu kan semua orang yang hidup di sekitarmu itu sangat mencintaimu? Makanya jangan terlalu banyak bersedih ya?”
“Nee oppa, mianhaeyo…” tanganku mulai merambat ke pinggang atas oppa, membalas pelukannya..
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar