Sabtu, 29 Januari 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 9)

Sun Miyoung Story…

“Yoseobie.. kita mau kemana?” tanyaku penasaran. Hari ini sesudah pulang kerja, Yoseob berkata kalau ia akan mengajakku ke suatu tempat. Namun ia masih merahasiakannya, dan ini semua membuatku penasaran.
“Lihat saja nanti.” Terdengar suara Yoseob yang tersirat penuh rahasia.
“Tapi… kenapa mataku harus ditutup seperti ini? Aku kan tidak bisa melihat apapun.” Protesku. Yang membuatku melakukan semua ini hanya tertawa dan mengelus elus kepalaku.
“Tenang saja, Miyoung-sshi. Kau bisa mempercayakan semua penglihatan padaku. Kamu percaya padaku kan?”
Aku mengangguk angguk pelan. Kuraba kanan dan kiriku untuk mengetahui keadaan sekitar. “Kita masih di bus kan? Kenapa rasanya sepi sekali? Yak, mana tanganmu?”
Sesuatu menabrak tangan kananku, sepertinya ini tangan Yoseob. “Nih tanganku, memangnya ada apa?”
“A….. aku ingin memegangnya supaya aku tidak takut.” Ucapku sambil berdebar-debar. “Aku tidak bisa lihat apapun, makanya yang aku percaya hanya tanganmu.”
“Baiklah kalau maumu begitu.” Jawab Yoseob. “Kita sebentar lagi sampai kok, setelah itu kamu baru boleh membuka penutup matanya.”
Aku mengangguk sambil mengelus elus tangan Yoseob dengan sengaja. Hasilnya, ia malah terkikik kikik karena aku memegang sekaligus menggelitiki tangannya.
“Yak, hentikan Miyoung-sshi~~!!! Geli sekali….” Serunya sambil tertawa tawa dan berusaha melepaskan tangannya, aku menggapai gapai untuk mencari tangan atau bagian lain yang bisa aku gelitiki. Namun Yoseob menangkapku dan membekap kepalaku.
“Mwoya? Kenapa kau membekapku seperti ini? Yak, aku sesak napas nih~!!” protesku sambil meronta ronta.
“Ssssssst….. sssssssst….. kita sudah sampai nih, tunggu disini. Nanti aku bawakan tasmu ya?” Yoseob terdengar seperti berdiri dan berusaha mengangkat tas dari pangkuanku.
“Aiii…. Andwaeyo. Bagaimana kalau kamu membantuku bangun dan keluar dari bus ini?” tanyaku sambil berusaha menggapai gapai Yoseob yang entah kemana.
“Kureyo…” Tanganku diambil oleh Yoseob dan ia membantuku berdiri. “Hati-hati, tangganya agak curam.”
Aku mengangguk dan meraba raba tangga dengan kakiku agar aku tak terjatuh, tidak lupa kupegang erat-erat tangan Yoseob untuk berjaga-jaga agar tidak jatuh.
“Nah… jalan sedikit ke kiri…. Eh ke kanan agak banyak, ups… sedikit ke kiri….” Yoseob membimbingku berjalan dengan suaranya. Dalam hati, aku merasa gugup karena takut akan terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan.
“Oke, sekarang berhenti disini. Akan kubuka penutup matanya.” Ujar suara di belakang kepalaku. “Buka matamu kalau aku sudah melepaskan penutupnya ya?”
Aku mengangguk dan menunggu Yoseob membuka penutup matanya. Beberapa menit kemudian, penutupnya berhasil terbuka. Aku mengucek ngucek mataku dan saat aku membuka mata…….
Terlihat Bianglala dan Jet Coaster yang sangat besar, ditambah dengan keramaian dan anak-anak kecil yang mengantri di depan pintu masuk.
“Taman ria? Kok tumben kamu mengajakku kesini?” tanyaku heran sekaligus senang.
“Aku ingin mengenalkan noona dengan Minri-sshi dan Sunghyo-sshi. Sekalian kita bersenang-senang, kaja~!!” ajak Yoseob sambil menarik tanganku.

.....

“Annyeonghaseo… oh? Yoseob-sshi, kau membawa seorang yeoja?” tanya seorang yeoja dengan tubuh yang kecil dan rambut pendeknya yang hitam kelam. “Dongwoon mana?”
“Nah, kalau ada yeoja yang mencari cari Dongwoon. Sudah pasti dia Min Minri, dia yeoja chingunya Dongwoon.” Ucap Yoseob dengan gembira.
“Annyeonghaseo, kita bertemu lagi ya.” sapaku sopan. Yeoja yang bernama Minri itu balas menyapa dan mengajakku masuk ke dalam sebuat toko mainan dan pernak-pernik yang dijual di taman ria. Warna-warna pastel dan mencolok seketika memasuki penglihatanku.
“Annyeonghaseo noona.” Kikwang mendekatiku sambil memamerkan senyum menawannya. “Kenalkan, ini yeoja chinguku Park Sunghyo. Dia bekerja di pantai sebagai tukang masak, kau harus mencicipi masakannya noona. Enak sekali~~!!”
Aku membungkuk membalas hormat yeoja itu. “Nee annyeonghaseo… kau bekerja di pantai? Mungkin sekali-sekali kita harus pergi kesana bersama. Bagaimana?”
“Uwooooo… nice idea, unnie~~!” kata yeoja yang namanya Park Sunghyo itu akhirnya berbicara. “Unnie, bagaimana keadaan Hyunyoung?”
“Dia lebih diam sesudah musim dingin. Tapi Hyunseung selalu berhasil membuatnya tertawa dengan pikirannya yang selalu out of the box.” Jelasku. “Dia belum pulang ke rumahnya?”
Sunghyo menggeleng, “Hyunyoung masih belum memaafkan Doojoon oppa. Yah, mereka ada sedikit masalah pribadi antar keduanya. Mungkin hanya aku dan Junhyung oppa yang tahu, ia tidak ingin yang lainnya khawatir.”
“Kureyo….” Jawabku sambil mengangguk angguk. “Oh iya, mana namja chingu mu? Sepertinya dia menghilang bersama Yoseob.”
“Ada apa noona? Dari tadi aku disini bersama Minri.” Sahut Yoseob yang ternyata memang bersama Minri. “Kaja, kita jadi naik wahana kan?”
“Sekarang?” tanyaku sambil menengok nengok ke arahnya. “Baiklah Sunghyo-ah, aku main-main dulu ya. lain kali, ajak kami ke pantaimu, oke?”
“Oke.” Jawab Sunghyo sambil mengantarkanku menuju kea rah Yosoeb.

.....

“Huaaaaah yang tadi seru sekali ya.” jawab Yoseob sambil tertawa-tawa. Aku mengangguk mengiyakan pernyataannya sambil menggigit gulali yang baru saja aku beli. Yoseob menggandeng tangan kiriku sementara tangan kananku sibuk memegang gulalinya. Kami seperti tertukar umur, padahal Yoseob lebih muda dariku. Tapi kini malah aku yang terlihat lebih muda darinya.
“Yak, jagiya. Bagi gulalinya dong. Masak dari tadi kamu terus yang makan?” tiba-tiba Yoseob menarik tangan kananku dan menggigit gulalinya. Aku sempat terkejut karena tadi ia memanggilku jagiya. Ia tidak pernah memanggilku seperti itu sebelumnya.
“Yo… Yoseobie…. Kau membuatku kaget.” Jawabku terbata-bata. Mukaku panas sekali karena kelakuan Yoseob barusan. Tapi aku senang~~
“Mianhae noona.” Jawab Yoseob yang lagi-lagi membuatku berdebar-debar, ia menarik lenganku agar jarak kami lebih dekat. “Kemarilah noona, kita kan couple. Kenapa jarakmu denganku jauh-jauh sih?”
“Hahahaha mu… mungkin aku belum terbiasa. Mianhanda Yoseobie.” Jawabku yang lagi-lagi gugup.
Bisa kurasakan wangi Yoseob yang tertiup oleh angin musim semi malam ini, benar-benar menyejukkan dan membuat hatiku senang. Apalagi bersama namja chinguku, seakan hidupu sudah sempurna.
“Gomawo… hari ini aku senang sekali.” Ucapku pelan. “Kau benar-benar malaikat bagiku.”

~~~~~

Shin Hyunyoung story…..

“Tidak bisakah kamu memaafkan aku Hyunyoung-sshi? Aku sudah tidak melakukan apapun dengan noona atau yeoja lain. Aku tidak bohong, aku bekerja keras di pantai bersama Junhyung. Hajiman…. Kenapa kau tidak ingin pulang. Aku aku begitu dosanya sehingga kamu tidak mau memaafkan oppamu?”

Tangan siapa ini? Kenapa halus dan…. Besar sekali. Apa ini Doojoon oppa?
Pelan pelan kubuka mataku dan……. Oh, siapalah dia? Apa dia malaikat bersayap putih? Kenapa rasanya silau sekali?
“Hyunyoung-sshi… kau kelelahan ya?” ucap sosok itu. “Apa aku harus membuatkanmu air panas atau memasakkanmu sesuatu? Apa aku harus melakukan sesuatu untukmu?”
Kukerjap-kerjapkan mataku dan mulai menyadari… bahwa sosok tadi adalah Hyunseung oppa!
“Oh, annyeonghaseo Hyunseung oppa. Kenapa kau berada disini? Mana Sunghyo?” aku berusaha bangkit dari tidurku, sekaligus menjauhi wajah Hyunseung oppa yang sangat dekat dengan wajahku barusan.
“Sunghyo menginap di rumah Kikwang, jadi aku berinisiatif untuk menemanimu malam ini. Tidak apa-apa kan?” jawab Hyunseung oppa. Aku mengangguk angguk pelan menjawab pertanyaannya barusan.
“Oh daebak~!! Untunglah kita bisa berdua saja kali ini.” Jawab Hyunseung oppa sambil tersenyum.
“Em… memangnya kenapa kalau hanya berdua saja?” tanyaku was-was. Meskipun Hyunseung oppa orang baik, kemungkinan namja melakukan sesuatu kalau hanya sedang berdua dengan seorang yeoja pun…. Bisa terjadi kapanpun dimanapun *bad thinker*
“Tidak apa-apa sih. Kita jadi bisa mengobrol sampai tertidur.” Jawab oppa dengan wajah polosnya. “Apa tetangga akan menganggap kita melakukan sesuatu yang tidak-tidak?”
Aku menggaruk garuk kepalaku, lagi-lagi pikiran Hyunseung oppa yang 4D muncul lagi, “Tentu saja. Kita kan hanya berdua, berbeda jenis kelamin lagi.”
“Jadi kalau begitu… aku salah ya kalau kesini? Apa aku harus pulang?” tanya oppa lagi. Astaga, kenapa disaat saat seperti ini aku harus menjawab semua pertanyaan simple yang ia buat sih?
“Ti.. tidak usah dipikirkan, oppa. Kikwang-sshi juga selalu menghabiskan waktu dengan Sunghyo disini. Yasudah, bisa buatkan aku teh hangat atau mie instan? Aku sangat lapar.”
Ia mengangguk dan pergi ke dapur. Aku menghela napas panjang panjang, jantungku berdebar cukup kencang dan kepalaku jadi pusing karena keberadaan namja yang aku sukai itu. Segera kurapihkan tempat tidurku dan keluar untuk menyetel televisi. Dari ruang TV, kulirik Hyunseung oppa yang masih sibuk dengan masakannya *mie instan*
“Oke, ini mie nya. Maaf menunggu lama.” Ia menghidangkan mie buatannya dengan bangga. Tapi…. Apa ini? Kenapa tidak ada kuahnya sama sekali? Dan…. Kenapa warna mie nya pucat sekali?
“Apa ini mie rebus? Kenapa tidak ada kuahnya?” tanyaku sambil berantisipasi dengan pertanyaan 4D yang dilontarkan oleh oppa yang satu ini.
“Ini mie rebus kok, tadi aku sudah menambahkan kuah sedikit.” Jawabnya sambil melongok mangkuk di depanku. “Mwo? Kenapa airnya bisa hilang ya? apa aku terlalu sedikit menambahkan air panasnya ya? kalau begini… bakal terlalu asin ya?”
Aku tertawa hambar karena pertanyaan 4D dari Hyunseung oppa. “Lupakan saja, lah…. Aku akan memakannya oppa.” Jawabku. Ketika kukunyah satu suapan, astaga…. Mie ini benar-benar asin~~!!
“Eh, apa rasanya terlalu kuat untukmu?” tanya Hyunseung oppa yang sepertinya sudah bisa membaca ekspresi wajahku “Apa aku harus mengambilkan nasi untukmu?”
Aku mengangguk cepat karena isi mulutku menjadi sangat asin sehingga rasanya aku sampai tercekik, “Oia, sekalian aku minta minum ya oppa.” Tambahku.
Saat oppa pergi ke dapur, bisa kulihat sebuah gambar besar di punggungnya. Seperti sebuah tattoo dengan tinta merah. Dan sebuah garis besar berwarna merah menyala yang mencuat di balik kerah bajunya yang transparan. Tattoo yang sepertinya mirip dengan tattoo milik Doojoon oppa.
“Ini, nasi dan air minumnya.” Ucap Hyunseung oppa sekembalinya dari dapur. “Apa kau butuh sesuatu lagi?”
“Aniiyo, gamsahabnida oppa.” Aku menyendok nasi dari piring dan memindahkannya ke mangkuk. “Apa oppa mau satu suap? Kalau ditambah nasi jadi enak sekali loh. Mau coba?”
Hyunseung oppa mengangguk dengan antusias. Aku mulai mencampur nasi dengan mie keasinan itu, menyendoknya, lalu menyuapkannya ke Hyunseung oppa. Saat ia mulai mengunyah, mata sipitnya tiba-tiba melebar seperti terkejut.
“Astaga, ini enak sekali biarpun asin~!! Mie buatanku sangat jjang~!! Daebak~!!” pujinya pada diri sendiri. Aku tersenyum sambil melanjutkan makan malamku dan sesekali menyuapi Hyunseung oppa. Alhasil, mie keasinan itu habis tak bersisa.
“Oppa… aku ingin menanyakan sesuatu. Tapi… jangan marah ya. aku hanya penasaran.” Ucapku. Kali ini aku memang benar-benar berniat untuk menanyakan tattoo yang terukir di tubuhnya, semoga saja ia mau menjelaskannya padaku. “Yang di punggung oppa itu…. Tattoo kan?”
Wajah ceria oppa berubah menjadi bingung dan canggung setelah aku menanyakan hal itu. Ia meraba-raba punggungnya dan seketika wajahnya jadi merah, “apa…. Kau selalu melihat gambarnya setiap kali aku bertemu denganmu?”
Entah kenapa tiba-tiba cuaca menjadi dingin, dan hujan mulai turun setalah Hyunseung oppa mengucapkan hal itu. “Tidak terlalu… aku hanya melihat ujung dari tattoo itu di tengkukmu. Aku rasa gambarnya sama dengan punya Doojoon oppa, namun berbeda warna beda karena punya beliau warnanya hitam.”
“Kau sudah pernah melihat punggung telanjang Doojoon?” tanya Hyunseung terkejut. Lalu kemudian ia tersenyum lembut. “Yah…. Mungkin tattoo ini menunjukkan kalau kami bukan manusia.”
“Eh…. Maksudnya bagaimana?” tanyaku mulai bingung. “Apa maksudmu kalau kalian bukan manusia?”
Hyunseung oppa menggeleng pelan, lalu tiba-tiba ia menarik tubuhku sehingga jarak kami menjadi sangat dekat, “Nee… bagaimana kalau gambar yang ada di punggungku ini menunjukkan bahwa aku… bukan manusia biasa?”
Wajahku mulai memanas, jantungku berdetak kencang, dan kepalaku menjadi lebih pening daripada sebelumnya saat kuliaht pandangan mata Hyunseung oppa yang terlihat khawatir. Seakan akan aku telah membocorkan rahasianya.
“Bagaimana kalau seandainya aku… Jang Hyunseung, bukan manusia? Apa kau masih mau berteman denganku?” tanya oppa lagi. Nafasnya mengusap pipiku berkali-kali, apa aku harus menjawabnya secara jujur?
“A…. aku tak peduli mau oppa itu alien, setan, atau apalah itu.” Aku menyamankan posisiku yang kini semakin dekat dengan Hyunseung oppa. Dan entah dari mana keberanianku muncul, aku mengecup sekilas bibir Hyunseung oppa pelan dengan bibirku. “Nega joahaeyo, Hyunseung oppa. Aku ingin oppa jadi…. Segalanya untukku.”
Wajah Hyunseung oppa memerah. Lalu ia memelukku kuat-kuat, dan saat ia memelukku.. terasa sesuatu yang besar hendak muncul dari punggungnya. Bajunya robek hebat dan cahaya besar tiba-tiba menyeruak dari punggung oppa, cahaya itu memudar… memudar… dan…. Muncullah sayap putih di balik sinarnya.
“Hyunyoungie… aku bukan manusia. Aku sebenarnya adalah malaikat sayap putih, tattoo di punggungku adalah symbolku, identitasku sebagai the light wing” ucapnya dengan wajah serius. “Mendengar ucapanmu tadi…. Rasanya aku yakin bahwa takdirku adalah kamu. Nado saranghaeyo, my destiny…..”
Hyunseung oppa menarikku dan mencium bibirku, dan sayap putihnya melengkung seakan akan menutupi dan melindungi kami berdua….

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar