Senin, 07 Februari 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 10)

Shin Hyunyoung story..

Malaikat itu terbagi menjadi 2 jenis. Yaitu Malaikat bersayap Putih dan Malaikat bersayap Hitam..
Setiap malaikat dilahirkan berpasangan dengan malaikat lain. Jika terlahir satu malaikat putih, pasti akan terlahir malaikat hitam pula…
Malaikat putih bisa menjadi malaikat hitam karena amal perbuatannya, begitu juga dengan malaikat hitam. Mereka juga bisa menjadi malaikat putih….
Malaikat sebenarnya tidak boleh jatuh cinta, tapi jikalau sudah terlanjur…. Ia tidak boleh meninggalkan orang yang ia cintai itu. Meskipun yang merebut orang yang mereka adalah sesama malaikat…
Malaikat yang mendapatkan pesan di tubuhnya, lambat laun akan mati. Karena tulisan-tulisan itu adalah hukuman dari sang penciptaNya, karena malaikat itu sudah melakukan dosa…


“Selamat datang di perkumpulan kami, Hyunyoung-sshi.” Ujar Sunghyo esok paginya saat aku sedang bekerja, “Aku tidak menyangka, kamu akan masuk ke perkumpulan kami secepat ini.”
“Maksudmu bagaimana Sunghyo-sshi?” tanyaku sambil membereskan kerjaanku dan tidak lupa mengecek daftar pemasukan yang tadi diberikan oleh Yoseob. “Perkumpulan apa?”
“Haaaaah, kau tidak tahu ya kalau Kikwang, Yoseob, Dongwoon dan orang-orang disekitarmu adalah malaikat?” tanya Sunghyo. “Simbol itu, symbol di punggung mereka adalah pintu keluarnya sayap-sayap mereka. Kalau tidak percaya, coba buktikan.”
Aku mengacuhkan perkataan Sunghyo dan memberikan list kepada Yoseob dan Miyoung unnie yang dari tadi sibuk bercanda sambil bekerja *gimana caranya?* namun Sunghyo tetap saja mengikutiku.
“Hyunyoungie… kau tidak percaya padaku? Perkataanku barusan, kau tidak mempercayainya?” tanya Sunghyo emosi. Entah, antara emosi dan bingung.
“Aniiyo… hanya saja, aku sedikit pusing dengan kenyataan-kenyataan seperti itu.” Suaraku memelan karena ada seorang pembeli yang datang. “Aku hanya percaya bahwa malaikat itu hanya di dongeng-dongeng, tapi sekarang…. Namja chinguku ternyata malaikat. Bersayap putih pula.”
“Loh, bukannya itu hal yang bagus? Sayap putih menandakan kalau mereka benar-benar polos, tidak pernah bohong, dan suci.” Jawab Sunghyo dengan suara yang memelan pula.
“Aku tidak peduli itu.” Sergahku. “Masalahnya, kudengar dengar dari mitos… malaikat putih mudah sekali sakit hati, mudah sekali terluka dan kecewa. Bahkan mungkin saking polosnya, mereka akan melukai diri mereka sendiri dan….. mungkin ia bisa jadi malaikat hitam karena kesalahanku.”
“Yak, malaikat hitam itu tidak sepenuhnya jahat. Mereka hanya tidak beruntung, seperti Kikwang.” Jawab Sunghyo. “Dongwoon akan tetap malaikat hitam dan Kikwang akan tetap jadi malaikat putih, jikalau Minri tidak memberikan seluruh jiwanya pada Dongwoon.”
Jiwa? Batinku. “Maksudnya jiwa itu…. Bagaimana Sunghyo-sshi?”
“Yak, kenapa kau jadi 4D seperti ini sih?” sentak Sunghyo. “Minri-sshi sudah memberikan seluruh jiwanya kepada Dongwoon. Minri sudah tidur dengannya~~”
Aku terbelalak. Minri-sshi tidur dengan Dongwoon? Terdengar tidak mungkin. “Kau tahu dari mana? Tidak mungkin kan Dongwoon memberitahumu?”
“Aku tahu dari Kikwang. Malaikat hitam bisa mendapatkan sayap putih kalau ia berhasil membujuk orang yang ia cintai untuk memberikan jiwanya pada sang malaikat. Tapi itu juga tidak berarti malaikat itu bisa meninggalkannya begitu saja, mereka bisa mati jika melakukan hal seperti itu.
“Sepertinya semuanya serba kompleks ya?” aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “Baiklah, yang penting aku tahu beberapa info tentang orang-orang bersayap ini.”

.....

Beberapa jam kemudian..

“Yak, kau apakan tatooku?” tanya Hyunseung oppa. Ups…. Aku yang awalnya ingin mencoret coret punggungnya, jadi batal deh…
“Yak, kenapa kau mencoret coretnya seperti ini?! Astaga… kau seperti anak kecil~~!!” oppa mencubit pipiku dan mencekikku dan menggelitik pinggangku.
“Kyaaaa kyaaaaaa stop stop~~!! Ampun oppa… ampun~~!!” aku tertawa tawa karena kelakuan namja chingu ku yang lucu ini. Aku membalas menubruknya dan kembali menggelitiknya. Kami berdua tertawa dan berteriak bersama, sangat menyenangkan.
“Yak, pasangan baru. Bisakah kalian diam sebentar?! Aku ngantuk nih~~” keluh Sunghyo yang sudah ada di dekat sofa tempat kami bersenda gurau. “Mwo? Kenapa tattomu jadi ada kumisnya begitu oppa? Wakakakakaka~~!!!”
Sunghyo menertawakan punggung Hyunseung oppa yang tadi kucorat coret dengan spidol warna merah, sementara yang ditertawakan sibuk mencari cermin untuk melihat apa yang terjadi. Dan otomatis wajahnya langsung memerah dan BLAR!! Terkembanglah sayap putih dari punggungnya.
“Waaaaah~~ keren sekali sayapmu oppa, aku belum pernah melihat sayap milik malaikat lain sebelumnya.” Komentar Sunghyo. “Yak, bantu dia menyembunyikan sayap besar itu sebelum tetangga-tetanggaku melihatnya.”
Sunghyo menutupi gorden-gorden jendela dan kembali ke kamar untuk tidur. Aku mengambil air hangat dan lap untuk menghapus coretan di punggungnya. Kata Sunghyo, kalau kita melakukan sesuatu kepada punggung sang malaikat.. maka sayapnya akan keluar dan untuk menyembunyikannya, kau harus menghapus sesuatu yang ada di punggungnya.
“Oppa, taruh sayapmu di depan terlebih dahulu. Aku mau menghapus coretannya.” Perintahku. Otomatis sayap-sayap itu menutup kea rah depan, dan aku segera menghapus coretanku dengan lap basah yang hangat. Dalam waktu beberapa menit, sayapnya pun menghilang dan terlihat lagi tato milik oppa.
“Hyunyoung-sshi… aku mau bertanya sesuatu kepadamu.” Ujar Hyunseung oppa “Kenapa kamu tidak pulang, menemani Doojoon hyung?”
Ah Doojoon oppa, entah kenapa beberapa bulan ini aku sudah melupakannya, bahkan aku melupakan kesalahannya. Hanya saja, bisakah aku menghadapi oppa dengan hati yang lapang, setelah semua kelakuannya?
“Mollaeyo oppa…. Aku, masih tidak tahu harus menghadapinya dengan hati yang lapang atau biasa saja.” Jawabku sambil bersandar di pundaknya. “Ottoke?”
“Anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Bagaimana, apa itu hal yang tidak mudah?” ujar oppa. “Doojoon oppa kan satu-satunya relatifmu yang masih ada disekitarmu. Dia sudah berjanji pada unnie mu untuk menjagamu, apa kau akan membiarkan dia mengingkari janjinya?”
“Tapi… kapan?” jawabku bingung.
“Secepatnya, yeobo… jangan menunda waktu.” Ujar Hyunseung oppa. “Biar aku yang nanti bicara dengan Junhyung, biar dia bisa mengantarmu pulang. Doojoon adalah namja yang sensitive, kau tahu dia kan?”
Aku mengangguk pelan lalu mengangkat tangan oppa, dan mencium punggung tangannya. “Gomapta oppa, saranmu.. benar-benar merasuki hatiku.”
“Merasuki hatimu? Bagaimana caranya? Bukannya suaraku masuk ke telingamu, bukan ke hatimu? Kok bisa?” jawabnya dengan pandangan bingung.

~~~~~

Min Minri Story…

“Dongwoon… aku tidak mau lagi.” Ucapku tegas sore ini. “Aku tidak mau tidur denganmu lagi.”
Namja dengan wajah Arab itu tiba-tiba menoleh kepadaku dengan pandangan bingung, “Waeyo noona?”
“Aku noonamu. Kau tidak pantas memperlakukan aku seperti itu, kau sudah berkali-kali memperdayaku.” Ucapku tegas. “Seorang malaikat putih tidak pantas melakukan hal seperti itu.”
“Tapi aku mantan malaikat hitam, dan… kebiasaan malaikat hitam adalah melakukan hal-hal seperti itu.” Jawab Dongwoon. “Apa… aku harus berhenti?”
“Tentu saja~!!” pekikku gemas. “kini kehidupanmu sudah berbeda dengan yang dulu, berubahlah menjadi malaikat yang baik dan suci… melakukan seperti itu bukanlah hal yang suci.”
“Nee arraseo.” Dongwoon menjawabnya dengan suara yang bingung (?) “Bahkan kalau kau yang mengajakku… aku juga tidak boleh menyetujuimu?”
Tiba-tiba wajahku memerah karena perkataan Dongwoon berusan. Betapa memalukan~~ “Tentu saja~!! Kalau kau mau melakukannya lagi, menikahlah dulu denganku. Sehingga kau dapat izin appa ummaku, dan kita…. Bisa punya anak kalau begitu. Aish, kita bicara apa sih?! Sudahlah lupakan saja.”
Dongwoon menahan tawa melihatku yang terdiam dengan muka yang memerah, lalu ia memegang tanganku dan berkata, “Yak, tidak usah malu seperti itu. Noona adalah yeoja chinguku, aku suka noona apa adanya.”
Aku mengangguk angguk dengan wajah masih merona. “Lalu…. Kita akan kemana?”
“Kita ke rumah Doojoon hyung saja, tidak apa-apa kan? Ia pasti kesepian karena Hyunyoung noona sudah meninggalkannya dari musim dingin yang lalu, dan sekarang sudah musim semi. Sudah 2 bulan.”
Belum aku menjawab pernyataan Dongwoon, kami sudah sampai di depan rumah Doojoon oppa yang… sepi dan penuh dengan tong sampah yang penuh dan belum dibuang isinya.
“Dongwoon… kau yakin kan rumah ini masih dihuni?” tanyaku ragu-ragu. “Kau tahu kan Doojoon oppa sering sekali meninggalkan rumah ini. Tapi… kenapa tidak ada papan penjualan ya?”
Dongwoon mengangkat bahunya sambil turun dari motor, “Mollaeyo, kalau perlu kita lihat dulu saja dalamnya.”
Tiba-tiba sesuatu yang hitam datang secepat kilat dan menyambar Dongwwon hingga ia terjatuh. Dan saat kulihat sosok itu, ternyata ia adalah Junhyung oppa.
“Yak oppa, apa yang kau lakukan sampai menabrak Dongwoon seperti itu?!” ujarku kaget sekaligus kesal.
“Babo-ya! kalian bukannya cepat-cepat masuk kerumah, malah mengobrol disini!” seru Junhyung oppa, “Doojoon sedang dalam bahaya!!!”
Junhyung oppa mencoba mendobrak pintu dibantu dengan Dongwoon. Setelah pintu berhasil terbuka, kami bertiga segera saja mencari Doojoon oppa. Dan ternyata….
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!” pekikku terkejut sekaligus takut, saat melihat sosok Doojoon oppa yang tergantung di langit-langit dengan tali yang mengekang lehernya.
“Kenapa malah berteriak?! Ayo bantu aku melepasnya, ia masih hidup!!” seru Junhyung oppa kepada kami berdua. Junhyung oppa melebarkan sayap hitamnya dan terbang untuk melepas tali yang diikat di lampu yang menggantung, sementara Dongwoon menangkap tubuhnya. Doojoon oppa berhasil diturunkan.
“Ayo bernafas… ayo bernafas..” gumam Junhyung oppa sambil menekan nekan leher Doojoon oppa, sesekali memberikan nafas buatan. Aku yang tidak tahu harus bagaimana, menelpon Hyunyoung. Semoga saja ia bisa kemari.
“Oh yeoboseo Minri-sshi. Ada apa?” tanya Hyunyoung tepat saat telepon diangkat.
“Bisakah kau kembali ke rumahmu sekarang?” tanyaku. “Oppamu gantung diri.”

~~~~~

Shin Hyunyoung story…

“Hyunseung oppa, bisakah lebih cepat?? Sungguh, aku takut sekali.” Ucapku sambil mengusap air mata yang dari tadi jatuh ke pipiku.
“Jakkamanyo, sebentar lagi juga sampai.” Jawabnya ikut-ikutan panik. “Lihat, kita sudah sampai di pekarangan dekat rumahmu kan?”
Aku mengangguk dan cepat-cepat keluar dari mobil lalu berlari menuju rumah. Tak kupedulikan Hyunseung oppa yang memanggil manggil, yang penting aku harus bertemu Doojoon oppa terlebih dahulu!
“Silyehabnida~~!! Buka pintunya ppali, ini aku Hyunyoung~!!!” aku mengetuk pintu berkali kali karena panik. Nafasku memburu dan tangisku tidak mereda, hatiku sangat galau karena keadaan ini.
“Oh syukurlah kau sudah datang, Hyunyoung-sshi~!!” ujar Minri yang membukakan pintu dan langsung menarikku menuju kamar Doojoon oppa, “Beliau selamat berkat bantuan Junhyung oppa. Kini dia sudah bernafas dan masih beristirahat.”
Ketika aku sudah berada diujung kamar, kulihat seutas tali tambang yang teronggok di pinggir kamar. Doojoon oppa sudah terbaring di tempat tidurnya, wajahnya masih biru. Aku yang tak sanggup menahan kesedihan ini langsung menghambur dan memeluknya sambil mengeluarkan tangisku.
“Oppaaaaaa~~!!! Kenapa kau lakukan hal seperti ini lagi?! Andaweyo… oppa tidak boleh meninggalkan aku lagi, oppa sudah janji kan?! Jebal oppa, jeongmal mianhae~~!! Uhuhuhuhuhuhu……”
Bisa kurasakan tangan Doojoon oppa mengelus rambutku pelan. Ia tidak bicara, mungkin karena efek tali yang mencekik lehernya. Aku mengambil tangan itu dan menciumnya.
“Mianhanda oppa, aku janji tidak marah lagi. Kita saling memaafkan oke? Niga nomu joahaeyo oppa, jeongmal joahaeyo…” aku menghapus air mataku dan kemudian berkata. “Aku pulang, oppa….”

.....

“Jadi… kau akan pulang mulai hari ini?” tanya Junhyung oppa, “Apa perlu kutemani dirumah?”
Aku menggeleng, “Aku minta tolong Hyunseung oppa saja untuk menemaniku, toh besok ia bekerja di shift siang. Dan lagipula ia namja chinguku sekarang, tentu saja ia harus menemaniku. Hehehehe”
Junhyung oppa hanya mengangguk pelan, sepertinya ia sedang menyembunyikan perasaan entah apa itu. Wajahnya terlihat tidak senang, “Biarpun kau punya namja chingu pun…. Aku tidak peduli, aku akan selalu ada untukmu Hyunyoung-sshi.”
“Mworago?” tanyaku terkejut. “A… aku tahu kalau oppa memang selalu ada disampingku, tapi… aku selalu merepotkanmu. Sekarang aku sudah punya Hyunseung oppa, jadi kamu tidak perlu khawatir lagi.”
“Aku tidak peduli mau dia ada atau tidak, aku akan selalu bersamamu Hyunyoung.” Jawab Junhyung oppa dengan wajah yang mengeras. “Saranghae Hyunyoung, aku mencintaimu.”
Aku terkejut mendengar perkataan Junhyung oppa barusan. Aku berusaha melepaskan diri darinya, tapi ia seperti menghipnotisku dengan pandangannya dan berkata, “Aku akan jauh lebih berguna dan lebih berharga dibandingan Hyun yang polos dan bodoh itu. Jadilah milikku, Hyunyoung-sshi.”
“Yak!! Junhyung-sshi, apa yang kau lakukan?!” tiba-tiba terdengar suara Hyunseung oppa yang menuju ke arahku dan serta merta ia merebutku dari pegangan Junhyung oppa. “Beraninya kau merebut yeoja chinguku. Jagiya, gwechana?”
Aku mengangguk. “Oppa mianhae, aku hanya menyukai Hyunseung oppa… tidak ada yang lain.”
“Dan aku tidak akan memberikan Hyunyoung untukmu, Junhyung!” seru Hyunseung oppa, “Ingat, kau tidak akan bisa jadi malaikat putih meskipun kau mempunyai kekasih! Apa kau lupa?!”
“Bisa saja,” jawab Junhyung oppa santai. “Lihat saja nanti, Hyunyoung tahu antara siapa yang peduli padanya atau tidak. Tunggu tanggal mainnya, dan kelak nanti aku akan membuatmu menjadi malaikat hitam, Hyunseung.”

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar