Shin Hyunyoung Story….
“Hyunyoung-sshi, irona…… Hyunyoung-sshi, ironaseyo……”
Aku mengerjapkan mata satu dua kali, lalu menguceknya pelan. “A… apa yang terjadi? Bagaimana dengan keadaan Junhyung oppa?”
“Dia sudah tidak apa-apa kok, kemarin ia segera pulang setelah kondisi tubuhnya lebih baik,” jawab Doojoon oppa, “Mian. Aku lupa bilang kalau Junhyung-sshi adalah malaikat hitam yang…. Berbeda dari malaikat hitam yang lain, berbeda denganku ataupun Kikwang yang sekarang ini.”
Aku termenung melihat wajah oppa, meskipun aku tahu dia adalah malaikat hitam juga.. tapi aku tidak mengerti apa yang ia bicarakan. “Maksudnya bagaimana oppa?”
“Aku dan Kikwang… berubah menjadi malaikat hitam karena pasangan kami, misalnya Hyunseung-sshi dan Dongwoon goon. Kami tidak diberikan beban karena menjadi malaikat hitam.” jelas oppa, “Tapi… Junhyung-sshi berbeda. Ia punya sejarah hidup yang menyedihkan sehingga ia harus berubah menjadi malaikat hitam.”
“Kalau begitu… bisakah oppa ceritakan padaku?” tanyaku tanpa basa-basi. Tapi sayangnya oppa menggeleng kuat-kuat,
“Aku harus segera ke pantai karena Junhyung hari ini tidak masuk.” Katanya, “Aku harus berangkat, makan paginya ada di dapur ya.”
Sebelum Doojoon oppa pergi, aku bertanya lagi. “Oppa, apakah Junhyung oppa tinggal sendiri?”
“Nee.” Jawab oppa sambil mengikat tali sepatunya, “Memang kenapa?”
“Bolehkah aku minta alamatnya? Aku berniat untuk menjenguknya sehabis pulang kerja.”
.....
“Kau yakin tidak perlu kami temani?” tanya Yoseob. “Dia malaikat hitam, Hyunyoung-sshi. pure dark wings, energimu bisa terhisap oleh kekuatan kegelapannya.”
“Gamsahabnida, tapi aku bisa sendiri kok. Aku hanya minta diantarkan sampai ke tempat tinggalnya saja.” Jawabku antusias. “Lagipula, bukannya kau ada kencan dengan unnie? Benar kan?”
Miyoung unnie yang mendengarnya langsung menyambar pembicaraan kami berdua, “Aniiyo, kami memang selalu pulang berdua, Hyunyoung-sshi~~!! Jadi… kau tetap mau diantarkan sampai rumahnya saja?”
Aku mengangguk, “Nee, soalnya waktu itu aku pernah dibawa ke danau dekat rumahnya.. tapi aku lupa lokasi tepatnya dimana.”
“Oh.. ngomong-ngomong tentang danau, tuh…. Sudah terlihat danaunya.” Kata Yoseob sambil menunjuk ke arah yang ternyata memang ada danau disana. “tinggal ke kiri sedikit, dan kamu akan menemukan rumah luasnya yang sepi. Maklumlah dia tinggal sendirian.”
“Arraseo, gomapsimita Yoseob-sshi, unnie… hati-hatilah di jalan.” Aku menunduk dalam-dalam mengantar kepergian mereka, lalu menarik nafas dalam-dalam sembari mencari rumah Junhyung oppa.
Drrrrrrt…. Drrrrrrrrrrrrttt…. Loh, siapa ini yang telepon?
Saat kulihat layar HP, astaga~~~ dari Hyunseung oppa~!! Ottokke? Nanti ia bisa menuduhku yang tidak-tidak karena pergi ke rumah Junhyung oppa, padahal aku hanya ingin menengoknya~~
Tapi…. Kalau tidak kuangkat angkat, ia pasti akan menelponku berkali kali, mengirimkan pesan yang penuh dengan kecurigaan atau hal semacamnya *confused*
Sambil memandangi layar HP, aku menghembuskan nafas dalam dalam…. Lalu menuju ke pinggir danau, dan… mengangkat teleponnya.
“Yeoboseo?”
“Oh, jagiya… kenapa mengangkat teleponnya lama sekali?” sudah kuduga, Hyunseung oppa pasti akan mengatakan hal semacam itu~~ “Kau pergi ke suatu tempat?”
“Anii……. Aku tadi sedang menyebrang jalan, kalau mengangkat teleponmu bisa berbahaya.” Bohongku. “Ada apa oppa?”
Diseberang sana oppa tertawa dengan suara khasnya, “Aku merindukanmu Hyun-sshi…. sangat merindukanmu.”
“Ahahahah… jeongmal?” jawabku kaku, rasanya aneh sekali kalau mendnegar oppa memujiku seperti itu (?) “Tapi…. Tadi oppa bilang aku… Hyun-sshi?”
“Nee, kita sama-sama mempunyai nama tengah Hyun kan? Jadi aku iseng memanggilmu Hyun-sshi, hehehehe.” Jawabnya dengan tawa yang lugu. “Kau punya ide bagus untuk nickname kita berdua?”
Astaga, kenapa dia malah meminta nickname disaat saat seperti ini~!@##$#@@?><”L{$#@!!
“Em….. bagaimana kalau oppa memanggilku Hyuncat, dan aku memanggil oppa Hyunyaoma?” jawabku sambil menatapi kucing liar yang sedang minum di danau, “aku suka kucing, dan oppa mirip dengan kucing. Ehehehe…”
“Mwo? Kittyoppa? Terdengar lucu, gwenchana.” Diluar dugaan, ia menyetujui nickname yang kubuat asal-asalan itu, “Pasti akan senang kalau memanggilmu Hyuncat daripada Market mania~”
Eh, kok dia ingat julukanku di midimarket sih? “Oh nee, aku juga suka kalau memanggilmu Hyunyaoma.” Jawabku garing. “Ngomong-ngomong, aku harus pergi sekarang. Mianhae.”
“Ah…. Sayang sekali, padahal aku ingin mengobrol agak lama denganmu.” Ujar Hyun oppa. “Jaga dirimu Hyuncat, jangan selingkuh ya~~~”
Aku mematikan telepon, lalu berbalik kea rah rumah Junhyung oppa yang sepi itu. Kubuka pintu pagar, dan pelan-pelan kuketuk pintunya.
“Silyehabnida….” Jawabku sopan. “Oppa, ini aku Hyunyoung.”
Tidak diduga, terdengar suara Junhyung oppa dari dalam rumah. “Masuk saja, maaf aku tidak cukup kuat untuk membuka pintunya.”
Aku menuruti perkataan Junhyung oppa dan segera mencari keberadaannya. Tidak lebih dari 10 hitungan, kutemukan dia di depan TV dengan ruangan yang digelapkan. Bahkan dapur dan kamar mandi di gelapkan.
“Annyeonghaseo oppa, aku membawa bubur hangat untuk kau makan.” Jawabku seceria mungkin. “Tapi… ngomong-ngomong dapurnya dimana ya? kenapa sangat gelap sekali?”
“Hemat listrik, uangku tidak cukup untuk menyalakan lampu di rumah seharian. Jadi kuputuskan untuk mematikan lampu yang tidak dipakai.” Jawab Junhyung oppa. “Tidak usah repot-repot, duduklah disebelahku sini. Aku merasa lega ternyata ada juga orang yang mau menjengukku.”
Pelan-pelan aku duduk di lantai ruang TV Junhyung oppa, dan mendekati tubuhnya yang berselimut tebal, “Apakah…. Oppa merasa dingin, setelah….. kejadian yang kemarin malam?”
Dalam remang-remang TV, Junhyung oppa tersenyum. “Selimut membuat peringatan-peringatan yang tertulis di tubuhku ini berkurang rasa sakitnya.”
Aku celingukan berusaha melihat tulisan di lengan kanannya, “Bisakah oppa menceritakan padaku… apa yang terjadi tadi malam, sesudah aku pingsan?”
“Tulisan yang terukir di tubuhku ini mengeluarkan siksaannya.” Jawab Junhyung oppa, “Dan disaat itulah tanpa kusadari kekuatan kegelapanku menyerap energy dari seluruh media, termasuk manusia. Itu juga sebabnya kau pingsan, keputusan yang bagus untuk menelpon Doojoon-sshi cepat-cepat…. Hanya dia dan Kikwang yang bisa menolongku.”
Aku mendengar hal itu dengan hati yang sakit sekali. Kutarik lengan kirinya dan kusenderkan kepalaku di pundaknya yang berotot, semoga saja oppa tidak melihatku menangis..
“Seandainya aku bisa melakukan sesuatu untuk membuatmu tidak mengalami hal ini, pasti akan kulakukan oppa….”
~~~~~
Sun Miyoung story…
“Yoseobie…. Apa kamu tahu sebab Kikwang menjadi malaikat hitam?” tanyaku saat perjalanan pulang setelah mengantar Hyunyoung.
“Minri pasti menyerahkan jiwa dan raganya ke mantan malaikat hitam yang mudah memperdaya manusia itu.” Jawab Yoseob, “Dongwoon adalah pasangan dari Kikwang-sshi. jadi apabila Dongwoon berubah menjadi malaikat putih, otomatis Kikwang akan menjadi malaikat hitam.”
Aku mengangguk angguk tanda mengerti, “Jadi… kalau berubah seperti itu, tidak berarti ia berdosa kan?”
Yoseob tersenyum lalu berkata. “Biar kujelaskan semua ya noona? Menjadi malaikat hitam bisa dengan 3 cara : dilahirkan sebagai malaikat hitam, pasangannya menjadi malaikat putih, atau ia melakukan kesalahan di masa lalunya sehingga ia menjadi malaikat hitam. arra?”
“Ooooooh jadi, malaikat hitam pun menjadi malaikat putih dengan cara seperti itu?” tanyaku lagi.
“Agak sedikit berbeda,” jawab Yoseob. “Mereka menjadi malaikat putih bukan karena mereka melakukan kebaikan. Tapi karena kekasihnya mau memberikan jiwa dan raga kepada malaikat itu, contohnya dengan melakukan hubungan dengan sang malaikat sebelum mereka menikah.”
Wajahku tiba-tiba memerah mendengar perkataan Yoseob barusan, “Jadi maksudmu…. Dongwoon dan Minri…. Melakukan hal itu??”
“Bisa jadi.” Kata Yoseob dengan muka yang polos. “Kalau aku tidak seperti itu ya~~ aku adalah reinkarnasi manusia terdahulu yang memiliki kebaikan yang begitu banyak. Dan orangtuaku juga keduanya adalah malaikat putih.”
“Oooooh jangan-jangan appamu adalah salah satu petinggi dalam kumpulan malaikat putih?” tebakku asal.
“Kok tahu sih? Malah appaku ketuanya.” Jawab Yoseob sambil menggaruk garuk kepalanya, “Ngomong-ngomong… kenapa kamu menanyakan hal itu terus sih noona? Apa kamu penasaran dengan kehidupan malaikat?”
“Auhhhh auuhhhhhhh nee, aku memang penasaran. Tapi… jebal~~~ lepaskan pipiku dari kedua tangan nakalmu iniii~~~” keluhku karena Yoseob mencubiti pipiku keras-keras. tapi bukannya ia melepasnya, malah semakin mencubit sambil tertawa girang.
“Oke kalau mau ku ceritakan, tapi….. Oh, ada yang jual mawar. Jamkkamanyo~~” jawabnya sambil berlari ke tukang jual bunga itu dan membeli setangkai mawar putih, “Buatmu noona~”
Aku terkejut dengan pemberian namja chinguku, meskipun hanya satu.. tapi aku merasa senang sekali. “Oh gomawo jagiya, kamu romatis sekali~~”
“Mwo? Tadi noona memanggilku apa?” tanya Yoseob terkejut, “Jagiya?”
Aku menggeleng geleng grogi dengan wajah yang memerah karena malu, “A…. anii…. Mungkin kau salah dengar, aku tidak memanggilmu seperti itu.”
Untungnya, Yoseob termakan omonganku dan langsung melupakan even barusan, “Oke…. Jadi, mau cerita dari mana?”
Aku memegang megang bunga mawar dari Yoseob dan memilin milin tali yang terikat di ujung mawarnya, “Dari awal juga boleh boleh saja. Tapi ceritanya sambil duduk ya, aku capeeek~~”
“Arrajie,” jawab Yosoeb sambil menggiringku ke tempat duduk terdekat. “Jadi, menjadi malaikat itu bermacam macam caranya, ada yang berasal dari reinkarnasi manusia terdahulu… ada juga yang murni malaikat, dan ada juga manusia yang berubah menjadi malaikat sesudah ia mengalami sesuatu misalnya kecelakaan tragis atau ketika ia beranjak dewasa.”
Aku mengangguk anggukan kepalaku tanda mengerti, “Dari semua malaikat yang aku tahu, siapa saja yang murni malaikat?”
“Junhyung goon, hanya dia.” Jawab Yoseob. “Kalau yang kecelakaan itu Kikwang-sshi dan Hyunseung-sshi, sisanya dari reinkarnasi.”
“Em……. Jadi, malaikat pun bisa jadi manusia dong?” tanyaku lagi dibalas dengan anggukan Yoseob. “Oh iya, siapa pasanganmu? Kudengar dengar setiap malaikat mempunyai pasangan dengan warna sayap yang berbeda kan?”
“Nee…. Pasanganku adalah Junhyung goon.” Jawab Yoseob. Tanpa sadar aku menutup mulutku karena tidak percaya.
“Junhyung-ah? Malaikat hitam yang hendak merebut Hyunyoung dari Hyunseung-sshi?” tanyaku lagi. “Apakah tidak menakutkan?”
“Ahahahahahahaha aniiyo…. Sebenarnya Junhyung goon adalah malaikat yang baik dan tidak jahat sama sekali. Takdirnya yang sangat menyedihkan itu yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Meskipun ia malaikat hitam, sebenarnya perasaannya sehalus malaikat putih.” Ucap Yoseob. “Kau sudah lihat dia kan? Kau lihat tulisan di lengan kanannya? Itu adalah sebuah siksaan bagi para malaikat yang melakukan kesalahan di masa lalunya.”
“Mwo? Apakah Junhyung pernah melakukan sebuah kesalahan sehingga dia diberikan hukuman seperti itu? Dan… apakah tulisan itu berpengaruh pada tubuhnya?”
Yoseob mengangguk, “Nee… kesalahan yang menggemparkan dunia kami. Tulisan itu akan membakar tubuh sang malaikat pelan-pelan, dan biasanya tulisan itu memanas pada saat malam hari.”
Memanas? Membakar? Bagaimana rasanya jika aku seperti Junhyung goon? Kenapa beban orang yang aku kenal terkadang sangat berat? Memang, seharusnya aku bersyukur terhadap apa yang aku hadapi.
“Yoseobie… apakah ada cara untuk melepaskan tulisan yang seperti kutukan itu dari tubuhnya?”
“Biasanya sih tidak ada,” jawab Yoseob. “Tapi….. hanya dengan jatuh cinta pada seorang manusia atau malaikat sejenisnya, dan menjadi pasangan pun juga bisa menghilangkan kutukan itu.”
Aku berpikir sebentar, “Lalu… apa yang terjadi kalau ia tidak mendapatkan pasangan hidupnya itu??”
Tiba-tiba Yoseob mendekatkan wajahnya dan membelalakkan matanya, “Mereka akan mati, dan tidak bereinkarnasi lagi.”
“Astaga, kau menakutiku Seobie~~!!” dengan refleks aku mendorong wajah Yoseob menjauh dari wajahku, kelakuannya tadi sangat lucu~~ “Kasihan juga ya pasanganmu itu. Makanya kamu jangan melakukan sesuatu yang bisa membuatmu dapat kutukan ya.”
“Makanya kamu juga jangan selingkuh dong noona.” Jawab Yoseob sambil mengelus elus rambut panjangku. “Nanti kalau aku dapat kutukan, kamu juga pasti kena kutukan.”
“Mwo? Andwae…. Aku tidak mau dapat kutukan.” Jawabku dengan wajah yang malu, “Lagipula…. Mana mungkin aku selingkuh? Aku benci hal-hal yang berbau seperti itu sejak aku mengenal yang namanya cinta.”
“Hahahahahaha yasudah, jangan marah-marah seperti itu dong~” kata Yoseob sambil mulai mencubiti pipiku lagi, “Nanti noona manisnya hilang kalau marah-marah.”
Mwo?? Apa yang ia katakan?? “Yak, dongsaeng~!! Jangan ngegombal seperti itu sih, ah jinjja aku tidak biasa kalau dipuji puji seperti itu~~”
“Nee nee arraseo,” jawab Yoseob sambil menepuk nepuk kepalaku. “oh iya, sebelum aku mengantarkan noona ke rumah.. aku mau tanya. Noona suka bunganya tidak?”
Aku mengangguk sembari kami berjalan menuju pagar rumahku yang sudah dekat, “Nee jeongmal gomawo Seobie. Aku duluan ya, soalnya aku mau menaruh bunganya di kamar.” Jawabku sambil membuka pintu pagar yang dikunci.
“Miyoung noona…. Ada yang ingin kusampaikan padamu lagi.” Yoseob berkata lagi. Aku menengok ke arahnya dan tiba-tiba…..
Ia mengecup bibirku,
“Saranghae noona-ku sayang~!! Sampai besok ya!!” katanya berlari sambil tertawa-tawa. Aku yang masih syok hanya memegangi bibirku, lalu berteriak…
“Yak, dasar kau apneun namja~~!!!” wajahku terasa panas sekali, “tapi….. nado saranghaeyo~!!! Sampai besok~~”
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar