Shin Hyunyoung story…
“Aku tidak peduli mau dia ada atau tidak, aku akan selalu bersamamu Hyunyoung. Saranghae Hyunyoung, aku mencintaimu.”
“Lihat saja nanti, Hyunyoung tahu antara siapa yang peduli padanya atau tidak. Tunggu tanggal mainnya, dan kelak nanti aku akan membuatmu menjadi malaikat hitam, Hyunseung.”
“Darling, gwenchana? Kenapa kau tidak bicara?”
Aku tersadar dari pikiranku yang melayang layang ke peristiwa dua hari yang lalu, Hyunseung oppa sedang menelponku dan aku malah bengong seperti ini…
“Nee, aku sedang sibuk mengerjakan urusanku karena sebentar lagi aku pulang.” Jawabku sambil memikat kepalaku yang pusing.
“Arraseo, jaga dirimu baik-baik ya. aku akan pergi seminggu karena dongsaengku akan diwisuda.” Jawab Hyunseung oppa, “Aku harus pergi sekarang.”
Aku menutup telepon dan segera keluar dari ruang ganti untuk mengisi absen, kalau tidak cepat-cepat gajiku bisa dipotong nantinya.
“Hyunyoung-sshi, kau pulang duluan?” tanya Miyoung unnie. “Kau tidak bersama kami?”
“Gamsahabnida, aku harus segera pulang dan memasak untuk Doojoon oppa.” Jawabku sambil membuka pintu midimarket.
Saat kubuka, terlihat Junhyung oppa yang sedang berdiri tegak di depan midimarket…
“Annyeong Hyunyoung-sshi… bagaimana kabarmu?”
Aku segera berkilah dan tidak menghiraukan Junhyung oppa yang tadi bicara padaku. Saat aku hendak melewatinya, ia dengan gampang menggenggam tanganku dan mencegatku.
“Jebal, lepaskan oppa. Aku tidak ingin bicara denganmu saat ini.” Tukasku kesal. Namun ia masih menggenggam tanganku kuat-kuat, meskipun tidak terasa sakit sama sekali.
“Yak, ayo kita pulang bersama. Aku tidak bawa motor, jadi.. jalan kakilah bersamaku.” Jawab oppa tanpa menghiraukan perkataanku barusan. “Temani aku, sekali aja.”
Aku menatapnya penuh kekesalan. Mengingat perkataannya 2 hari yang lalu sudah membuatku pusing dan kalut, rasanya tidak akan mudah memaafkan atau bicara dengannya lagi seperti dulu.
“Apakah karena aku malaikat hitam……. Yang berkonotasi negative dan mayoritas dijauhi umat manusia, sehingga kau tidak mau bicara… bahkan menghabiskan waktu sebentar bersamaku?” tiba-tiba Junhyung oppa menatapiku dalam-dalam, matanya berkaca-kaca dan tersirat permintaan tolong di dalamnya, “Jebal, temani aku pulang…. Kali ini saja.”
Aku menatapi mata itu dengan nafas yang tersenggal senggal dan mata yang juga berkaca-kaca, pandangannya yang kejam membuatku goyah dan membuat jantungku berdebar debar…… kenapa bisa seperti ini?
“Oh….. memang, Yong Junhyung bahkan tidak pernah beruntung sejak ia tumbuh dewasa.” Jawabnya mengejek diri sendiri, “Bahkan yeoja terdekatnya sampai menjauhi mahluk ciptaanNya yang hina ini. Arraseo, aku pulang duluan.”
Junhyung oppa berjalan menjauhiku dan membalikkan punggungnya menuju arah pulang yang sama denganku. Namun entah kenapa, melihat mata Junhyung oppa yang berkaca kaca tadi……
Aku berlari untuk menyusul oppa dan menggaet tangannya sehingga ia terkejut, lalu aku mulai menyamakan jalanku dengannya.
“Wa… waeyo? Kau tidak perlu memikirkan perkataanku barusan.” Jawab Junhyung oppa ketus.
“Aniiyo, aku tidak memikirkannya.” Jawabku tak kalah ketusnya, “Pokoknya kita pulang bersama saja…”
~~~~~
Sun Miyoung story…
“Benar-benar mencengangkan.” Komentar Yoseob yang wajahnya menempel di jendela midimarket, “Hyunyoung-sshi pulang dengan Junhyung goon~!!”
Aku menoleh kea rah namja chinguku itu, “Jeongmal? Apakah akan baik-baik saja? Ngomong ngomong, kenapa kau belum ganti baju sih?! Kita kan mau pulang~~”
“Jakkamannyo, sebentar lagi aku ganti baju. Tadi sudah absen kok.” Jawab Yoseob. “Tergantung kepada Hyunseung hyung nya saja, kalau ia tahu mungkin ia akan berang. Tapi setahuku Hyunseung hyung adalah namja yang polos dan sedikit cuek, jadi….. rasanya akan baik-baik saja.”
“Apakah boleh? Persaingan antara malaikat hitam dan putih seperti itu?” tanyaku ragu. “Bisa-bisa diantara kedua malaikat itu, ada yang mati.”
“Kalau para petinggi di atas sana bilang, kejadian ini jarang terjadi.” Jawab Dongwoon yang sudah ganti baju dan mendorong Yoseob ke ruang ganti. “sudah tugas malaikat hitam menggoda dan merebut hal-hal kepunyaan malaikat putih. Meskipun terkadang dua pihak itu juga bekerja sama, seperti aku dan Yoseob hyung dulu.”
“Tapi… kalau perebutan masalah cinta, apakah diperbolehkan?” tanyaku lagi. “Dan…. Bolehkan malaikat lain membantu salah satu dari keduanya?”
“Kejadian perebutan masalah cinta antara dua malaikat berbeda itu sangat jarang. Apalagi Junhyung goon yang sudah digariskan menjadi malaikat hitam sejak ia tumbuh dewasa, yang lebih sering itu… perebutan cinta antara 2 malaikat putih atau hitam. dan sepertinya kali ini para petinggi menyetujuinya.”
“Mwoya, menyetujui hal seperti itu?!” ujarku syok. “Tapi… bagaimana perasaan Hyunyoung kalau salah satu dari mereka tiada?! Junhyung adalah teman dekatnya, sementara Hyunseung namja chingunya, ottokaji?!”
“Mollaeyo noona, sudahlah jangan pikirkan hal itu.” Sahut Yoseob yang baru saja keluar dari ruang ganti. “Semuanya terletak di dalam keputusan Hyunyoung-sshi. Dia yang akan memutuskan segalanya, kaja.. kita pulang.”
Yoseob menarik tanganku dan mengajakku pulang, tapi pikiranku masih sedikit resah dengan perkataan Dongwoon dan Yoseob barusan…
“Kejadian perebutan masalah cinta antara dua malaikat berbeda itu sangat jarang. Apalagi Junhyung goon yang sudah digariskan menjadi malaikat hitam sejak ia tumbuh dewasa, yang lebih sering itu… perebutan cinta antara 2 malaikat putih atau hitam. dan sepertinya kali ini para petinggi menyetujuinya.”
“Semuanya terletak di dalam keputusan Hyunyoung-sshi. Dia yang akan memutuskan segalanya,”
Memutuskan hal yang begitu rumit seperti itu? Apakah Hyunyoung bisa? Aku saja yang lebih senior darinya tidak mampu kalau berada di posisinya~
Ottokke? Pasti Hyunyoung akan lebih kalut daripada hari ini. Tadi saja saat pulang, ia menerima telepon dari Hyunseung-sshi dengan wajah yang letih dan galau.
“Noona, kau masih memikirkan yang tadi?” tiba-tiba Yoseob menarikku ke pelukannya sehingga aku terpekik saking terkejutnya. “Jebal, malaikat adalah mahluk yang kekal. Tidak mungkin mereka mati begitu mudah, mereka pasti akan bereinkarnasi secepat mungkin. Lagipula.. ini bukan urusan kita.”
Wajahku memerah karena Yoseob memelukku begitu erat sehingga aku sulit bernafas, kata-kata Yoseob yang barusan terngiang ngiang lagi di kepalaku…..
Bukan urusan kita? Hyunyoung itu hoobae sekaligus chinguku, tentu saja aku juga turut prihatin terhadapnya…
~~~~~
Park Sunghyo story..
“Mereka diributkan oleh para petinggi loh, betapa eksisnya mereka.”
Aku menengok kea rah namja chinguku yang akhir-akhir ini makin apneun saja sejak menjadi malaikat hitam, tapi meskipun menjadi malaikat hitam.. ia terkadang maish terlihat polos. Haha
“Apa yang mereka bincangkan?” tanyaku yang sibuk mengganti channel TV yang dari tadi progamnya itu-itu saja.
“Kasus yang dialami oleh Hyunyoung-sshi sangatlah langka. Perebutan perasaan antara malaikat hitam dan putih, hemmm sangat menarik.” Jawab Kikwang, “Yak, bisakah kau tetap di satu channel saja? Mataku pusing melihat layar TV yang kamu ganti terus menerus.”
Aku yang sudah bosan, langsung mematikan layar televisi dengan kesal. “Tidak ada yang pantas untuk ditonton. Yasudah, kamu ceritakan saja deh masalah Hyunyoung itu.”
Kikwang duduk di sebelahku dan merangkul pundakku, “Jadi…. Selama ini para petinggi hanya menemukan kasus perebutan cinta oleh kedua malaikat yang sepihak, putih putih dan hitam hitam. tapi baru kali ini para petinggi menemukan kasus seperti mereka bertiga, dan mereka membiarkannya.”
“Lalu… kenapa Junhyung oppa bersikeras untuk mendapatkan hati Hyunyoung, yeobo?” tanyaku lagi.
“Molla, mungkin Junhyung goon sudah menyukai Hyunyoung-sshi jauh sebelum yeoja itu menyukai Hyunseung-sshi.” jawab Kikwang. “Menyatakan cinta kepada orang yang disuka dan dibalas perasaannya oleh si yeoja, itulah satu-satunya cara untuk merubah sayapnya. Dulu, Junhyung goon adalah malaikat putih.”
“Jeongmal? Kenapa sekarang.. ia menjadi malaikat hitam?” tanyaku cukup terkejut. Kupikir sejak awal Junhyung oppa adalah malaikat hitam.
“Kure… dia berubah menjadi malaikat hitam sejak ia menginjak usia remaja, perubahan yang menggemparkan seluruh jagad, Sunghyo-sshi.” “Appa dan umma beliau juga, memiliki kisah cinta yang sebenarnya sangat terlarang. Makanya, aku terkadang merasa kasihan terhadap Junhyung goon.”
Aku menatap Kikwang yang mengelus elus dahiku lembut sehingga aku merasa sedikit mengantuk, “Bolehkan aku tahu? Aku kan sudah maklum kalau kalian semua adalah malaikat dengan sayap yang berbeda-beda.”
“Hemmmmmm kau selalu ingin tahu semuanya, jagiya.” Jawab Kikwang sambil mencium keningku lembut sekali, “Nanti kamu juga tahu kok. Bahkan, kita semua akan tahu suatu hari nanti. Hari dimana Hyunyoung memutuskan segalanya.”
Aku masih termenung memikirkan kata-kata Kikwang barusan. Apakah sanggup, Hyunyoung memutuskan siapa yang akan ia pilih? Junhyung oppa adalah sahabat dekatnya saat yeoja itu baru saja kehilangan unnienya, sementara Hyunseung oppa adalah namja chingunya. Apakah bisa?
“Kikwangie….” Panggilku, “Kalau kamu menjadi Hyunyoung, siapakah yang kamu pilih? Sang malaikat hitam selalu menjagamu disaat unnienya sudah tak bisa menjaganya lagi, sementara sang malaikat putih adalah seseorang yang baru kamu sukai kurang dari satu tahun. Siapa yang kamu pilih?”
Ia bukannya menjawab pertanyaanku dengan jelas, malah mencubiti pipiku, “Yak, kenapa kamu membandingkanku dengan Hyunyoung? Dia yeoja, sementara aku namja. Aku pasti memilih sang malaikat putih, karena namja itu egois… namja jarang memikirkan perasaan orang di sekitarnya.”
Aku tertawa geli sekali mendengar pernyataannya yang polos, “Oh, jadi kamu mengakui ya bahwa kaum namja itu memang egois?”
“Yak, aigooooo kau menjebakku lagi Sunghyo-sshi~~!!” jawabnya dengan wajah yang merona karena malu, “Ah jinjjaeyo, kau ini selalu saja~~”
Aku bangkit dari pangkuannya, memeluk lehernya, dan menciumi bibirnya…. Begitupun Kikwang yang membalas ciumanku sambil tersenyum menyembunyikan rasa malunya.
~~~~~
Shin Hyunyoung story…
“Annyeonghaseo….”
“Nee, selamat datang Hyun… oh, kau bersama Junhyung-sshi?” tanya Doojoon oppa yang menyambut kepulanganku, tepatnya kedatanganku dan Junhyung oppa.
Aku mengangguk tanpa suara, kini perasaanku merasa tidak nyaman kalau bersama Junhyung oppa. Bahkan kami tidak berbicara satu sama lain, tangan kami bergandengan. Tapi kami tidak menatap wajah satu sama lain, sungguh kaku.
“Em….. kau tidak bersama Hyunseung? Kemana dia?” tanya Doojoon oppa yang bolak balik ke dapur mengambil makan malam untukku.
“Aniimnida.” Jawabku singkat. Keberadaan Junhyung oppa di sekitarku membuatku bungkam tanpa suara sama sekali. “namja chinguku pergi ke rumahnya untuk menghadiri wisuda kelulusan dongsaengnya.”
“Oh.. arrajie,” jawab Doojoon oppa, “Silahkan dimakan makanannya, kalau kau butuh aku telepon saja. Aku mau keluar sebentar, jenuh sekali dari tadi di rumah saja.”
Aku mengangguk sambil mengangkat piring dan menyendok lauk-lauk, sementara Junhyung oppa masih berada diseberangku. Berdiri tanpa bergeming, sperti Lucifer..
“Oppa tidak makan?” tanyaku dingin. “Apa oppa ingin segera pulang?”
“Kau mengusirku?” balasnya dingin. “Aku ingin menunggumu makan, karena aku ingin mengakui sesuatu padamu.”
Junhyung oppa berlalu sambil membuka jaketnya, terlihat sebuah tulisan tertera di lengan kanannya. Lalu terlihat tulisan berbentuk diagonal di dada kirinya. Ia tidak membuka t-shirtnya, namun terlihat jelas karena pakaiannya yang tipis itu.
“Oppa….” Aku mengunyah bulat bulat makan malamku dan segera menghabiskannya, “Apa itu.. yang ada di dadamu, dan di lengan kananmu?”
Junhyung menatapku dari kejauhan, “Oh.. jadi akhirnya kau mau bicara padaku? Kalau mau, lihat saja kesini.”
Aku merasa tersinggung dengan perkataannya barusan, tapi didorong rasa penasaran, aku memutuskan untuk mendekatinya. Terukir tulisan latin di lengan kanannya, dan di sekitar tulisan itu memancarkan warna merah yang menyala, saat kupegang pun rasanya panas sekali.
“Apa arti dari tulisan ini oppa? Apa kau bisa mengartikannya?” tanyaku bingung. Junhyung oppa tidak menjawab, namun beberaoa saat kemudian tubuhnya bergetar getar kecil.
“Mo….. mollaeyo….” Katanya dengan gigi yang beradu. “Tulisan ini terukir bukan mauku, ini semacam hukuman untukku karena masa laluku yang tidak…. Baik..”
Aku yang melihat oppa tidak berhenti gemetaran, menjadi panik dan ketakutan. “Op.. oppa, apa yang terjadi? Kenapa kau gemetaran seperti ini?”
“Jam berapa ini?” tanya Junhyung oppa sambil masih gemetar. “Oh, jam 9 malam… gwenchana, setiap jam 9 malam setiap hari… tulisan tulisan hukuman ini mengeluarkan hawa panas yang sangat menyiksa.”
Aku menelan ludah, jadi ini sebabnya Junhyung oppa hanya bisa menemaniku tidak lebih dari jam 9 malam? Dia… merasakan kesakitan ini sendirian dirumahnya? Setiap hari?
“A…. ada yang bisa aku lakukan untuk mengurangi hawa panasnya?” tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca. “Yak oppa, adakah sesuatu yang bisa mengurangi rasa sakitnya?!?!”
Tangan kiri Junhyung oppa menggapai tanganku sambil gemetaran, “Kalau aku jatuh atau mati sekarang…. Tolong beritahukan oppamu, tolong beritahu Kikwang, tolong beritahu…..”
Suara Junhyung oppa tidak terdengar lagi, badannya makin terguncang hebat dan lampu-lampu di rumah menyala dan redup begitu seterusnya.
“Oppa?! Yak oppa?!!” airmataku yang dari tadi tertahan, jatuh di pipiku. Aku mencari-cari HPku untuk menelpon Doojoon oppa, ketika kulihat…. Sayap kegelapan meredupkan seluruh cahaya di rumah….
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar