Min Minri story….
“Minri… apa yang kau lakukan?!”
“Minri-sshi……. Kenapa kau lakukan hal seperti itu menjijikkan!”
“Minri, uljimma~!! Jangan tunjukkan mukamu di rumah ini lagi, pergilah~!! Kau sudah kotor~!!”
“Hukkkkkkkk~~!!!” tubuhku mengejang mendengar teriakan-teriakan yang ada di kepalaku. Dongwoon yang sedang sibuk mengurusi ‘urusannya’ segera memberhentikan pekerjaannya dan mengeccek keadaanku.
“Noona… ada apa?” tanyanya khawatir. “Apa kau merasa sakit?”
Aku menggeleng lemah sambil memegangi kepalaku, “Anii…. Bagaimana kalau kau pakai celanamu dulu? Aish… kau membuatku semakin sakit kepala.”
“Apa yang terjadi?” Tanya Dongwoon yang sibuk mencari celananya, “Kenapa tiba-tiba noona kejang seperti itu? Apa kamu sakit?”
Aku menggeleng sambil mencari celanaku yang hilang entah kemana, kutarik selimut untuk menutupi tubuhku, “Lagi-lagi aku termakan pesonamu, Dongwoon. Aku bilang kita tidak bisa seperti ini terus, tapi kenapa kamu terus melakukannya padaku?”
“A….. aku tak mengerti perkataanmu noona. Apa maksudnya?” tanyanya lagi sambil menarik risleting celananya naik dan mendekatiku, “Apa hubungannya dengan hubungan kita?”
“Jelas saja ada hubungannya~!!” jawabku ketus. “Aku kemarin mendengar Kikwang berbincang dengan Sunghyo di telepon. Katanya kau menjadi malaikat putih karena bisa membuat seseorang yang dicintainya menyerahkan seluruh jiwa raganya. Apa kamu memperdayaku? Memanfaatkanku?!”
Aku menarik bajuku dan memaikainya dengan gusar. Sambil menyibak rambut, aku mencari tas dan bergegas ke pintu keluar, tapi Dongwoon menarikku dan aku menghempaskan tangannya berkali-kali hingga kini ia menarikku ke pelukannya dan aku tidak mampu melawannya lgi.
“Niga saranghandamyeon, Minri-sshi.” Ucapnya sambil menatapku tajam. “Aku tidak bermaksud memperdayamu, aku melakukannya demi cinta. Aku….. aku tergila-gila padamu noona. Aku sangat menyukaimu, jebal…… jangan marah lagi ya.”
Aku menatapnya dengan marah sekaligus sedih, tanpa terasa suaraku gemetaran saat berkata padanya.
“Kalau kau mencintaiku, kenapa kau terus-terusan membuatku melakukannya bersamamu? Kita ini masih belum punya status resmi, Dongwoon-sshi. Kamu masih namja chinguku, bukan suamiku~~!! Tapi… kenapa kamu tidak pernah memikirkan…. Masa depanku… sama sekali?”
Tanpa terasa, air mataku menetes di pipi membasahi ujung bibirku. Dan Dongwoon hanya menatapiku bingung, “Aku… aku tidak mengerti perkataan noona.”
“Ya…. Kau tidak akan mengerti, karena kamu bukan manusia.” Jawabku dingin. “Kamu hanyalah malaikat hitam yang mencuri hatiku. Dan mencuri semua milikku~!!”
Aku melepaskan genggaman tangannya yang kokoh dan bergegas menuju pintu keluar, namun Dongwoon menarikku lagi hingga aku terkunci di pelukannya.
“Aku tidak bermaksud ingin mencurinya, noona~!! Sudah kukatakan. Aku menggilaimu, bukan karena ingin menjadi malaikat putih~!!” jawabnya ketir. “Mianhamnida….. tolong jangan pergi, tetaplah bersamaku noona.”
Tangan Dongwoon mendorong kepalaku menuju ke wajahnya dan mulai mencium bibirku lagi, namun kudorong tubuhnya dan aku segera meraih kenop pintu keluar.
“Tidak lagi, Dongwoon…. Aku tidak akan termakan ciumanmu lagi. No more…” jawabku kasar dan segera pergi membanting pintu.
.....
“Oh Minri-sshi~~~!! Ada apa? Kenapa wajahmu merah padam seperti itu?” Sunghyo yang habis memasak buru-buru menghampiriku di meja pelanggan dengan wajah yang khawatir, “Kamu mau pesan sesuatu?”
“hhhhk~~ aku… mau jus kelapa saja, gamsahabnida.” Jawabku sambil menarik ingus, “Tapi… aku mau mencari Doojoon oppa dulu, tunda saja dulu pesananku tadi. Kamu lakukan saja tugasmu, nanti aku kembali.”
Sunghyo mengangguk dengan wajah yang kalut, “Arraseo…. Hajiman….. gwenchanaseo?”
“Nee, gwenchana. Aku pergi dulu ya, nanti aku kembali.” Jawabku sambil bangkit dari kursi restoran tempat Sunghyo magang, dan berlalu.
Kususuri pinggir pantai yang ramai sambil mengelap elap hidungku yang tak berhenti mengeluarkan ingus dan mataku yang membengkak kutekan-tekan lembut. Dari jauh, kulihat Doojoon oppa sedang berada di pos pengawasan sambil memegang teropong. Kudekati pos itu dan menyapanya dari bawah.
“Annyeonghaseo oppa~~” aku mendongakkan kepala dan berteriak. Untung saja Doojoon oppa cepat merespon dan segera turun menemuiku.
“Annyeong Minri-sshi~~ ada apa kesini? Kenapa kau sendirian? Mana Dongwoon?” Tanya Doojoon oppa
Air mataku mengembang lagi mendengar kata-kata Dongwoon di telingaku, “Oppa…. Apakah semua malaikat hitam, selalu membuat wanita pujaannya takluk…. Dan memberikan segalanya?”
Doojoon oppa sepertinya sudah mengerti pembicaraanku, Ia menyuruhku duduk di sampingnya, “Ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian bertengkar?”
“Hanya… sedikit berselisih paham.” Jawabku sambil mengusap air mata yang jatuh, “Aku mendengar pembicaraan Kikwang dan Sunghyo-shi. Mereka bilang Dongwoon menjadi malaikat putih karena aku telah tidur dengannya. Apa dia memanfaatkanku oppa? Apa ia hanya menginginkan sayap putih sehingga ia tidak memikirkan perasaanku? Aku mencintainya oppa, tapi yang ia lakukan setiap bersamaku hanya menciumku dan membuatku berakhir di tempat tidur, menghancurkan apa yang aku miliki pelan-pelan. Aku….. aku benci kenyataan ini. Uhuhuhuhuhu~!!!”
Doojoon oppa mengelus elus pundakku sambil berkata, “Tidak semua malaikat hitam tidur dengan seorang wanita demi sayap putih. Terkadang mereka hanya ingin memuaskan wanita itu, contohnya aku.” Katanya dengan berat hati. “Sesungguhnya aku merasa sangat menyesal saat melakukannya di musim dingin demi mendapatkan bayaran. Itu sama saja aku mengecewakan Hyunri-sshi yang sudah tenang disana.”
“Jadi… dia semata-mata melakukannya… karena perasaan suka dan cinta?” tanyaku tak percaya, “Benarkah demikian?”
Doojoon oppa mengangguk, “Dia mempelajari semua keburukan itu dari malaikat sayap hitam yang lain, percayalah. Dongwoonie adalah namja yang sangat polos dan mudah diperdaya, dia tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu.”
“Apakah malaikat yang sudah mempunyai pasangan, bisa merubah pasangannya?” tanyaku sambil menatapi deburan ombak yang cukup besar.
“Bisa saja…. Asal pasangan itu belum melakukan hal yang membuat dua pihak terluka secara permanen.” Jawab Doojoon oppa, “Jadi… dia melakukannya denganmu karena ia tidak mau mengganti pasangannya. Dia hanya mau denganmu.”
Aku memeluk Doojoon oppa penuh suka cita, “Gamsahabnida oppa, besok aku akan menemuinya dan minta maaf padanya. Tentu saja kami akan berjanji satu sama lain untuk tidak melakukan hal itu lagi.”
Doojoon oppa mengangguk sambil menatapi lautan yang penuh dengan gemuruh ombak. Lalu ia menunjuk ke tengah pantai,
“Sebaiknya kau pulang bersamaku saja nanti. Lihat disana, ada Hyunyoung yang sedang bermain jetski bersama Junhyung.”
~~~~~
Shin Hyunyoung story….
“Hyunyoung-sshi, kaja~!!” panggil Junhyung oppa yang hari ini mengajakku pergi ke pantai tempatnya ia berjaga jaga sekaligus tempat Sunghyo mengerjakan part time nya di musim semi sampai musim gugur. Kali ini Junhyung oppa mengajakku bermain motorboat, sangat seru dan cukup membuat jantung berdebar-debar.
“Apa sudah waktunya oppa berjaga-jaga lagi?” tanyaku was-was,
“Anii… aku baru ingat kalau kau belum makan. Ikutlah denganku, nanti aku traktir.” Jawab Junhyung oppa. “Sunghyo-sshi, dua porsi jajangmyeon untuk dua orang.”
Sunghyo berteriak dari dapur dan mulai memasak, lalu kami mulai bercakap-cakap kembali. “Hemmmm bagaimana? Apa kau senang setelah beberapa hari menghabiskan musim semi di midimarketmu?”
Aku mengangguk angguk senang, “Nee joahae. Gamsahabnida sudah ‘menculikku’ bersama Doojoon oppa, hahahahaha.”
Memang benar apa yang kukatakan barusan, Doojoon dan Junhyung oppa memang menculikku sejak tadi pagi. Mereka mempengaruhi aku untuk ikut bersama mereka di pantai, padahal aku ingin menghabiskan hari ini seharian dirumah karena bekerja itu sangat melelahkan sekali.
“Tapi… tidak apa-apa kan kalau aku sering-sering main kesini? Oppa pasti akan selalu menemaniku dan tidak berjaga di sekitar pantai, akan sangat merepotkan ya?”
“Jangan bilang seperti itu, aku kemari untuk bekerja semampuku. Jadi tidak mungkin kalau kau datang terus aku pergi bersamamu terus-terusan.” Ungkap Junhyung oppa. “Sering-sering saja main kesini, sekalian menjadi penjaga pantai tambahan, hahahahaha.”
“Enak saja, lebih baik Hyunyoung membantuku di restoran daripada panas-panasan bersamamu, benar kan Hyunyoung-sshi?” tanya Sunghyo yang membawa nampan berisi dua jajangmyeon yang mengepul-ngepul, “Tadi Minri kesini, kalian tidak melihatnya?”
Aku menggeleng takjub, “Anii…. Benarkah ia kesini?! Astaga, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya.”
“Tenang saja, ia bilang ia akan kembali bersama Doojoon oppa nanti. Jadi kalian bisa berbincang bincang melepas kangen.” Jawab Sunghyo sambil berbisik, “Selamat makan ya.”
“Nee gamsahabnida~~!!” ujar kami senang, dengan segera kulahap habis jajangmyeon itu karena rasa lapar yang luar biasa. Tapi… baru kusadari bahwa Junhyung oppa belum menyentuh jajangmyeonnya sama sekali.
“Op… oppa~!! Jesonghabnida, ak sangat lapar sampai-sampai aku tidak menyuruh oppa makan terlebih dahulu~~ mianhae, jeongmal mianhae…”
“Gwenchanaseo, kamu mau porsi punyaku?” Junhyung oppa mendorong piringnya ke depan wajahku, namun aku tidak bisa menerimanya karena sudah kenyang.
“Mian… aku sudah kenyang, makan sajalah jajangmyeon itu.” Aku menggeser piring itu kembali ke depan wajahnya, tapi yang ia lakukan hanya tersenyum dengan senyuman nakalnya.
“Nee, aku akan memakannya.” Jawabnya sambil mengangkat sumpit dan mulai menyumpit mie nya. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, kemana ya Minri-sshi?
“Emmmm kau mencari sesuatu?” tanya Junhyung oppa dengan mulut yang agak penuh. Otomatis aku langsung menggeleng cepat karena aku takut akan merepotkannya.
“Makanlah saja dulu oppa, aku hanya melihat lihat sekitar, apakah Minri-sshi didekat sini.” Jawabku. Seketika HPku bergetar dan kulihat nomor yang menelponku, Kittyoppa…
“Oppa, jakkamanyo… ada yang menelponku.” Aku berjingkat keluar dari rumah makan dengan berat hati, dan segera mengangkat teleponnya, “Yeoboseo Kittyoppa~~”
“Yeoboseo Hyuncat.” Jawabnya dari seberang sana, suaranya sangat merdu dan bening. Membuat dadaku berdesir desir, “Bagaimana kabarmu disana? Mian… aku belum bisa pulang, keluarga besarku menahanku untuk tinggal beberapa hari lagi. Tidak apa-apa kan Hyuncat?”
“He-em,” jawabku seadanya. Entah kenapa hari ini aku sedang tidak mood menghadapi suaranya meskipun hati ini juga berdesir hebat.
“Hyun-sshi…. apa kamu merindukan aku?”
DEG!! Kenapa tiba-tiba ia menanyakan hal itu padaku?! “Nee. Memang kenapa?”
“Kalau mau, nanti malam aku bisa terbang ke rumahmu sekitar pukul 12 malam. Mau kan?” tanya Hyunseung oppa. “Aku juga merindukanmu, jadi hanya inilah cara supaya bisa bertemu denganmu.”
“Nee, kuusahakan ya. takutnya aku mengantuk,” jawabku sekenanya, “Aku harus pergi oppa, annyeong.”
Aku mematikan teleponku saat Junhyung oppa sudah membayar semua makanan dan datang menghampiriku, “Telepon dari siapa?”
“Emmmmm…… namja chinguku.” Jawabku malas-malasan. Dan sudah kuduga, wajah Junhyung oppa berubah menjadi kaku.
“Oh…. Kapan dia pulang?” tanyanya agak ketus, tapi aku tidak memperdulikannya dan kutarik tangannya.
“Mollaeyo, dia tidak memberitahu. Bagaimana kalau kita cari Minri-sshi saja? Kaja oppa~”
.....
Pukul 12.00
“Hyuncat….. Hyuncat….”
Aku terbangun melihat cahaya putih berpendar dibalik jendela kamarku. Kubuka jendelanya, dan menemukan Hyunseung oppa yang tersenyum dengan sayap putihnya yang masih belum tertutup.
“Kittyoppa….. annyeong,” jawabku sambil memeluknya, tak ada lagi yang bisa kukatakan karena aku mengantuk sekali. “Tidak apa-apakah kalau kesini? Apa tidak ada orang yang akan melihat?”
“Anii, makanya aku kemari sekitar pukul segini.” Jawab Hyunseung oppa sambil mengelus elus rambutku dengan lembut, “Kau baik-baik saja kan? Jangan sampai terkena flu dan sakit ya, Hyuncat-ku~~”
Aku mengangguk sambil mengucek ucek mataku yang pandangannya buram karena masih mengantuk, “Kittyoppa, aku mengantuk sekali. Bisakah kita masuk ke dalam, temani aku tidur~~”
Hyunseung oppa segera menggiringku masuk ke dalam kamar dan menyuruhku masuk ke dalam selimut, sementara ia duduk disamping tempat tidurku, “Akan kutemani sampai kamu tidur, bagaimana?”
Aku tak menjawabnya karena sudah merasa nyaman oleh elusan elusan lembut di kepalaku oleh tangan *atau entah bulu sayap* Hyunseung oppa, aku menaruh tanganku diatas tangannya yang lebar.
“Kittyoppa, cepatlah pulang.” Jawabku dengan wajah yang pura-pura sedih, “Aku sendirian disini, hanya teman-teman dan oppa oppaku lah yang menemani. Cepatlah pulang~~”
Hyunseung oppa mengusap sebelah mataku sehingga entah kenapa rasanya mataku menjadi berkurfang mengantuknya. Ia mencabut satu bulu dari sayapnya yang berkilauan.
“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu padaku, tulislah dengan bulu ini, dan aku akan membalasnya.” Jawab Hyunseung oppa. “Aku tidak bisa selalu menelponmu, jadi… berkomunikasilah dengan pena sayap ini.”
Ia memberikan bulu itu di tanganku dan mencium dahiku lembut, yang entah kenapa membuatku……. Menjadi sangat mengantuk, dan sangat mengantuk….
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar