Author story…
“Andwae, Yoseobie…. Aku tidak bisa menerimanya~!!” Hyunyoung roboh dan menangis sekencang-kencangnya, sementara Yoseob hanya bisa memeluk punggungnya.
“Mianhae, Hyunyoung-sshi….. jarang sekali terjadi kasus seperti ini, tapi aku yakin dia akan segera pulih.”
“Ottokke?? Keadaan seperti itu tidak mungkin pulih di dunia manusia, Yoseobie….” Jawab Hyunyoung sambil memeluk lututnya dan terus menangis, “Kalaupun pulih, kemungkinannya kecil…”
.....
Keesokan harinya..
“Annyeonhaseo Dongwoon-sshi, kamu masih sendiri disini?” tanya Miyoung yang pagi ini datang tanpa Yoseob, “Hyunyoung-sshi dan Yoseob-sshi belum datang?”
Dongwoon menggeleng sambil merapihkan meja kasir, “Ada berita buruk, jadi Yoseob hyung mungkin akan terlambat datang.”
“Mwo? Berita buruk apa?” tanya Miyoung terkejut, “Kalau yang masalah kecelakaan Hyunseung itu sih aku sudah tahu. Bahkan Yoseob menyuruhku pulang duluan karena Hyunyoung-sshi tidak mau pulang dari sana dan terus menangis. Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi disana.”
“Nah.. noona sudah tahu sendiri kan?” jawab Dongwoon sambil tersenyum nakal, “Lalu.. apa Yoseob hyung mengirim pesan pada noona untuk berangkat kerja duluan?”
Miyoung mengangguk sambil mengecek isi pesan, “Iya sih, dia menyuruhku untuk menemanimu di midimarket sementara ia akan masuk pada malam hari. Jadi kita tidak bertemu sama sekali deh.”
“Hahahahaha tapi noona benar-benar temani aku ya, hari ini aku juga tidak bisa bertemu Minri noona karena dia sedang melakukan training dari atasannya.” Jawab Dongwoon, “Oh iya, Kikwang-sshi sudah sembuh loh.”
“Jinjja? Wah.. cepat sekali ya. dia pasti terlalu sering memakan energy listrik rumahnya supaya cepat pulih, semoga tagihannya tidak terlalu mahal. Hahahaha” canda Miyoung.
Dongwoon tersenyum lagi dan membiarkan Miyoung absen dan mempersiapkan segalanya. Omona… sehari bersama Dongwoon? Pasti akan aneh sekali, secara kita memang kurang dekat satu sama lain. Batin Miyoung, ia menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, ottokke? Bisa bisa aku mati gaya nih kalau berada di dalam jangkauan namja arab itu~~
“Em… noona….” Panggil Dongwoon dengan suaranya yang besar; membuat sekujur tubuh Miyoung merinding dibuatnya, “Bagaimana kalau kita pergi ke pantainya Sunghyo noona, sehabis pulang kerja? Tidak ada salahnya kan?”
“Bolehkah? Apa kau punya banyak waktu? Kudengar kau sedang melanjutkan kuliahmu yang sempat tertunda itu kan?” tanya Miyoung.
“Gwenchana, aku kuliah malam hari ini. Kita bisa makan siang di pantai, dan ngobrol-ngobrol bersama dua penjaga pantai kita, hehehehe. Bagaimana?” jawab Dongwoon yang sedang mengetik sesuatu di komputer kasir.
Miyoung mengangguk penuh semangat, “Okeeeeeee mari kita bekerja supaya cepat pergi, ahahahaha~~!” jawabnya sambil mengangkat kotak-kotak di depan midimarket.
~~~~~
Yang Yoseob story…
To: My noona
Jagiya, aku masuk malam hari ini. Mianhae karena tidak bisa mengantarmu kerja. Hati-hati di jalan ya~^^
Aku mengirimkan pesan untuk Miyoung noona pagi ini, sambil menghela napas kulihat Hyunyoung masih berada disana; tertidur dengan punggung yang menempel di dinding dan lutut yang terlipat. Kemarin adalah hari yang berat baginya, ia sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa Hyunseung beberapa waktu yang lalu.
“Hyunyoung-sshi… ironaseo,… Hyunyoung-sshi.” aku mengguncang guncang pundaknya yang dingin, kulihat wajahnya terlihat kusam bekas air mata. “Kita harus pulang, atau petugas akan mengusir kita.”
Hyunyoung perlahan membuka matanya yang sipit dan bengkak, “Siraeyo… aku mau disini saja. Pulanglah Yoseob-sshi, tolong beritahu yang lain kalau aku ambil cuti hari ini.”
“Tidak bisa…. Kau harus pulang.” Jawabku sambil mengerutkan alis karena kesal, “Nanti semua bisa khawatir karenamu.”
Hyunyoung menepis pelan tanganku yang menempel di pundaknya, “Aku disini, sampai keluarga Hyun oppa datang. Aku sebenarnya ingin masuk, tapi mereka tidak memperbolehkanku karena aku bukan familinya.”
“Hyunyoung-sshi… jebal,” ucapku mulai kesal. “Unnie mu di surga bisa marah padamu kalau kamu membiarkan dirimu terpuruk seperti ini, ayo…. Pulanglah.”
Aku hendak menarik tangannya, tapi ia menepisnya lagi, “Yoseob-sshi kenapa kau tidak mengerti perasaanku?? Apa yang kau lakukan, atau… apa yang Miyoung unnie lakukan kalau ia berada di posisiku?! Pasti kau atau dia akan melakukan hal yang sama kan?? Kenapa kau malah menyuruhku pulang?! Bagaimana aku bisa pulang kalau Hyun oppa seperti…..”
Hyunyoung ambruk lagi dengan derai tangisnya yang menyayat hatiku, “Bagaimana bisa Yoseob-sshi…. bagaimana bisa?! Uhuhuhuhuhuhu…..”
“Tidak adakah sesuatu yang bisa membuat perasaanmu membaik?” tanyaku. “Kita sudah semalaman disini, dan kita sudah diperingatkan beberapa kali oleh petugas. Menurutlah, pulanglah. Aku tahu kau sedih, tapi paling tidak kau harus makan, mandi, dan lain-lain. Nanti kau bisa memintaku untuk mengantarkanmu kesini lagi kok.”
Hyunyoung tida menjawab dan kembali meringkuk di pojok dinding, “Sebentar lagi…. Sebentar lagi keluarga Hyun oppa akan datang, dan aku akan pulang.”
Beberapa saat kemudian, datanglah sekumpulan keluarga yang memang keluarganya Hyunseung hyung. Hyunyoung memperkenalkan diri, dan menjelaskan semuanya; membuat omonim menangis tersedu sedu di pelukan Hyunyoung….
“Hyunri noona… ottokajie? Kini dongsaengmu sedang mendapat musibah yang luar biasa mengerikan. Tolong bantulah ia di surga, noona.” Gumamku sambil mengepalkan kedua tangan, menunduk sembari memanjatkan doa, “Beritahukan ia jalan yang lurus, dan berikan ia ketabahan yang tiada bisa digoyahkan oleh siapapun.”
Dari kejauhan aku melihat Hyunyoung berjalan mendekatiku, lalu mengangguk pelan sambil membersihkan wajahnya,
“Kaja Yoseob-sshi… kita pulang.” Ia menggenggam tanganku seraya kekuatanku mulai terkumpul untuk melakukan teleport….
~~~~~
Yong Junhyung story…
“Lalu…. Bagaiman keadaan Hyunseung-sshi?” tanyaku saat Doojoon sedang mengawasi sekitar pantai dengan teropongnya.
“Aku tidak tahu, Hyunyoung-sshi belum pulang saat aku berangkat tugas.” Jawab Doojoon, “Biasanya kamu yang paling peka kalau terjadi sesuatu dengan Hyunyoung, kenapa kali ini kau tidak bisa mendeteksi keberadaannya?”
Aku ikutan menggeleng karena pertanyaan Doojoon barusan, “Molla, mungkin karena ia sedang berada dalam jangkauan Hyun….. jadi, ya bgitulah.”
“Bisa jadi sih,” jawab Doojoon, “Yak, kau bukannya berjaga disini.. malah mengobrol bersamaku~!! Kawa kawa kawa…”
Aku tersenyum sinis dan berkata, “Mianhanda, hari ini aku mau pulang cepat saja. Prakiraan cuaca mengungkapkan kalau hari ini tidak ada badai kok. Lagipula….. aku takut tubuhku semakin hitam.”
Doojoon memandangiku dengan tatapannya yang jenaka, “Hahahahah kau ini namja, masak kau takut kulitmu hitam? seperti yeoja saja.”
“Hahaha… aku tidak peduli.” Jawabku sambil menuruni tangga pos pengawasan, “Gyeseo….”
Sebenarnya aku berniat untuk pergi dari tempat ini bukan karena takut hitam atau menuruti kemalasanku memandangi laut yang biru…
Tapi aku harus ke sebuah tempat, mencurahkan seluruh perasaan yang kupendam selama ini.
.....
“Annyeonghaseo…. Sudah hampir setahun kita tidak bertemu ya.”
Aku memandangi pohon bertuliskan ‘Shin Hyunri’ yang menjulang tinggi diantara pohon-pohon yang lain. Hyunri juga salah satu sahabatku, aku, Doojoon dan Hyunri adalah sahabat sejak SMA. Seperti Hyunyoung, Kikwang, Yoseob, Sunghyo, dan Minri.
“Hyunri-sshi… you know, Doojoon miss you so much. Sudah beberapa kali ia mencari yeoja lain untuk pengganti hidupnya, tapi tak ada yang bisa menggantikanmu. Ia sangat menyesal telah melakukan hal itu padamu, Hyunri-sshi.” aku mengelus papan nama yang tergantung di pohon itu, “Sekarang…. Dongsaengmu sedang sedih karena namja chingunya…… mengalami kecelakaan. Dan…. Menurut naluriku sih namja itu kena amnesia.”
“Apakah aku harus bersuka cita karena musibah ini? Namja itu… adalah namja yang merebut Hyunyoung-sshi dariku~!!” ucapku dengan nada suara yang gemetar, “Tapi…. Apakah aku tega bersenang senang diatas penderitaan Hyunyoung-sshi? dongsaeng yang sudah kusukai sejak pertama kali aku mengenal keluargamu?”
Aku membalikkan badan dan bersandar di pohon Hyunri, “Mollaeyo…. Bahkan aku tidak tahu dimana Hyunyoung kini berada. Padahal….. aku selalu mendapat sinyal kalau ia sedang sedih atau menderita. Jebal, tolong aku mengetahui keberadaannya Hyunri-sshi….”
Aku menghela napas sambil mencabuti rumpun-rumpun liar yang ada di sekitar pohon Hyunri. Apa yang kulakukan? Mengadu pada malaikat putih yang sudah tidak bisa menolongku lagi, betapa bodohnya aku. Mungkin aku terlalu berharap chinguku yang satu ini kembali diantara kami bertiga, bersatu lagi seperti dulu.
“Hyunyoung-sshi….. dimana kamu? Jebal, let me now…..” aku memusatkan pikiran hanya pada wajahnya, lalu memejamkan mata…….
Dan beberapa detik kemudian, aku sudah sampai di….. rumah Hyunyoung-sshi, menemukan sosoknya yang mematung di depan tv dengan wajah yang lelah.
~~~~~
Shin Hyunyoung story…
Jesonghabnida….. tapi kamu siapa?
Pikiranku melayang pada kejadian satu hari yang lalu, saat aku melihat keadaan Hyunseung oppa yang mengalami kecelakaan untuk yang pertama kalinya.
Tuan Hyunseung mengalami benturan yang cukup hebat di kepalanya, dan terjadi keretakan di bagian trisep kanannya. Mungkin keretakan itu tidak fatal, tapi benturan tersebut membuatnya mengalami amnesia temporer yang menyebabkan ia lupa akan beberapa hal yang ia ingat sebelumnya…
Yak, kenapa kau menangis? Apakah ada sesuatu yang membuatmu sedih? Ngomong-ngomong… apa kau kenal denganku? Kenapa kau selalu disini bersamaku? Namamu siapa?
Ya Tuhan…. Apakah aku kuat? Oppa yang paling aku sayangi selama 6 bulan belakang ini tiba-tiba mengalami kecelakaan yang membuatnya hilang ingatan, salah satunya ingatan tentang aku… dan semua hal yang pernah kita lalui.
“Hyun… gwenchana?” aku segera menengok kea rah suara yang masuk dari pintu depan yang ternyata adalah Junhyung oppa, “Kapan kau pulang? Kudengar Hyunseung mengalami kecelakaan ya? bagaimana keadaannya?”
Aku menggeleng tak kuasa dan menangis lagi, aku takut sekali menghadapi kenyataan seperti ini. “Dia mengalami benturan yang cukup keras; menyebabkan ia amnesia temporer yang membuatnya lupa akan beberapa hal. Salah satunya tentang aku.”
Junhyung oppa memelukku tiba-tiba, “Gwenchanaseo, jangan sedih lagi…. Uljimma, ada aku yang akan selalu menemanimu.” Ucapnya sambil memegang kepalaku kuat-kuat, “Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu berhenti sedih?”
“Kem… kembalikan ingatan Hyun oppa,” jawabku lemah, “Jebal… Yoseob bilang amnesia adalah hal yang paling tidak mungkin di dunia kalian. Tapi, kenapa itu terjadi dengan Hyunseung oppa? Kenapa harus aku yang ia lupakan? Ia bahkan masih mengingat keluarganya, bahkan ia masih ingat Yoseob-sshi. ottokaji? Jebal… tolong aku, uhuhuhuhuhu~~~”
“Jinnjaeyo? Apa dia sudah pulang sekarang? Ayo kita tengok dia sesegera mungkin.” Ajak Junhyung oppa, “Memang benar apa yang dikatakan Yoseob. Malaikat jarang terkena amnesia, jadi aku tidak percaya dengan perkataanmu barusan.”
“Tapi… aku tidak bohong, oppa. Buat apa aku bersedih seperti ini kalau dia baik-baik saja?” ucapku sambil membersihkan wajah yang basah karena air mata, “Dia belum pulang, mungkin besok setelah administrasinya selesai. Aku akan merawatnya sampai ia bisa bekerja lagi di taman ria.”
Junhyung oppa menatapiku dengan pandangan tajamnya yang sinis, “Kenapa kau melakukannya? Apa kau yakin hatimu tidak akan terluka? Dia lupa padamu, Hyunyoung-sshi. bahkan dia juga lupa hubungan kalian berdua. Apa kau yakin akan merawatnya? Dia bisa saja menyukai orang lain tanpa hukuman, karena malaikat yang amnesia diperbolehkan memulai babak hidup yang baru, termasuk menyukai yeoja lain. Aku tidak rela ya kalau kau harus bersedih karena dia~!!”
Aku tertegun melihat dan mendengar Junhyung oppa yang berseru seperti itu. Aku menundukkan wajahku tanpa kekuatan dan berkata padanya, “Gwenchana, aku hanya ingin menolongnya saja. Itu keputusannya untuk memilih orang lain, semoga saja aku kuat menerimanya jika terjadi hal seperti itu.”
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar