Sabtu, 19 Maret 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 15)

“Sunghyo-sshi, bagaimana keadaan Kikwang? Apa dia sudah sadar?” tanya Junhyung oppa di siang hari disaat kami sedang makan siang.
“Nee, rusuk dan tulang rahang yang waktu itu patah sudah hampir menyatu kembali.” Jawabku cukup antusias, karena Doojon oppa bilang hari ini Kikwang akan sembuh. Penyembuhannya cukup sederhana, berikan saja ruangan dengan penuh cahaya. Kikwang akan menyerap tenaga cahaya tersebut untuk menyembuhkan dirinya sendiri, begitulah cara malaikat hitam mengembalikan tulang-tulangnya yang patah.
“Oh… sebagai malaikat hitam yang baru, sepertinya kekuatannya untuk pulih lumayan cepat, aku salut dengan kemampuannya.” Puji Junhyung oppa. “Tidak seperti Doojoon hyung tuh, tidur diluar dalam keadaan dingin saja sudah hampir mati.”
“Yak, jangan bilang begitu oppa. Kemampuan malaikat hitam kan berbeda-beda.” Jawabku gusar, “Oh iya, kau tidak menjemput Hyunyoung-sshi?”
Junhyung oppa menggeleng sambil mencibirkan mulutnya, “Hari ini dia berniat pulang dengan Miyoung. Mereka sepertinya ingin ngobrol-ngobrol bersama.”
“Jinjja? Ternyata mereka sudah akrab ya?” ujarku tak percaya, “Oh iya, aku mau tanya oppa…. Sekarang hubunganmu dengan Hyunyoung-sshi itu apa?”
Junhyung oppa yang sedang sibuk memakan nasi gorengnya tidak mempedulikan omonganku barusan. Aku memonyongkan lidah dan mengguncang guncang lengannya, “Yak! Jawab pertanyaanku dong~~ oppa tidak tuli kan?”
Junhyung oppa memiringkan sedikit alisnya dengan pandangan tidak suka, “Hanya penciptaku yang tahu ada apa diantara kami berdua. Yang jelas aku tidak ingin memberitahukannya kepada siapa-siapa.”
Mwo? Jawaban apa itu? Sok misterius sekali sih *sigh* tapi aku jadi penasaran, apa aku harus mengorek keterangan dari oppa lebih dalam?
“Lalu….. apa Hyunyoung sering membicarakan hubungannya dengan Hyunseung oppa?” tanyaku ingin tahu.
“Hyun sering menelpon kalau kami sedang menghabiskan waktu berdua. Terkadang ia cerita kalau Hyun akan pulang beberapa hari lagi. Keluarganya menahan namja 4D itu disana, sehingga ia tidak bisa pulang. Dia bisa saja sih terbang kesini, tapi ia tidak berani.” Jawab Junhyung oppa panjang lebar, “Ngomong-ngomong, kenapa kau menanyakan hal itu?”
Aku menggeleng begitu Junhyung oppa menatap mataku. Gawat, oppa yang satu ini bisa membaca pikiran orang yang sedang menatapi dia, aku harus lebih berhati hati. “Anii…. Kupikir kalian berdua……. Yah oppa pasti tahu lah. Tapi aku yakin kalian tidak mungkin begitu, Hyunyoung bukan tipe yeoja yang gampang berpaling perasaannya.”
“Kenapa kau bisa begitu percaya?” tiba-tiba Junhyung oppa berkata demikian, membuatku tertegun sebentar. “Manusia bukan malaikat yang berpendirian teguh. Hati mereka berubah-ubah sesuai kemauannya, manusia juga lah yang membuat malaikat tak berdaya. Mereka membuat malaikat jatuh cinta…. Bahkan membuat malaikat mati hanya dengan kata-kata.”
Aku terdiam melihat kepergian Junhyung oppa yang berlalu dengan setumpuk uang makan di depanku. Ia sempat tersenyum nakal sesaat sebelum ia pergi.
Benarkah manusia bisa berbuat seperti itu? Dan…. Apa kira-kira yang akan dilakukan Junhyung oppa terhadap hubungan Hyunseung oppa dan Hyunyoung-sshi?

~~~~~

Min Minri story….

“Silahkan dipilih barangnya~~” ucapku ramah kepada para pelanggan. Kali ini di jam shiftku agak sepi karena Kikwang dan Hyunseung oppa tidak ada, sebetulnya aku merasa agak kesepian… tapi mau bagaimana lagi~
“Minri-sshi…. Kenapa hari ini para pembelinya sepi ya?” Tanya seorang karyawan yang menggantikan Kikwang di meja kasir, “Apa karena ini hari kerja?”
Aku menggeleng. Biasanya selalu ramai kok meskipun hari kerja, barang-barang yang kami jual tergolong murah dan unik sehingga banyak yang minat. Tapi… kenapa sekarang jadi sepi? Tumben sekali~
“Mungkin karena tidak ada Kikwang-sshi.” Jawab salah satu karyawan yang membagikan balon ke anak-anak, “Mayoritas para remaja wanita kemari hanya untuk menemui Kikwang. Mereka membeli barang yang murah, dan sengaja berlama lama di depan kasir untuk melihat Kikwang. Bahkan aku pernah melihat mereka menguntit Kikwang yang hendak makan siang di sebuah restoran di dalam taman ria.”
“Jinjja? Apa mereka tidak tahu ya kalau Kikwang sudah punya yeoja chingu?” tanyaku sambil memutar mutar gulali yang sudah dibungkus. “Atau mungkin mereka tidak peduli?”
Si pembawa balon mengangkat pundaknya, “Bisa jadi. Ahhhhh aku iri dengan Kikwang-sshi, kapan ya aku bisa dikelilingi yeoja seperti dia? Kalau sudah bergantian shift dengannya, pasti pembeli menjadi berkurang drastis.”
“Hahahahaha kau dengar tidak? Kikwang kan habis dipukuli orang, mungkin saja ketampanannya berkurang dan giliranmu yang dikerumuni para yeoja.” Kata si petugas kasir sambil tertawa jahil. Aku menghampirinya dan menyikut rusuknya.
“Yak, jangan bilang begitu dong~~ kasihan tahu.” Ucapku kesal. “Apa kalian yang membuatnya bonyok seperti itu?? Benar tidak??”
Si kasir langsung menggeleng geleng dengan wajah pucat, “A… aniiyo~!! Aku menginap dirumahnya dan tidur waktu Kikwang dihajar itu~!! Sumpah, aku tidak bohong. Benar kan?”
“Be… benar sekali.” Jawab si pembawa balon itu sambil mengeryitkan alisnya, “Kami mabuk berat dan tertidur. Lihat nih, tidak ada bekas luka kan di tangan kami berdua??”
“Iya, tidak ada kok. Berarti kalian tidak bohong,” jawab Dongwoon yang tiba-tiba muncul di belakang si pembawa balon, “Noona, apa sudah waktunya pulang?”
Aku agak terkejut melihat kedatangan Dongwoon yang selalu tiba-tiba itu, tapi aku mencoba untuk membiasakannya. “Belum belum….. kamu bantu oppa ini deh membagikan balonnya, tidak apa-apa kan?”
Dongwoon mengangguk, “Nanti tunggu aku di danau kapal bebek ya. See you noona.”
Seraya Dongwoon merebut balon dari tangan si karyawan, oppa itu berkata. “Minri-sshi…. Apa kau yakin kalau namja itu lebih muda darimu? Kenapa wajahnya terlihat tua?”
“Aku yakin kok, dia kan masih mahasiswa.” Jawabku mantap, “Sementara aku sudah lulus, kami hanya berbeda satu tahun kok.”
Si kasir mengangguk angguk, “Hooooh dia tampan ya? Coba kalau dia mau kerja disini, mungkin popularitas Kikwang akan menurun drastis karena namja itu, hehehe… ngomong-ngomong, dia orang Korea? Kenapa wajahnya agak berbeda ya?”
“Dia punya sedikit keturunan arab, makanya wajahnya agak kebarat-baratan.” Jawabku terus menerus, “Aish.. kenapa kita malah membicarakan dia?! Ayo kerja kerja~~ annyeonghaseo…. Silahkan masuk.”
Sambil bekerja, aku kembali memikirkan perkataan sang karyawan penjaga kasir itu, apakah baik kalau Dongwoon bekerja disini?
“Ah jangan deh, nanti bukannya kerja.. kita malah pacaran. Ahahahaha~~” jawabku pada diri sendiri.

~~~~~

Sun Miyoung story…

Mwo? Ige mwoya??
Hyunyoung terkejut melihatku yang ada di belakangnya; memperhatikan foto-foto yang sedang ia lihat-lihat di dompetnya.
“Itu siapa? Hyunseung kah?” tanyaku memastikan, namja yang ada di foto itu terlihat sedikit jutek dengan senyuman sinis, dan mereka terlihat akrab. Apakah itu si 4D?
Hyunyoung menggeleng geleng cepat sembari memasukkan fotonya terburu-buru, “N… nee, itu memang Hyun oppa. Dia berpose agak jutek di foto itu, memang kenapa unnie?”
“Anii… kupikir itu Junhyung goon. Wajah mereka agak mirip sih,” jawabku yang memang curiga dengan foto barusan. Seandainya Yoseob bisa mengambilkannya untukku~~
“Ahahahaha gotcha~” tiba-tiba Yoseob melintas dibelakang Hyunyoung dan merebut dompet yeoja itu. Otomatis Hyunyoung langsung menjerit karena terkejut.
“Ah Yoseob-sshi kembalikan~~!! Kembalikan~!! Jebal, kembalikan~!!” Hyunyoung menggapai gapai dompet yang dipegang Yoseob, namun tak sampai. Mereka melakukan kegaduhan sesaat hingga tanpa sengaja Yoseob menjatuhkan foto-foto dari dompet Hyunyoung.
“Oooooo, ternyata memang bersama Junhyung goon, aku sudah tahu kok. Hahahaha.” Jawab Yoseob yang otomatis membuat Hyunyoung malu dan wajahnya memerah. “Kau ya, bukannya berfoto bersama Hyunseung terlebih dahulu, malah berfoto dengan Junhyung goon. Memang ada apa sih diantara kalian?”
Hyun menggeleng geleng kuat, “Tidak ada apa-apa diantara kami berdua. Sungguh deh, kami hanya sering menghabiskan waktu bersama. Junhyung oppa-lah yang selalu menemaniku disaat Doojoon atau Hyunseung oppa tidak ada.”
“Yak yak yak.. kalian tidak selingkuh kan?” tanyaku curiga. “Yosoeb bilang malaikat yang dicurangi bisa langsung mati atau menjadi malaikat hitam dalam hitungan detik. Hati-hati loh, ya kan Yoseobie?”
Yoseob mengangguk angguk pasti, “Lebih baik kau jujur pada kami. Sebenarnya kau lebih menyukai siapa sih, Junhyung goon atau Hyunseung? Lebih baik segera mengetahuinya daripada terlambat.”
“Kalian ini~~ apa-apaan sih pertanyaan itu?” jawab Hyunyoung tidak suka, “Sudah pasti aku lebih menyukai Kitty.. eh maksudku Hyunseung oppa.” Jawab Hyunyoung, “Percayalah, aku dan Junhyung oppa hanya teman baik. Aku menganggapnya oppa dan ia menganggapku dongsaeng, bukan apa-apa kan?”
“Kamu yakin dia hanya menganggapmu dongsaeng? Hati-hati Hyun… malaikat hitam itu penuh tipu daya, apalagi Junhyung adalah malaikat hitam yang murni.” Ucapku was-was, “Mungkin saja Jun bilang begitu, tapi niatnya tidak seperti ia katakan. Lebih baik kau jaga jarak dengannya, Hyunyoung-sshi… sebelum terlambat.”
Hyunyoung tertegun mendengar pernyataanku barusan, lalu mengibas-ngibaskan tangannya, “Aish kalian ngomong apa sih? Aku dan oppa baik-baik saja, kami sering berteleponan. Dia bilang dia tidak berani terbang malam karena takut identitasnya terkuak oleh orang-orang, jadi aku memakluminya.”
“Yasudah kalau kau berfikir begitu, ayo kita pulang. Bahkan Dongwoon sudah mendahaului kita lebih dari 30 menit yang lalu.” Jawab Yosoeb sambil merangkul pinggangku. Kami berjalan bertiga menuju rumah kami masing-masing, tapi sebelumnya kami mengantar Hyunyoung terlebih dahulu.
“Nah… sudah sampai deh ki…. Eh, Doojoon hyung?!” Yoseob melihat Doojoon oppa yang terkapar di taman rumah Hyunyoung dan kami segera menghampirinya.
“Oppa… kenapa lagi?! Apa yang terjadi? Gwenchana??” Tanya Hyunyoung yang matanya berkaca-kaca, tapi Doojoon oppa tidak menjawab juga. Nafasnya memelan sedikit demi sedikit….

~~~~~

Shin Hyunyong story..

Haru jongil mweol haetneunji gi eogi anna
Ni jeonhwa maneul gidaryeo amu geotdo halsuga eobseo
Neomu bogo shipeunde nae nune
Ajik kkaji ni moseubi seon myeong hande

He eojingeol moreun chingudeuri useumyeo
Ni soshigeul naege mureo boneunde
Ibyeoriran mari naegen neomu nat seoreoseo
Amu mal haji mothaesseo

Ajigeun ibyeoreul mot baeweoseo
Ajigeun seupeumeul jal mollaseo
Ajigeun geudaega nae gyeoteul tteonado
Mideo jijiga anha nunmuri heulleo naeriji anha

Ajigeun ibyeol norael deureodo
Seulpeuji anha geojitmal gata
Ajigeun geureonde jogeumsshik neukkyeo jyeo
Nunmuri goyeowa ije shijagin gabwa….


“Oppa, irona… ironaseo~~ jebal~!” aku mengguncang guncang tubuh Doojoon oppa yang terlihat membeku seperti mati. Ada apa ini? Sepertinya ia terlihat baik-baik saja, tapi kenapa dia tiba-tiba terkapar seperti tadi?
“Sepertinya… ada masalah dengan Hyunseung.” Jawab Yoseob, “Kondisi fisik Doojoon hyung baik-baik saja, tapi tiba-tiba ia terkapar seperti itu. Menandakan kalau ada sesuatu yang terjadi dengan pasangannya.”
Aku cukup terkejut dengan perkataan Yoseob barusan, “Jangan bercanda, Yoseobie~ kemarin kan Hyun oppa baik-baik saja. Tidak mungkin terjadi sesuatu dengannya~!!”
“Yak.. yak… lihat nih, ada berita kecelakaan.” Ucap Miyoung unnie sambil menunjuk TV dan membesarkan volumenya.

Annyeonghaseo, selamat sore para pemirsa. Kini ada berita dari provinsi X dimana terjadi kecelakaan antara sebuah mobil sedan dengan sebuah truk. Mobil yang dikendarai rusak parah, namun korban selamat dan dilarikan ke rumah sakit terdekat. Berikut identitas dari korban tersebut.

Aku sangat terkejut melihat wajah Hyunseung oppa di layar TV. Aku hanya bisa menggeleng dan menutup mulutku saking syoknya, “Tidak…. Itu pasti bukan oppa.”
“Itu… Hyunseung.” Sahut Doojoon oppa yang sudah sadar, “Tubuhku merasakan ada suatu bencana yang menimpanya, sebaiknya kamu segera ke rumah sakit itu.”
“Tapi…. Bagaimana caranya kesana?” tanyaku bingung, “Aku tidak tahu dimana rumah sakitnya, dan diantara kalian tidak ada yang bisa menyetir mobil kan? Kita naik apa kesana?”
“Terbang saja dengan Yoseob, bisa kan?” ujar Miyoung unnie yang memegangi tangan Yoseob penuh harap. “Dia bahkan bisa berteleport, secara dia murni malaikat putih. Bagaimana, mau?”
Aku mengangguk cepat tanpa pikir panjang lagi, “Unnie, tolong jaga oppaku ya dirumah. Aku akan segera pulang bersama Yoseob.”
Miyoung unnie mengangguk seiring Yoseob membuka sayapnya; menyebabkan seluruh ruangan dipenuhi dengan cahaya putih yang menyilaukan mata.
“Kaja, Hyunyoung-sshi.” Yoseob meraih tanganku diluar ruangan, dan kami segera terbang…
Ya Tuhan… semoga oppa baik-baik saja….

Bersambung...

Song: Yet -B2st-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar