Senin, 04 April 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 17)

Sun Miyoung story…

“Welcome home, Hyunseung-sshi~~!!!!”
Yoseob melemparkan confetti kea rah Hyunseung yang baru saja pulang dari rumah sakit. Keadaannya terlihat sudah membaik meskipun kini dahinya masih dibalut oleh perban.
“Oh… gamsa… gamsahabnida Yoseob-sshi.” jawab namja itu dengan matanya yang bundar. Ia terlihat seperti bayi yang baru lahir kembali, “Em…. Siapa yeoja yang disebelahmu ini? Yeoja chingumu?”
Yoseob mengangguk, “Nee, dia adalah Sun Miyoung noona. Masa kau lupa?” tanya Yoseob. “Oh iya, kau tidak lupa dengan Doojoon, Junhyung goon, Dongwoon dan Kikwang kan?”
“Nee… nee… aku masih ingat,” jawabnya sambil tertawa. “Tapi… siapa yeoja yeoja yang bersama Kikwang dan Dongwoon itu?”
Minri mendekati Hyunseung dan menjabat tangannya pelan, “Ini aku Min Minri, oppa. Kita dulu teman satu tempat kerja di taman ria. Oppa menyukai taman ria kan?”
Ia mengangguk dengan wajah seperti anak kecil, “Nee… pasti menyenangkan kalau ke taman ria. Kita bisa bermain sepuasnya kan?”
“No.. no… hyung, kita bekerja disana. Tapi sama menyenangkannya kok disana.” Jawab Kikwang, “Kau membagikan balon kepada anak-anak yang ada disana. Membuatnya tertawa, menyenangkan bukan?”
Kutatapi Hyunyoung yang berdiri di belakangnya dengan senyum yang miris dan pahit, semua orang juga tahu kalau Hyunseung mengalami amnesia temporer. Tapi yang membuatku terkejut, karena ia juga lupa dengan Hyunyoung dan semua kenangan yang mereka lalui. Sehingga membuat Hyunyoung harus mengulang semuanya dari awal, aku salut padanya yang sampai saat ini masih bertahan untuk tersenyum. Meskipun aku tahu rasanya pasti sangat menyakitkan.
“Gwenchana, Hyunyoung-sshi?” tanyaku sambil merangkul pundak dan mengelus elus punggungnya. Sementara ia hanya mengangguk angguk pelan sambil tersenyum tipis.
“Nee, gamsahabnida unnie.” Jawabnya getir, “Semuanya pasti akan kembali seperti semula, aku yakin.”
Hyunyoung berjalan menghampiri Hyunseung oppa dan berkata, “Oppa, mulai hari ini aku yang akan menjaga oppa di rumah. Kalau butuh bantuan, panggil aku saja ya. oke?”
“Oh kureyo, gamsahabnida Hyunyoung-ah. Padahal kita baru seminggu bertemu, tapi kau sudah baik sekali padaku.” Jawab Hyunseung, “Mungkin aku tidak akan bisa membalas budi kepadamu.”
Suasana di rumah Hyunseung tiba-tiba berubah menjadi muram. Wajah Sunghyo berkaca-kaca, Minri menundukkan kepalanya, bahkan Doojoon menghembuskan napas berkali kali.
“Aniiyo… oppa tidak usah mengatakan hal seperti itu,” jawab Hyunyoung dengan nada yang agak berat sekaligus menyiratkan kekecewaan, “Ayo kita makan malam. Yoseob-sshi, kau sudah memasakkan makanan untuk oppa kan?”
“Oh tentu saja~!! Mari kita makan, kaja kaja… jangan malu-malu, silahkan Hyunseung-sshi~!” ujar Yoseob sambil menuntun Hyunseung yang masih melihat lihat pemandangan di sekitarnya, “Miyoung noona, kaja.”
Aku mengangguk sambil terus menatapi Hyunyoung yang kelihatan berubah sejak kecelakaan itu. Ia menjadi lebih pendiam, bahkan di dekat Junhyung yang selalu membuatnya tertawa dan gembira.
Saat kami tiba di ruang makan, Yoseob menyiapkan makanan untuk kami. Bibimbap yang terlihat segar dan enak.
“Terimakasih untuk makanannya, mari makan semuanya.” Hyunseung mengambil sendok dan mulai makan diikuti dengan yang lainnya.

~~~~~

Yoon Doojoon story…

“Mwo? Kau mau tinggal serumah dengan Hyunseung?” ucapku yang benar benar terkejut dengan keputusan Hyunyoung, “Lalu aku bagaimana?”
“Oppa bisa tinggal sebentar kan dengan Junhyung oppa? Jebal… di saat beliau masih rapuh seperti ini, ia tidak boleh dibiarkan sendirian.” Jawab Hyunyoung dengan tekad yang kuat.
Aku terdiam mendengar perkataan dongsaengku ini. Begitu mengejutkan, ia masih mau berurusan dengan namja yang bahkan lupa dengannya; dengan semua kenangan manis bersamanya.
“Baiklah kalau begitu, tapi kamu yang bicara sama Junhyung goon ya?” jawabku santai, “Kan yang menyuruhku tinggal disana kamu.”
Hyunyoung mengangguk sambil memberskan beberapa pakaiannya, “Aku pasti akan menelpon oppa kalau suatu kali aku hendak pulang kerumah. Jadi jangan khawatirkan aku, arra?”
Aku tidak tahan lagi dengan ekspresi wajahnya yang berpura pura tegar itu. Aku mencengkram pundaknya kuat-kuat dan berkata, “Hyunyoung-sshi, benarkah kau akan baik-baik saja? Hyunseung melupakanmu, bahkan melupakan semua tentang kalian berdua. Apakah kau akan kuat?”
Sudah kuduga, Hyunyoung meneteskan airmatanya dengan nafas yang tersenggal senggal, “Mollaeyo oppa. Tapi…. Hanya ini satu-satunya cara untuk mendapatkan yang aku punya kembali. Aku harap dengan seringnya aku berada didekatnya, ia bisa mengingatku kembali.”


.....

“Doojoon-sshi, benarkah ia tidak bisa mengingat seluruh yeoja yang hadir saat ini?” tiba-tiba Junhyung membuyarkan lamunanku, “Ia bisa mengingat kita dan ia juga bisa ingat kalau ia adalah malaikat sayap putih, tapi… kenapa ia tidak bisa mengingat para yeoja itu?”
Aku menggeleng, “Mollaeyo, mungkin para petinggi tidak membiarkan kecelakaan itu merusak bagian otaknya yang berhubungan dengan keluarga dan para malaikat yang ia kenal. Buktinya ia tidak ingat dengan tetangga-tetangga di sekitar rumahnya, ia hanya mengalami amnesia temporer.”
Junhyung mengangguk angguk, lalu mendekati Hyunseung. “Yak Hyunseung-sshi…. kau ini malaikat hitam atau putih?”
“Aish aish…… kenapa kau membicarakan hal itu keras-keras di depan yeoja?” diluar dugaan, Hyunseung merespon dengan keterkejutan yang luar biasa, “Kalau mereka tahu kan bisa gawat~~”
Aku mendekati mereka berdua dan menepuk pundak Hyunsueng, “Tenang saja, semua yeoja yang sudah jadi yeoja chingu para malaikat sudah tahu kok. Jadi…. Kau ini malaikat hitam atau putih?”
“Tentu saja malaikat putih, apa tato ku sudah berubah menjadi warna hitam? apa kau bisa memberitahuku?” tiba-tiba Hyunseung membuka punggungnya sebentar, lalu terkesiap lagi.
“Astaga, Hyunyoung kan dongsaengmu ya Doojoon-sshi? apa dia salah satu yeoja chingu dari kawanan kita? Apa dia tahu kalau kita malaikat?”
Junhyung dan aku cukup terkejut dan baru sadar kalau ia juga lupa bahwa Hyunyoung adalah yeoja chingunya, “Anii anii…. Kau malaikat putih kok. Kalau kau malaikat hitam, berarti aku jadi malaikat putih dong? Tapi aku masih hitam seperti ini. Hahahaha…”
Setelah bercakap cakap sebentar, aku dan Junhyung pamit pulang karena besok ada tugas di pantai yang menunggu sejak pagi.
“Doojoon-sshi, menurutmu bagaimana?” ungkap Junhyung dengan wajah yang puas. Seakan ia berhasil mendapatkan sesuatu.
“Menurutku apa?” tanyaku yang tidak mengerti.
Junhyung tertawa dan berkata, “Bukankah ini saat yang tepat untuk merebut hati Hyunyoung dari Hyunseung?”

~~~~~

Min Minri story….

“Noona… aku mau tambah lagi.” Ucap Dongwoon dengan mangkuk yang mengacung di depan wajahku sehingga membuatku terkejut.
Aku menggeleng gelengkan kepala dan berkata, “Dongwoon-sshi, kamu sudah makan 3 mangkuk dan belum kenyang? Aish kau tidak malu apa sama Hyunyoungie?”
Hyunyoung tertawa dan mengambil mangkuk Dongwoon, lalu mengisinya dengan semangkuk nasi penuh, “Gwenchana, nasinya masih banyak kok. Kalau tidak dihabiskan bisa terbuang, lagipula Dongwoon memang makannya banyak kok, makanya kau harus belajar masak yang enak-enak untuk Dongwoon, Minri-sshi.”
Aku memanyunkan mulutku. Kenapa Hyunyoung malah membela Arabian namja ini sih? Aku kan hanya ingin menasehatinya secara tidak langsung untuk tahu malu~~
Aku memencet mencet pundak Dongwoon dengan setengah kesal, “Kureyo? Ehehehehe tapi….. ini kan disediakan untuk kedatangan Hyunseung oppa, bukan untukmu Dongwoon-sshi. a-rra-jie??”
“Oh gwenchana, min… minri-sshi?” ucap Hyunseung oppa sambil memastikan apakah ia memanggilku dengan nama yang tepat, “Dongwoon goon sangat membantuku. Aku tidak bisa menghabiskannya sendiri.”
Aku mengacungkan jempol dan mengikuti Hyunyoung yang sedang mencuci piring di dapur, “Mau aku bantu? Kau tampaknya kelelahan sekali Hyunyoung-sshi.”
“Gwenchana, Sunghyo dan Miyoung unnie tadi sudah membantu sedikit. Pasti sisanya bisa aku kerjakan sendiri.” Jawab Hyunyoung yang memang tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang lelah.
Kalau diingat ingat, seminggu ini Hyunyoung seringkali menitikkan airmata jika mendengarkan perkataan Hyunseung oppa yang terkadang membuatku ngilu. Ia suka mengatakan ‘Sebenarnya, siapa sih kamu ini?’ ‘Kenapa kau selalu menemaniku setiap kali?’ ‘Apa kau saudara dekatku?’ atau ‘kenapa kau bisa tahu makanan kesukaanku dan mayoritas hal pribadiku?’ ‘Jangan bilang kalau kau ummaku.’ Terdengar konyol memang, tapi hal itu sangat menyakitkan hati Hyunyoungie.
“Noona, kenapa malah termenung seperti itu? Apa kau kekenyangan?” Dongwoon muncul dari ruang makan sambil mencium pipiku dan mencuci mangkuk bekas makannya, “Yoseob hyung ternyata ahli masak ya? aku tidak menduga kalau makanan buatannya enak-enak.”
“Jinjja? Ini buatannya Yoseob-sshi? wah dia sepertinya belajar banyak dari unnie.” Ungkap Hyunyoung dengan antusias, “Mereka selalu melakukan wisata kuliner dan mengumpulkan beberapa resep makanan. Miyoung unnie suka sekali memasak.”
Aku menyangkutkan lenganku ke lengan Dongwoon sebelum ia pergi ke ruang makan lagi, “Aku juga ikut masak tahu. Apalagi Sunghyo-sshi, ia yang memberitahu kami semua apa yang harus kulakukan.”
“Kureyo?” tanya Dongwoon dengan wajah terkejutnya yang berpura-pura, “Apa aku harus memberikan satu kissu untuk noona karena makanannya yang enak?”
Aku tertegun dengan perkataan Dongwoon yang dengan jahil mendekati wajahnya kea rah wajahku. Untung saja aku berhasil menghalaunya, “Aigo…. Arabia namja, mulutmu bau kimchi. Lagipula tidak enak sama Hyunyoung-sshi, tahu~~ dasar tidak sopan.”
“Nee… nee, mianhae.” Jawab Dongwoon dengan senyumnya yang sudah ‘membunuh’ ku berkali-kali, “Apa aku harus minta maaf pada…… noona?! Hyunyoung noona?!”
Kami otomatis berlari menghampiri Hyunyoung yang terkapar di bawah tempat cuci piring dan mengangkutnya ke ruang tamu. Hyunseung oppa menghampiri kami dengan wajah yang panic dan bingung,
“A…. ada apa? Apa yang terjadi dengan Hyunyoung-ah?”

~~~~~

Shin Hyunyoung story…

Aku jadi teringat beberapa jam yang lalu, sebelum aku menjemput Hyunseung oppa di rumah sakit. Aku pergi berkunjung ke makam unnie yang nyaris semusim tak aku hampiri.
Aku duduk dibawahnya, lalu hanya terisak dan berkali kali mengatakan ‘Ottokke unnie? Berikan aku kekuatanmu untuk menghadapi semuanya.’
Apa yang kau lakukan kalau Doojoon oppa mengalami hal yang sama dengan Hyunseung oppa, unnie? Bisakah kau bertahan? Bisakah kau tersenyum untuknya, padahal sebenarnya kau menderita karena ia hanya menganggapmu orang yang baru datang ke kehidupannya?
Lalu….. kini yang kulihat hanya bayangan unnie yang menghampiriku dengan senyumnya yang miris…
Ia seperti mengucapkan sesuatu…. Tapi… waeyo? Kenapa aku tak bisa mendengarnya?


“Irona… irona Hyunyoung-ah. Gwenchana?”
Kubuka mataku, apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sofa tertidur seperti ini? Bukannya aku tadi ada di dapur sedang mencuci piring?
“Apa ini semua salahku, sehingga kamu terkapar seperti tadi?” tanya Hyunseung oppa dengan wajah yang bingung dan polos, “Sepertinya kamu terlalu memaksakan diri untuk merawatku, apa lebih baik kupanggil Doojoon untuk……..”
Aku langsung menggeleng kencang, “Aniiyo, jebal…. Gwenchana oppa, mungkin aku hanya sedikit capek. Tapi jangan khawatir, aku akan menemani oppa kok disini.”
Hyunseung oppa diam dan menyamankan duduknya di sofa sembari menurunkan kakiku dari pahanya. Kulihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 malam, “Oppa, sudah malam sekali. Kenapa oppa tidak istirahat?”
“Babo ya~~ mana bisa aku tidur kalau ada seseorang yang pingsan karena kelelahan mengurusiku,” ujar Hyunseung oppa. “Kenapa kau melakukan hal ini padaku?”
Aku tertegun mendengar perkataan Hyunseung oppa barusan, “Apa oppa keberatan kalau aku berada di sisimu?”
“Aniii bukan seperti itu,” ucap Hyunseung oppa sambil menggaruk garuk kepalanya, “Entah kenapa…. Setiap kali aku melihatmu, aku jadi teringat akan sesuatu. Tapi aku juga tidak tahu apa itu, bisakah kau beritahu aku?”
Hyunseung oppa menyentuh pipi dan bawah mataku perlahan, membuat jantungku sedikit berdesir karenanya, “Apa….. ini sudah terbentuk sejak dulu? Kantung mata ini? Kenapa aku merasa pernah melihatnya?”
“Hmmmmmmmh….” Aku memejamkan mata dan menggenggam pergelangan tangan Hyunseung oppa yang masih memegangi bawah mataku, “Mollaeyo oppa, aku tidak mengerti kenapa…. Kau bisa…….”
Nafasku mulai tak beraturan dan lagi-lagi tangisku meleleh, “Ah jesonghabnida. Aku merasa sedang sensitive akhir-akhir ini, sehingga aku sering sekali menangis.”
“Tapi….. kamu selalu menangis jika berada di dekatku, waeyo?” tanya Hyunseung oppa, “Apa yang terjadi? Kenapa tidak kau ceritakan saja? Apa aku pernah berbuat jahat padamu sehingga kau menangis seperti ini?”
Aku mengusap mataku sambil menggeleng, “Tidak mungkin oppa jahat padaku, bahkan…. Kita baru saja saling mengenal.”
Hatiku terasa sakit sekali mengucapkan hal itu. Seandainya oppa tahu bahwa sesungguhnya aku adalah yeoja chingumu….
Dan seandainya oppa tahu kalau aku menyesal karena telah melupakanmu sesaat ketika kau pergi waktu itu….

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar