"Hei.. kamu tidak apa2?" tanya suara cowok yang sayup2 kudengar sepertinya bahasa Inggris
kubuka mataku dan melihat karya Tuhan yang luar biasa lagi, aku tak menyangka aku akan pingsan seperti ini, bodoh sekali
"Syukurlah" jawabnya sambil tersenyum "mungkin kau pikir aku ini setan atau semacam itu ya?"
"Eh.. bukan bukan. maaf" ujarku dengan wajah memerah luar biasa. adalah hal yang sangat memalukan ketika kita pingsan di depan orang yang selalu kita idam2kan, orang seperti Taylor.
"Sepertinya kamu sendirian hari ini? apa kamu sakit?" tanya Taylor lagi
"Ah.. tidak tidak, aku hanya kaget saja ada seseorang kesini. apalagi seperti.. kau" jawabku sambil berbisik sedikit supaya ia tidak mendengarnya.
"Seperti apa?" tanya nya, aku tahu dia pasti akan menanyakannya.
"Ah, bukan apa-apa." jawabku, "ngomong2, kau butuh sesuatu hingga kamu kesini?"
"hem.. sebenarnya aku tidak butuh apa2. hanya ingin ngobrol saja, sekalian berlindung" cengirnya "Oh iya, namamu siapa?"
"namaku Ichan. emm.. berlindung?" tanyaku memastikan
"Nama yang lucu, Ichan" tawanya pelan. "Yah, banyak paparazzi di sepan rumah dan sekitar nya, aku bosan dengan sorotan kamera, toh aku tidak dibayar oleh mereka. hahaha" canda nya "so... paman dan bibi mu kemana? Jean juga tidak ada"
"well, paman sedang main golf smentara bibi dan Jean ke supermarket"
"kenapa kamu tidak ikut" tanya taylor sambil mengambil gelas dari dapur "kamu tidak keberatan kan kalau aku minta minum?"
"ya its okey" jawabku nyaris dgn bahasa indonesia "jadi... Kau kenal Jean?"
taylor tertawa "tentu saja, kita kan tetangga. jean teman mainku dari kecil"
======================================================
"great, you lying to me" jawabku ketus pada Jean malam ini
"what do you mean?" jawab Jean yang lagi2 sibuk dengan laptopnya
"taylor, jean! Dia bilang kamu teman mainnya dari kecil dan kamu tidak memberitahu ku, kau bohong padaku"
"apa hal seperti itu harus dibicarakan? Menurutku itu tidak penting chan" bantah Jean
"tapi paling tidak beritahu kalo kalian itu teman sepermainan." pekik ku, "sungguh aku tidak mngerti jalan pikiranmu"
"sudahlah berhenti merajuk seperti itu, aku sibuk nih" kali ini Jean membuatku benar2 kesal
"Jean. kamu bilang kamu sudah menganggapku sebagai adikmu., tapi kamu nggak mengerti perasaanku, kamu bohong Jean" ujarku kesal, kuusap mataku yang berkaca kaca dan membanting pintu kamarnya. Bibi dan paman bertanya padaku
"ada apa chan? Semuanya baik2 saja?"
aku mengatur nada suaraku, "tanyakan saja pada Jean, paman"
aku masuk ke kamar menangis kesal sejadi2nya, pikiranku kacau dan aku merasa sensitif sekali..
Bersambung..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar