Park Sunghyo story….
Pantai di musim panas memang sangat menyenangkan….
Dapur di musim panas lebih membara dibandingkan dengan musim-musim yang lain…
Tapi tetap saja, tanpa ada Junhyung oppa di pantai ini. Semuanya terasa amat sepi….
“Oh…. Jadi oppa yang tatonya banyak itu sedang sakit keras ya sehingga dia tidak bisa jaga lagi disini?” tanya salah seorang pengunjung remaja yang kudengar dengar sangat mengagumi Junhyung oppa. Aku mengangguk tanpa suara, aku tak bisa menyembunyikan wajah sedihku kalau sudah menyangkut dia. Kulihat Doojoon oppa yang sedang mengawasi pantai di bawah menaranya, sepertinya kali ini ia tidak bersemangat sama sekali karena tidak ada partner disisinya.
“Ah….. sangat disayangkan ya. kehidupan pantai jadi kurang bergairah kalau tidak ada beliau,” jelas anak itu. “Junhyung oppa akan kembali lagi kan suatu saat nanti unnie? Dia belum divonis keluar atau pensiun kan?”
Aku tertawa mendengar ucapan anak umur 15 tahun itu, “Nee doakan saja ya semoga ia cepat sembuh. Oh… jakkaman, sepertinya HPku berbunyi.” Aku pergi ke dalam dapur untuk mengecek HPku. Saat kulihat, ada satu pesan dari Kikwang yang kebetulan sedang menjaga Junhyung oppa.
From: My Holly
Segeralah pulang. Junhyung goon membuat sebuah pesan lewat tatonya.
.....
“Hyun….. Young….. sshi?”
Aku membaca pesan yang dibuat oleh Junhyung oppa melalui tato-tatonya. Kini kami hanya bisa berkomunikasi dengan Junhyung oppa yang tidak sadarkan diri itu dengan hal tersebut, “Tapi kan…. Kita harus membuat Hyun menjauh dari Junhyung oppa karena ia pasti akan merasa sangat terpukul dengan keadaan Junhyung oppa yang sekarang.”
Kikwang mengangguk, “Tapi yang bisa kusimpulkan sekarang adalah…… beliau membutuhkan Hyunyoung-sshi.”
Aku menggaruk kepalaku bingung, bagaimana ini? Aku harus bilang apa kepada Junhyung oppa? Aku tidak mungkin bilang kalau Hyunyoung sengaja dijauhkan darinya supaya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.
“Mi…. mianhanda, Junhyung oppa.” Aku memegang tangan oppa yang panas dan kaku. Nafasnya masih terdengar, meskipun kedengarannya kecil sekali, “Hyunyoung tidak bisa bersamamu untuk sekarang ini.”
“Yak yak… jauhkan tanganmu kalau sudah bicara dengannya,” sahut Kikwang sambil menarik tubuhku menjauh dari tubuh Junhyung oppa, “Kalau lama-lama, ia akan menarik seluruh energimu dan kamu baru bisa bangun besok pagi.”
“Jinjja?” tanyaku tak percaya. “Ya ampuuuuun…. Apakah itu mau oppa? Bagaimana bisa?”
“Itu bukan maunya, itu otomatis dari tubuhnya yang melawan maut. Jadi ia melahap energi untuk bertahan hidup,” jawab Kikwang dengan wajah sedih, “Kita tak bisa meninggalkannya atau terus-terusan menjaganya. Salah satu antara Junhyung goon dan kita akan mati perlahan.”
~~~~~
Shin Hyunyoung story…
“Hyunyoung-sshi… jangan tangisi kepergian Hyunri ya, uhuhuhuhuhu~~” sahut Doojoon oppa yang memegangi punggungku berusaha menabahkanku; tapi kelihatannya ia yang seharusnya perlu ditabahkan.
“Oppa, uljimma…. Nanti unnie tidak tenang disana kalau oppa menangis terus di…..”
Tiba-tiba terlihat sesosok namja dengan pandangan mata yang menyeramkan di belakang Doojoon oppa, aku segera beringsut menjauhi matanya yang terlihat ketus itu.
“Di mana?” oppa mengusap air matanya dan menengok ke belakang, “Ah… terima kasih sudah datang.”
Namja itu mengangguk, “Siapa yeoja ini? Pacar barumu sesudah Hyunri?”
“Ah anii…” Doojoon oppa mengusap ujung matanya, “Ini dongsaengnya, Shin Hyunyoung.”
Aku menunduk dan bersalaman dengan namja yang…. Tiba-tiba tersenyum pahit itu. Pandangan matanya tetap sinis, tetapi ia terlihat sedih.
“Yong Junhyung ibnida.”
.....
Aku tersadar dari lamunanku saat Hyunseung oppa menghentikan elusannya di rambutku, “Kamu pasti sedang melamun ya, memikirkan apa sih?”
“Agak sedikit mengantuk kalau dielus-elus terus, aku kan seperti kucing. Hehe~” jawabku sambil memandangi rambut Hyunseung oppa yang kini berubah menjadi warna kesukaanku, jingga. “Oppa ganti warna rambut seperti itu buat apa sih? Kamu terlihat seperti appeun namja tau.”
“Hahahahaha kan warna kesukaanmu.” Jawab oppa sambil mencubit pipiku perlahan, “Lagipula aku sudah bosan dengan rambut coklat panjangku, sangat mengganggu sekali.”
Aku mengangguk dan mencoba untuk menanyakan sesuatu, “Oppa….. waktu itu, apa yang kamu bicarakan sih dengan Doojoon oppa?”
Wajah Hyunseung oppa yang kalem tiba-tiba berubah menjadi kaku dan bingung, “Emmmm…. Yah, ada sedikit masalah dengan para tetinggi di atas sana. Kelakuan mereka seperti pejabat-pejabat disini, seperti permainan politik begitulah.”
“Oppa tidak bohong kan?” tanyaku memastikan, “Lalu kenapa pakai bahasa malaikat yang lain, yang tidak aku mengerti? Kenapa tidak terang-terangan saja sih?”
Ia mengangguk dengan matanya yang sangat bundar, lalu aku berkata “Oppa, bosan nih. Main ke rumah Junhyung oppa yuk?”
“Andwae!!” tiba-tiba Hyunseung oppa menjawabku dengan nada yang emosial dan panik, “Kau tidak boleh menemui dia lagi.”
“Eh? wae….. waeyo?!” tanyaku merasa tidak senang, “Aku tidak akan melakukan apapun kok dengan dia, jebal oppa~”
“Aku bilang andwae, kamu tidak mengerti ya?!” tiba-tiba nada bicara Hyunseung oppa semakin kasar dan marah, “Kamu….. mau melawanku?”
Aku terkejut melihat tingkah laku Hyunseung oppa yang aneh itu, “Ah… oppa menyebalkan. Aku mau pergi ke rumah Miyoung unnie saja.”
“Andwaeyo…. Ia pasti sudah tidur di rumah, tidak baik bertamu ke rumah orang malam-malam. Pasti akan sangat mengganggu.” Hyunseung oppa menarik tanganku dan menarikku ke pelukannya, “Oke?”
Aku tidak menjawab dan pergi ke kamarku tanpa suara. Aku yakin pasti ada yang disembunyikan dari Hyunseung oppa kepadaku, semuanya… dari pembicaraan itu, sampai tidak boleh pergi ke rumah Junhyung oppa. Tidak mungkin hanya sekedar cemburu!
~~~~~
Sun Miyoung story…
BZZZZT~~!!!
Ah kenapa aku merasa ada tatapan tajam yang mengintaiku ya? kurasa kemarin sore semuanya baik-baik saja, tapi kenapa hari ini terasa aneh ya?
“Miyoung-sshi… ada yang dikhawatirkan hem?” Yoseob mencium alisku seraya aku berbalik menghadap kea rah suaranya. Aku yang terkejut langsung mendepak pundak lebarnya.
“Wa…. Waeyo???”
“Karena aku terkejut.” Jawabku kesal, “Jangan main cium-cium dong~ ini kan di tempat kerja, jaga sikapmu.”
Yoseob yang kunasehati malah tertawa kecil sambil mengelus elus lengannya yang kurus, “Habis aku gemas sih sama kamu, sejak kejadian yang itu kamu semakin…. Eh eh eh?? kenapa sih???”
Aku menarik tubuhnya menjauh dari lorong tempat Hyunyoung menghitung pendapatan midimarket di kasirnya, “Micheoseoyo? Nanti kalau kedengaran Hyun gimana? Dia kan tidak boleh tahu.”
“Jesonghabnida.” Yoseob menunduk dengan penuh hormat, “Terus… kenapa tadi kamu kelihatan seperti orang sakit begitu?”
Aku menggeleng cepat, “Tadi… sepertinya ada yang memandangiku dengan tatapan yang tajam dan sangat mengerikan, kira-kira siapa ya?”
“Paling itu Dongwoon,” Yoseob menunjuk kea rah Dongwoon yang sibuk dengan kardus-kardusnya, “Kan cuman dia yang punya tatapan yang tajam dan terkadang mengerikan.”
Aku menggeleng, “Aku yakin bukan dia. Soalnya… agak berbeda dari yang biasanya.” Jawabku sambil berbisik bisik.
“Tidak mungkin kan kalau yang melakukan itu adalah Hyunyoung? Kurasa dia tidak akan bisa melakukan hal semacam itu. Aku sudah mengenalnya sejak SMA, jadi…. Sepertinya tidak mungkin.” Jawab Yoseob sambil berkasak kusuk bersamaku di pojok ruangan.
“Yah……. Bukan ya?” jawabku sambil menatapi Hyunyoung yang dari tadi sibuk dengan komputer kasirnya. Pekerjaannya bertambah setelah atasan kami membuat satu booth kasir lagi supaya antrian tidak panjang.
“Yoseob-sshi, kau dimana? Ini… ada yang mau bayar!” seru Hyunyoung dari mejanya. Yoseob yang terkejut segera mungkin berlari menuju meja kasir dan melayani pembeli.
“Dongwoon-sshi bisa kemari sebentar, aku ingin bicara.” tiba-tiba Hyunyoung memanggil Dongwoon dan membisikkan sesuatu padanya, sementara aku yang ada di pojok ruangan berusaha mengintip mereka.
“Ah…. Junhyung goon sepertinya sedang pergi keluar kota. Jadi tidak heran kalau Hyunseung hyung melarang noona untuk menemuinya, jangan sedih begitu dong. Pantas saja mukamu hari ini suram sekali.” Cerocos Dongwoon cukup keras sehingga aku bisa mendengarnya.
Ah… jadi itu sebabnya ia menatapiku dengan cara yang mengerikan tadi? Ternyata ia hanya ingin bertemu Junhyung ya? astaga mengagetkanku saja. Batinku. Tapi…. Memang sudah lama sih mereka tidak bertemu, kan mereka juga bersahabat setahuku.
Tiba-tiba aku teringat ucapan Yoseob beberapa pekan yang lalu….
Noona, kapan kau mengenalkan aku pada orangtua mu?
Hem…. Bagaimana ya kalau minggu depan saja? Aku belum siap mental sih, hehehehehehe….
~~~~~
Min Minri story..
“Beliau terus-terusan mengirimkan pesan yang berisi nama Hyunyoung, Doojoon oppa.”
Doojoon oppa mengamati tubuh Junhyung oppa yang penuh dengan tulisan ‘Shin Hyunyoung’ menyebar di seluruh permukaan dadanya, “Sepertinya dia sangat membutuhkan Hyunyoung. Tapi…. Hyunseung tidak mengijinkan yeochinnya mendekati Junhyung sama sekali. Ia khawatir Hyunyoung tidak mampu bertahan karena kehabisan energy dan semua itu bisa menyebabkan kelumpuhan atau kematian.”
Aku memandang Junhyung oppa yang kritis. Sepertinya tanda kehidupan di dalam dirinya hanya sepersekian persen, dan yang mampu menopang tubuhnya hanya energi-energi yang tubuhnya hisap dari tubuh orang lain, “Tidak adakah cara lain untuk menolongnya oppa? Dia kesakitan, dia menderita… paling tidak tolonglah dia.”
“Tidak bisa Minri, kuatlah.” Jawab Doojoon oppa sambil menepuk punggungku, “Kita hanya bisa menungguinya hingga ajal tiba. Da itu sekitar 2 hari lagi.”
“Dua hari lagi dan Hyun oppa tidak mengijinkan Hyunyoung menemui Junhyung oppa hanya sekali saja? Aku yakin Hyun oppa pasti lebih otoriter dengan wajahnya yang terlihat kalem itu.”
“Wajar saja dia begitu, Junhyung pernah ketahuan olehnya sedang merayu Hyunyoung dan ia marah sekali,” jawab Doojoon oppa, “Lagipula… sudah takdir yang menggariskan kalau hidupnya tidak akan lama.”
Aku mengusap mataku yang berkaca-kaca, “Memangnya… apa yang terjadi dengan beliau oppa?”
“Kau lihat tulisan yang paling besar di dada dan lengan kanannya itu? Tato itu adalah vonis dari para tetinggi diatas sana.” Jawab Doojoon oppa, “Ia mendapatkan vonis itu karena…… ia telah membunuh appa kandungnya yang kebetulan adalah malaikat hitam.”
“Aku tak mengerti oppa.” Jawabku bingung, “Ceritakanlah secara detail.”
Doojoon oppa mengangguk dan mulai bercerita, “Pernikahan kedua orangtua Junhyung pada waktu itu adalah kemustahilan di negeri malaikat karena mereka berbeda sayap. Sang umma bersayap putih sementara sang appa bersayap hitam, mereka saling mencintai dan melanggar hukum negeri sehingga umma Junhyung diturunkan di bumi sebagai sosok manusia.”
“Junhyung selalu mendengar cerita dari kawan sepermainannya, bahwa malaikat hitamlah yang mencabut nyawa setiap manusia dan beliau percaya akan hal itu,” sambung Doojoon oppa, “Suatu kali, Junhyung menemukan ummanya yang terkulai tak bernyawa dan hendak diangkut oleh sesosok malaikat hitam yang tak lain adalah appanya. Waktu itu Junhyung masih berumur 10 tahun dan ia percaya cerita itu. Ia pun dengan marah membunuh appanya dan…. Dalam waktu satu detik cahaya, ia pergi ke negeri malaikat hitam dan mendapat hukuman. Yaitu umur yang tidak panjang, dan tulisan-tulisan panas yang selalu menyiksanya di tengah malam.”
“Ia selalu berharap bisa kembali sebagai malaikat putih tanpa sayap seperti dulu. Namun sifat-sifat hitam sudah merasukinya, ia melakukan pergaulan bebas dan berhubungan dengan banyak yeoja. Salah satu dari yeoja itu tulus mencintainya, namun ia menolak yeoja itu mentah-mentah sehingga yeoja yang bersedih itu memutuskan untuk bunuh diri dengan cara memotong nadinya dengan pisau. Maka itulah hukuman Junhyung diperpanjang, hukuman itu akan berakhir kalau ia berhasil menemukan yeoja yang tulus mencintainya lagi. Tapi ia tak pernah mendapatkannya, dan…… inilah hasilnya.”
Hatiku miris mendengarnya, benarkah Junhyung oppa mempunyai masalalu yang sangat menyedihkan itu? Kesalahan yang ia lakukan tak lain karena sebuah kesalahpahaman, tapi kenapa tak ada satu malaikat pun yang bisa mendengar hatinya lebih cepat, sebelum ia menutup hatinya itu untuk waktu yang lama…..
Aku…… tak bisa membendung lagi kesedihanku. Mungkin ini sebabnya Hyunseung oppa tak mengijinkan Hyunyoung, yeoja itu pasti akan lebih sedih dan merana kalau mendengar cerita ini…..
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar