Senin, 09 Mei 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 20)

Park Sunghyo story

“Annyeonghaseo Dongwoon-ah, sudah pulang….. kah?”
Aku terpaku melihat Kikwang yang berdiri di depan pintu apartemen Dongwoon. Kenapa dia ada disini dan kenapa dia tahu kalau aku berada disini?
“Sunghyo-sshi, itu kamu?” tanya Kikwang dari pengeras suara, “Jebal buka pintunya, aku mau bicara.”
Aku gigit jari mendnegar suaranya, dan jantungku berdebar debar. Ottokke? Kenapa dia harus muncul lagi sih mengganggu kehidupanku? Aku sudah tak mau berurusan dengannya lagi. Jebal, pulang sajalah kau apeun namja~~
“Sunghyo-sshi? sunghyo-sshi~!! jagiya, jagiya~!!! Buka pintunya, jebal~~” pinta Kikwang dengan suara yang memaksa, “Aku yakin pasti ada kau di dalam. Buka pintunya, jebal~!!”
Aku menjauh dari pintu dan segera masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Aku menutup telingaku karena Kikwang terus-terusan menggedor pintu dan menyuruhku untuk membukanya, Dongwoon-sshi cepatlah pulang~~ jebal, singkirkan dia dari….
Eh, kok suara gedorannya menghilang? Apakah dia sudah pergi?
Aku mencoba keluar dari kamar mandi untuk memastikan ia sudah pulang. Pelan-pelan aku berjalan berjingkat supaya tidak menimbulkan suara, benarkah ia sudah pergi dari sini?
Suasana menjadi sepi, berarti ia sudah pulang… “Huff, syukurlah kalau dia sudah pergi. Kalau ia masih disini, bagaimana jadinya nasib…. Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!”
Tiba-tiba seseorang merangkulku dari belakang hingga kami berdua jatuh, dan hawa gelap menguasai ruang tamu secara tiba-tiba. Tak sadar saking ketakutannya, aku mengeluarkan air mata dan mencoba menatap sosok berhawa gelap yang tak lain dan tak bukan adalah Kikwang.
“Kenapa kau menghindariku? Kenapa kau tak balas pesan maupun telponku? Mengapa kau mabuk dan mengapa kau tinggal disini? Mengapa kau mengacuhkan aku? Wae, wae?? Waeyo?!?!”
Aku berusaha menenangkan jantungku yang berdebar ketakutan, “Kau tidak merasa hah? Aku cemburu~!! Aku cemburu melihat kua bersama para staff itu. Dan memangnya kau tidak dengar hah, yang dikatakan teman-temanmu itu?? Mukaku keruh dan AKU TIDAK PANTAS JADI KEKASIHMU!! Kau tidak dengar??”
Kikwang masih memegangiku dengan tatapan yang gelap dan aura yang menyeramkan seiring dengan sayap hitamnya yang merekah lebar, “Gomanhaja, tidak ada yang perlu ditanyakan lagi kan? Pulanglah, hubungan kita sudah berakhir~!” Ucapku sambil meneteskan airmata ketakutan.
“Andwaaaaeeee~~!!” teriak Kikwang di depan wajahku, ia masih menatapiku dengan aura yang menyeramkan…. Dan tiba-tiba, kurasakan setitik air mata jatuh di pipinya, “Mianhae Sunghyo-sshi, mianhae….”
Aku yang berada di bawah Kikwang hanya bisa menyaksikannya menangis dan melihat matanya yang merah. Aura di sekitar ruangan masih saja gelap, lampu-lampu di ruangan nyala redup… kertas kertas dan debu-debu berterbangan…… TV menyala dan redup, sama hal nya seperti semua penerangan disini.
“Aku tidak bisa kalau tanpamu, Sunghyo-sshi…. aku tidak bisa mencari yang lain. Aku bisa mati kalau berpisah denganmu, itulah kodratku sebagai seorang malaikat~!!” ucapnya sambil bersimbah air mata. Ia memegangi kedua pipiku dan berkata, “Saranghae… Park Sunghyo. Niga nae majimak sarang…”
Ia mendekati wajahku dan mencium bibirku. Ia terus menciuminya dengan nafsu sesekali menghirup nafas yang menyesakkan dada, bibirnya berusaha membuka bibirku. Berusaha mendapatkan balasan dariku….
Namun, saat kubuka bibirku untuk mengecup bibirnya… kesadaranku melemah dan semuanya menjadi gelap….

~~~~~

Min Minri story…

“Nawasseo….” Aku memencet bel di depan apartemen Dongwoon, tapi tidak ada yang menjawabnya. Saat kulihat, loh… kok belnya mati? Lagipula…. aura gelap apa ini? Kenapa begitu mengerikan?
“Dongwoon-sshi, bisa kemari sebentar? Nee, ke apartemenmu.” Ucapku melalui telepon, “Terbanglah. Ada sesuatu yang tidak beres, ada aura yang gelap dan….. sangat-sangat mengerikan di…”
Loh kok telponnya mati? “Eish kenapa telponnya dimatikan?” ujarku bingung sekaligus kesal.
“Soalnya aku langsung teleportasi kemari,” ucap Dongwoon yang sudah ada di belakangku, “Astaga… aura siapa ini, kenapa bisa sekuat milik Junhyung goon? Sunghyo noona, buka pintunya!”
Dongwoon mengetuk pintunya dengan panik, namun tak ada yang membukanya. Lalu aku menyarankan sebuah ide, “Jagiya, teleportasilah ke dalam ruangan. Mungkin saja terjadi sesuatu terhadap Sunghyo-sshi~!!”
Dongwoon mengangguk dan langsung menghilang dari hadapanku. Tiba-tiba… kurasakan auranya menghilang, dan…. Pintu apartemen terbuka dari dalam.
“masuklah.” Ujar Dongwoon dengan wajah khawatir, “Ada sedikit….. kekacauan yang sudah diatasi.”
Aku mengintip masuk dan kutemukan Sunghyo yang terkapar di tempat tidur dan Kikwang disebelahnya.

.....

“Kau menelan energinya, hyung. Itu sebabnya noona pingsan.” Jelas Dongwoon pada Kikwang. “Tenang saja, beberapa menit lagi dia akan tersadar kok.”
Aku mengambil lap dari dahi Sunghyo dan merendamnya lagi dengan air dingin, dan benar saja. Beberapa menit kemudian Sunghyo tersadar.
“Em….. Minri-sshi, Dongwoon-sshi… apa yang terjadi?” tanyanya lemah.
“Saat kalian bicara tadi, tanpa sengaja Kikwang-sshi menelan energimu sehingga kau pingsan. Memang begitulah kalau malaikat hitam sedang kuat-kuatnya,” jelasku. “Oke…. Sekarang kami akan membiarkan kalian berdua bicara oke?”
Aku dan Dongwoon keluar dari apartemen dan duduk di depan beranda, “Apa…. Ada yang lebih mengerikan daripada aura gelap yang tadi, Dongwoon-sshi?”
“Molla… setahuku yang paling mengerikan ya…. saat Junhyung goon…. Ah noona tak perlu tahu kejadiannya, yang penting noona tahu siapa orangnya,” jawab Dongwoon. “Apa mereka akan kembali seperti biasa noona? Ataukah benar-benar sampai disini?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Dongwoon, “Sunghyo tidak pernah mabuk kalau bukan menyangkut masalah dengan orang yang paling ia sayangi. Jadi….. aku yakin mereka akan kembali, Sunghyo tidak mungkin bisa lepas dari Kikwang. Begitu juga sebaliknya,”
“Begitu dramatik,” komentar Dongwoon sambil memegangi tanganku. “Kita saja tidak sampai segitunya ya?”
“Hush…. Kan setiap pasangan berbeda-beda caranya.” Aku menggetok tangan Dongwoon yang memegangi tanganku, “Yak… bagaimana kalau antarkan aku pulang dan kamu kembali bekerja?”
Dongwoon langsung memasang tampang kecewa, “Ah….. aku malas kerja malam ini, lagipula…. Tidak bisakah noona menginap saja? Aku tidak yakin Sunghyo noona akan tinggal disini untuk beberapa hari, aku kan kesepiaaaaan~~”
“Sudah ah jangan memelas begitu, my Dongwoon~ namja yak….. kamu kan namja,” aku menepuk nepuk pipinya sambil tersenyum. “Kaja… kita berangkat sekarang.”
Aku menarik tangan Dongwoon pergi dari apartemen. Meninggalkan Sunghyo dan Kikwang berdua saja.

~~~~~

Sun Miyoung story…

“Em….. Miyoungie, kapan kau akan mengenalkan aku pada orang tuamu?”
Aku tersedak oleh ddubokki yang kumakan saat mendengar Yoseob mengatakan hal itu, ada apa sih? Kenapa tiba-tiba sekali? “Mungkin…. Memang kenapa Yoseobie?” tanyaku
“Cuman bertanya saja, kenapa kau sampai tersedak seperti itu sih? Hahahaha kau ini aneh sekali.” Jawab Yoseob sambil menyeka sisa ddubokki yang menempel di wajahku yang memerah.
“Dasar… aku kira kau serius. Eh? nuguseo?” aku menunjuk ke dalam pemakaman. Terlihat seorang namja sedang duduk sambil memeluk pohon itu, “Siapa itu?”
“Mungkin saja itu Doojoon hyung, coba saja kita lihat.” Jawab Yoseob sambil menggamit tanganku menuju kea rah pohon itu. Dan benar saja, sosok itu adalah Doojoon.
“Annyeonghaseo hyung, sedang apa kau disini?” tanya Yoseob. “Hyunyoung mana? Kupikir ia sudah pulang dan menemanimu?”
“Oh, Yoseob-sshi… miyoung-sshi.” sapa Doojoon sambil melepas pelukannya dari pohon itu, “Tiba-tiba aku kangen sekali sama Hyunri, jadi tanpa sengaja aku memeluk pohon ini. Sekalian juga aku ingin meminta maaf padanya.”
Aku termagu mendengar perkataan namja ini, “Kalau aku boleh tahu… apa yang membuatmu ingin meminta maaf padanya?”
“Hem hem,…. Aku akan menceritakannya. Tapi mari kita pergi ke rumahku dulu.” Ajak Doojoon.

.....

Kami sudah sampai di rumah Doojoon yang sepi dan hening. Hyunyoung belum pulang kerja dan Junhyung sedang sakit di rumahnya, sehingga ia sendirian.
“Miyoung-ah…. Berjanjilah padaku agar kau tak menceritakan ini pada siapapun.” Pinta Doojoon, “Hanya aku, dan malaikat disekitarku yang tahu.”
Aku mengangguk sambil menggenggam tangan Yoseob, “Nee… sebisa mungkin aku akan menjaga rahasia ini. Benar kan Yoseobie?”
Setelah Yoseob mengangguk, Doojoon mulai bercerita, “Hyunri adalah unnie dari Hyunyoung yang merupakan kekasihku. Kami saling mencintai dan sebenarnya aku hendak melamarnya musim semi kemarin, tapi…. Aku melakukan sebuah kesalahan fatal yang tidak aku perkirakan.”
“Suatu malam, kami menghabiskan waktu bersama. Kami minum dan tanpa sengaja kami berhubungan, sampai waktu itu….. Hyunri tidak tahu kalau aku adalah malaikat hitam.” cerita Doojoon, “Beberapa bulan kemudian akhirnya aku mengakui kalau aku malaikat hitam. namun…… Hyunri juga mengakui bahwa ia telah mengandung anakku, ia begitu marah mendengar pengakuanku. Ia tidak marah karena aku malaikat hitam, tapi ia marah karena aku menyembunyikan rahasiaku padahal kita sudah lama bersama.” Doojooon mulai meneteskan air mata di pipinya, “Huhuhu….. malam itu, ia minta untuk mengakhiri hubungan kami dan ia berjanji akan segera menggugurkan anak yang dikandungnya, huhuhuhu….. tapi sejak itu kami tidak pernah bertemu lagi, dan…… 2 bulan kemudian di musim salju yang paling dingin. Kudengar berita bahwa ia bunuh diri. Uhuhuhuhuuhuhu~~”
Aku memandangi Doojoon nanar. Itukah sebabnya ia tak mencari pasangan lagi? Itukah sebabnya ia sangat menyayangi Hyunyoung dan tidak pernah meninggalkannya?
“O….. obseoyo.” Aku terkejut mendengar suara Hyunyoung yang sudah berdiri di depan kamar mandi dengan wajah yang pucat, “Unnie bukan orang yang putus asa seperti itu~!! Ia mencintaimu, bahkan ia ingin mengandung anak darimu, itu yang aku dengar dari mulutnya! Dengan kedua belah telingaku!”
Doojoon oppa berusaha menenangkan Hyunyoung, tapi ia berkelit dengan gusar, “Akan kutanyakan pada unnie apakah itu benar atau tidak~~” lalu ia melesat pergi meninggalkan kami.

~~~~~

Shin Hyunyoung story…

Tidak benar kan? Semua yang kudengar itu bohong kan?!
Tidak mungkin unnie bunuh diri karena hal sepele seperti itu, tidak mungkin!!


“Hyunyoung-sshi! Gomanhaja, jebal~!!” panggil Doojoon oppa sayup sayup, tapi aku tak mendengarkannya. Aku tak ingin mendengar suaranya lagi samapai kapanpun!! Suara yang selalu mengatakan hal bohong, andwae!! Aku tak mau mendengarnya~!!
Aku berlari menuju pohon tempat abu unnie disebarkan, masih jauh sekali dari sini. Tapi aku tak perduli, yang penting aku bisa mendengarkan unnieku bicara yang sesungguhnya tentang semua ini.
“Unnie~ hhhhhhhhh.,……… hhhhhhhhh… hhhhhhhhh….. unnie~!!” aku meneriakkan unnie berkali kali, kuharap ia bisa mendengarku, “Apa yang dikatakan Doojoon oppa benar?! Dia bohong kan?! Unnie tidak mungkin kan berfikir seperti itu, benar kan?! Benar kan~~~?!”
Aku memegangi pohon unnie, berusaha mencari jawaban darinya. Aku tak peduli hujan mengguyur tubuhku, “Unnie bilang kita akan selalu bersama apapun yang terjadi~~ kenapa unnie meninggalkanku karena hal seperti ini?!?! Kojimal~ KOJIMAL!!!”
Kupukul pohon itu berkali kali dengan seluruh tenagaku, aku benar-benar kesal dan sedih dengan semua nasib dan takdir yang digariskan untukku, “huhuhuhuhu….. hwaaaaargh~!!!! Kojimal, KOJIMAL~!! Niga mipda unnie, niga mipda~!!”
Aku meninggalkan lokasi pemakaman tanpa bisa menghentikan air mataku, aku berjalan pelan menuju rumah dengan hati yang berat dan kesal. Molla, aku tak tahu lagi harus apa…
“Yak Hyunyoung-sshi~!! AWAS~!!!!!” entah kenapa kulihat sesosok bayangan Hyunseung oppa di tengah hujan. Dan sesudah itulah kulihat sebuah cahaya yang menyilaukan….
Cahaya dari sebuah truk besar yang melintas….

.....

Hyunyoung-sshi…. Mianhaeyo. Ini semua salahku, tolong maafkan kesalahanku dan…. Sampaikan salamku untuk Doojoon ya.

Mmmmmh Un…. Unnie? aku memanggil manggil unnieku. Kenapa aku merasa mendengar suaranya? Kenapa rasanya ia seperti bicara padaku?

Aku pergi ke surga bukan karena salahnya. Ini semua salahku, aku tidak cukup kuat untuk mengetahui bahwa kekasihku adalah seorang malaikat hitam; malaikat yang di mitoskan malaikat jahat. Aku selama ini salah paham…..

Aku berusaha mengerjapkan mataku sekuat mungkin agar bisa terbangun, tapi…. Entah kenapa rasanya berat sekali untuk membangunkan diri ini. Waeyo?
Unnie…. Aku tak akan bangun kalau kau belum menunjukkan dirimu. Kemarilah! Aku berteriak memanggil unnieku lagi. Apa kau babo hah? Apa kau tak mengerti kalau aku begitu meridukanmu?? Uhuhuhuhuhuhu~~~~

Tiba-tiba….. aku merasa seperti dipeluk sesuatu yang lembut, menenangkan….. sekaligus sesuatu yang amat sangat kurindukan…

Ini aku Hyunyoung-sshi…. Tepat di hadapanmu, sedang memelukmu. Apa kau tidak melihatku?
Aku hanya bisa menangis karena pada sesungguhnya…… aku tidak bisa melihat sosok Shin Hyunri, unnieku…. Seseorang yang sangat sangat ingin aku temui.

Kenapa aku tidak bisa melihatmu unnie? Waeyo? Ucapku sambil sesenggukan menahan kesedihan
Simpel saja Hyunyoung-ku…. Belum saatnya kau menyusulku, sehingga kau tidak bisa melihatku. Aku pergi menjadi malaikat hitam dan mendapat ampunan dari para tetinggi… sehingga aku kini diangkat menjadi salah satu dari mereka. Menjadi sesosok malaikat putih…

Tiba-tiba sesuatu yang memelukku itu seperti lepas dariku. Ia lalu berkata… Teruskanlah kehidupanmu, nae dongsaeng…. Aku akan selalu mendukungmu, aku akan selalu ada di hatimu. Meskipun aku sudah tak ada lagi di depan matamu, ingatlah…. Aku selalu mengalir bersama dengan darah yang menyebar di seluruh tubuhmu….
Perlahan sosok itu menghilang pendarnya…. Dan sekali lagi ia berpesan…
Lanjutkanlah hidupmu, Nae Hyunyoung-sshi….

.....

Aku membuka mataku lebar-lebar…. Bau apa ini? Aku ada dimana?
“Hyunyoung-sshi~!! Omona, kau sudah sadar?!” tiba-tiba aku melihat sosok Doojoon oppa memelukku, “Mianhae…. Aku tak seharusnya mengatakan hal itu kepada siapapun. Nega jaelmothaesso, mianhaeyo.”
Mataku berkaca kaca mendengar deruan tangis Doojoon oppa disertai dengan pandangan nanar dari Yoseob dan Miyoung unnie. “Gwenchana oppa, ini tidak semua salahmu…… mungkin ini sudah takdir unnie, ia sudah tenang disana. Jangan khawatirkan dia.”
Doojoon oppa melepas pelukannya dan mengusap wajahku dengan kedua tangannya yang lebar, matanya terlihat sangat lelah dan sedih. “nee, arraseo…. Bagaimana kalau kau istirahat saja? Dokter bilang kau mengalami gegar otak ringan. Apa kau mau bertemu dengan Hyunseung dulu?”
“Oh iya…. Dimana oppa? Apa dia baik-baik saja?!” tanyaku khawatir. Aku teringat sebelum kecelakaan itu sepertinya ada yang menghalauku dan aku juga mendengar suara Hyunseung oppa.
“Kau mencariku, Hyunyoung-sshi?” Tanya Hyunseung oppa yang dahinya juga dibalut perban, “Yak… lihat deh kita berdua sama-sama diperban, hehe.”
Aku tersenyum malu dan mencoba bertanya, “Emmmm apa yang terjadi oppa? Apa kau mengalami luka serius?”
“Hanya sedikit luka dan goresan. Kepalaku juga sedikit terhantam trotoar. Tapi… kondisimulah yang lebih parah, kau seharusnya memikirkan keadaanmu sekarang.” Jawab Hyunseung oppa yang memegangi dahiku dan mengelusnya, “Sepertinya…. Aku akan lebih sering menghabiskan waktu dengan Hyuncat yang sakit ini.”
Aku yang mendengarnya tertegun, “……. Oppa sudah ingat kembali? Jinjjaeyo??”
“He’em….” Jawab Hyunseung oppa sambil mengelus rambutku, “Kemarilah, beritahu aku…. Apakah aku merepotkanmu selama aku kehilangan ingatanku?”
Aku hanya terdiam sambil menahan di peluknya. Aku bahagia sekali, akhirnya permohonanku terkabul juga. Akhirnya Hyunseung oppa ingat kalau aku yeoja chingunya…..
“Uljimma Hyuncat, maafkan aku ya selama ini sudah membuatmu menangis.. membuatmu bersedih dan membuatmu menderita.” Ucap Hyunseung oppa, “Entah kenapa saat aku masih hilang ingatan, aku kerap kali tersiksa melihat pandangan matamu yang berusaha bahagia namun nanar itu. Akhirnya aku baru sadar apa yang sesungguhnya terjadi….. aku sepertinya telah melupakanmu waktu itu, tapi tidak akan lagi~!! Aku janji akan selalu bersamamu. Saranghae Hyuncat, saranghae~”
“Nee oppa, nado saranghae.” Aku mengangguk kecil sambil tak sadar meneteskan air mata di pipiku. Kugenggam erat punggung Hyunseung oppa yang tak melepaskan pelukannya dariku….
Aku harap oppa tidak pernah pergi lagi, atau melupakanku lagi. Karena tak dapat kubayangkan lagi rasanya…. Pasti akan sama perihnya seperti waktu itu….

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar