Minggu, 01 Mei 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 19)

Min Minri story…

“Silyehabnida…. Dongwoon-sshi, kau sudah berangkat belum?” aku mengetuk pintu apartemen Dongwoon yang kelihatannya terlihat sepi. Apa mereka sudah berangkat ya?
Tak kuduga, Dongwoon masih ada di dalam dan membuka pintunya sambil mengucek mata, “Hem… ada apa pagi-pagi?”
Yang membuatku makin syok lagi adalah…. Ia hanya menggunakan celana pendek dengan tubuh yang setengah telanjang, “Dongwoon-sshi… kamu, tidak tidur dengan….”
“Aigo noona~!! Kenapa tidak bilang kalau kamu datang?!” tanya Dongwoon terkejut sambil menutupi dadanya dengan gaya yang lucu. “Ta.. tadi apa kata noona? Tidur dengan… Sunghyo noona?? Ceolte aniiyo~!! Cuacanya panas dan aku kegerahan, lalu….”
Aku menerobos masuk dengan pikiran yang pesimis dan bersiap siap untuk meledak. Saat aku masuk,….. kulihat Sunghyo masih tertidur dengan selimut yang berantakan. Dengan pakaian kemarin malam, masih lengkap dan tidak berantakan.
“Kan sudah aku bilang, tidak mungkin..” jawab Dongwoon memelukku dari belakang, “Kalau aku benar-benar melakukannya, aku atau Kikwang hyung sudah mati tadi pagi.”
Aku mengangguk angguk dan menghampiri Sunghyo yang wajahnya agak pucat, “Apa yang kalian lakukan semalaman kemarin?”
“HPnya berdering terus tanda telepon dari Kikwang hyung. Karena berisik, aku mematikan HPnya.” Lapor Dongwoon secara detail, “Terus noona mengigau ngigau memanggil Kikwang hyung. Terkadang disertai isakan, terus jam 3 pagi tadi ia muntah muntah. Sungguh tersiksa berada satu atap dengan noona yang ini.”
Aku merenggut dagu Dongwoon yang panjang sambil memanyunkan mulutku, “Yak~ begini-begini dia chinguku Dongwoon-sshi… kalau kamu di posisinya, apa kamu tidak akan melakukan hal yang sama?”
“Em…. Bisa jadi sih. Terus bagaimana ini?” tanya Dongwoon bingung, “Apa aku harus bolos kuliah dan cuti kerja untuk menemani Sunghyo noona?”
“Anii, aku saja yang cuti untuk mengurusnya, aku tidak akan kuat melihat Kikwang di taman ria.” Ucapku sambil menahan napas, lalu membuangnya dengan berat. “Kikwang tahu aku dekat dengan Sunghyo, pasti ia akan menanyakan keadaan chingu ini terus menerus. Dan kalau ia tahu Sunghyo mabuk dan jatuh sakit…. Dia bisa menyalahkan dirinya sendiri terus menerus dan pekerjaannya jadi terganggu.”
Dongwoon mengangguk angguk dengan mantap, “Cukup jelas alasan noona untuk cuti hari ini. Tapi… memangnya noona sudah ijin kepada omonim dan omoni?”
“Ya….. sudah sih, aku bilang kalau temanku sakit dan ia tinggal sendirian di apartemennya,” jawabku sambil menatapi muka Sunghyo, “Sebelum kamu berangkat.. bisa tolong ambilkan air hangat untuk kompres? Sunghyo terlihat sangat pucat.”
Dongwoon mengangguk dan segera pergi ke dapurnya, “Emmm noona, memangnya Kikwang hyung kalau sedang bertengkar dengan orang yang ia sukai, bisa sampai seperti apa sih?”
“Em…. Apa yang ia lakukan pasti menjadi salah, lalu ia menjadi sangat ceroboh dan bahkan kecerobohannya bisa melukai dirinya sendiri dan orang lain. Dan tentu saja merugikan kita semua, termasuk dia.” Jawabku sambil mengompres dahi Sunghyo, “Dia sudah begitu sejak SMA. Kami berlima sudah bersahabat sejak saat itu.”
“Jinjjaeyo? Kalau didengar dengar… Kikwang hyung versi ceroboh? Sepertinya tak tebayangkan olehku.” Jawab Dongwoon cuek, “Kalau begitu, aku berangkat ke kampus ya noona. Jangan pulang sebelum aku pulang, arra?”

~~~~~

Shin Hyunyoung story..

“Hyunyoung-sshi…. apa dulu aku bekerja?” tanya Hyunseung oppa pagi hari ini. Aku yang sedang menyiapkan makanan untuknya, agak terkejut juga mengingat ia yang masih belum sembuh benar ingatannya.
“Nee… di taman ria oppa, bersama Minri dan Kikwang. Waeyo?”
Aku menyiapkan sepiring Barbeque dan segelas air putih untuk Hyunseung oppa yang duduk di ruang TV terus menerus tanpa lelah. Sejak ia keluar dari rumah sakit pekerjaannya hanya menonton TV saja, apa ia tidak bosan ya?
“Apa aku masih dianggap menjadi staff disana?” tanyanya, “Pasti menyenangkan ya bekerja di tempat yang penuh kegembiraan seperti itu. Dulu pekerjaanku apa?”
Aku tertawa melihat wajahnya yang penuh keingin tahuan itu, “Sepertinya oppa masih dianggap staff disana. Oppa membagikan gulali kepada anak-anak disana, untuk mengundang mereka berbelanja di toko souvenir tempat oppa bekerja. Jadi sudah pasti menyenangkan.”
“Ah… aku ingin melakukannya lagi,” jawabnya dengan wajah yang puas, “Antar aku kesana, Hyunyoung-sshi.. aku mau bekerja lagi.”

.....

“Annyeonghaseo Hyunseung-sshi~!!” sambut salah satu staff yang bekerja disana, “Apa kau ingat aku? Ngomong-ngomong… sudah siap bekerja lagi kah?”
Aku menggangguk sebagai juru bicara oppa, “Aku akan membantunya mulai hari ini sampai ia pulih kembali, tidak apa-apa kan?” tanyaku.
“Gwenchana….” Jawab yeoja itu dengan ramah, “Hyunseung-sshi…. bisa ingat aku?”
Hyunseung oppa menggeleng dengan penuh kekecewaan, “Jesonghabnida… aku tidak ingat semua yeoja sama sekali. Mohon kerjasamanya.”
“Oh nee, gwenchanasimida~” jawabnya dengan ramah lagi, “Ini gulalinya. Sekarang kami menjualnya seharga 50 won, oh iya… sisa gulalinya ada disitu.”
Setelah aku mengucapkan terima kasih, kami berdua ssegera pergi menuju keramaian untuk menjual gulali. Beberapa orang yang juga bekerja di taman ria, membantu oppa sedikit.. bahkan ada yang sempat berkenalan kembali untuk menyegarkan ingatan Hyunseung oppa.
“Oppa… aku kembali sebentar ya untuk mengambil beberapa gulali.” Ujarku sambil cepat-cepat berlari ke toko untuk mengambil gulalinya. Belum sempat aku masuk ke toko, tiba-tiba terdengar suara seperti orang terjatuh dan tertimpa barang.
“Aigo… nugu? Siapa yang jatuh?” ucapku dengan nada yang agak khawatir. Saat kuangkat beberapa barang, barulah terungkap kalau yang terjatuh itu adalah…. Kikwang
“Kikwang-sshi… gwenchana? Wajahmu terlihat lelah.” Ucapku agak khawatir. Ia tidak bicara dan merapihkan bajunya dan pergi ke meja kasir. Namun ia menabrak barang sehingga rak-rak yang ia tabrak menjadi berantakan. Aku menggaruk kepalaku bingung, pasti terjadi sesuatu dengan namja ini karena tidak mungkin Kikwang bersikap seperti ini kalau ia baik-baik saja.
“Yak~!! Ikut aku dengan Hyunseung oppa. Ppali~” aku menarik tangan Kikwang dengan mudahnya. Astaga, bahkan tubuhnya terasa ringan seperti kapas~ “Ada apa denganmu dan Sunghyo?”
Kikwang menggaruk kepalanya cukup keras, “Memangnya kelihatan ya?”
“Ya jelas lah, kau tidak mungkin bersikap ceroboh kalau tidak ada masalah.. apalagi dengan yeoja chingumu.” Jawabku getir, “Kaja, kita bersenang senang sambil menjual gulali. Terkadang di belakang meja kasir juga membosankan, jadi ikutlah dengan kami.”

~~~~~

Sun Miyoung story..

Haaaaah hari ini pekerjaanku dua kali lebih berat daripada biasanya. Hyunyoung tidak masuk karena mengurus Hyunseung, sementara Dongwoon mengambil shift malam karena ia harus berangkat kuliah.
“Noona… kenapa wajahmu begitu? Ada yang kamu pikirkan?” tanya Yoseob sambil mengisi kartu absennya, “Pekerjaan kita sudah selesai, kenapa kau kelihatan lelah sekali?”
Aku menggeleng sembari Yoseob mengusap wajahku yang berpeluh dengan tangannya yang lebar, “Anii… aku merasa hari ini cukup melelahkan tanpa Dongwoon dan Hyunyoung. Tapi aku bersyukur shift kita sudah selesai.”
Yoseob masih mengusap wajahku lembut dengan wajah yang khawatir, “Bagaimana kalau kita ke pantainya Doojoon hyung saja? Yah rekreasi kecil untuk menghilangkan sedikit kepenatan sehabis kerja.”
“Nee… nee… bawa saja aku kesana. Kaja kaja,” aku menarik kerah bajunya sambil keluar dari midimarket.

.....

“Ah~ sudah lama aku tidak lihat kalian. Apa kabar?” tanya Doojoon dengan seragam khas penjaga pantainya, “Kalian semakin hari semakin mesra.”
Aku hanya tertawa kecil mendengar komentar dari Doojon, “Gamsahabnida… ngomong-ngomong, mana temanmu yang wajahnya jutek itu?”
“Eish… dasar kau Miyoung-ah. Kalau dia dengar, kau bisa dapat makian dengannya. Kau harus berhati-hati,” keluh Doojoon dengan wajah kesal, “Dia sedang makan karena tadi ia lupa makan siang. Aku tinggal kalian disini ya? kalau pengawas melihatku mengobrol disini, ia akan memotong gajiku.”
Yoseob tertawa melihat tingkah laku Doojoon barusan, “Yak… hati-hati ya, musim semi ini banyak hiu di dekat pantai!” teriaknya, “Tapi bohong, hehehehehe….”
“Mwoya~~” protesku sambil menyikut rusuknya, “Yak… gomawoyo.. sudah mengajakku kemari. Udaranya sejuk dan membuatku bersemangat lagi.”
Yoseob tersenyum sambil memandangi pantai, “Nee…. Hajiman…. Apa yang dikatakan Doojoon hyung itu benar, noona. Jangan panggil Junhyung goon jutek, sebenarnya dia bukan orang jahat yang kasar.”
Mwo, kenapa dia malah membicarakan Junhyung? “Eh… memang kenapa? Toh dia tak mendengarnya”
“Malaikat bisa dengar sesuatu yang ingin dia dengar, jadi berhati-hatilah.” Jawab Yoseob sambil menepuk nepuk tanganku, “Dia sahabatku, beban hidupnya lebih keras dari kita. Makanya ia seperti itu.”
Aku mengangguk angguk seadanya, “Aku hanya bercanda, jadi jangan terlalu dipikirkan… lalu, bisa tidak kamu berhenti memanggil aku noona? Rasanya tidak wajar kalau seorang namja memanggil yeochin nya noona.”
“Tapi…. Nae nomu joa. Aku suka memanggilmu seperti itu,” jawab Yoseob sambil menaruh kedua tangannya di pipiku, “Apa… noona merasa sangat tua kalau aku panggil seperti itu?”
Wajahku memerah karena jarak wajah Yoseob sangat dekat dengan wajahku, “Yah….. sepertinya begitu, tapi pokoknya jangan panggil aku noona deh. It sounds unproper…..”
Tiba-tiba Yoseob menarik wajahku dan mencium bibirku. Aku yang terkejut bahkan tak bisa merasakannya, omo omo omo…… aku tidak bisa bernafas~~ *blush*
“Mian… habisnya wajahmu memerah, aku tidak tahan melihatnya Youngie-sshi…” jawab Yoseob sambil melihat kea rah matahari yang sudah setengah terbenam, “Wah… sunset kissu, boleh aku melanjutkannya?”
Aku hanya menatapi matanya dengan wajah yang memerah lagi. Semoga saja kali ini aku mampu membalas ciuman Yoseob..

~~~~~

Shin Hyunyoung story…

“Bagaimana oppa? Bekerja di taman ria menyenangkan bukan?” tanyaku saat kami sudah tiba di apartemen. Aku membuka pintu dan menuntun Hyunseung oppa masuk ke dalam, lalu segera berlari ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
“Hyunyoung-sshi… kemarilah, aku sudah bisa menyalakan air panasnya sendiri kok, jadi jangan repot-repot,” tiba-tiba Hyunseung oppa memanggilku dari kamarnya. Aku langsung mendatanginya kalau-kalau ia butuh sesuatu.
“Oppa butuh sesuatu sehingga memanggilku?” tanyaku.
Ia menggeleng, “Anii… aku hanya ingin membicarakan sesuatu padamu.” Jawabnya sambil berpikir…. Lalu ia kembali bicara, “Doojoon itu kakak kandungmu?”
“Oh Doojoon oppa? Dia seharusnya kakak iparku, dia adalah namja chingu dari mendiang unnieku.” Jelasku pelan-pelan, “Namun unnieku meninggal 2 tahun yang lalu, dan Doojoon oppa diusir dari tempatnya tinggal. Jadi aku mengajaknya untuk tinggal bersama.”
Hyunseung oppa manggut-manggut seperti anak kecil, “Lalu….. apakah ia pernah melakukan hal kasar padamu, seperti….. yah kau tahu lah…. Permintaan laki-laki dewasa?”
“Oh…. Obssseoyo. Doojoon oppa tidak pernah seperti itu, dia menjaga dan memperhatikanku seperti dongsaengnya sendiri,” jawabku. “Memang sih waktu itu ia pernah mengecewakanku karena sesuatu, tapi selain itu sih tidak. Ia berjanji pada mendiang unnieku untuk menjagaku.”
Tiba-tiba Hyunseung oppa berkata, “Ah…. Dia pasti kesepian tanpamu dirumah sana, aku yakin.”
“Nee? Kenapa oppa bisa berkata seperti itu?” tanyaku bingung, “Doojoon oppa sekarang tinggal bersama Junhyung oppa. Beliau tidak akan mungkin kesepian karena Junhyung oppa kan rekan kerjanya.”
“Tapi…. Kau tidak tau ya, perasaan dengan dongsaeng dan perasaan dengan chingu itu berbeda sekali, dia pasti merindukanmu.” Ungkap Hyunseung oppa, “Bagaimana kalau mulai lusa…. Kau kembali kerumahmu? Aku sudah pulih kok, buktinya aku sudah bisa bekerja tadi pagi.”
Aku termenung mendengar keputusan Hyunseung oppa yang mengejutkan itu, “Jadi….. tidak apa-apakah kalau aku pulang? Apa oppa tidak akan merasa kesepian?”
“Hemmmm mollaseoyo, hehehehe~” ia menggaruk kepalanya dengan kaku, “Tapi Doojoon pasti akan sangat senang kalau kamu kembali kerumah. Aku bisa pastikan itu,”
Aku memandangi ruangan tempat Hyunseung oppa beristirahat. Haaaaah, rasanya aku bakal merindukan saat-saat aku membangunkan Hyunseung oppa, memasakkannya makanan, membuatkannya air panas untuk mandi, menemaninya nonton TV, sampai menyelimutinya jika sudah waktunya ia tidur…
“Oh iya, gomawo….. untuk semua hal yang kamu lakukan selama ada disini,” ujar Hyunseung oppa. “Gomawo… sudah menemani dan mengurusku, bahkan aku tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa.”
“Tidak usah dipikirkan oppa,” jawabku sambil menepuk nepuk tangannya dengan antusias, “Aku tidak perlu itu selama aku menikmatinya~”
Hyunseung oppa tiba-tiba tersenyum getir, “Hyunyoung…. Sebenarnya, siapakah dirimu di masa laluku? Kenapa kau begitu baik padaku, dan…. Kenapa kau tahu banyak hal tentang aku? Aku sangat penasaran tentang hal ini.”
Aku tertagun sambil menatap matanya lurus-lurus. Oppa, sebenarnya…. Aku adalah orang yang sangat mencintaimu. Batinku Tapi……….. biar saja waktu yang menjawabnya, aku yakin oppa akan ingat suatu hari nanti.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar