Sun Miyoung story..
“Miyoung-sshi… Miyoung-sshi, ironaseo..”
Aku membuka mata yang berat dan menemukan Yoseob di depan wajahku dengan muka yang agak khawatir. “Miyoung-sshi gwenchana?”
Aku tak bisa menjawabnya karena kepalaku pusing sekali melihat kilat lampu yang terang di ruangan itu. Kulihat di sekelilingku, ada Sunghyo Kikwang dan Minri Dongwoon. Kelihatannya kondisi mereka sudah lebih membaik dariku.
“Miyoung-sshi jawab aku… apa kamu baik-baik saja?” Yoseob memegangi kedua pipiku dan bertanya dengan mata yang berkaca-kaca. Aku ingin menjawabnya, tapi…. Kekuatanku untuk bicara pun tak ada. Yoseob yang tak mendapatkan jawaban dariku, wajahnya langsung berubah menjadi sangat marah. Lalu ia berteriak kepada Doojoon dan Junhyung, “Yak! Kau tidak lihat apa keadaan yeochin ku? Dia sekarat dan kalian masih sempat-sempatnya mengobrol?! Micheoseoyo?!”
Yoseob-sshi… berhenti berteriak seperti itu, aku tidak mau mendengarnya…. Aku benci teriakan yang terlontar dari mulut seseorang, apalagi mulutmu…
Aku menyeret tubuhku sebisa mungkin untuk menghalau pertengkaran Yoseob dan Junhyung. Tapi….. tubuhku rasanya lemas sekali, aku ingin menangis karena keadaan ini.
“Miyoung mati-matian membantumu, mereka semua mati-matian membantumu. Kau tidak mengerti?!” kudengar teriakan Yoseob dari kamar Junhyung, “Apa kau lupa hyung kalau mereka manusia?! Malaikat hitam yang memberikan kekuatannya pada malaikat sejenisnya masih bisa menyimpan sedikit kekuatannya. Tapi, kau tidak lihat Miyoung hah?! Yang lainnya sudah pulih, tapi Miyoung belum! Kau harus mempertanggung jawabkannya!”
“Noona… gwenchana?” Dongwoon membantuku duduk dan memberikan segelas air putih. Aku berusaha memegangnya tapi aku terlalu lemas sehingga gelasnya terjatuh dan pecah.
Kikwang terkejut melihat kejadian ini dan ia menutup mulutnya karena syok, “Hyung…. Ini masalah serius, dia benar benar kehilangan tenaganya~!!”
Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menangis ketakutan. Aku takut kalau gelas saja aku tak bisa memegangnya, kemungkinan aku akan cacat.
Doojoon menghampiriku dengan wajah yang kritis, “Miyoung-sshi… bertahanlah. Kau pasti bisa segera pulih. Dongwoon-sshi, pinjamkan kekuatanmu. Setahuku malaikat yang berganti sayap bisa menyembuhkan.”
Dongwoon mendekatiku dan memegang kedua tanganku, sementara yang lain mengerubungiku dengan pandangan khawatir kecuali Yoseob dan Junhyung.
“Nah sekarang cobalah bangun dari sofa ini, noona pasti bisa.” Dongwoon melepaskan tangannya dan menungguku duduk. Dan benar apa yang dikatakannya, kini aku bisa bangkit dengan mudahnya.
“Ah syukurlah….” Sunghyo dan Minri berpelukan lega dan menghampiriku. “Unnie, sekarang istirahat saja dulu ya. untuk memulihkan semua kekuatanmu.”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Namun tiba-tiba terdengar suara bantingan di dalam kamar Junhyung, “Yak…. Aku tidak minta dibantu oleh siapapun ya?! kenapa kau terus-terusan menyalahkan aku hah?!”
“Karena kau malaikat hitam paling menjengkelkan yang pernah aku ketahui! Kau ditolong tapi tidak pernah mengucapkan terima kasih!” teriak Yoseob, “Aku tidak suka punya pasangan seperti….”
“Uhu~ uhuhuhuhuhuhu Yoseob~~ Yoseob~~!!” aku menangis lagi mendengar teriakan Yoseob di dalam kamar itu, sungguh menyakitkan telingaku. Aku membencinya…. Sangat membencinya..
~~~~~
Park Sunghyo story…
“Uhu~ uhuhuhuhuhuhu Yoseob~~ Yoseob~~!!” unnie menangis memanggil manggil nama Yoseob berkali kali. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, unnie terdengar sangat sedih setalah mendengar pertengkaran Yoseob dan Junhyung oppa di kamar.
“Yoseobie… gomanhae~!! Gomanhae~!!!” unni menutup telinganya dan meringkuk di sofa tempat ia berbaring. Tangisannya sendu sendan meskipun tidak begitu keras.
Kikwang yang dari tadi memeluk pundakku berjalan menuju kamar Junhyung oppa dan menggebrak pintunya, “Yak Yoseob-sshi apa kau tuli hah?! Yeochin mu memanggil berkali kali dan kau juga masih sibuk mengurusi Junhyung goon?!”
Kikwang menarik Yoseob keluar dengan wajah yang marah dan menjatuhkan Yoseob di depan unnie yang masih menangis tersendu sendu. Yoseob yang tadi terlihat sangat emosi langsung berubah wajahnya menjadi khawatir.
“Miyoung-sshi…. mianhae.” Ujar Yoseob dengan nada memelas. Ia membangunkan unnie dan memeluknya. Unnie masih belum berhenti menangis, padahal Yoseob sudah memeluknya sedalam itu.
“Jebal.. jangan berteriak lagi. Aku membencinya, aku tidak menyukainya~ uuuuuhuhuhuhuhuhu~!!” ucap unnie di sela sela tangisnya, “Jangan berteriak lagi kepada Junhyung, percuma saja aku begini kalau pada akhirnya Junhyung yang disalahkan~!! Uhuhuhuhuhu~~!!”
Yoseob mengangguk pelan sambil mengelus elus kepala Miyoung unnie dengan wajah yang sedih, “Nee Miyoung-sshi… mianhanda. Aku akan minta maaf pada Junhyung goon. Apa itu cukup mengobati kesedihanmu?”
Sembari unnie mengangguk, Junhyung oppa keluar dari kamarnya, “Yeorobeun…. Gamsahabnida sudah menolongku. Kini aku sadar…. Kalau aku sebenarnya tidak sendiri. Yoseob-sshi…. Miyoung-sshi, mianhanda….”
Junhyung memeluk Yoseob dengan erat, lalu membungkuk di dekat unnie sedalam dalamnya. “Maafkan aku Miyoung, aku hampir saja merenggut masa depanmu. Mianhae…”
“Jangan bilang begitu, Junhyung-sshi… aku harus melakukannya.” Ucap Miyoung unnie sambil mengusap air matanya dan membantu Junhyung berdiri, “Kalau kau mati… apa jadinya Yoseob tanpamu? Maafkan Yoseob yang sudah membentakmu juga ya.”
Aku menghela napas lega melihat mereka yang sudah berbaikan. Kikwang menghampiriku dan memelukku lagi, “Sunghyo-sshi… apa kamu merasa lelah? Bagaimana kalau kita pulang saja?”
“Mmmmm aku bingung. Bagaimana denganmu Minri-sshi?” tanya kepada Minri yang duduk di dekat TV sementara Dongwoon memijati pundak Minri dengan lembut.
“Mungkin sebentar lagi aku akan pulang. Aku belum bilang ke appa dan ummaku kalau aku bolos kerja dan pergi kemari.” Jawab Minri, “Eit pelan pelan sedikit, jangan terlalu keras.”
Kikwang mengelus rambutku lembut, “Ah Sunghyo ku…. Aku tidak tahu kalau kamu mengalami hal yang sama seperti Miyoung noona. Mungkin aku bisa lebih gila daripada Yoseob.”
“Kamu yang memberikan aku kekuatan Kikwang-sshi… gomawo,” aku mengelus lengannya yang berotot dan pergi ke dapur melihat Doojoon oppa yang sedang memasak sendirian.
“Oh Sunghyo-sshi…. aku sedang membuat makanan untuk kalian semua yang kelelahan hari ini,” kata Doojoon oppa. “Sebelum pulang kita makan bersama dulu ya?”
“Baiklah kalau oppa memaksa, lagipula aku juga lapar. Hehehehe.” Jawabku sambil mengamati apa yang dimasak oleh oppa.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa~!!! Doojoon oppa!!” tiba-tiba Minri berteriak dari ruang tamu, “Junhyung oppa pingsan lagi!!”
Aku dan Doojoon oppa yang ada di dapur segera menghampiri tubuh Junhyung oppa yang tergeletak lagi. Doojoon oppa menggendongnya ke dalam kamar dan membiarkan lampu menyala.
“Sepertinya sudah tidak bisa ditolong lagi.” Ucap oppa kecewa, “Ia akan mati dalam waktu 3 hari.”
~~~~~
Shin Hyunyoung story….
Astaga…….
Kenapa aku merasa….. ada sesuatu yang tidak enak menghampiriku??
“Yak Hyuncat, kamu tidak memakannya?” tanya Hyunseung oppa yang sedang sibuk menyumpit nasi dan lauknya, “Makanan buatanku tidak enak ya?”
“Kojimal…. Lihat, aku sudah menghabiskan setengah porsiku,” jawabku sambil menunjukkan mangkukku, “Hanya saja….. tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tidak enak..”
Hyunseung oppa menyumpit nasinya dan mengunyah pelan-pelan, “Hm? Perasaan apa itu?”
Aku menggeleng bingung, “Entahlah….. perasaan yang membuatku khawatir. Apa Doojoon oppa baik-baik saja ya? dia tadi tidak ada dirumah ketika kita sudah sampai kan?”
“Nee… kalau ia kenapa-napa pasti ada tanda disekitarku.” Jawab Hyunseung oppa, “Makan saja dulu, nanti kita cari tahu ya?”
Aku mengangguk dan menghabiskan sisa nasiku yang terakhir. Kenapa ya bisa seperti ini? Aku tidak mengerti, mungkin karena ini adalah pengalaman pertama mendapat perasaan aneh seperti ini.
“Oppa….” Panggilku, “Bagaimana hubunganmu dengan Junhyung oppa?”
Hyunseung oppa yang sedang mencuci piring berteriak dari dapur, “Aku tak pernah mau berkomunikasi dengannya lagi setelah ia mencoba merebutmu. Memangnya kenapa?”
Aku termenung menatapi mangkukku yang kini sudah putih dan kosong, “Apa….. sebaiknya oppa memaafkan dia? Kan waktu itu dia tak sengaja,”
“Haruskah?” tanya Hyunseung oppa yang sudah selesai mencuci piring dan kemudian menghampiriku, “Aku tidak bisa melakukannya, karena dia jelas-jelas melecehkanku. Dia berpikir kalau aku bukan namja yang pantas untukmu kan?”
Aku mengeryitkan alisku dengan bingung, “Oppa… tidak semua orang melakukan itu karena dia berpikir seperti yang oppa katakan. Mungkin saja mereka berpikir kalau….. mereka benar-benar…..”
“Hm? Kenapa kau membicarakan dia terus?” tanya Hyunseung oppa dengan wajah yang kurang senang, “Kau menyukainya?”
Hyunseung oppa memegangi rahang dan pipiku, lalu menatap mataku dalam-dalam. “Kamu tahu kan kalau aku kekasihmu? Bukan orang lain?”
“Oh…. Ohahahaha waw, aku tak menyangka oppa akan bilang begitu,” aku berusaha mencairkan sifat keposesifannya yang tiba-tiba muncul itu, “Dia juga oppaku, temannya Doojoon oppa. Jadi kalian tak seharusnya bertengkar. Itu saja yang ingin kuberi tahu.”
Hyunseung oppa melepaskan tangannya dari rahangku, “Aku tidak akan memaafkannya sebelum ia datang dan memohon padaku. Karena….. aku tidak akan dihukum kan? Itu kan bukan salahku.”
Suasana menjadi tidak enak. Aku diam dan oppa diam. Aku menggaruk garuk kepalaku bingung, kenapa tiba-tiba aku membicarakan Junhyung oppa dan…. Kenapa tiba-tiba membahas tentang mereka berdua. Astaga, Hyunseung oppa sepertinya marah padaku. Bagaimana ini, aku takutttt~~
“Oppa, mian…..” aku menarik tangan namja yang lembut ini dan mencium pundaknya, “Sepertinya kamu kelelahan dan….. banyak pikiran.”
Hyunseung oppa mengangguk, “Lumayan… tadi tiba-tiba Minri meninggalkanku kerja sendirian disaat Kikwang tidak ada. Katanya ia dijemput Dongwoon, tapi aku tidak tahu mereka kemana.”
“Loh, bukannya Dongwoon Yoseob dan Miyoung unnie kesana karena ada masalah?” tanyaku juga bingung. Hyunseung oppa menggeleng pelan mendengar jawabanku.
“Anii… semuanya baik-baik saja di taman ria, benarkah mereka bilang begitu?”
Wajahku agak mengeras setelah mendengar Hyunseung oppa mengatakan hal itu, KENAPA MEREKA BERBOHONG SIH?! Dan apa sebabnya?
“Yak… kenapa harus memikirkannya? Kalau mereka memang punya urusan tidak apa-apa kan?” ucap Hyunseung oppa sambil mengelus elus puncak kepalaku.
“Jangan cuek begitu sih. Mereka orang-orang yang memperhatikan kita saat kita sedang kesusahan.” Ucapku sambil menyenderkan diri di sofa, “Doojoon oppa mana sih? Aku sudah mengantuk nih mau tidur.”
Hyunseung memencet mencet pundakku dengan wajah yang lucu, “Tidur saja. Nanti aku bukakan pintu buat hyung, jangan khawatir.”
Aku membangkitkan kepalaku dari lengan sofa dan merosot ke pundak Hyunseung oppa, “Ppopo…”
“Mwo, ppopo?” tanya Hyunseung oppa tidak percaya, “Ciuman sebelum tidur? Hehehehe”
Hyunseung oppa mengecup bibirku, pipiku, dahiku, dan kelopak mataku, “Sudah kan? Kaja kaja…. Ayo cepat tidur, jangan mentang-mentang besok hari libur~ nanti kalau kemalaman bisa sakit.”
Aku nyengir dan segera memasuki kamarku, namun tiba-tiba pintu dibuka dan terlihat Doojoon oppa masuk dengan wajah yang lelah.
“Nawasseo..”
“Oh hyung, aku sedang menyuruh Hyunyoung untuk tidur nih.” Kata Hyuseung oppa, “Ada yang bisa aku bantu?”
Doojoon menatapiku dan Hyunseung oppa bergantian, “Aku mau air hangat untuk mandi dan makan malam. Tidak keberatan kan untuk membuatnya? Sekalian aku ingin bicara padamu, Hyun.”
“Aku yang buatkan ya oppa. Kittyoppa duduk saja disana, oke?” aku menghalau Hyunseung oppa ke dapur untuk membuatkan air hangat. Namun….
“Anii… Hyunseung saja yang buat. Kamu kan sudah mau tidur, sudah sikat gigi belum?” tanya Doojoon oppa padaku. Dan….. ia berbicara kepada Hyunseung oppa dengan bahasa yang berbeda. Bahasa malaikat baru kah? Mana Hyunseung oppa tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah pula…
“Baiklah, aku sikat gigi dulu.” Jawabku murung, “Oppa, jangan lupa dibereskan ya kalau sudah masak. Jaelgeyo, saranghae…”
Hyunseung mengangguk dan mencium puncak kepalaku, “Yak… jangan murung begitu kenapa?”
“Bahasa apa lagi itu? Kok aku tidak mengerti? Aku yakin itu bukan bahasa malaikat yang sehari-hari kalian gunakan kan?” ujarku was was. “ Ada apa sih, kenapa Doojoon oppa sepertinya menyembunyikan sesuatu dariku?”
Doojoon oppa menepuk pundakku dengan ramah, “Anii…. Ini masalah internal, bukannya aku tidak mau memberitahu. Tapi….. ini murni masalah diantara para malaikat, jadi jangan marah ya….”
“Kureyo….. sana sana tidur, tadi kan sudah kuberi ppopo yang banyak~” kata Hyunseung oppa dengan senyumnya yang lembut dan manis, “Good night Hyuncat.”
Aku masuk ke kamar dan menyelimuti tubuhku dengan secarik selimut. Aku tidak bisa tidur karena dua namja itu bicara dengan logat yang cepat dan….. sepertinya menyangkut hal yang sangat serius.
“Ah mwoya….. kenapa aku tidak boleh tahu?” ujarku kalut. Lalu…. Apa tadi yang ada di dalam benakku. Kenapa dari tadi aku membicarakan Junhyung oppa segera setalah perasaan tidak enak itu muncul?
“Ah… uniie, beri aku kekuatanmu untuk mendengarkan pembicaraan mereka,” gumamku sambil berjingkat dan menempelkan telingaku di pintu; berusaha mendengarkan dan memahami apa yang mereka bicarakan.
“Kalau tidak… pasangannya bisa mati.” Terdengar suara Doojoon oppa. “Seserius itukah? Lalu… bagaimana cara menyembuhkannya?” terdengar suara Hyunseung oppa.
Tiba-tiba lampu kamar mati, dan terlihat cahaya putih yang redup di ruang tamu. Sepertinya dua namja itu berubah menjadi wujud aslinya dan berbicara secara pribadi….
Ah……. Sungguh aku penasaran~!!! Apa sih yang sebenarnya terjadi?? Pasangan siapa yang akan mati?? Seirus bagaimana sih?? Ah…. Mollaeyo~
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar