Minggu, 15 Mei 2011

The Dark and The Light Wings (Chapter 21)

Shin Hyunyoung story….

“Selamat pagi Doojoon oppa,” aku menyapa oppa yang pagi-pagi sudah melakukan sit up hariannya, “Hari ini tidak ke pantai?”
Doojoon oppa yang masih berkonsentrasi dengan sit up nya tidak menjawabku, lalu aku pergi ke ruang makan dan menemukan stik Barbeque lengkap dengan sausnya.
“Waw, ini oppa yang membuatnya? Astaga….. aku tak menyangka.” Ucapku pada diri sendiri. Aku mengambil seporsi daging dan siap untuk memakannya, namun tiba-tiba seluruh cahaya yang ada di rumah meredup dan… mati.
“Oh jesonghabnida, sepertinya kekuatanku sudah terlalu banyak untuk tugas hari ini,” jawab Doojoon oppa yang masih sibuk di ruang TV dan dalam sekejap lampu-lampu kembali nyala. Hem, mungkin aku harus terbiasa dengan semua ini.
Doojoon oppa duduk disebelahku dengan wajah yang berkeringat dan menatapiku yang sedang makan, “Enakkah? Aku baru pertama kali mencoba membuatnya setelah berguru dengan Sunghyo.”
Aku mengangguk cukup antusias, “Masita, enak sekali~!!” jawabku “Pasti Hyunri unnie akan senang kalau melihat oppa sudah pintar memasak. Oh iya, oppa dapat salam darinya.”
“Oh… jinjjaeyo?” tanyanya dengan nada yang agak rendah, “Aku…… lupa untuk meminta maaf padamu Hyunyoungie. Karena aku telah memperlakukan unniemu dengan buruk di masa lalu.”
“Sudahlah, tidak perlu disedihkan. Tapi… apakah itu benar?” tanyaku sambil masih mengunyah barbeque dengan nikmat.
Doojoon oppa mengangguk dengan ragu, “Nee…… aku…. Waktu itu…. Bukannya tidak ingin memberitahu, tapi…. Aku sudah cinta mati kepada Hyunri. Aku takut ia marah dan memutuskanku tanpa ada ikatan lagi diantara kami, nyawaku bisa dicabut kalau begitu….”
Aku mendengarkan cerita Doojoon oppa dengan rasa penuh simpati, “mianhae oppa, kemarin aku sungguh kalut sehingga pikiranku entah kenapa dan….. karena kecelakaan itu, aku nyaris mati dan membuatmu dua kali lebih sedih. mianhaeyo”
Oppa mengacak acak rambutnya dan mencium keningku untuk yang pertama kalinya, “Nee, aku maafkan. Kau hampir saja membuatku bunuh diri karena kecelakaanmu itu, kalau kau menyusul Hyunri.. siapa yang akan menemaniku nanti?”
“Hahahahahaha oppa bisa saja,” jawabku. “Kan masih ada Junhyung oppa, jangan seperti itu dong.”
Tiba-tiba wajah Doojoon oppa berubah menjadi agak gelap dari yang tadi, “Ju…. Junhyung goon?”
“Em… nee, apa aku salah mengucapkan namanya?” tanyaku yang baru menyadari perubahan pada wajah Doojoon oppa.
“Aniiyo. Gwenchana,” jawabnya dengan wajah yang kurang meyakinkan, “Oh…. Sepertinya ada malaikat putih yang sedang menunggu di depan pintu.”
Aku terkejut melihat intuisi Doojoon oppa dan segera membuka pintu depan. Benar saja, Hyun oppa sudah menunggu di depan pintu.
“Oh…. Apa bel nya sudah berdering dari tadi? Padahal kurasa aku belum memencet belnya,” jawab Hyunseung oppa dengan wajah yang polos, “Oh ngomong-ngomong…. Selamat pagi Hyuncat.”
Hyunseung oppa mencium pipiku lambat-lambat, disertai dengan kecanggungan. “Selamat pagi… ayo masuk, hari ini Doojoon oppa membuat barbeque loh. Oppa belum makan kan?”
“Belum…. Soalnya masakanku nggak enak, aku lebih suka masakanmu.” Jawab Hyunseung oppa sambil tersenyum malu-malu. Aku mengajaknya masuk ke dalam dan segera memberikan piring untuknya.
Ya Tuhan… terimakasih sudah mengembalikan Hyun oppa kepadaku, aku sangat senaaaaang sekali~~

~~~~~

Park Sunghyo story….

“Kikwang-sshi…. uljimma, mmmmmmmmmmmmmmmmmh….”
Aku berusaha menahan diriku yang akan meledak karena Kikwang tidak berhenti menciumi leherku dan mendenguskan nafasnya di telingaku. “Nanti ya… aku belum selesai.”
Aku memejamkan mata menunggu Kikwang puas menciumi leher dan menjamah jamah semua bagian tubuhku tanpa tersisa. Kini ia membenamkan bibirnya yang tebal ke bibirku, menarik rambutku pelan sembari memasukkan lidahnya ke dalam kerongkonganku. Dan yang bisa kulakukan hanya melingkarkan tanganku di pinggangnya dan sedikit mencakar kalau Kikwang menggigit bibirku.
“Yak…. Kau ingin semua ruangan mati lampu ya?” ujar Kikwang sambil setengah tertawa, “Kalau kamu pegang-pegang terus, nanti sayapku keluar dan semua listrik padam.”
“Habis kamu….. membuat aku mati kutu. Aku kehabisan napas nih,” aku menjawab Kikwang dengan nada yang terengah engah, “Tapi…. Kita tidak perlu melakukan….. itu kan?”
Kikwang mengangguk pelan dan kembali melumat bibirku, menjamahi tubuhku sambil masih melenguh lenguh kecil di telingaku. Membuatku harus menahan nafsuku, kalau tidak…. Semuanya bisa kacau.
“Aduuuuh~~ aduuuuh~~ jagiya, mmmmh….” Kini Kikwang yang lemas karena aku memainkan dada dan perut berototnya, kuciumi dan kujilati dengan nafsu, disertai dengan desahan desahan kecil karena… sepertinya aku ingin sekali melakukannya, dan….
“Jakkaman, itu… HPmu berbunyi.” Tanya Kikwang sambil menengok kea rah HPku, aku menarik selimut untuk menutupi dadaku yang telajang.
“Ah… siapa ya yang mengirim pesan? Padahal sedang senang-senang…..”
Aku terkejut melihat pesan yang tertera di HPku,

From: Junhyung oppa

Jebal… tolong aku.


.....

“Ada apa dengan Junhyung goon?” tanya Kikwang yang menggendongku di balik sayap sayapnya, “Kenapa dia sampai mengirim pesan seperti itu?”
“Mollaeyo Kikwang-sshi… makanya lebih baik kita segera mencari tahu dengan berkunjung ke rumahnya,” jawabku.
Kikwang segera turun pelan-pelan menembus awan awan yang agak kelabu, lalu turun di depan rumah Junhyung oppa. Aku segera membuka pagar dengan paksa, lalu membuka jendela kamarnya yang sedikit terbuka dan melesat masuk.
“Yak~!! Tidak boleh tahu, menerobos rumah orang seperti itu~!!” sahut Kikwang di luar rumah.
“Aniiyo, bukan maksud untuk menerobos~!! Tapi kan ini daru….. aigo, Junhyung oppa?! Apa yang terjadi?!”
Aku sangat terkejut melihat Junhyung oppa yang tergeletak tak berdaya di dalam kegelapan; dengan sebuah cahaya merah di sekujur tubuhnya, “Ige mwoya? Ige mwoya oppa?!”
Junhyun oppa tidak menjawab, tubuhnya bergetar getar hebat, sementara tulisan-tulisan yang menyala nyala itu memancarkan panas yang luar biasa.
“Aigo… ini…. Sepertinya hukuman dari para petinggi. Kamu tidak tahu?” tanya Kikwang yang ternyata sudah menyusulku ke dalam rumah, “Junhyung goon memiliki catatan kriminal terparah di atas sana. Dan satu-satunya cara untuk meredakannya hanya dengan memberikan energy kita.”

~~~~~

Sun Miyoung story….

“Nih daftar barangnya,” jawabku sambil memberikan list kepada Yoseob yang kelihatannya sedang sibuk itu. Aku yang mengacungkan list di depan wajahnya jadi menurunkan tanganku dan menaruhnya di meja kasir.
“Kelihatannya kalian sedang serius sekali. Ada apa sih?” tanya Hyunyoung di meja kasir yang lain, kali ini dia juga ikut menghitung barang belanjaan membantu Yoseob, “Oh sudah ditulis ya? gamsahabnida unnie. Yak yak….. kalian kok diam saja sih? Kalian seharusnya turut berbahagia karena Hyun oppa sudah kembali kepadaku. Jangan seperti ini dong..”
Dongwoon tersenyum getir, “Mian noona, rasanya moodku hari ini sedang kurang bagus. Ada perasaan yang tidak enak menghantuiku.”
“Nado…. Aku juga,” jawab Yoseob. “Aku merasa…. Ada seseorang yang membutuhkan bantuan. Tapi, nan molla.. aku tidak tahu siapa yang harus kutolong itu,”
Aku memandangi list karyawan terbaik yang ternyata diraih Dongwoon kali ini, kuperhatikan wajah Yoseob di peringkat kedua. Hehehehehe nomu kyeopta~
“Bagaimana kalau kau tanya salah satu dari kawananmu, misalnya ke Kikwang-sshi atau siapa gitu?” usul Hyunyoung. “Aku tidak akan meragukan intuisi kalian, tapi tidak ada salahnya kan kalau bertanya?”
Hem…. Memang benar sih apa yang dikatakan Hyunyoung kalau intuisi malaikat tidak pernah salah. Apalagi malaikat hitam, tapi…. Kenapa Yoseon sampai mengacuhkan aku seperti itu ya? ah…. Apa sekarang ini waktu yang pas untuk marah padanya?
“Kamu marah ya sama aku? Mianhaeyo.”
Tiba-tiba Yoseob sudah ada di belakangku dan bicara dengan suara besarnya. Membuatku terkejut dan limbung kea rah rak-rak makanan kaleng dan alhasil….. semua kaleng yang sudah ditata di rak terjatuh menimpaku.
“Eh eh eh? Aigooooo jesonghabnida Miyoungie, kamu tidak terluka kan?” Yoseob membantuku bangkit dari tumpukan kaleng dan memeriksa tiap inchi tubuhku.
Aku menggeleng untuk memastikan supaya ia tidak terlalu khawatir, “Gwenchana… yasudah aku mau membereskan ini dulu. Fufufufu big trouble.”
Yoseob membantuku membereskan barang-barang tanpa suara, “Tapi…. Jeongmal, aku merasakan ada hal yang….
Tiba-tiba banyak suara HP yang berdenting denting di dalam loker kami, termasuk juga dengan HPku. Aku, Dongwoon dan Yoseob segera mengambil HP dari loker kami masing-masing
“Kenapa bisa berbarengan begitu ya?” jawab Dongwoon sambil tertawa tawa, “Ah paling dari….”

From: Kikwang

Ppali pergi kerumah Junhyung goon. He’s dying, dan aku minta bantuan kalian semua. Oh iya, jangan beritahukan hal ini kepada Hyunyoung-sshi. arra?


“Kamu dapat pesan ini juga?” tanya Yoseob. Aku mengaangguk ragu-ragu sekaligus khawatir, apa yang terjadi dengan Junhyung ya?
“Hyung… ottokke? Apa kita bilang saja kalau Minri mendapat masalah di taman ria dan kita harus menjemputnya?” tanya Dongwoon, “Kata Kikwang hyung, kita tidak bisa memberitahu Hyunyoung noona.”
Yoseob mengangguk sambil merangkul pundakku, “Oke, kita jalankan rencana yang aku buat. Arra? Begini caraku.”

~~~~~

Min Minri story….

From: nae Arabian namja

Noona, jakkaman. Aku sedang dalam perjalanan menuju kesana bersama Yoseob hyung dan Miyoung noona. Tunggu saja ya di depan parkiran.


“Sayang sekali ya kali ini kau tidak bisa menemaniku sampai pekerjaan tim kita selesai.” Ujar Hyunseung oppa, “Otomatis aku kerja tanpamu dan Kikwang deh.”
Aku menunduk dalam-dalam, “Ah jesonghabnida oppa. Kalau tidak se darurat ini, mungkin aku bisa meninggalkannya.”
“Gwenchana. Tapi…… memangnya kenapa sih Dongwoon sampai sebegitunya ingin bertemu denganmu sampai-sampai….”
“Ah itu Dongwoonie~” aku memotong perkataan Hyunseung oppa, “Aku pergi ya oppa, jeongmal jesonghabnida.”

.....

“Dongwoonie, apa yang terjadi dengan Junhyung oppa? Kenapa seluruh tubuhnya menyala seperti itu?” tanyaku ketakutan. Kami sudah sampai di rumah Junhyung oppa dan menyaksikan beliau yang tersungkur di lantai dikelilingi percikan panas yang muncul dari tulisan di tangan, dada, bahkan tatonya.
“Dengar ya, aku minta tolong kalian disini untuk membantu Junhyung. Ia dalam kondisi kritis,” Doojoon oppa yang turut hadir disana memberikan arahan. “Aku butuh Sunghyo, Minri, Miyoung dan Kikwang untuk memberikan seluruh energinya untuk Junhyung. Arrajie?”
“Memberikan energy Minri noona? Andwae hyung, aku tidak akan mengijinkannya~!!” tiba-tiba Dongwoon menarikku jauh-jauh dari tubuh Junhyung oppa. “Noonaku tidak punya banyak energy untuk membantu Junhyung goon. Keadaan fisiknya terlalu lemah, beliau bisa mati!”
Kikwang berdecak kesal, “Ya mau bagaimana lagi?! Malaikat putih tidak bisa memberikan kekuatannya~!! Kalau Junhyung goon dibiarkan seperti ini, otomatis Yoseob akan mengalami hal yang sama. Tolong mengertilah!!”
Dongwoon masih belum melepaskan genggaman tangannya yang semakin menguat di pergelangan tanganku. Tapi… melihat Sunghyo dan Miyoung unnie yang sudah bersiap, aku tak bisa tinggal diam begitu saja.
“Em… Dongwoon-sshi, gwenchana.” Aku melepaskan genggaman tangannya pelan-pelan, “Aku pasti bisa, ini demi Yoseob dan Junhyung oppa. Jadi kita tidak boleh egois dan harus berusaha semaksimal mungkin, oke?”
Akhirnya Dongwoon memperbolehkanku sembari mencium keningku sebelum aku mendekati Junhyung oppa, “Noona harus kembali padaku, harus!” ujarnya.
“Oke, siap-siap dalam hitungan ketiga, pegang tanda yang menyala di tubuhnya.” Ucap Doojoon oppa member komando, “Hana… dul…. Set!”
Aku, Miyoung unnie dan Sunghyo memegangi tatonya. Dan dalam sekejap dari tato-tato itu memancarkan angin panas yang cukup besar dan dahsyat…….
Aku berusaha memberikan energiku semaksimal mungkin, sampai akhirnya….. angin panas itu berhenti dan tato-tato itu menghilangkan cahayanya.
“Noona, gwenchana? Noona? Noona!!!” hanya itu yang bisa kudengar sesaat sebelum pandanganku menjadi gelap dan tubuhku mati rasa….

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar