(Sekarang bikinnya yang novel mode, udah capek bikin drama mode. Hehe)
Shiwon’s POV
“Sumpah aku tidak percaya dengan apa yang kulihat oppaaaaaaaaaaaaaa~~ dia bergandengan tangan dengan cewek blasteran dan dia bilang itu Yeoja Chingu nya~~~ hua hua huaaaaaksss”
Kupandangi Yeoja cantik bertubuh mungil dan berambut hitam arang sebahu. Dia dongsaengku yang manja, Hyunsu. Sepertinya dia patah hati lagi kali ini
“Kau melihatnya dimana?” tanyaku sambil masih memandangi dongsaeng kecilku mengusap wajahnya dengan tisu. Di sampingnya banyak tisu bekas yang menggunung dan membuatku tidak konsentrasi menyetir.
“Aku melihatnya di jalan saat pulang dari rumah Minsu. Tadi kau masih dalam perjalanan, terus terus…. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakhhhhhh~~” ia berteriak kesal sekaligus menangis *mungkin* dan menempelkan tisu di hidungnya dalam-dalam, mungkin itu untuk mencegah ingusnya keluar
“Laki-laki itu banyak saeng. Kenapa kau harus memikirkan Taemin-ah yang usianya lebih muda darimu? Apa harus kukenalkan rekan2 bisnisku yang masih seumuran denganmu?” jawabku kesal. Aku sudah sering mendengarkan tangisan patah hati seperti ini, tapi setidaknya dia berubah dong. Dia kan sudah hampir 20 tahun.
Ia menggeleng geleng pelan, “anii oppa, mian harus mendengarkan aku yang lagi2 rewel.” Ucapnya. Ooooooh akhirnya ia mengakui kalau dirinya memang rewel *senyum kemenangan* hahaha
“Gwaechanhayo dongsaengku yang cantik.” Jawabku dengan senyum yang puas. “Bagaimana kalau kau ikut ke peresmian Departemen Store Hyundai yang ke 100 bersamaku nanti malam?”
Ia mengangguk dengan senyum malaikatnya. Meskipun mata dan hidungnya masih merah dan basah karena tangisan
.....
Pukul 8 malam…
Perayaan yang diadakan Appa sangat meriah. Peresmian Departement Store Hyundai yang ke 100 mengundang banyak konglomerat, termasuk Appa dari keluarga Cho. Tapi berhubung hanya Kyuhyun yang ada di Korea, maka ia ikut berpartisipasi mewakili Appanya
“Selamat atas kesuksesan Appamu hyung. Dan semoga Swalayan yang ke 100 ini membawa keberuntungan.” Kyuhyun memberikan satu gelas minuman dan kami bersulang. Hari ini dia tampak gagah dengan jas biru dongker dan potongan rambut model spike nya. Sangat elegan..
“Gamsahabnida Kyuhyun-sshi, apa kabar keluargamu di Amerika?” tanyaku penuh antusias
“Mereka baik2 saja di sana. Noona ku akan melanjutkan S3 disana, semoga nanti aku bisa menyusul.” Jawab Kyuhyun. “Ngomong2 mana Hyunsu-sshi?”
“Dimana ya? entahlah. Sejak tadi dia suka sendirian.” Aku mencari cari diantara kerumunan para Ahjusshi dan Ahjumma yang berseliweran. “Nee, itu dia. Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak~~!! Dongsaeng!”
Wajah dongsaengku hari ini masih terlihat sedih, namun tatanan perias pribadinya berhasil membuat mata sembapnya hilang. Dia tampil glamour dengan dress hitam tali spaghetti nya, aku bangga mempunyai dongsaeng sepertinya.
“nee Oppa, tidak usah sambil berteriak-teriak begi..” wajahnya yang cemberut tiba2 menjadi sumringah saat melihat Kyuhyun yang berdiri di sebelahku, “Ahh~ annyeong haseo Kyuhyun oppa.”
Hal yang sama juga dialami oleh Kyuhyun. Ia tidak berhenti nyengir dan tersenyum, “Annyeong Hyunsu-sshi. neon aleumdawo, sangat cantik.” Jawab Kyuhyun terpesona. Hyunsu hanya tertawa kecil sambil memencet mencet pipinya
Hem, kalau dia seperti itu berarti dia sedang jatuh cinta.. dasar dongsaengku yang aneh. Beberapa jam yang lalu menangis patah hati, sekarang memencet mencet pipi seperti itu *sigh*
~~~~~
Onew Appa’s POV
Pagi ini tenang sekali, padahal hari ini bukan hari Minggu. Aku menikmati jus jambu yang disediakan Key sambil menonton TV dengan pakaian yang rapih dan siap untuk pergi ke kantor
“Selamat pagi Appa.” Sapa putri tercantikku Minsu, semakin hari ia terlihat semakin dewasa. Mungkin karena sebentar lagi ia akan menginjak usia ke 20.
“Pagi sayang.. mana oppa, dan dongsaengmu? Mereka kok belum turun?”
“Mungkin mereka sedang berpakaian. Nah itu Taemin sudah mau turun.” Jawabnya sambil melihat Taemin, putra bungsu ku yang sudah rapi dengan pakaian seragamnya. aku mengelus kepalanya saat ia turun untuk menyapaku.
“Selamat pagi Appa… hari ini cukup menyenangkan.” Jawabnya
“Oh syukurlah. Memang ada apa sampai kau senang begitu?” tanyaku penasaran.
“Aku mau menjemput Emma, Appa. Aku boleh pinjam mobilnya ya?” jawabnya dengan wajah gembira
“Emma? Siapa itu Appa?” tanya Minsu penasaran, sementara Taemin dan Jonghyun yang baru turun dari kamar, segera ke ruang makan
“Dia Yeoja Chingu nya Taemin, sayang. Kau tidak tahu?” jawabku. “Dia tidak mau kalah denganmu dan Jonghyun.”
“Astaga, belum lulus SMA sudah pacaran. Ckckck” komentar Minsu sambil mengajakku ke ruang makan. “Appa tidak melarangnya?”
“Selama pacaran mereka masih wajar, Appa setuju setuju saja.” Ujarku sambil mencomot 2 potong tahu dengan tangan kiriku yang kini sudah pulih total. “Dia kan laki2. Sebisa mungkin pacaran di masa muda, hahaha”
“Tapi asal tidak lupa belajar,” sahut Key yang sibuk menyiapkan sepiring nasi untuk kami semua, “Prestasi Taemin tidak boleh turun ya sayang?”
“Nee, Umma… oh, Minho hyung hari ini tidak terbentur pilar pintu~~ dia menunduk loooh~ aigoo” tiba2 Taemin bersorak sambil memandangi Minho, putraku yang berbadan tinggi dan tampan.
“Apa aku harus terpentok pilar pintu terus?” komentar Minho, “Oh iya Appa, Heechul hyung sudah menunggu Minsu di ruang tamu. Tolong temani dia ya, Appa makan di ruang tamu saja.”
Aku yang sedang mengunyah terpaku sebentar, lalu dengan mantap membawa piring ke ruang tamu. Disana ada pria dewasa dengan t-shirt dan celana jeans duduk manis di ruang tamu
“Annyeong haseo Ahjusshi, Kim Heechul imnida.. silahkan makan saja dulu kalau berkenan, saya sedang menunggu Minsu” sapanya ramah sekaligus panjang. Ia menyalami tanganku mantap dan menghempaskan tubuhnya dengan nyaman di sofa. Whoaaaaa pria ini tampan sekali, sepertinya sudah separuh baya
“Baiklah, saya menghabiskan makanan saya dulu ya.” aku cepat2 menyendoki nasi yang masih tersisa di piring dan kembali berbicara dengan Heechul, “Kau sudah bekerja?”
“Nee. Saya dosen di Universitas almamater saya.” Jawabnya sambil tersenyum, “Sudah lama saya ingin bertemu Appa nya Minsu, tapi ia tidak mengijinkan saya.”
“mwo? Kok bisa begitu? Aku tidak akan marah atau menggigit…..”
“Jagiya, buat apa kamu membicarakan omonganku di depan Appa???” terdengar suara putriku yang keras dan tegas. “Aku kan maluuuuuuuu~~” ia menghampiri Heechul dan memukul mukuli nya gemas. Aku hanya bisa terbengong bengong melihat putriku yang satu ini bertingkah seperti itu..
“ahahahahaha…. Aku kan Cuma mau kenal dengan Appamu, ya kan Ahjusshi?” tanya Heechul. Kujawab dengan anggukan pelan dan itu membuat Minsu semakin grogi.
“eh? Em… hahaha Appa. Aku kan malu~~” jawabnya sambil tersenyum, “Yasudah ya, aku mau berangkat dulu.” Ia mencium tanganku dan bergegas pergi
“Hati-hati di jalan Jagiya.” Sahutku sebelum ia keluar dari pintu rumah…
Ya Tuhan, kenapa putriku mau berpacaran dengan dosen ya?
~~~~~
Kangin’s POV
“Yakk~~!!! Latihan cukup sampai disini saja!!” teriakku. Suasana tempat latihan menjadi panas dan bau keringat, semua murid-murid berbaris dan menunduk kepadaku
“Gamsahabnida!!!!”
Aku membungkuk balik kepada murid2ku, seraya mereka berhamburan dan segera ke ruang ganti.
Begitulah kebiasaan yang dilakukan setiap hari Jumat, aku mengajar ekstrakulikuler Judo di Chungdam High School. Sekolah elit di Seoul…
Sekaligus sekolah seorang Namja yang bernama Lee Taemin, dongsaeng dari Lee Minsu. Orang yang kusukai.
“Kangin-ah. Tadi latihannya keren sekali, tapi… bisakah ruangan ini bersih kembali dalam waktu 30 menit?” muncul seorang guru muda bertubuh langsing dan seksi. dia Jung Hina, Pelatih ekskul dance di Chungdam. Banyak sekali Namja yang menyukainya.
“Hina-ah? Baiklah, aku akan segera menyuruh murid2 bergegas.” Jawabku sambil melirik sedikit kea rah perutnya yang memang sengaja terbuka. Guru muda ini selalu memperlihatkan bagian tubuhnya yang indah2 terutama bagian perut, ia selalu memakai baju pendek longgar yang mengetat di bagian bawah dada. Dibelakangnya ada Taemin yang sedang bersiap siap…
“Yaa Taemin-sshi.” Panggilku, ia segera mendekatiku pelan-pelan.
“Ada apa Susaengnim?” jawabnya halus. Hem, dia mirip sekali dengan Minsu yang sifatnya halus dan lembut *sok tahu*
“Salam buat Minsu noona mu yang cantik ya.” aku mengedipkan mata kearahnya sementara reaksinya hanya terpaku memandangiku aneh
“Salam bagaimana, susaengnim?” jawab Taemin bingung dengan wajah polosnya, “nanti Heechul hyung bisa marah kalau aku menyampaikannya.”
ARRRRRGGGGGH THAT BASTARD!!!!! Aku lupa kalau bajingan itu sudah memiliki Minsu-ku yang cantik @#$$%%@!!# emosi ku memuncak sekali..
“Aku tidak peduli, sampaikan saja ya.” jawabku sambil berlalu untuk mengganti pakaian dan pulang ke rumah
.....
Hari sudah sore, matahari dari pegunungan terlihat indah sekali. Padahal aku belum sampai rumah, tapi pemandangan indah ini sudah bisa dilihat di depan komplek.
“Yaaak~~!!!” TIIIIIIIN TIIIIIIIIIIIIIIIN…… seseorang yang mengendarai motor hampir saja menabrakku. Kupandangi si pengendara motor sialan itu. Aaaaaaaaaaaaah, ternyata si banci sialan itu. Aku tahu benar motornya.
“Yaaaaaaak!!! Makanya kalau naik motor hati2 dong, sialan” seruku kesal.
“Kau yang harusnya memperhatikan jalanmu, disini ada trotoar.. kenapa tidak jalan disitu?” jawabnya santai. Ia melepas helmnya seperti wanita2 di iklan shampoo, menjijikkan
“Memang kau yang punya jalan ini hah? Suka suka saya mau jalan dimana!!” teriakku sambil bertolak pinggang.
“Hah, kau ini siapa sih? Berlagak seperti tinggal di komplek ini saja. Kau penghuni sini bukan?! Aku sudah 7 bulan tinggal di komplek ini!!” jawabnya lagi, hah?! Sepertinya dia benar2 melupakanku.
“Aku penghuni komplek ini juga, aku Kim Youngwoon yang waktu itu bersama Minsu di swalayan. Dan kau mengganggu kami!!” aku memberikan kata2 penalti untuknya, bagus sekali kalau dia ingat
Ia berpikir sebentar lalu berkata, “Ah, yang benar saja, Jagiya ku tidak akan mau jalan dengan pria besar dan kasar sepertimu.” Lalu menyalakan mesin motornya dan pergi keluar komplek
APA KATANYA BARUSAN?!?!?! Dasar banci baboooo~~!!! Akan kuhajar dia lain kali !@#$$%@
~~~~~
Heechul’s POV
“Whoaaaa… kau memotong rambutmu lagi?” Minsu memain mainkan rambut tipis pendekku. Ia mengangkat poni rataku dan memperhatikan kedua alisku, “Omooo, alismu lucu sekali. Seperti perempuan.”
“Sudah berapa lama sih kau pacaran denganku Jagiya, mmmm?” aku mengangkat poni sampingnya yang keriting, “astaga, jerawat di dahimu besar sekali”
“Yaaa!! Lepaskan poniku~~ aku sengaja menutupnya,” ia melepas poniku dan memukul mukul tanganku yang masih memegangi poninya “Ini kan juga gara-gara oppa.”
“mwo? Kok salahku?” tanyaku bingung, “Makanya cuci muka setiap pulang kuliah, biar wajahmu tetap halus sepertiku.” Aku membanggakan wajah putihku yang halus dan menuntun tangan Minsu untuk mengelusnya.
“wawawaaaaaa~~ jangan samakan kulitku dengan kulit halusmu yang mengerikan itu oppa” Minsu melepas tangannya dan menundukkan wajahnya kea rah dadaku, “hihihihi~~ wajahku jadi merah.”
“berikan wajahmu sini,” aku mengangkat wajah bulatnya dan mencium kelopak matanya cukup lama, lalu mengecup bibir kecilnya lembut. “Akan kubuat semakin merah, hahaha”
“Yaaaaak~~!! hyung mau berangkat jam berapa?!” seru Eunhyuk dari lantai atas, “Acara Sungmin hyung dimulai 1 jam lagi. Apa kau tidak takut macet? Malah pacaran disini”
“Nee, lebih baik kau segera berangkat Jagi..” saran Minsu, “Nanti aku pasti pulang kalau kau sudah berangkat.” Ia menaruh tangannya diatas tangan putihku.
“Janji ya, kau langsung pulang?” ujarku sambil memencet hidung mancungnya. “Jangan pacaran sama Hyukkie loh.”
“Mwo? Kenapa dikaitkan ke namaku?” Eunhyuk terlihat sangat terkejut. Ekspresinya membuat kami berdua tertawa.
.....
Mwo? Kenapa pria besar itu lagi2 menghalangi jalan mobilku sih? Tiiiiiiiiiiiiiiiin tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin, aku mengklakson sambil membuka kaca jendela mobilku, “Yaaak~~!! Minggir kau, sudah kubilang jalan di trotoar kan minggu yang lalu?!”
“Hei kau Namja, keluar kau dari mobil bangsatmu itu!!” tiba2 ia menggebrak kap mesin mobil baruku *pamer* sial, apa yang Namja itu inginkan sih?!
“Aku tidak mau, memang kenapa?” jawabku santai. Dengan kasar, ia menendang pelk mobilku, “Yaaak!! Apa yang kau lakukan terhadap mobilku, baebo??”
“Kubilang turun dari mobilmu, banci bangsat!!” serunya kasar. Apa?! Dia memanggilku banci??? Tidak terima, aku keluar dari mobil dan menubruk dadanya.
“Apa maumu hah? Aku saja tidak kenal denganmu.” Jawabku ketus, ia mendorong badanku hingga aku nyaris terhempas kea rah kap mobilku.
“Ini untukku, supaya kau mengenalku.” Tiba2 ia menerjang dan memukul tepat di pipiku, lalu melanjutkan pukulannya di perutku dan mendorongku kesal. “Jauhi Minsu, tinggalkan dia!! Dia milikku, dan jangan pernah kau peluk, cium atau melakukan hal lain dengannya!!”
“Milikmu? Kau gila?! Jelas2 dia pacarku!! Kami sudah berpacaran 5 bulan, babo!!” aku balas menghajar pipinya, memukuli perutnya yang keras dan menendang pantatnya. Ketika aku hendak memukul perutnya lagi, ia mencengkram tanganku dan hendak membantingku dalam posisi judo
“Apa aku harus menunjukkan identitasku sebagai guru judo?” jawabnya penuh kebanggaan.
Disaat tubuhku sudah separuh melayang di udara, aku mendengar jeritan Yeoja dari kejauhan.
“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Kangin oppa!! neo mwohaneungeoya?!?! Lepaskan Heechul!!”
~~~~~
Minsu’s POV
“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Kangin oppa!! Neo mwohaneungeoya?!?! Lepaskan Heechul!!” tanpa sengaja aku berteriak di jarak 2 meter di depan mereka. Aku baru saja selesai mengantarkan makanan ke rumah Kibum dan melihat mobil Heechul oppa di depan komplek, namun sekilas kulihat mereka sedang bergulat dan aku baru sadar kalau mereka berkelahi. Aku menghampiri mereka sambil setengah berlari
“Omona Jagiiii…….. kenapa wajahmu lebam2 begini? Kangin oppa, apa yang kau lakukan padanya?!” aku memeriksa keadaan Chingu ku dan bertanya kepada Kangin oppa secara kasar.
“Entahlah, aku mengklaksonnya agar dia jalan di trotoar, tapi ia malah memukul kap mesin dan menyuruhku keluar. Saat aku keluar, dia menghajarku.” Katanya sambil mengelus elus pipinya yang bengkak, lalu memelototi Kangin oppa dengan gusar
“Kau kasar sekali oppa, tidak puas apa kau bersuara sambil berteriak-teriak di telingaku dan telinga semua orang hah?! Sekarang kau malah menghajar Yeoja Chingu ku tanpa alasan seperti ini!! Maumu apa hah?!”
“Aku menginginkanmu, Minsu-sshi.” Jawabnya pelan, “Aku mau kau jadi Yeoja Chingu ku, dan tinggalkan banci ini.”
Kekesalanku sudah mencapai puncak, aku mengepalkan tanganku untuk menahan emosi, “Oppa ini tidak tahu diri apa bebal sih?? Aku kan sudah bilang kalau aku tidak bisa menerima oppa. Kenapa kau memaksakan kehendakmu seperti itu hah?!! Oppa tidak tahu diri~!!”
BUAAAAK~!! Kupukul pipi kanan Kangin oppa hingga ia terjerembap sambil tetap menatapku bingung sekaligus tidak percaya.
“Kau pikir dengan statusmu sebagai guru judo, aku takut padamu? HAH, tidak ya~!! ayo Jagi, masuk ke dalam mobil dan antar aku pulang.” Aku mendorong Heechul ke bangku setir dan menutup pintu mobil seraya berkata, “Dan Jagi ku bukan banci, arraseo?!?!?!”
.....
Aku mengambil air dingin, obat merah dan plester untuk melukai memar dan luka yang ada di wajah Heechul oppa. Aku sengaja membawanya kerumah karena aku tidak ingin di rumah Super Jjang terjadi keributan karena hal ini.
“Yaa, aku tidak apa-apa kok” jawab Heechul oppa sambil meringis menahan luka yang kutempelkan handuk basah, “jangan terlalu dikhawatirkan. Selama nyawaku belum melayang, aku akan baik2 saja.”
“Oppa tidak pandai berbohong, sudahlah diam saja, bir kuobati lukamu.” Aku membersihkan wajahnya dengan wajah yang menunduk. Aku berusaha menahan airmataku agar tidak keluar, baru pertama kalinya aku merasakan kekhawatiran yang luar biasa seperti ini. Tapi aku malu kalau harus menangis di depannya
“Minsu, gwechana? Are you ok?” ia berusaha mengangkat wajahku dan aku berkelit, namun ia mencoba mengangkat wajahku lagi dan terlihatlah wajahku yang berkaca kaca, “Jagi…. Ada apa?”
“Aku…. Benar2 takut tadi, aku memukul Kangin oppa secara refleks. Aku tidak pernah se khawatir ini, aku takut sesuatu terjadi padamu, huhuhuhuhu… hhhh.. huhuhuhu~~~” aku menangis sejadi-jadinya, aku tidak peduli mau dikatai cengeng atau semacamnya
Heechul oppa menarik lenganku lembut, “Yaa, tadi kau melakukan hal yang hebat sekali. Aku saja sampai terkejut, kamu benar2 super woman untukku.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia mendekapku lembut. “Jangan menangis lagi, jebal…. Maafkan aku sudah membuatmu khawatir, mianhae Yeobo. Saranghaeyo, sudah menjadi penolongku di saat seperti tadi.”
Aku masih terisak isak dalam kekesalan dan ketakutan, namun Heechul oppa tetap memelukku dan mengelus rambut juga punggungku.
Bisa kurasakan jantungnya berdebar keras, sekeras debaran jantungku…..
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar