Sabtu, 06 November 2010

SuSHINee Fanfict Part 16

Key Umma’s POV

“Tidak terasa ya, sudah bulan Desember.” Ucap Yeobo ku sambil merangkul pundakku. Ini masih jam 3 pagi, tapi kami berdua sudah terbangun dan berbincang-bincang di kamar.
“Tanggal 9 Desember, tidak pernah kulupa.” Jawabku smabilk tersenyum, aku jadi teringat 20 tahun yang lalu..
“Kelahiran si kembar? Whoaaa, saat itu mengangkan sekaligus seru” sahut Yeobo sambil tertawa.
“Aku jadi bernostalgia.” Jawabku, “Benar2 kenangan yang sangat membahagiakan.”

Flash Back….

“Yeobo, kenapa aku merasakan hal yang tidak enak ya? aku ingin nonton film horror.” Ujarku ke Jinki, kebiasaan ngidamku saat aneh, apalagi saat memasuki bulan ke 9.
“Yeobo, aku lelah sekali. Tadi kau minta komik horror, lalu kau menyuruhku memakai kostum Halloween yang horror dan menyuruhku menakuti seluruh isi komplek, aku capek sekali” jawab Jinki sambil menghapus make up horror nya yang menurutku imut
“Jebal Yeobo, kamu tidak mau kan anak kita meneteskan air liur terus karena ngidamku tidak dikabulkan? Jonghyun, bawakan Umma pisau dong.” Aku menyuruh Jonghyun kecil yang sedang asik menonton TV
Jonghyun hanya memandangiku dengan wajah polosnya, waktu itu ia masih berumur 1 tahun. Tanpa kumau, airmataku jatuh dan aku meraung raung menangis. Jonghyun juga ikutan menangis
“Yeobo, jangan menangis…. Jebal, suaramu terdengar sampai keluar rumah. Aku istirahat sebentar ya, nanti kubelikan DVD horror.” Pinta Jinki sambil mengelus elus kepalaku
“Huaaaaaah gajadi!!! *suara serem* aku mau pisau, pisau, pisau~~!!” teriakku seperti werewolf, sumpah aku lelah sekali menyukai hal2 seram seperti ini, tapi ini demi calon anakku. “Yaa Jjoooong, maafkan Umma ya~~ aigooo.. jangan menangis”
Jinki terbirit-birit mencari pisau sementara aku membaca komik horror yang dibelikan olehnya sembari mendudukkan Jonghyun yang sudah menghentikan tangisannya disebelahku. Jonghyun memang manis sekali.
“Ini pisaunya.” Jinki terengah engah dan menaruh pisaunya di meja tamu.
“Tolong kamu pantulkan cahaya ke pisau itu dan bergaya lah seperti seorang pembunuh gila.” Jawabku
“Mwoooooooo? Kenapa aku harus melakukan itu?” Jinki bertanya kebingungan sambil mencoba-coba menuruti kemauanku.
“menurutku para pembunuh di komik2 ini ganteng, kau harus… aduuuuuuuuuuuuuuuh~~!! Perutku sakit” aku memegangi perutku dan mendapati darah menetes di betisku
“Omooooooo ayo kita ke rumah sakit!!” jawabnya panik, “mari kubantu Yeobo.”
“Huaaaaah aku tidak mau~~!! Panggilkan Hankyung-sshi untuk membantuku. Aku ingin anakku memiliki wajah indah seperti dia.” Pintaku. Ia terdengar tidak senang, tapi ia berusaha menuruti kemauanku.
Beberapa saat kemudian, Pak Hankyung mendatangiku dan langsung memapahku ke mobil, “Annyeong haseo Key-sshi, sepertinya sudah siap dengan kelahiran anak kedua nih.”
“Iya nih, persiapannya sangat merepotkan. Mian kalo sore2 begini merepotkan Hankyung-sshi, ohohoho.” Ujarku, “Bagaimana dengan Yesung? Kalian tidak akan memberikannya adik?”
“Teuki-sshi yang tidak mau,” jawabnya. “Dia hanya menginginkan satu anak laki2, dan menurutnya mengandung anak itu menyusahkan.” Ia membantuku merebahkan diri di belakang mobil sementara Jinki dan Jonghyun sudah siap di kursi depan.
“Doakan kelahiran bayi kami sukses ya, Hankyung-ah.” Jinki menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobil keluar dari garasi
“Yee, Jinki-ah. Semoga putra atau putri keduamu tampan atau cantik ya.”jawab Pak Hankyung sambil melambaikan tangan melepas kepergian kami.

“Ketubannya pecah dan sudah bukaan ke 8. Sebaiknya Ahjusshi segera bersiap.” Ujar dokter yang menangani proses melahirkanku. Dokter itu memiliki paras yang tampan sekali *hari gene masih mikirin begituan*
Jinki mengangguk sambil menggenggam tanganku, aku dibawa ke ruang persalinan dan ia mengikutiku. “Yeobo, apa aku harus ikut? Aku takut sekali dengan proses melahirkan”
“Kalau begitu, tidak usah lah. Aku akan baik2 saja, jaga Jonghyun untukku Yeobo.” Aku mengelus tangan Jinki dan mencium kaki Jonghyun kecil dalam gendongan Jinki, “dongsaengmu akan segera lahir sayang, doakan Umma ya..”
Jonghyun hanya memandangiku sembari bayangan mereka berdua terpisahkan oleh ruang persalinan…


Flash Back End…

“Aku juga tidak percaya kalau kita akan punya anak kembar identik berbeda jenis kelamin. Itu langka sekali.” Ucap Jinki sambil menatapiku, “Kupikir kita akan mempunyai kembar 4”
Aku menepok lengan Yeobo yang putih, “Memangnya perut hamilku sebesar apa sampai kau bilang kita akan punya kembar 4? Eh… sudah jam 5.”
“Tapi yang jelas itu menunjukkan kalau aku hebat, hehehe” celetuk Yeobo nakal.
“Hah, hebatan aku yang mengandung dooong~~ kan DNA mereka lebih dominan mengikutiku.” Sanggahku
“Tidak semuanya, mungkin Minsu mengikuti DNA mu yang galak dan liar, tapi Minho mewarisi DNA ku yang pendiam, tukang melamun dan…. Ganteng. Hahaha”
Aku mencubit pipi Jinki “Emmmmmmh kamu bisa saja, ayo kita keluar.” Aku mengajak Jinki keluar dari kamar dan membantuku memasak, “Hari ini aku mau memasakkan boukkeumbap untuk kita.”
Saat aku memasuki dapur, kulihat Minho tertidur di ruang makan. “Astaga, Minho, banguun… kok kamu tidur disini? Nanti kamu masuk angin.”
“mwo? Ah Umma… kok aku bisa ada disini ya?” ia mengucek ucek matanya sambil melihat ke arah sekitar, “Entah, tadi dalam mimpiku, aku ingin makan segera. Aku ingin makan masakan Umma.”
Aku mengelus elus rambut Minho yang kini menjadi pendek, putraku ini benar-benar tampan sampai sekarang…
Aku mencium pipinya dan memeluknya hangat. Mungkin ia agak terkejut, tapi inilah perasaanku sebenarnya.
“Saengil Chukkae Hamnida, Minho… Umma menyayangimu dari kecil, sampai sekarang saat umurmu sudah 20 tahun. Umma akan selalu menyayangimu selamanya,”
Minho mengelus elus lenganku yang melingkar di lehernya, “Gomawo Umma, Saranghaeyo..”

Minho’s POV

“Saengil Chukkae Hamnida, Minho.” Umma memelukku sambil berdiri, ia melingkarkan lengannya di leherku. “Umma menyayangimu dari kecil, sampai sekarang saat umurmu sudah 20 tahun. Umma akan selalu menyayangimu selamanya.”
Aku yang masih mengantuk sesaat tersadar kalau hari ini ulang tahunku. Aku tersenyum simpul sambil mengelus lengan Umma yang melingkar di leherku, “Gomawo Umma, Saranghaeyo..”
Umma hanya mengulum tawa dan mencium pipiku, “Meskipun kamu sudah 20 tahun, Umma masih bisa kan mencium pipimu?” tanya nya sambil tertawa dan menghilang ke dapur
“Yah…. Hanya di dalam rumah, Umma~~!” jawabku sambil tertawa.
Appa menepuk pundakku dan menyuruhku untuk berdiri, “Saengil Chukka Hamnida putraku yang tampan.” Ucapnya sambil memelukku sebagai seorang pria *cieee*
“Gamsahabnida Appa, saranghae,” aku tersenyum tipis di balik pelukan Appa, “Aku janji tidak akan telat menjemput Appa lagi. “
Appa hanya tertawa seperti biasa, “Yasudah sekarang kamu mandi dulu ya,”


“Saengil Chukkae ya, dongsaengku.” Ujar Minsu yang hari ini berangkat kuliah denganku. Padahal ini ulang tahun kami, tapi wajahnya terlihat suram. “Semoga di umur ke 20 ini, kamu dapat pacar dan tidak terbentur pilar pintu lagi ya.”
“Nee, Saengil Chukkae juga untukmu Minsu.” Jawabku “jangan pacaran terus. Sisakan waktumu buat keluarga dan terutama aku. Kita kan kembar, kita harus selalu bersama.” saat aku keluar dari mobil dan hendak mengambil bukuku di kursi belakang, Minsu memelukku dengan wajah yang sedih, ada apa ya?
“Ehmm ehm…. Jadi ceritanya teman kembar kita sudah mesra lagi ya?” sahut seseorang dari belakang, saat ku tengok ternyata itu adalah Hyunsu dan seorang Yeoja yang rasanya familiar di mataku
“Hyunsu-sshi, kita kan sedang merayakan ulang tahun kita. Biarkan saja lah,” Minsu membelaku dengan wajah yang agak kesal. “Kami sama2 mengucapkan, bukan seperti Heechul oppa yang kerjaannya marah terus itu”
“Mwo? Yang benar saja… yasudahlah tidak usah dipikirkan, saengil chukka ya kalian berdua.” Hyunsu memeluk Minsu dan menjabat tanganku, “Oh iya, kenalkan ini sepupuku Choi Yoora. Dia baru masuk tahun ini.”
“Nee. Minho imnida,” aku menjabat tangannya. “Kamu dari SMA mana?”
“Aku…. Pindahan dari Incheon oppa, aku sudah mendengar banyak tentang kalian dari Hyunsu eonni.” Jawabnya malu2, pipinya bersemu menjadi pink karena udara yang menggigit.
“Nee, kalau kau butuh bantuan selama disini… minta tolong sama kami saja,” kata Minsu. “Kamu di jurusan mana?”
“Aku jurusan English litelature.” Jawabnya sambil memasukkan hidungnya ke dalam syal. Lucu sekali anak ini..
“Omo? Wah berarti Minho senior mu” ujar Minsu, “Kalau ada yang kesulitan, tanyakan saja pada oppa yang tampan ini”
Yeoja itu mengangguk sambil memasukkan hidungnya lagi ke dalam syal, uap nafasnya terlihat. Wajahnya berubah menjadi pink, imut sekali..
“Nee… berhubung kalian satu fakultas, kau jalan dengan Minho-ah saja ya? fakultas kita beda gedung.” Ujar Hyunsu disambut dnegan anggukan kecil Yoora. “Oke, ayo Minsu… aku mau cerita tentang Kibum oppa, kamu ceritakan masalahmu dengan Heechul oppa dong”
Seiring dengan menjauhnya mereka berdua, aku berkata pada Yoora, “Yaa… kata seniormu, kau ospek dimana? Aku sudah semester 4”
“aku tidak tahu, gamsahabnida… bisakah oppa mengantarku?” matanya berkaca-kaca menatapku, “Gamsahabnida, aku kedinginan.. jadinya berkaca-kaca seperti ini.”
“Gwechana, ayo kuantarkan.” Aku menelan ludah sehabis melihat wajahnya yang putih ke pink2an, dan mata besarnya yang indah. Ia berjalan di sampingku dengan langkah kecil dan lama kelamaan mendekatiku, sepertinya ia kedinginan…
Tuhan… Appa….. Umma…..
Apa aku menyukainya?

Sungmin’s POV

2 hari yang lalu…

“Silyehabnida~~” terdengar suara dari pintu depan. Aku yang sedang berendam kaki menyuruh Sungji membuka pintunya.
“Hyung, ada teman hyung ingin bertemu, dia bersama Donghae hyung.” Ujar Sungjin.
“Suruh mereka kemari, Donghae-sshi…. Kau bawa siapa?” aku mengangkat kakiku dari ember berisi air hangat yang sudah mulai mendingin, musim dingin kali ini sangat menyiksa
“Aku bawa Heechul hyung.” Donghae muncul di depanku, membawa pria cantik yang sangat kurindukan.
“Yaa hyung, apa kabar?” aku langsung memeluk hyung ku yang waktu itu datang ke acara wisudaku, “kudengar sekarang kau jadi dosen ya?”
“Nee Sungmin, sekarang kau jadi direktur utama perusahaan Appa mu kan?” tanya Heechul hyung, “aku turut senang.”
“Gomawo hyung.” Aku mengusap usap kedua tanganku yang kedinginan, “Biar Sungji menyiapkan minuman untukmu. Hyung mau minum apa?”
“Apa saja yang menghangatkan.” Jawabnya singkat, “Aku punya sebuah misi, mengerjai Minsu. Kkkkk~~”
Alisku mengeryit menjadi satu, “Maksudmu apa hyung? Aku tidak mengerti.”
“Hyung menyuruh mu menyatakan cinta pada Minsu,” ujar Donghae disambut dengan anggukan kepala dari Heechul hyung.
“Mwooo? Buat apa? Aku tidak akan mengganggu hubungan orang lain, kapanpun~~!” ucapku tegas, tapi mereka hanya tertawa terpingkal-pingkal, membuatku penasaran.
“Ini untuk ulang tahunnya.” Ujar Heechul hyung, “Aku ingin membuatnya galau dan kesal. Aku suka sekali membuatnya marah, habis dia imut sih kalau marah. Hahahaha”
“Kau mau kan hyung? Cuman wajah imutmu yang mungkin membuat hatinya bingung.” Ucap Donghae.
Aku berpikir sebentar, lalu berkata “Kalau masalah kerja mengerjai, serahkan saja padaku.”

Kemarin…

“Yeoboseyo, Minsu-sshi? Apa kabar?” aku menelpon Minsu sambil Heechul hyung mendengarkan di sampingku. “Kau sedang apa? Aku kangen sekali denganmu~~”
“Sungmin oppa? Whoaaaa aku juga kangen sekali, aku sedang mengerjakan tugas. Oppa apa kabar?”
“Aku.. sedang tidak ada kerjaan, boleh aku…… main kerumahmu dan kita mengobrol?” aku membaca skenario yang ditulis Heechul dan Shindong oppa di sebuah kertas yang besar.
“Mwo??” jawabnya. Menimbulkan kekhawatiran kami bersepuluh yang ikut berpartisipasi untuk mengerjai Minsu, “Nee. Sekali2 tidak apa lah menunda tugas, lagipula rumah oppa kan jauh. Kita akan jarang sekali bertemu ya kan?”
Aku ingin sekali tertawa, sebenarnya kini aku ada di rumah Super Jjang. Tapi mau tidak mau aku harus berbohong. “Nee, betul sekali. 10 menit lagi aku kesana ya. harus ada yang kuselesaikan dulu di kantor.” Jawabku menutup pembicaraan. Semua hyung dan dongsaeng tertawa terbahak-bahak mendengar pembicaraan barusan.
“Yeoja Chingu mu gampang sekali ditipu, hyung.” Ujar Kyuhyun disambut dengan anggukan dongsaeng lain.
“kkkkkk~~ kau benar sekali dongsaeng. Ayo Sungmin, kau siap2 di depan pintu pagarnya, sementara aku bersembunyi di dekat tempat sampah. Beri aku sinyal kalau kau sudah menyatakan perasaanmu ya?”
Aku mengangguk seraya semua anak2 bersiap pada posisinya. Jadi dalam skenario, kami berdua akan bertengkar sesaat dan Yesung, Shindong dan Donghae akan melerai kami berdua.
“Silyehabnida Minsuuuu~~~” ujarku dari pintu pagar sambil memencet bel, sementara Heechul hyung menyamankan diri di dekat tong sampah (?) dan para anak2 menunggu teriakan dari hyung kita yang gila ini.
“Sungmin oppaaaaaaaaaaaaa~~~ rasanya kangen sekali” Minsu membuka pintu dengan gembira. saat ia mendekatiku untuk menyalami tangannya, aku sengaja memeluknya untuk mendapatkan kesan intens. “Em….. oppa, baiklah ayo kita masuk”
“Kita duduk di teras saja ya, tidak enak sama Ahjumma Key,” kataku sengaja, tidak seru kan kalau bertengkarnya di dalam rumah? Nanti rencana bisa gagal. Untungnya Minsu setuju saja dan mempersilahkanku duduk.
“arraseo. Well, bagaimana perusahaan yang sedang oppa jalani sekarang? Menyenangkan?” ia memulai pembicaraan dengan wajahnya yang ceria. Rasanya aku tidak tega kalau harus mengerjainya.
“iya, cukup menyenangkan menjadi seorang businessman. Oh iya, ini bunga kesukaanmu.. bunga matahari.” Heechul hyung yang memetiknya. Ia bilang agar Minsu tidak terlihat curiga.
“Eh? Kok oppa tahu kalau aku suka bunga Matahari?” tanyanya kebingungan. Oke.. ini saatnya memberi sinyal
“Karena……. dangsin-eul joh-ahaeyo Minsu~~ aku menyukaimu!!” pekikku kencang, agar Heechul hyung mendengarnya. “Aku sudah lama memperhatikanmu, sejak pertama kita bertemu Minsu. Jadilah Yeoja Chingu ku.”
“mwooo?? Oppa, kau tahu kan kalau aku… Yeobo nya Heechul oppa?” ujarnya dengan wajah yang bingung.
“Aku tidak peduli, saranghaeyo Lee Minsu.” Dengan berani aku mendorongnya berusaha menciumnya paksa, meskipun tidak jadi ciuman yang penting terlihat seperti seperti ciuman kalau dari pintu pagar *kata Heechul oppa*
“Op… oppa? Andwae oppa, jebal….. andwae..” pintanya, tapi aku tetap mendorongnya sambil memonyong monyongkan bibirku.
“Yaaa!!!!! Apa yang kau lakukan dengan Sungmin, Minsu?!?!?! Kalian berciuman?!?!” Heechul hyung datang menerjangku. Ia mendorongku dan kami pun saling bertubrukan dada satu sama lain, “Dongsaeng kurang ajar!! Beraninya kau merebut Yeoja Chingu ku!!!”
“Aku tidak perduli, aku mencintainya hyung. aku tidak peduli kalau aku mengkhianatiku~~!!” pekikku sambil dorong mendorong dengan Heechul hyung, sementara itu beberapa anak SuJj datang untuk melerai kami berdua. Sumpah rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresi Minsu yang ketakutan.
“Jagi…. Sumpah, aku tidak berciuman dengan Sungmin oppa, sumpah~~!!” Minsu berusaha meyakinkan Heechul oppa dengan wajah yang takut2.
“Kau bohong, aku tahu kau mencintainya juga!! Aku tahu, Minsu…. Kau jahat padaku Minsu~~!! Kau tega padaku!!” teriak Heechul yang (berpura-pura) membelot dari leraian anak SuJj, aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
“Lepaskan aku~~” ujarku sambil merapihkan kemejaku dan mendekati Minsu, “Jawab pernyataanku besok ya. janji? Love you Minsu~~” aku mengedipkan mata kea rah Minsu disusul dengan renggutan kerah dari Heechul hyung.
“Jauhi dia bangsat!! Aku menyesal menjadikanmu dongsaeng favoritku!!! Pergi kau berdebah setan~~!!!” perintahnya dan aku menuruti perkataannya. Itu adalah sinyal, aku keluar dari rumah Minsu dan bersembunyi di balik tong sampah sambil terkikik-kikik
“Lepaskan aku,” perintah Heechul hyung dengan nafas yang memburu, “Minsu, kau mengkhianatiku….”
“Kau salah paham Oppa~~!!! Buat apa sih aku berbohong padamu?!” Minsu berusaha meluruskan masalah namun Heechul hyung tidak peduli. Ia mengeluarkan kata2 pamungkasnya.
“AKU BENCI KAU, MINSU!!” seraya keluar dari rumah Minsu. Aku menyusul setelah geromobolan itu sudah menutupiku dan kami masuk rumah…
“kkkkkkkkk~~~!! Kita sukses!!” bisik Heechul hyung sambil ber-tos ria dengan kami semua.
Minsu’s POV

“Sumpah!! Aku benci dia, aku benci Heechul~~!!! Tapi aku sayang padanya, huhuhu…. Hhhhhhh” aku mengusap mata dan hidungku yang basah dengan sapu tangan pemberian Wonhee. Kami sedang sharing bersama dikamarku dan kini adalah giliranku bercerita.
“Sabar ya, mungkin saja hubungan kalian sedang dalam cobaan.” Ujar Wonhee, “Tapi kalau kalian memang berjodoh pasti kalian akan berbaikan kembali.”
“Kalian tidak putus kan?” tanya Hyunsu, “Maaf, tadi Kibum oppa menelponku dan bilang akan mengantarku pulang nanti. Aku bilang padanya untuk melapor ke Shiwon.”
Aku menggeleng lemah, “Anii… tapi apa yang harus kulakukan dengan Sungmin oppa? Aku juga benci padanya!! Tapi aku~~~ aku sudah menganggapnya kakakku jugaaaaaaa, kami dekat sekali waktu dia belum kembali ke rumahnya.” Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur, rasanya frustasi sekali kalau harus begini.
“Ya… mari bicarakan pelan2 antara kau dan Sungmin oppa.” Saran Hyunsu. “Oh, HPmu bergetar tuh. Telepon dari Sungmin oppa. Tidak sopan sekali telpon jam 11 seperti ini”
Aku mengambil HP dan mengangkat telpon, “Yeoboseo Sungmin oppa, ada apa?”
“Bisa keluar dari rumah sebentar? Aku butuh jawabanmu.” Jawab Sungmin oppa dari seberang

“Hei Chingu, kenapa wajahmu sembap? Kau menangis terus dari tadi?” tanya Sungmin oppa sambil mengusap lembut mataku, “Jebal… lupakan saja hyung. Dia bilang dia membencimu, kau pantas meninggalkan dia.”
Mendengar kata2 itu, tangisku timbul lagi. Airmataku jatuh lagi, “Mianhae oppa, aku tidak bisa… aku mencintai Heechul oppa lebih dari nyawaku, uhuhuhuk..” jawabku pahit. “Aku tidak bisa menerimamu, aku tidak mau dengan siapapun selain Heechul oppa. Aku tidak peduli dia membenciku atau tidak, huhuhuhuhu~~~~~~”
“Gwechanayo, Minsu…. Gwechana. Sebenarnya yang ingin aku katakan adalah………”
“Sangil Chukkae My Yeoja Chinguuuuuuuuuu~~~!!!!” terdengar suara Heechul oppa dari balik semak2. saat kudongakkan wajahku, penghuni Super Jjang sudah berkumpul disana sambil tertawa tawa jahil.
“Sangil Chukkae hamnida~~~ sangil chukkae hamnida…” Sungmin oppa dan yang lainnya mulai bertepuk tangan dan menyanyikan lagu ulang tahun. Tangisku makin deras melihat Heechul oppa membawa kue tart kecil berwarna vermillion, warna kesukaanku..
“Sssssh… ssssssssh, kok nangisnya makin deras? Kami disini ingin melihatmu bahagia, bukan menangis.” Celetuk Hyunsu dan Wonhee yang kini sudah ikut bergabung dengan Super Jjang.
“Hyunsu-ah benar. Ayo buat permohonan dan tiup lilinnya.” Ujar Yesung oppa sambil mengelus kepalaku.
Aku mengangguk. Membuat permohonan dan meniup lilinnya. saat semua bertepuk tangan dan Heechul oppa menaruh kuenya, aku menubruknya dan memeluknya kencang. Tangisku semakin deras..
“Hahahahahaha mianhae jagiya, karena sudah mengerjaimu….” Ia mengelus punggungku lembut, “Jebal, jangan menangis lagi ya…. kalau menangis terus nanti mukamu seperti bakpau. Bengkak, hihihi.”
“aku juga minta maaf ya Minsu-sshi” ucap Sungmin oppa. “Yang menyuruhku Heechul hyung. Katanya kalau kau menangis, wajahmu terlihat aegyo. Hihihihi”
“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah jagiya jahat jahat jahat~~~~~!!!!!!” aku menggebuk gebuk dadanya kesal. Dia hanya tertawa sambil mengangkat wajahku dan mencium kelopak mataku cukup lama.

Ya Tuhan, terima kasih telah memberikanku hidup hingga 20 tahun ini….
Dan terima kasih juga telah menghadirkan Kim Heechul dan mereka dalam hidupku.
I really love them, don’t let us apart….


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar