Minggu, 28 November 2010

SuSHINee Fanfict Part 19

Kali ini SHINee family dibuat Hello version, enjoy~~ ^^

Key Umma’s POV

“Key, kamu sudah menyuruh Minsu untuk pindah kamar?” tanya Jinki di pagi hari.
“Aniiyo Jinki, aku tidak ingin mengganggunya,” jawabku sedih. “Aku masih merasakan kedepresiannya sampai hari ini.”
“Tapi tolonglah Umma, dia tidak perlu se frustasi itu kan?” sergah Jonghyun kesal. “Aku sudah bosan mendengarnya menangis tersedu-sedu setiap malam. Bahkan Taemin dan Minho tidak bisa konsentrasi belajar dan pindah ke kamar untuk tamu menginap.”
“Hyung, sudahlah.” Jawab Minho kalem. “Wajar saja kalau dia kecewa dan depresi, Heechul hyung itu cinta pertamanya.”
“Noona juga mungkin kesal.” Tambah Taemin, “Ia membuang cincin yang selalu ia pakai dari balkon, aku menemukannya di dekat kebun bunga Umma.”
Taemin menyerahkan cincin itu kepadaku, “Harus kuapakan cincin ini ya?”
“Kembalikan saja.” Jawab Jinki, “Kita tidak berhak atas cincin ini. Yaaah mungkin Heechul-ah memang mantannya, tapi itu diberikan untuknya kan?”
Aku mengangguk pelan seraya berkata, “Baiklah, nanti aku kembalikan kalau sempat.”

.....

Waktu makan siang sudah tiba, Minsu belum juga keluar dari kamarnya. Sepertinya ia masih ingin menyendiri untuk saat ini.
Aku menginjak tangga kedua yang menuju kea rah kamar Minsu sambil menghembuskan nafas, kira2 dia mau menerima cincin ini kembali tidak ya?
“Aisssssh, lebih baik dicoba saja.” Ucapku pada diri sendiri. “Kalau dia menolaknya, akan kusimpan baik2.”
Aku membuka kotak cincin dan berjalan kea rah kamar Minsu, rasanya berdebar debar sekali.
“Minsu sayang, boleh Umma masuk?” aku mengetuk pintu dan membukanya pelan2, ia terlihat sedang menonton TV dengan pandangan kosong.
“Ah Umma, ada apa?” tanya nya tanpa semangat. Matanya bengkak dan mencekung, bibirnya kering dan pipinya makin kurus dan pucat. Aku mendekatinya pelan2…
“Chingu, kamu harus makan… lihat, pipi dan bibirmu tidak terlihat sehat.” Ujarku sambil mengelus rambutnya “Kau harus makan sesuatu.”
“Aku memang sedang tidak sehat Umma, aku flu dan nafasku tersumbat.” Jawabnya lesu. “Itulah yang membuatku tidak nafsu makan.”
“Paling tidak dicoba doong,” rayuku. “Oh iya, Umma menemukan ini di kebun bunga. Ini milikmu kan? Kok bisa jatuh di dekat pot bunga mawar milik Umma ya?”
Wajah Minsu yang lesu tiba2 berubah menjadi ketakutan, matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah. Ia membalikkan badannya memunggungiku.
“Tolong Umma, jangan perlihatkan cincin itu padaku lagi. Jebal,” jawabnya lirih.
“Tapi Umma tidak berhak menyimpannya sayang, ini milik……”
“Itu bukan milikku lagi Umma~~!!!” Potong Minsu dengan cepat. “Jebal, berikan saja ke orang lain~~ berikan saja pada Appa~~!! Jangan berikan lagi kepadaku…”
Aku hanya bisa menghela napas mendengar isakan tangis yang keluar lagi dari bibirnya, pelan2 aku keluar dari kamarnya. Sumpah, aku merasa bersalah sekali.

~~~~~

Jinki Appa’s POV

“Hemmmm, bunga Iris ini wangi sekali Key.” Puji ku kepada Key yang sedang bercocok tanam. “Cocok untuk membangkitkan semangat dan merubah mood.”
“Jinjja?” tanya Key yang sibuk dengan sekop tanahnya, “Kau ini sok tahu atau benar2 tahu?”
“Hei, itu opiniku. Apa kenyataannya tidak sama dengan yang kuucapkan barusan?” jawabku bingung.
Key mencium bunga Iris berwarna kuning itu dan berseru, “Omona~~ kau benar Jinki. Wanginya segar sekali~~ membangkitkan semangatku, ohohohohohoho~~”
“Yah, syukurlah kalau….. Yaaa!! Yaa?!” aku terkejut melihat Key menggunting pbunga2 Iris itu dengan jumlah yang banyak. “Yaa?!?! Kenapa kau cabut bunga2 Iris itu?? Nanti kan kebunmu jadi tidak indah kali kan?”
“Yeobo, aku punya ide yang sangat bagus untuk bunga2 ini.” Jawab key sambil mengerling. “Lagipula bunga nya masih banyak kok, nanti juga tumbuh kembali.”
“Ide apa?” tanyaku curiga, jangan bilang ia ingin memberikan bunga itu ke Hankyung-ah?? *jadi nostalgia masa lalu*
“Sini sini, aku bisikkan sesuatu.” Key menyuruhku mendekatinya dan ia membisikkan sebuah ide yang benar2 brilian.

.....

“Kau yakin, dengan penampilan seperti ini… moodnya akan berubah dan ia akan kembali ceria?” aku mematut diriku di cermin. Key menyuruhku memakai kemeja coklat dan celana model kulit macan yang sudah lama tidak kupakai
“Percayalah, dia pasti akan senang.” Key mendorongku ke depan pintu kamar Minsu. Dengan hati2 aku mencoba mengatuknya, tapi aisssssssssssssshhh… aku takut ia akan mengusirku keluar.
“Yaa…. Ketuk saja pintunya dan masuk,” desis Key. Kuturuti perintah Key, perlahan aku mengetuk pintu kamar Minsu dan membukanya.
“Ada kiriman Jagiyaaaaa~~~~” aku memperlihatkan buket bunga Iris itu di depan wajahnya. Sepertinya ia nampak terkejut.
“Mwoo? Appa, bunga Iris ini untukku?” tanya nya bingung “Lagipula, kenapa Appa harus memakai pakaian aneh seperti itu?”
“Nee anakku, bunga ini kupetik langsung dari kebun.” Jawabku bangga *padahal yang metik Key* “Appa sengaja datang ke kamarmu dengan pakaian spesial seperti ini, karena ini adalah musim dan hari yang spesial.” Jawabku asal.
“hmmh hmmmh hmmmmh Appa terlihat konyol sekali, kkkkk~~~” Minsu tak mampu menahan tawanya dan ia terkikik cukup kencang. Aku cukup terkesima melihatnya, dan kuberikan sebuket bunga Iris itu ditangannya.
“Kembalilah ceria seperti itu dulu nak, Appa merindukan Lee Minsu yang ceria dan yang selalu protes kalau Umma membangunkan di pagi hari, hehehe”
Pipi Minsu yang tirus mengembang karena ia tersenyum. Matanya yang cekung sangat kontras dengan senyumnya, ia mulai berkaca-kaca lagi.
“Jangan sedih lagi, jangan mengurung diri lagi seperti ini… keluarlah seperti seorang pemberani. Biarkan semuanya berlalu nak, kuatlah… aku tahu putriku bisa.” Aku mencium keningnya lembut dan mencium keningnya cukup lama.
“Nee Appa, gomawo untuk bunganya.” Senyum putriku satu2nya itu mekar lagi. “Gamsahabinda Appa, saranghaeyo.”
“Nado Saranghae, My little Princess.” Aku memeluknya erat, berharap semua kesedihannya memudar dan hilang…

~~~~~

Taemin’s POV

“Lihat, berkat Appa….. Minsu sudah sembuh~~~” Umma menyambut kedatangan Minsu noona di ruang makan dengan semangat sekali pagi ini. Sementara yang disemangati hanya mengulum senyum
“Nee, Putriku memang orang hebat.” Komentar Appa sambil merangkul noona, “Bunga Iris Umma juga hebat~~ bisa membuat mood Minsu membaik.”
“Baiklah dongsaeng. Ayo kita makan dulu, untuk mengisi ulang semangat dan energimu.” Ajak Jonghyun hyung.
Minsu noona mengangguk pelan sambil menarik kursi, mengambil nasi dan lauk dan menyendoknya pelan2. Dari penglihatanku, wajah noona semakin kurus dan cekung. Bahkan sifatnya yang sekarang sudah mirip dengan Minho hyung.
Ah Noona…… seandainya aku bisa memberikan boneka itu padamu….

.....

“Kasih saja darl, kenapa harus ragu2?” jawab Emma dari seberang telepon. “Menurutku, boneka buatanmu bagus.”
“Aku takut noona tidak menyukainya darl,” jawabku “Noona tidak punya begitu banyak boneka di kamarnya. lagipula itu sepertinya bukan boneka, itu seperti sebuah celengan.”
“Yasudah laaaaah~~~ berikan saja, anggap saja itu sebagai hadiah untuk menghiburnya. Bukan hadiah untuk ulang tahunnya bulan Desember lalu.”
Aku menghela nafas sambil mengakhiri pembicaraan dan menutup telponnya. Ketegasan Emma masih belum bisa kuhadapi, padahal kami sudah pacaran hampir 4 bulan. Tapi masih saja aku belum bisa melumerkan hati Emma yang kuat.
“Yasudah deh, aku berikan saja.” Aku memandangi celengan kecil *atau boneka?* yang tadi kuwarnai dengan spidol warna merah, aku memandangi langit dan menaruh dahiku di celengan itu. Aduuuuuuh aku grogi sekali~~~

.....

“Noona, sedang apa?” aku menghampiri noona ku yang masih menonton TV dengan wajah yang tirus dan mata yang cekung, “Kenapa harus sendirian disini?”
“Aniiyo, tidak apa2. Aku hanya….. ingin sendiri saja.” Jawab Noonaku sambil tersenyum miris, “Temani aku Taemin.”
Aku menghempaskan diriku disebelah Noona dan langsung memberikan boneka itu padanya, “Noona…. Ini, untuk membangkitkan semangatmu.”
“A……….. apa ini?” tanya nya heran.
“Ini…. Entahlah, antara celengan, figure, atau boneka. Aku yang mewarnainya sendiri, aku harap Noona suka.” Jawabku takut-takut. Diluar dugaan, Minsu noona tersenyum tipis dan memelukku
“Gomawo dongsaeng, gomawo buat semua yang kamu berikan untukku.” Noona tidak melepaskan pelukannya, “Tersenyumlah selalu untukku, Taemin. Noona sayang padamu. Saranghaeyo”
Wajahku merona, sungguh senang sekali melihat noona ku tersenyum dan gembira kembali. Kucium pipi nya yang tirus. Semoga warna pipinya yang kecoklatan kembali seperti semula.
“Nado saranghae noona, Taemin juga sayang padamu.”

~~~~~

Jonghyun’s POV

“Yeobo, jangan lupa ya ajak Minsu di ulang tahunku yang ke 19,” ucap Wonhee dari telpon. “Aku tidak mengadakan pesta, hanya makan malam di rumah saja.”
“Ya, pasti kuajak dia. Yasudah aku bujuk dia dulu yaaa… nanti aku telepon lagi.” Aku mengakhiri pembicaraanku dengan Wonhee. Sebenarnya aku berbohong kepadanya, karena aku tidak akan datang paling pertama di makan malam itu. Aku ingin membeli kado terlebih dahulu dengan Minsu.
“Yaaa, Minsu-sshi,” panggilku. “Kesini sebentar dong,”
Mukanya yang tirus dan matanya yang cekung belum kembali seperti semula. Bibirnya masih kering dan hidungnya merah karena flu, dia sudah tidak menangis lagi. Tapi flu membuatnya tidak nafsu makan dan semakin kurus.
“Nee, ada apa oppa? Ada yang bisa kubantu?” Ia melenggang dengan badannya yang mengurus, terlihat dari bajunya yang semakin longgar dari hari ke hari.
“Temani aku nanti malam ya , Wonhee mengundang kita makan malam dirumahnya. Ada Hyunsu juga kok.” Ajakku
“Tapi, aku tidak yakin kalau badanku kuat menahan angin malam.” Jawab Minsu pelan “Aku kan masih flu.”
“Kalau tidak kuat, bawa masker saja” sergahku. “Ayolah, temani aku ya?”

.....

“Ya oppa, kenapa kau malah duduk di belakang rumah Wonhee seperti itu?” panggil Minsu yang sekarang masih duduk di mobil, sementara aku bermain balon sabun dengan anak kecil yang kebetulan lewat.
“Tidak apa2, aku ingin memberikan kejutan saja untuknya.” Jawabku “Tapi kira2 kadonya cocok tidak ya untuknya?”
“Kau memberinya gaun warna merah muda kan?” Minsu memastikan, “Wonhee menyukai warna Pink, dia pasti suka dan makin mencintaimu.”
“Kau berlebihan.” Jawabku sambil membuka buka kotak kado untuk Yeoja Chingu ku, “Kau malah membuatku semakin gugup. Ah sialan, padahal aku ingin memberikannya kejutan. Aku sengaja tidak mengangkat telponnya untuk memberinya kejutan, tapi kok malah aku yang deg2an seperti ini?”
“Aissssssssssh, yasudah masuklah dulu.” Ujar Minsu, “Aku sudah kedinginan nih.”
Aku melihat tubuhnya gemetaran, padahal ini musim semi.. tapi kenapa ia malah gemetaran? “Baiklah, tapi aku menyiapkan hati dulu ya. aku grogi sekali~~
“Yasudah, ini sudah jam 8 oppa.. sudah lewat 1 jam dari janjimu yang tadi.” Minsu melorotkan posisi duduknya di mobilku sambil meraih jaketku dan menutupi badan kurusnya. “Kalau groginya lama2, nanti aku masuk angin.”
Aku menghela nafas, sebenarnya aku mengajak Minsu kemari supaya ia tidak bosan dan jenuh dirumah. Sudah hampir 2 minggu dia tidak kuliah karena flu nya yang tidak sembuh2, apalagi ditambah depresinya setelah berpisah dengan Heechul hyung.
“Yaa. Baiklah, ayo masuk.” Aku mengajak Minsu yang matanya sudah meredup karena mengantuk. “Kalau mau tidur jangan di dalam mobil, nanti kau masuk angin. Kan mobil ini tidak ada atapnya.”
“emm? Baiklah, ayo cepat~~ kau duluan op… Hatsyiiiiiiiiiiiiiiiiiii~~” Minsu beringsut dari kursinya dan keluar dari mobil sambil memakai maskernya.
Kunaiki tangga pintu belakang rumah Wonhee dengan hati2, kubuka pintunya pelan2…

Berharap kejutanku sempurna dimatanya….

~~~~~

Minho’s POV

“Minho, aku mau berangkat kuliah,” ujar Minsu sambil mendekatiku dan menutupi mukanya di lengan bajuku. Kenapa dia jadi lemah lembut seperti ini ya? jadi terasa aneh..
“Kondisimu kan masih kurang sehat Minsu,” jawabku agak khawatir. “Bahkan pipimu masih cekung dan nafsu makanmu belum kembali seperti semula. Umma bilang kamu tidak boleh kuliah kalau kau masih jarang makan dan matamu masih cekung, karena mukamu jadi terlihat jelek sekali.”
Bukannya membalas ledekanku, Minsu malah menenggelamkan mukanya lebih dalam ke dadaku, lalu berputar ke punggung, dan kembali lagi ke lengan bajuku. “Aku mau kuliah~~ mau belajar… bosan libur terus.”
“Tidak boleh sama Ummaaaaaa~~~~” ucapku tegas, “Memang kau sudah belajar? Minggu depan kan sudah ujian semester.”
“Aku sudah belajar berminggu-minggu… bahkan Hyunsu sudah memberikan jadwal ujian. Aku mau kuliaaaaaaaah~~~” jawabnya manja. Ia menenggelamkan mukanya lagi di dadaku.
“Hem, gimana kalau kau temani aku beli boneka untuk Yoora?” usulku, “Aku ingin menyatakan perasaan padanya.”
“Em? Choi Yoora yang badannya kecil itu ya? omona Minho, kau menyukai gadis2 bertubuh kecil? Lucu sekali. Hmhh hmmmh hmmmh,” Minsu menertawaiku dengan suara yang aneh. Sejak ia baru sembuh dari kedepresiannya, tawanya tidak selepas dulu.
“Em…. Jadinya kau mau ikut atau tidak?”
“Baiklah, ayo berangkat. Pakai mobil Jonghyun saja yg tidak ada atapnya.” Jawab Minsu.

.....

“Minsu, ini tidak berlebihan?” tanyaku ragu2. “Ini kau yang membelikan loh.”
“Perempuan berbadan kecil suka sesuatu yang besar.” Jelas Minsu mantap. “Jadi, dia tidak mungkin mau menolak boneka beruang sebesar badanmu itu, dongsaeng.”
Aku merapihkan rambutku di kaca spion. semoga saja Yoora suka penampilanku hari ini, “Aku sudah rapih belum?”
“Sudah kok, potongan rambutmu bagus sekali. Potong dimana? Tanya Minsu, “Jangan lupa bawa boneka nya. Aku tunggu di mobil saja ya.”
“Eh, kenapa?” tanyaku bingung. Tanpa sengaja wajahku jadi memerah karena takut dan grogi.
“Yang mau menyatakan perasaan itu aku atau kau sih? Masak aku ikut denganmu?” jawab Minsu sambil mengusap usap hidungnya. “Yasudah, sana berangkat.”
“Eh…..” ucapku canggung, “Aku harus bilang apa sama dia? Aku tidak pandai berbicara”
“Ucapkan saja semua yang ingin kau ucapkan.” Jawab Minsu sambil memandangiku aneh. “Kau ini kok ganteng2 grogian sih? Cepat sana, aku berdoa untukmu Minho, hwaiting~~!!!”
Aku tersenyum sambil keluar dari mobil, mengambil bonekanya dan pergi kea rah rumah Yoora.
dari kejauhan, aku melihat Minsu mengusap usap wajahnya paksa, ia meringkuk dan menyetel mobil dalam keadaan atap tertutup. Dia menangis lagi…
Apa aku salah, mengajaknya keluar rumah untuk kepentingan pribadiku? Aku hanya ingin menghilangkan kebosanannya di rumah dengan mengajaknya jalan2..

Aku segera menghilangkan pikiran burukku dan melangkah pasti kea rah rumah Yoora..
Semoga Yoora mau menerimaku.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar