Shindong’s POV
“Kau tahu yeobo? Yang jago masak disini Wookie hyung loh, ia suka membantu Ahjumma Leeteuk memasak makanan pagi untuk kami.” Ujar Kyuhyun yang sedang ngobrol dengan pacar barunya di ruang tamu. “Terus yang jago dance disini, Eunhyuk hyung. Shindong hyung juga, apalagi yang suaranya bagus.. Yesung hyung punya suara baritone yang indah.”
“Terus kamu bisanya apa?” tanya Hyunsu dengan wajah yang penasaran.
“Aku juga jago nyanyi doooong.” Ujar si magnae bangga, “Oh iya, aku juga jago masak~”
“Bohong,” celetukku dari kamar atas, “Kamu tuh jago makan, bukan jago masak.”
“Yaaak hyung~~!!” teriak Kyuhyun dari bawah. “Kau menguping pembicaraan kami ya? terus beres2 nya sudah selesai?”
“Belooooom~~ makanya kau juga bantu dong.” Ujar Donghae yang juga membantuku karena kami sekamar. “Ahjumma kan sudah pesan, kalau kau sudah pulang tolong bantu Shindong hyung beres2. Bukannya pacaran”
Aku hanya bisa tertawa sambil melanjutkan beres2ku. Hari ini hari terakhir aku menetap di kost ini, karena minggu depan aku akan menikah dengan Jung Nari –kekasihku- dan pindah ke rumah yang baru. Hem, sudah 4 tahun aku tinggal di Super Jjang. Mungkin aku akan merindukan tempat ini.
“Hei hyung,” ujar Donghae. “Kau akan main lagi kesini kan, bersama calon istri.. atau mungkin bersama anak2mu?”
“Doakan saja Donghae-sshi, aku tidak akan melupakan tempat ini. Dari sini lah semua kehidupanku yang sekarang berawal.” Aku memandangi nanar sekeliling kamar. “Mungkin kita baru akrab sekarang2 ini, tapi aku pasti akan merindukanmu.”
Donghae terdiam sebentar, terlihat wajahnya berkaca kaca, “Mian hyung, aku mau ke kamar mandi sebentar.” Suara nya gemetar. Aku tahu ia akan menangis, dan ia selalu ke kamar mandi kalau mau menangis.
“Yaa Kyuhyun-sshi!!” seru Ahjumma Leeteuk dari lantai bawah, “Bantu hyung mu diatas doooong~~ jangan pacaran terus”
“Aisssssssssssssh Ahjumma seperti tidak pernah pacaran saja,” protes Kyuhyun. “Yaaa namanya juga anak muda.”
Terdengar suara tawa Hyunsu dan Kyuhyun yang kompak sekali, dan suara Ahjumma Leeteuk yang menghela napas dan berjalan ke lantai atas.
“Shindong-sshi, ada yang bisa aku bantu?” tanya Ahjumma Leeteuk. “Donghae-ah kemana?”
“Dia sedang ke kamar mandi, Ahjumma. Oh iya, ini surat undangan pernikahanku untuk Ahjumma. Saya sangat mengharapkan kedatangan anda.” Aku menyodorkan amplop besar berwarna kuning gading kepada Ahjumma, “Kalau Ahjumma tidak bisa, minta Yesung hyung saja yang hadir.”
“Nee, kuusahakan Shindong-sshi.” Ujar Ahjumma Leeteuk. “Akan kuusahakan kami sekeluarga, atau mungkin anak2 akan datang ke pesta penikahanmu.”
“Gamsahabnida Ahjumma, saya sangat menghargainya.” Jawabku sambil menjabat tangannya, “Saya juga berterima kasih karena selama ini Ahjumma sudah baik dan perhatian, selama saya menetap disini”
“Gwechanaeyo Shindong-sshi. Kalian semua sudah kuanggap anak2ku, itu sudah sewajarnya kan?” Ahjumma Leeteuk tersenyum manis. “Oh iya, undangan itu… buat keluarga Jinki ya?”
“Ah Nee, aku akan mengantarkannya sebentar ke sana. Mungkin aku akan pergi beberapa jam lagi.” Ujarku pada Ahjumma. “Permisi Ahjumma,”
“Ya Shindong-sshi.. sekalian bilang dongsaengmu untuk membereskan kamarnyaaaaa~~”
.....
“Omona Minsu-sshi~~ apa yang terjadi padamu??”
Aku melihat Minsu dari depan komplek dengan lutut yang penuh dengan plester dan rok selututnya yang robek dan agak kotor, begitu juga dengan kemejanya.
“Gwechanaeyo oppa, aku cuman terpeleset saja.” Jawabnya singkat, “Ada yang bisa aku bantu?”
“Ini.. surat undangan pernikahanku,” aku menyodorkannya kepada Minsu. “Datang ya Minsu-sshi.”
“Doakan saja oppa, heheh” ia meringis dan berjalan terpincang pincang sambil membuka pagar dengan usaha yang keras, telapak tangannya juga memar-memar merah.
“emmmm Minsu-sshi, gwechanaeyo? Apa haru kupanggilkan seseorang dirumah?” tanyaku agak khawatir
“Tidak usah oppa, aku bisa sen… auuuuuuuuuuuuuuuw.” Ia memegangi telapak tangannya yang memar sambil meniupnya.
“Aisssh, masih nekad saja. Silyehabnidaaaaaaaaa~~” aku memanggil orang dari dalam rumah Minsu agar ia bisa membantu Yeoja ini berjalan. Keadaan lukanya sepertinya parah sekali.
“Nee, Minsu noona? Shindong hyung? Ada apa dengan noona ku?” tanya Taemin khawatir, ia berlari kea rah pagar sambil setengah berlari
“Aku tidak apa-apa, hanya sedikit…………………. Terpeleset dan tidak beruntung.” Jawabnya sambil membersihkan rok kotornya lagi.
“Apa yang terjadi sih? Kenapa tidak cerita saja? Kita kan sudah di dalam rumah mu,” ucapku agak khawatir.
“Nee noona, nanti Umma atau Appa bisa khawatir melihat keadaanmu yang seperti ini.” Timpal Taemin
Awalnya Minsu hanya diam sejenak, lalu ia berkata.. “sepertinya seseorang telah mengerjaiku, ia memberikan jebakan2 yang membuatku terpeleset, basah dan terluka sedikit. Dan tadi aku menemukan plastik berisi kertas ini di dekatku…
Aku mengambil plastik itu dan membukanya. Dan aku membaca nya, “Milky skin Namja adalah milik kami. Jangan coba-coba kau sentuh dia atau sesuatu akan terjadi padamu. Eh?? Kau diteror????? Kenapa tidak bilang Heechul hyung??”
“Mwo? Noona diteror? Noona seharusnya bilang sama hyung atau Appa Umma,” tambah Taemin.
“Oppa, Taemin… aku bukan orang yang tukang pengaduan seperti itu. Kalau dia tidak suka dengan hubunganku dengan Heechul oppa, kenapa dia tidak bilang saja di depanku langsung?” jawabnya agak kesal, “Lagipula aku tidak mau membuat Jagiya selalu khawatir akan keadaanku. Ia sibuk mengajar, selain itu aku harus mandiri dan menjaga diriku sebaik mungkin. aku tidak bisa mengandalkan orang terus kan?”
“Ya aku mengerti.” Jawabku dengan perasaan yang bercampur-campur. “Sungguh, aku khawatir sekali dengan keadaanmu.”
“Jangan khawatirkan aku oppa,” jawab Minsu sambil tersenyum lembut, “Konsen saja ke pesta pernikahanmu. Tinggal beberapa hari lagi bukan? Lagipula bukannya oppa hari ini harus berkemas?”
“Astaga, aku lupa.” Sahutku panik, “Baiklah, tolong sampaikan undangan ini ke orang tua mu ya. dan Taemin, tolong ambilkan noona mu ini baju ganti lah. Bajunya basah kuyup.”
“Ah baiklah,” Taemin tersentak dari lamunannya dan segera berlari entah kemana. Sementara aku mohon diri dari rumah keluarga Minsu.
~~~~~
Yesung’s POV
Hayahke heuryeo jin geurim sok chu eoge chaekjang so guri geujeo suchyeohan annyeong
Dorawa kkeutnae mal mothago shigan teumsaero heulleo jeomjeom meoreojin gieok…
Myeot beone gyejeol jina majuhan du nun dongja
amu maldo mothago…
Gaseumi chagaun namjaga ureoyo…
Ibyeore mojildeon geunyeodo uneyo…
Baraejin chu eogyuri jogage..
Bein sangcheo heunjeokman nama chora haneyo…
“Yaa, lagu itu bagus sekali.” Celetuk Heechul oppa dari luar ruang musik. “Apa judulnya?”
“Kalau tidak salah judulnya Let you go, hyung.” Jawabku sambil menghentikan permainan keyboard ku “Kau bilang ini lagu bagus? Lagu ini tentang patah hati, hyung. Lagu yang melankolis.”
“Aku suka lagu yang melankolis, apalagi kalau menyanyikannya dengan ceria.” Sanggah Heechul hyung. “Kau punya partiturnya? Lain kali aku pinjam ya.”
“Fotokopi saja hyung, tidak apa2 kok.” Ujarku. “Permainan piano di lagu yang asli, lebih bagus dari permainanku.”
“Aku tidak peduli, yang penting maknanya.” Jawab Heechul hyung dengan wajah badungnya. “Oh iya, kau tidak jadi ke pesta pernikahan Shindong-sshi?”
“Jadi kok, ini.. aku sudah berpakaian rapih seperti ini, hyung tidak lihat? Memangnya kenapa?”
“Kau sudah ditinggal Ahjumma dan Ahjusshi dari tadi….”
“Yesung-sshi. Kamu dari tadi main keyboard terus sih, Umma tidak mau mengganggumu.” Ujar Appa di pesta pernikahan Shindong-sshi. Pesta nya sangat meriah dan tamunya banyak, kini kami bertiga sedang menjamu makanan yang tersedia dan akan pulang sebentar lagi.
“Kamu mau pulang sama kami atau tidak?” tanya Umma.
“Anii Umma, aku mau jalan2 dulu….” Jawabku singkat. Ini hari minggu, sebaiknya aku pergi ke rumah Sungmin atau pergi ke suatu tempat ya? “Aku berangkat duluan ya.”
“Cepat pulang Yesung.” Ujar Appa. “Jangan bermain sampai larut malam ya.”
Aku mendengus, kenapa kedua orang tua ku selalu melarangku pulang larut malam sih? Aku sudah bisa menyetir dan umurku nyaris 27 tahun, tapi aku masih saja dikekang seperti anak SMA
.....
Haaaaaaah~~~~ kapan aku menikah ya? bahkan pacar saja aku tidak punya, apa aku akan menjadi pria single selamanya? Batinku sambil menyisir pantai Gwanggali sendirian. Aisssssssssh, kenapa aku harus memikirkan hal itu?! Yang penting karirku sebagai pegawai bank..
Kulihat beberapa orang sedang memaksa seorang Yeoja untuk masuk ke dalam air, tapi Yeoja itu membelot sehingga mereka mengangkatnya dan menceburkannya dengan jarak cukup jauh dari pantai.
Eh? Kok mereka berlari? Mereka meninggalkannya?
Loh, Yeoja itu…. Tidak bisa berenang?!?!
“Yaaaa~~~~ jamkkan man-yo, jamsi man-yo!!! Bertahanlah yeoja!!” aku berlari sambil melepas kemeja dan sepatuku, dan segera menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan Yeoja itu.
“Yaak, Gwechanaeyo yeoja? Sadarlah, sadar….” Aku memompa dadanya cepat2 agar air yang ia telan segera keluar, tapi…. Kenapa mata dan mulutnya diikat? Dan dilihat dari pakaiannya, kok sepertinya aku kenal?
Aku segera membuka ikatan di mata dan mulutnya, Astaga…… ternyata yeoja ini adalah….
“Minsu-sshi?!?!? Silhyeon~~~ ada apa denganmu?” aku memompa dadanya lebih kuat sehingga ia tersedak dan air yang ia telan keluar. Perlahan ia membuka matanya.
“Mmmmmmmh Yesung oppa,…….. ini dimana?” ia memandangiku dengan wajahnya yang lemas, bibirnya membiru dan ujung2 jari tangannya memucat
“Kau di pantai gwanggali. Kau diikat dan diceburkan ke laut, apa yang terjadi? Kemana Heechul hyung?”
“Aku tidak tahu, tadi saat pulang kuliah tiba2 ada yang mnutup mataku dan membiusku. Mereka memaksaku masuk ke dalam air. Aku tidak mau dan mereka menceburkanku.”
~~~~~
Minsu’s POV
“Mmmmmmmh Yesung oppa,…….. ini dimana?” aku memandangi Yesung oppa yang terlihat ketakutan
“Kau di pantai gwanggali. Kau diikat dan diceburkan ke laut, apa yang terjadi? Kemana Heechul hyung?” ujarnya sambil merapihkan rambutku yang basah.
“Aku tidak tahu, tadi saat pulang kuliah tiba2 ada yang menutup mataku dan membiusku. Mereka memaksaku masuk ke dalam air. Aku tidak mau dan mereka menceburkanku.”
“Babo, kenapa kau tidak minta dijemput Heechul hyung?!” ujarnya marah. “Kalau kau menyuruhnya kan…….. kau tidak….”
Mata Yesung oppa berkaca-kaca. Ia segera berlalu mencari sepatu dan pakaiannya yang entah kemana, seperti nya ia melepasnya saat menyelamatkanku tadi.
“Yaa Yesung oppa, mianhae..” ucapku takut-takut. Ia menggendongku di punggungnya dan berjalan menuju mobilnya.
“Kau ini babo sekali, kalau hyung tahu mungkin dia bisa mengamuk atau menangis.” Jawab Yesung oppa
“Bukannya aku tidak mau minta dijemput, kemarin aku menelponnya dan ia bilang ia ada acara di Universitas Sangji. Aku tidak mau mengganggunya, jadi aku memutuskan untuk pulang sendiri.”
“Kenapa tidak pulang bareng Wonhee atau Hyunsu-ah saja?” mobil Yesung oppa melaju menuju rumah kami.
“mereka… ada urusan sendiri dengan kekasih mereka. Aku tidak mau mengganggu mereka.” Aku memegangi kepalaku, efek obat biusnya masih mempengaruhi kesadaranku.
Tiba2 mobil Yesung oppa menepi dan ia menghentikan mesinnya, “Sudah berapa kali kau mengalami hal seperti ini? Kemarin Shindong-sshi bilang kau di bully dan diteror. Apa itu benar?”
“Aku tidak tahu, mungkin sekitar… 5 kali lebih. Tapi sebelumnya ringan2 saja kok, aku baik-baik….”
“Bodoh~!! Apanya yang baik2?!” seru Yesung oppa emosi. “Kau bilang di bully baik2 saja?! Itu bisa mempengaruhi mentalmu~~!! Dan yang tadi kau bilang baik2 saja?! Kau gila apa?! Kau nyaris mati!!!” Yesung oppa melepas pandangan marahnya terhadapku dan memukul setir mobil. Dengan gerakan cepat, ia memelukku dengan nafas yang tidak beraturan.
“Aku oppa mu… kau sudah kuanggap dongsaengku, jebal… jangan sampai hal ini terjadi lagi padamu. Aku tidak mau kau kenapa2, jangan sampai… andawae~~~”
Aku tidak bisa menahan tangisku, bisa kurasakan jantung Yesung oppa berdetak cepat. Aku merasa sangat bersalah karena sudah membuatnya khawatir.
“Mianhae Yesung oppa…………. Mian. Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir…. Mian…..”
“Heechul oppa sudah mengetahui kasus yang menimpamu, Yesung oppa yang memberitahunya. Dia hanya ingin Heechul oppa lebih melindungimu, jangan marah padanya.” Di hari pertama, Hyunsu dan Kyuhyun oppa yang menjengukku. Sejak kejadian itu, aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Badanku rasanya mau lepas dan aku kena flu, lagi2 aku libur kuliah..
“Jagi, apa aku harus cerita tentang reaksi Heechul hyung?” tanya Kyuhyun oppa ragu2.
“Cerita saja,” ucap Hyunsu singkat. “Em….. tapi yang itu saja, jangan yang lain.” Mereka berbisik-bisik sebentar lalu menatapiku lagi.
“Emmmmmmmmmmm jadi begini,” kata Kyuhyun oppa. “Nanti malam Heechul hyung akan menjengukmu dan akan membicarakan semuanya.”
“Ini semua demi kebaikanmu. Itu yang dia katakan pada kami dan Yesung oppa.” Timpal Hyunsu
“Apa yang akan dia bicarakan? Masalah ini atau bagaimana?” tanyaku bingung. Kenapa mereka seperti menyembunyikan sesuatu dariku?
“Kami tidak tahu, bersabarlah Minsu-sshi.” Hyunsu mengelus lembut jari manisku, dimana cincin unik pemberian Heechul oppa menetap sejak ulang tahunku yang ke 20.
~~~~~
Heechul’s POV
“Tolong ya Ahjumma, Ahjusshi… ini untuk kebaikan Minsu” ujarku mantap, biarpun aku tahu ini akan sulit sekali. “Tolong mengerti akan apa yang aku lakukan.”
“Kalau itu yang terbaik, aku sih tidak akan marah padamu.” Jawab Ahjumma Jinki, “Aku tahu kau orang baik2, makanya kau melakukan ini untuk kebaikan anakku.”
“Yasudah, sekarang temui saja Minsu nya di kamar.” Timpal Ahjumma Key. “Aku doakan semoga niatmu ini berhasil. Biarpun begitu, kami akan selalu menerimamu sebagai keluarga kami.”
“Baiklah, supaya tidak terjadi kesalah pahaman… tolong sekalian diberitahu saja anak2 Ahjumma dan Ahjusshi.” Lanjutku. “Baiklah, saya permisi dulu.”
Aku naik ke lantai atas dan mengetuk pintu kamar Minsu, kubuka pelan2 dan kudapati dia sedang membaca.
“Oh…… Jagi?” ia menengok kea rah pintu kamar dan senyum manisnya mengembang begitu aku membuka pintu kamarnya lebar2, “Kemarilah. Aku kangen sekali sama kamu.”
Kupandangi dahi dan bagian lengannya yang diplester. Ada sedikit baret di pipinya, miris sekali aku melihatnya. Perlahan aku mendekatinya dan mencium bibirnya lembut, meskipun hatiku sakit sekali.
“Bagaimana keadaanmu Jagi, sudah mendingan bukan?” tanyaku basa-basi. Ia terlihat gembira sekali
“Flu nya belum sembuh, tapi semua luka2 yang awalnya perih ini sudah membaik kok.” Jawabnya sambil tersenyum. “Bagaimana kabarmu Jagi, harimu menyenangkan kan?”
“Emmmmmm ya begitulah.” Aku memainkan rambut kecoklatannya yang kini sudah panjang, “Jagi. Aku boleh membicarakan sesuatu?”
“Mwo? Boleh2 saja. Kalau boleh, aku minta kamu bicara yang lama ya… habis aku kangen dengan suaramu. Kan biasanya kita hanya mengirim e-mail dan pesan.”
“Tidak, singkat saja.” Jawabku meneguhkan hatiku. “Aku merasa sangat bodoh sekali melihat keadaanmu yang sekarang, seharusnya aku bisa melindungimu. Tapi kesibukanku menghalangi kita.”
“Jangan salahkan dirimu Jagi,” jawabnya lembut, aku memegangi jari2 kecilnya. Cincin yang kuberikan untuknya masih terpasang di jari manis kirinya.
“Aku…. Tidak mau melihatmu seperti ini lagi, gara2 aku…. Kau nyari mati.” Ucapku pedih, “Yesung-sshi marah dan memukulku karena aku tidak sanggup menjagamu. Mianhae yeobo”
“Jebal… jangan salahkan dirimu lagi,” ucap Minsu dengan wajah yang khawatir.
“Mianhae…. Aku tidak bisa melanjutkan semua ini.” Bibirku mengucapkan kata itu dengan lancarnya. “Kita akhiri saja hubungan kita. Ya?”
Mata hitam Minsu melebar, ia menggeleng gelengkan kepalanya, “Anii… ini bukan salahmu Jagi, tolong jangan bercanda dengan mengatakan hal seperti itu.”
“Kau layak mencari Namja lain yang lebih baik dariku,” ucapku pedih. “Jarak umur kita lah yang membuat kita tidak pernah bisa meluangkan waktu untuk saling bertemu. Jaga dirimu baik2 Minsu-sshi, semoga kau cepat sembuh,”
Aku mencium keningnya dan pergi dari rumahnya, meninggalkannya yang tadi masih syok dan terdiam..
.....
Aku memencet tuts keyboard berkali-kali, aku ingin sekali bernyanyi… tapi aku tidak tahu ingin bernyanyi apa.
“Ya Heechul hyung,” panggil Yesung. “Kau lupa fotokopi partiturku ya? katanya mau kau mainkan lagunya dengan keyboard..”
“Aiiiiish aku lupa,” jawabku sambil menepuk dahi. “Yasudah sini, berikan partiturnya. Mau ku fotokopi.”
“Sudah ku fotokopi kok, nih.” Yesung menyodorkan partitur yang sudah difotokopi, “Nah, selamat mencoba ya hyung. Aku yakin permainanmu akan lebih baik daripada permainanku.”
Yesung meninggalkanku sendiri di ruang musik yang penuh dengan rak buku ini, aku membuka halaman pertama dan melihat tulisan Let You Go…
Jantungku rasanya melejit sedikit. “Aissssh, memang ini judul nya kan? Kenapa aku harus melankolis seperti ini? Aku suka lagu sedih, aku akan menyanyikannya sambil menari nanti.” Ucapku menghibur diri.
Aku menaruh partitur di depan keyboard dan mulai memainkan piano dengan nada yang benar
Hayahke heuryeo jin geurim sok chu eoge chaekjang so guri geujeo suchyeohan annyeong..
“Kenapa hatiku perih sekali ya?? ah sudahlah. Mungkin digigit semut” ucapku sambil terus memainkan keyboard. Kini lagu itu sudah sampai di reff nya..
Gaseumi chagaun namjaga ureoyo…
Ibyeore mojildeon geunyeodo uneyo…
Baraejin chu eogyuri jogage..
Kkeunkin nunmul soge shiganeul dashi mukkeo dulge..
Tenggorokanku tercekat, rasanya sesuatu di dalam mataku ingin meledak, mataku mulai panas..
Moreujyo ibyeolhan namjaye nunmul
Mot gyeondige neol….. maemdol deon jichin hansumdo
Pipiku mulai basah, air mataku menetes pelan pelan
Jidokhan geurium mok joreudeon
Eongkin uri dure chu eogeul…..
“ seulpeun haneure bonae julge… hkkkkk hukkkkkkkkkk, hhhhhhh…. Hiks hiks…” Aku tidak bisa menahan lagi isakanku. Pelan2 aku berusaha pergi dari ruang musik, tapi aku tak kuat lagi menahan kesedihan ini sehingga aku terjatuh dan tak bisa bangkit kembali..
“Minsu…. Ukhhh ukhhhhh uhuk, Minsu…..” aku memandangi cincin yang melingkar di jari tengah kananku, cincin yang sama dengan milik Minsu..
“Mianhae Jagi, hhhhhh hhhhh….. aku tidak ingin membuatmu terluka lebih dari ini, hukkkk hukkkkk. Maafkan aku Minsu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu… tapi aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu lagi~~~~ uhuhuhuhuhuhuhuhuuuuuuuuu”
Aku meringkuk di lantai ruang musik yang dingin, aku tak sanggup melakukan apa2 lagi.. sungguh aku tidak sanggup…
Aku kehilangan sebuah senyum manis, sebuah bibir mungil yang selalu mengeluarkan tawa unik atau memperlihatkan kekuatan dan ketegaran dibalik senyumnya. Seorang yeoja yang mandiri dan tidak ingin merepotkan orang2 sekitarnya….. seorang yeoja yang sangat kusukai dan kucintai…
Aku sangat kehilangan Minsu….
Bersambung..
Credit music by: TRAX –Cold Hearted Man- (Let You Go)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar